"Dasar manusia jorok! Kau pikir para pohon menyukai air seni kalian?" Bibir tipis merah muda itu mengeluarkan suara merdu bernada sinis.
Bola matanya yang besar bergulir turun ke bawah. Menatap sesuatu yang dipegang Elzio sambil tersenyum miring.
Elzio yang menyadari bahwa sedari tadi ia belum menaikan kembali celananya pun segera berbalik, sebelum kembali menatap wanita itu lagi mengabaikan seburat merah di wajah yang tengah menahan malu.
"Siapa kau?" tanya Elzio heran.
Bukan hal baru bagi pemuda itu ketika melihat seekor elang berbadan singa --yang biasa disebut griffin-- menjadi tunggangan Raja Apollo tiap kali datang berkunjung ke istananya, bahkan burung-burung itu juga bisa bicara.
Dia juga pernah melihat sosok Behemoth, monster legenda bertubuh besar dan mengerikan dengan api mengitari seluruh tubuh mahluk itu. Namun, melihat sesosok wanita berparas cantik serta berbalut gaun hijau nan anggun keluar dari pohon? Ini benar-benar pertama kalinya.
Tanpa menunggu jawaban wanita di depannya, Elzio meraih Satchel yang tersampir di tubuhnya lalu mengeluarkan sebuah buku berwarna merah maroon dengan beberapa garis emas dan lambang bunga peony di bagian tengah. Sinar matahari siang yang menembus rindangnya pepohonan memungkinkan Elzio membaca dengan jelas.
Apa ada hal yang terlewat ia baca? tanya Elzio dalam hati.
Di saat Elzio sibuk membulak-balik bukunya, wanita berambut coklat panjang itu hanya bersidekap memandang aneh pria di hadapannya.
"Cih, benar-benar manusia jorok!" gumamnya pelan, tapi cukup untuk didengar oleh Elzio dan ia tidak membantah karena keadaan tidak memungkinkannya untuk mencuci tangan setelah buang air tadi.
Dengan acuh wanita tersebut meninggalkan Elzio.
"Hei, tunggu!" Elzio mengejar.
Seekor burung dengan sayap biru dan ekor kuning terbang rendah dan berputar di sekitar mereka sebelum bertengger manis di bahu mulus wanita itu. "Kau siapa?" tanya Elzio lagi.
"Aku Zianka, kenapa?" ujarnya ketus kemudian berlalu.
"Bagaimana bisa kau keluar dari sana?" Pangeran menunjuk tangannya kebelakang tempat wanita itu keluar.
"Tentu saja bisa karena aku seorang Dyrad."
Dryad?
Elzio mengerutkan kening dan sedikit menggaruk kepala sambil melihat buku yang terbuka di satu tangan lain, pria itu masih mensejajarkan langkah mereka.
Menurut buku yang ia bawa, Dryad adalah Peri Hutan yang menjaga wilayah di perbatasan timur. Sosok mereka memang tidak digambarkan di sana, tapi dalam benak Elzio ia mengira jika peri itu harusnya memiliki sayap. Namun wanita ini tidak memilikinya. Apa dia berbohong?
Elzio memperhatikan setiap lekuk tubuh wanita yang masih berjalan sambil asyik bersiul dengan burung yang kini bertengger di jarinya. Kedua mahluk itu seolah berbicara bersahutan dengan bahasa yang ia tidak mengerti.
Elzio memelankan langkahnya dan membiarkan Zianka berjalan lebih dulu untuk memastikan tubuh wanita ini memang tidak memiliki sayap. Yang ada hanya rambut kriting panjang yang terjalin rumit menutupi sebagian bahu telanjangnya. Kemudian gaun hijau sebatas d**a hingga menyapu tanah. Kaki jenjang tanpa alas yang melangkah pasti seakan tidak takut ada sesuatu yang ada melukai kaki itu.
Kemudian mata Elzio melihat ada daun yang menempel di rambut Zianka, tanpa ragu ia menarik daun tersebut. Namun, yang ada malah wanita itu terhuyung kebelakang dan memekik sambil memegangi kepalanya. Membuat burung indah yang bernyanyi bersama tadi terbang.
"Apa yang kau lakukan?" protesnya.
"Itu, ada daun di rambutmu," jawabnya lugu.
Zianka terlihat menahan kesal. "Hei manusia, selain jorok apa juga bodoh? Aku ini Peri Hutan menurutmu daun itu jatuh dan menempel di rambutku? Daun itu tumbuh di rambutku. Paham? Lagi pula kenapa kau mengikutiku?"
Benar juga kenapa dia mengikuti wanita ini?
Karena Elzio tidak menjawab, Zianka kembali berjalan acuh. Seraya menggerutu bahwa manusia yang ia temui benar-benar tidak mempunyai sopan santun.
Pangeran yang mendengar keluhannya sedikit heran. Apa seorang Peri Hutan juga tahu akan sopan santun? Tapi itu tidak penting, karena berkat pertanyaan Zianka Elzio mengingat kembali tujuannya.
"Eeeum... Zianka, apa kau tahu jalan menuju Gunung Kaimana?"
"Kenapa kau ingin ke sana?" Zianka langsung berbalik melemparkan tatapan penuh selidik.
"Aku..." Mata Elzio bergulir mencari alasan. "Aku bertaruh dengan beberapa orang bahwa aku bisa ke sana sendirian."
Elzio sebenarnya tidak sepenuhnya berbohong. Beberapa orang termasuk sang Ayah melarang ia ke Gunung Kaimana. Namun, ia akan membuktikan kalau dirinya pasti bisa mendapatkan apa yang ia mau.
"Kau hanya perlu keluar hutan ini, maka kau akan bertemu dengan penduduk desa Sopati di sebelah barat. Dari sana kau bisa berjalan menuju desa berikutnya dan berikutnya. Mungkin 5 hari lagi kau baru bisa sampai jika berjalan kaki. Sebaiknya kau membeli kuda saja agar lebih cepat sampai."
Elzio tahu, ia sudah membaca petunjuk jalan dari buku yang ia bawa. Namun, ia tidak bisa melewati jalur yang disebutkan oleh Zianka. Dia tidak bisa dengan bebas melalui area tersebut karena Pangeran tahu akan ada banyak prajurit yang mungkin sudah raja kerahkan untuk mencarinya. Maka, jalur teraman adalah melalui hutan ini.
"Tidak adakah jalur lain? Misalnya lewat hutan ini."
"Ada tapi mungkin memakan waktu lebih dari sepekan."
"Kau bersedia mengantarku?"
Dari wajah yang ditunjukan Zianka, Elzio bisa menebak wanita itu tidak akan bersedia.
"Untuk apa aku mengantarmu? Dasar manusia bodoh! Menuju Gunung Kaimana saja tidak tahu."
Demi apa pun, jika saja Zianka tidak berwujud perempuan mungkin Elzio sudah mencekiknya. Mulut wanita ini benar-benar kasar, sejak tadi hanya melontarkan kalimat-kalimat penghinaan. Terima kasih pada guru etika yang mengajarinya untuk tetap memasang wajah tenang bahkan sekali pun ia sedang marah. Elzio selalu ingat petuah sang Guru bahwa sebagai Pangeran agar tidak terlalu menunjukan emosinya di depan sembarangan orang, tapi wanita ini bukan orang, kan?
Elzio melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju Zianka. Dari jarak sedekat ini pangeran bisa menghirup aroma chamomile berpadu kayu manis yang lembut.
Dia berdiri persis di depan wanita yang sedikit lebih pendek darinya sambil meremas bahu mulus itu.
"Kau! Kenapa selalu saja menyebut manusia-manusia. Memangnya kau lebih baik dari manusia?"
"Kenapa? Kau merasa lebih baik dari kami?" Zianka menepis tangan Elzio tanpa gentar. Bahkan wanita itu mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
Detak jantung memompa lebih cepat, tapi ia harus lebih menahan amarahnya. Pangeran pun mendesah sadar tidak ada gunanya ia berdebat dengan seorang wanita. Tanpa membalas apa pun lagi, pria tersebut meninggalkan Zianka begitu saja.
Berjalan tanpa arah dan tanpa menoleh. Sesaat ia mendengar suara Zianka yang lagi-lagi meneriaki kata manusia, Elzio berusaha tidak peduli.
Setelah berjalan agak jauh, indera pendengaran Elzio menangkap suara riak air. Tanpa pikir panjang pria itu langsung mendekati sungai.
Air di sana sangat jernih pantulan sinar matahari membuatnya berkilau. Arus itu meliuk dan menabrak beberapa batu besar dan kecil hingga menimbulkan suara beriak nan sejuk.
Elzio mengambil air itu melalui dua tangannya untuk diminum. Rasa segar pun mengalir ke tenggorokannya, lagi dan lagi.
Melalui ekor mata biru milik pangeran, ia melihat pasang kaki tanpa alas berdiri di sampingnya. Semula ia mengira itu adalah Zianka. Namun, ketika pandanganya menyapu ke atas terlihat seorang wanita berambut pirang dengan kulit putih pucat tengah tersenyum manis, sangat manis hingga Elzio merasa dirinya kehilangan kata-kata.
Tubuh tinggi pria itu berdiri, matanya terpaku pada sosok indah di depannya. Jari lentik wanita tersebut membelai pipi Elzio dengan lembut. Menyalurkan debaran menyenangkan seakan tidak ada yang pangeran inginkan selain mendekap sang Jelita.
Jemari wanita itu mulai menelusuri d**a bidang Elzio yang terhalang pakaian. Wajah cantik tersebut masih menatap pangeran, bulu lentiknya berkedip dan seolah berbicara bahwa ia ingin menyentuh tubuh Elzio secara langsung.
Kedua lengan kokoh Elzio sudah berpindah melingkar ke pinggang wanita itu dan pangeran masih terdiam tanpa kata.
Pandangannya turun menemukan bibir s*****l nan menggoda. Membangkitkan hasrat Elzio sebagai seorang pria, ia ingin mencecap bibir itu.
"Berhenti, Purly!" teriakan terdengar persis di saat bibir keduanya nyari bertaut. Dari sisi kiri Elzio dan ia melihat Zianka di sana.
"Kenapa kau mengangguku?" protes wanita berambut pirang.
Seakan tersadar, Elzio langsung menjauhkan diri dari Purly.
Bagaimana bisa tangannya mendarat lancang di pinggang wanita itu?
Rasanya ia ingin memukul diri sendiri karena tergoda begitu mudah oleh wanita asing di tempat seperti ini. Jika saja Constantince tahu, pria tua itu pasti akan mengejeknya.
"Aku tidak mengganggumu. Aku hanya mempunyai urusan dengannya."
Purly berdecih sinis. "Apa kau sedang mengatakan bahwa dirimu mulai tertarik pada manusia, Zian?"
Mata cokelat Purly menatap Elzio sebentar sebelum kembali berkata. "Dia memang lebih tampan dari pria yang biasa kudapat."
Yang biasa dia dapat? Apa maksudnya? gumam Elzio
"Kau pasti bercanda," sahut Zianka tidak kalah sinis. Netra hazelnya beralih pada Elzio.
"Hei manusia, ini milikmu bukan?" Zianka mengangkat sebuah buku berwarna merah milik Elzio.
"Bagaimana bisa ada padamu?" Langsung saja Elzio menghampiri Zianka, merampas buku berharga itu sebelum memasukannya ke dalam stachel.
"Kau yang meninggalkannya. Aku sudah memanggilmu tadi. Silakan lanjutkan lagi kegiatan kegiatan kalian."
"A- ap-apa maksudmu?" Elzio mendadak tergagap. Kepergok nyaris berbuat m***m setelah sebelumnya terciduk buang air sembarangan tentu bukan perkara yang bisa dibanggakan dalam cerita perjalannya sebagai pangeran. Dia sendiri tidak tahu kenapa mendadak dirinya sempat menginginkan wanita berambut pirang yang Zianka sebut sebagai Purly itu?
Zianka tidak menyahut, dryad itu melenggang begitu saja. Sedangkan Purly mulai kembali mendekatinya.
Sebagai pria, Elzio akui bahwa Purly adalah wanita yang cantik dengan mata sayu serta tubuh nan ramping. Namun, bukan di sini tempat dan waktu yang tepat untuk melakukan hal yang tidak-tidak. Dia harus fokus untuk segera mencapai Kaimana. Maka dari itu pangeran memutuskan mengejar Zianka.
"Zianka, tunggu!"
Elzio menoleh sejenak, ia sempat melihat Purly memberengut kesal sebelum berbalik. Namun, bukan itu yang mengejutkan pangeran. Melainkan karena Elzio melihat dengan jelas wanita berambut pirang yang nyaris ia cium tadi memiliki ekor yang cukup panjang.
Pemuda itu bergidik dan kembali mengejar Zianka.
***
"Mahluk apa tadi?" sembur Elzio seolah meminta penjelasan pada Zianka yang baru saja berhasil ia kejar.
"Dia Peri Hutan golongan Huldra. Penjaga sungai. Kenapa kau malah mengikutiku lagi?"
"Dari pada aku bersama wanita berekor itu."
"Kau melihatnya?" Zianka terlihat menahan senyumnya. "Aku pikir kau akan tergoda. Biasanya huldra tidak pernah gagal menggoda pria."
"Apa yang akan terjadi pada pria-pria yang tergoda itu?"
"Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan karena aku tidak suka mengintip kegiatan orang lain. Hanya saja, dari yang ku dengar para pria yang beruntung mungkin hanya akan hilang ingatan dan gila."
"Jika tidak beruntung?"
"Mungkin mati." Zian mengangkat bahunya.
"Hutan ini ternyata cukup berbahaya."
Ya, Elzio tahu jika hutan di area timur terkenal lebih berbahaya karena menurut sejarah hutan ini ada untuk mencegah penyusup mau pun penduduk ilegal yang ingin memasuki Labierre.
"Memangnya suruh siapa kau kemari? Aku kan sudah menyuruhmu lewat jalur pedesaan sa--"
Tangan Elzio tiba-tiba saja membekap mulut Zianka. Wanita itu mencoba mengelak, "Diamlah atau kita akan ketahuan," tutur Elzio setengah berbisik. Mata biru miliknya melihat beberapa prajurit dengan menuju ke arah mereka.
Sang Pangeran menggeret Zianka guna bersembunyi di balik pohon yang besar, lalu menyembulkan kepalanya untuk mengintip.
"Bagaimana kita harus melapor pada atasan kita?" tanya frustasi satu prajurit pada kawannya.
"Aku lebih takut kita akan diledek oleh kawan-kawan kita di barak. Bayangkan kita kehilangan 'anak emas' yang bahkan sudah ada di depan mata." Dua jarinya membentuk tanda kutip.
Karena pencarian mereka harus dilakukan dalam bayangan. Maka tidak ada yang boleh menyebutkan Pangeran Elzio yang menghilang. Itu akan menjadi masalah jika ada rakyat yang mendengar dan menyebarkan berita ini.
"Dasar bodoh! Hanya karena Raja Golsum baik bukan berarti beliau tidak akan kecewa pada kita." Tangan temannya melayang memukul kepala.
"Bahkan yang lain sepertinya tersesat di hutan ini. Lagi pula kenapa si Anak Emas mesti ka--" ucapan prajurit berhidung bengkok itu terhenti. Ia melihat sekelebat bayangan Elzio di balik pohon besar tak jauh dari tempat mereka bertiga.
Elzio sadar dirinya akan ditemukan, "Sembunyikan aku," pintanya pada Zianka yang kebingungan. Prajurit tadi sudah melangkah semakin dekat.
"Kumohon."
*****
To be continue