Chapter XVI

1149 Kata

Pangeran Elzio bersama Zianka masih berjalan menuju Kawah Gunung Kaimana. Langit sudah kembali beranjak petang, menebarkan titik-titik cahaya berkilau, dan rasi bintang biji gandum yang menjadi pertanda musim panen. "Jadi ... kau benar-benar tidak akan mundur?" tanya Zianka untuk sekian kalinya. "Tidak." Dryad itu berdecih. "Keras kepala." "Kau juga keras kepala, Zian." "Sebagai Pangeran, harusnya kau memikirkan kepentingan rakyat dan banyak orang dibanding egomu sendiri," ceramah Zianka bijak. "Aku sudah tidak tertarik dengan kehidupan sebagai Pangeran dan lebih tidak berminat lagi menjadi penerus raja." Langkah Zianka terhenti, ia menghadap Elzio dan menatapnya lekat. Cahaya bulan remang-remang menembus celah dedaunan, Wanita itu bisa melihat sorot mata pangeran. Kenapa? Mengapa?

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN