Lentera warna-warni di setiap sudut, manusia yang berlalu lalang mengenakan pakaian serba hijau, aroma berbagai macam makanan, juga sekumpulan orang yang bermain alat musik dan menari mengelilingi api unggun. Seandainya api bukan kelemahan Zianka, mungkin dia akan bergabung dengan mereka. Memanjatkan doa tentang kejayaan Labierre, kesuburan untuk hutan serta kedamaian Zigrora lewat nyanyian. Kemeriahan itu berpadu dalam irama dan nada nan merdu. Zianka nyaris tidak bisa mengedipkan mata, bahkan tidak menyadari bibirnya terus tersenyum. Benar kata Elzio, banyak orang yang berpakaian menjadi peri. Bahkan dengan menambahkan sayap palsu. Ia merasa seperti tidak ada perbedaan antara dirinya dan manusia di sini. "Kau suka 'kan?" bisik Elzio persis di telinga Zianka, wanita itu menganguk. "Ke

