Chapter III

1157 Kata
"Kumohon," pinta Elzio memelas. Dua orang prajurit yang masih diam di tempat menatap aneh pada temannya yang tiba-tiba saja berjalan mengendap. Ketika prajurit berhidung bengkok tersebut menyerbu tempat yang ia duga persembunyian Pangeran Elzio, yang didapatinya hanya ... kosong. Padahal ia sangat yakin sudah melihat Putra Raja Golsum di sana. "Apa yang kau cari?" tanya satu prajurit lain yang melihat temannya malah kebingungan. Tanpa seorang pun dari ketiganya yang tahu bahwa Elzio berada di dalam pohon besar itu berdesakan dengan Zianka. Beruntung ada beberapa lubang di bagian atas pohon tersebut hingga sinar matahari masih bisa masuk menerangi mereka meski samar-samar. Kedua prajurit tadi menghampiri temannya. Sedangkan si Hidung Bengkok seakan enggan mengatakan bahwa ia sempat melihat Elzio di sana. Bisa-bisa, ia akan diledek telah berhalusinasi tingkat tinggi. "Ah, tidak apa-apa. Ayo kembali ke kota!" "Dasar kau ini, jangan bilang kau melihat seorang wanita cantik karena hutan ini terkenal cukup berbahaya untuk pria, kita sudah masuk terlalu dalam. Sebentar lagi sore, kita harus segera keluar dari sini." "Iya betul, sudah jangan berpikir macam-macam lagi. Lebih baik kita...." Elzio tidak lagi fokus mendengar ucapan prajurit di luar. Dia justru mulai memperhatikan raut cantik Zianka yang ditempa kemilau samar dari mentari sore. Tubuh keduanya benar-benar merapat akibat ruang yang sempit. Aroma chamomile dan kayu manis yang berasal dari wanita ini mengusik indera penciuman pangeran. Terlepas dari statusnya sebagai penerus Raja, dia tetap lelaki normal yang tidak rela melepaskan keindahan yang tersaji di depan mata. Mata biru itu masih setia mengamati wajah Zianka yang sepertinya begitu halus dan menggoda untuk disentuh,tanpa disadari pangeran menahan napasnya dan kesulitan meneguk ludah. Terutama ketika melihat Peri Hutan ini menggigit bibir mungil seranum apel tersebut. Oh, astaga apa yang ada di pikirannya? Ini pasti karena sihir huldra yang masih tersisa. Namun, ketika mata bulat Zianka bertemu pandang dengan sorot matanya. Elzio tidak bisa mengendalikan mulutnya untuk berkata, "Kau cantik." Bulu lentik Zianka berkedip beberapa kali sebelum bunga warna-warni mendadak muncul di atas kepalanya membentuk sebuah mahkota. Entah apa yang akan Peri Hutan itu katakan, tapi bibir merahnya kembali mengatup tatkala suara yang sangat mereka kenal terdengar dari luar pohon. Suara air mengucur dan desahan lega salah satu prajurit tadi disusul aroma tidak sedap yang menyebar ke dalam pohon tempat Elzio dan Zianka berada. Jadi inilah kenapa Zianka sampai marah padanya ketika dirinya buang air sembarangan juga? Ugh, benar-benar bau. Rasanya ia ingin muntah. Berbeda dengan Elzio, Zianka justru mengulum kedua bibirnya guna menahan tawa melihat ekspresi pria di depannya. *** Kaki mungil seorang bocah laki-laki berlarian, "Ibu! Ibu! Ibu!" Bola matanya tampak berair, ia berhambur ke dalam pelukan seorang wanita cantik berambut hitam kelam yang tengah terduduk di area taman. "Ada apa, Rex?" tanya Varsya lembut. "Kak El ... hiks ... Kak El, Bu." Rex menyebut nama kakaknya sambil terisak. Air mata itu sudah turun ke pipi gembilnya. "Aku tidak bisa menemulan Kak El, Ibu. Tadi tami belmain petak umpet dan aku harus mencali kakak. Tapi aku tidak bisa menemukannya. Huwaaaa...." Tangisan Rex semakin menjadi. Varsya segera memangku anak itu sambil mengelus rambunya. "Kak El mungkin sekarang sedang mengikuti pelatihan, Rex." Suara bariton berasal dari sisi kanan Varsya adalah milik Golsum. Beliau sudah selesai menemani Raja Apollo dalam kunjungan tadi. Pria dengan beberapai helai putih di rambutnya sudah ikut duduk di samping Varsya. "Benaltah?" Sedu sedan Rex mulai berhenti, tapi .ata biru bocah itu masih basah. "Memangnya, Pangeran tidak memberitahumu?" Golsum mengusap air mata di pipi Rex, lalu anak itu menggeleng polos. Golsum tahu, meski pun Elzio tidak menyukai selir Varsya sebagai istri keduanya. Namun, putra pertamanya itu tidak pernah membenci Rex. Mereka sangat akur. Maka wajar saja sekarang bocah ini sampai menangis karena tidak menemukan kakaknya di mana pun. "Ayah yakin, Pangeran Elzio akan kembali dengan membawakanmu banyak makanan. Dia pasti merasa bersalah karena pergi tanpa sepengetahuanmu. Sudah ya jangan menangis lagi." "Iya, Ayah." Rex pun menggosok mata dengan jari mungilnya. Varsya menatap suaminya dengan raut cemas. Golsum tahu, istri keduanya ini juga mungkin mengkhawatirkan Elzio. Namun, ia hanya memberikan senyuman menenangkan sambil menggengam erat tangan calon Ratunya. *** "Sial?! Benar-benar sial," umpat Elzio tatkala mereka berhambur keluar dari persembunyiannya. Sebenarnya, bisa saja Elzio melawan para prajurit itu menggunakan sihir yang ia punya. Namun, dia tidak ingin melukai orang lain dengan kekuatannya. Lagi pula para prajurit pasti akan melapor jika dia berada di sini, lalu prajurit lain akan nenyusul.  Tidak, tidak boleh ada yang tahu dia di sini. Hanya saja, tidak pernah terpikirkan oleh Elzio bahwa ia akan mendapat kesialan bertubi-tubi di hari pertama melarikan diri. Mulai dari ia yang bodoh karena meninggalkan pedang dan kudanya di rumah Paman Neron. Terciduk buang air oleh Peri Hutan yang adalah wanita. Hampir tergoda dan mungkin akan gila karena mencium huldra, lalu sekarang harus mengalami sendiri bagaimana aroma tidak sedap yang menjijikan itu m*****i paru-parunya. Zianka benar, itu sangat amat menjijikan. Sementara wajah menderita Elzio tenyata membuat Zianka terhibur, hingga ia tidak bisa lagi menahan tawa. Suara wanita itu terdengar sangat puas, tapi menyenangkan di telinga pangeran. Elzio memperhatikan raut bahagia wanita itu dan senyuman manisnya seakan menular ke hati pangeran, hingga pria tersebut berhenti mengeluh seolah terpana oleh perbedaan besar wajah Zianka ketika menampilkan raut ketusnya. "Kenapa kau berhenti tertawa?" Zianka berdehem, memasang kembali wajah sinisnya "Memangnya kenapa? Kenapa kau berhenti mengeluh?" "Apa aku harus mengeluh terus?" "Bukannya kalian para manusia memang suka mengeluh? Kalian yang berbuat, kalian juga yang mengeluh." Sinisnya kumat lagi. Elzio mendesah, sebelum bangkit.  Dari kedua mata birunya, ia melihat Zianka yang balas menatapnya tanpa ragu. "Sebenarnya siapa kau?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari bibir mungil Zianka. Namun, Elzio tampak ingin membuat wanita itu penasaran hingga dengan sengaja tidak langsung menjawab. Merasa diacuhkan, Peri Hutan itu mendengus sebal. Terlebih pria bermata biru yang baru saja ditolongnya melenggang begitu saja seolah pertanyaan barusan hanya suara hewan malam yang mulai menyambut petang. "Setidaknya beritahu aku siapa kau sebenarnya?" Zianka mulai emosi. Tangan kurus itu menahan bahu Elzio hingga berbalik menghadapnya. "Apa mungkin kau buronan? Kejahatan apa yang kau perbuat?" Elzio masih mempertimbangkan. Haruskah ia memberitahu yang sebenarnya. "Ah, aku tahu. Kau seorang pencuri ya? Barang apa yang kau curi? Perak? Perhiasan? Pakaian?" Sorot mata Zianka menuduh, telunjuknya mengarah tepat di depan wajah pangeran. "Apa aku terlihat seperti pencuri?" Sebagai calon penerus tahta. Mana mungkin dia mencuri, ini sebuah penghinaan. "Lantas kenapa kau menghindari prajurit-prajurit itu? Dari pakaianmu yang terlihat mewah ini, aku rasa kau seorang bangsawan. Kecuali...." Zianka yang kali ini sengaja menggantung kalimatnya karena Elzio masih saja berkilah. "Kecuali apa?" "Kecuali pakaian ini kau curi dari majikanmu." "Apa?" Alis Elzio kontan bertaut. Wanita ini bilang apa? Majikan? Huh, yang benar saja. Tidak ada majikan dalam hidup calon raja! "Jadi dugaanku benar? Ck ck ck...." Zianka menggeleng lemah. "Selain jorok, kau juga pelayan yang kurang ajar ya. Manusia oh manusia." Entah hanya perasaan Elzio saja atau memang wanita ini benar-benar rasis dan sombong? Kita lihat, apa dryad ini masih bisa sombong jika tahu siapa dirinya? "Aku Elzio. Elzio Lavetro." ***** To be continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN