"Aku Elzio. Elzio Lavetro." Pangeran mengangkat dagunya tinggi seraya membusungkan d**a. Jangan lupakan kedua tangan yang bertengger di pinggang. "Bagaimana? Kau tahu kan siapa aku sekarang?"
Zianka tak bersuara, diam-diam Elzio tertawa puas dalam hati. Berpikir dryad ini pasti merasa bersalah atau tidaknya akan mengubah sikap ketusnya menjadi lebih ramah. Namun, kesombongan yang pangeran siapkan seketika menguap begitu saja.
"Siapa Elzio?" tanya Zianka dengan raut polos bercampur bingung.
"Kau tidak tahu Elzio Lavetro?" Pemuda dengan manik mata biru itu melotot tak percaya. Kedua tangan yang semula bertengger sombong langsung luluh. Sangat tidak sesuai harapannya.
"Memangnya aku harus mengenalnya?"
Gigi Elzio mulai gemeretak kesal, nada bicaranya langsung naik beberapa tingkat. Pertanyaan Zianka benar-benar terdengar meremehkan. "Elzio Lavetro adalah Pangeran Glintland Kingdom dan itu adalah aku. Akulah putra Raja Golsum sekaligus penerus tahta."
Berbeda dengan Elzio yang mencoba menahan amarahnya, Zianka justru menutup mulut dengan satu tangan. Tidak butuh kekuatan super untuk tahu Peri Hutan itu sedang berusaha menyembunyikan tawanya.
"Apa yang kau tertawakan?"
Bukannya berhenti, tawa Zianka malah semakin pecah. Elzio mendelik jengkel, sepertinya ia telah salah.
"Kau? Kau bilang kau adalah Pangeran begitu?" Tawa Zianka belum mereda. Wanita itu menunjuk ke arah Elzio tanpa ragu.
"Kau tidak percaya?"
"Yang benar saja. Jika kau pangeran, maka aku permaisurinya." Zianka tidak habis pikir dengan manusia aneh di hadapannya. Selain keinginan gila karena ini menyambangi Kawah Gunung, kini Lelaki si pembuang air sembarangan itu mengaku-ngaku sebagai pangeran penerus tahta.
Elzio mendesah pasrah. Harusnya ia sadar jika mahluk yang tinggal di hutan seperti Zianka ini, mana tahu persoalan manusia.
"Baiklah baiklah ... Anggap saja aku percaya. Aku akan memanggilmu Elzio jika itu maumu," tutur Zianka masih disela tawa yang mulai mereda.
"Terserah padamu saja. Sekarang, bisa kah kau antarkan aku Gunung Kaimana?"
"Wow, Pangeran sudah mulai memerintah. Apa imbalan untukku jika bisa mengantarmu ke sana?"
"Katakan saja apa mau mu." Elzio membetulkan letak stachel miliknya.
"Hm ... bagaimana ya? Sebenarnya ada hal yang begitu kuinginkan, tapi aku yakin kau tidak bisa mengabulkannya. Baiklah, aku tidak akan meminta hal yang terlalu sulit untukmu kalau begitu."
Elzio mengelus d**a, dia harus punya kesabaran yang panjang jika menghadapi seorang wanita dengan keangkuhan seperti Zianka.
"Katakan saja!"
"Aku mau itu." Tunjuk Zianka mengarah ke bawah milik Elzio.
Kontan saja mata pria itu membulat tak percaya.
"Apa maksudmu menginginkan ini?" kedua tangan Elzio menutup miliknya di balik celana. Pangeran tidak menyangka bahwa Peri Hutan juga bisa berpikiran kotor.
Netra hazel milik Zianka berkedip lugu. "Kau tidak mau memberikannya?"
Dengan tegas Elzio menggeleng.
"Kau sudah janji tadi."
"Tapi kenapa harus ini? Apa tidak ada yang lain?"
"Aku mau itu." Zianka menghentakkan kakinya sebelum mendekati Elzio.
"Hei hei hei, apa yang kau lakukan?" Pria berusia dua puluh lima tahun tersebut merunduk melindungi masa depannya.
"Berikan padaku!"
Elzio berputar memunggungi Zianka. Wanita itu tak menyerah, lalu menarik tali satchel cokelat milik pangeran dan merogoh isinya.
"Dapat." Senyum Zianka mengembang melihat buku merah milik Elzio berada di tangannya.
Mata biru Elzio berkedip bingung. Otaknya yang semula berpikir kemana-mana mulai mencerna kesalahanpahaman ini, lalu merasa malu sendiri karena hanya dirinya yang tengah memiliki pikiran kotor di sini.
"Kau, harus mengajariku ini."
"Maksudmu kau ingin bisa membaca buku itu?" Zianka mengangguk semangat.
"Tapi untuk apa?" Elzio tidak mengerti kenapa wanita itu ingin bisa membaca buku. Bukankah itu tidak berguna dalam hidupnya sebagai peri hutan?
"Aku sering melihat beberapa orang menatap benda ini ketika beristirahat di bawah pohon. Mereka membulak-baliknya. Kemudian mereka akan tertawa keras, tapi juga kadang mata mereka mengeluarkan air," ungkap Zianka jujur. Elzio bahkan bisa melihat semu merah di wajah wanita itu ketika berkata dengan malu-malu.
"Baiklah, aku akan mengajarimu membaca. Tapi mungkin buku ini bukan buku yang orang-orang baca seperti yang kau lihat."
"Jadi ini namanya buku apa?" Zianka mengelus benda kotak tebal berwarna merah maroon itu.
"Ya, ini namanya buku. Sekarang kembalikan buku itu, biar aku yang simpan." Tangan Elzio terulur. Zianka langsung menyembunyikan buku tersebut di balik punggungnya.
Tingkah Zianka itu sebenarnya membuat Elzio ingin tertawa. Wanita ini serupa dengan manusia dewasa, tapi terlihat sekali sifatnya masih kekanakan.
"Jika aku memberikannya padamu, bisa saja kau kabur. Lebih baik kau saja yang berikan benda itu." Dagu Zianka bergerak. Elzio paham, dryad ini juga menginginkan satchelnya.
Sekilas Elzio teringat akan Rex, melihat Zianka membuat ia rindu pada adik kecilnya. Mereka berdua seperti manusia yang seumuran dengan wujud yang berbeda.
Tanpa ragu, pangeran memberikan satchel cokelat itu. Dia bahkan membantu Zianka memasangkannya.
***
Langit Zigrora sudah menggelap. Taburan bintang beserta bulan berwarna semu kehijauan menghiasi angkasa.
Elzio menatap pada malam yang hitam, mengabaikan suara-suara aneh yang terdengar sejak matahari terbenam. Zianka bilang suara mengaung itu berasal dari huldra yang kesepian. Peri Hutan penjaga sungai yang konon masih terikat hubungan dengan dryad itu akan frustasi tiap malam jika tidak mendapat mangsa.
Tentu saja hal tersebut membuat bulu kuduk pangeran merinding tiap kali membayangkan hal yang akan terjadi padanya tadi siang jika ia sampai tergoda pada mahluk itu. Sekilas memang cantik, bahkan Elzio sampai tergoda. Namun, setelah mengetahui banyak hal dari Zianka yang ternyata tidak tertulis di buku yang ia bawa. Pria itu setuju bahwa hutan ini cukup berbahaya.
"Zianka," panggil Elzio sambil mengetuk batang pohon.
Pangeran sendiri memilih berada di atas pohon, lebih tepatnya memilih beristirahat di sana guna menghindari binatang serta mahluk-mahluk lain yang tidak diinginkan.
"Zianka, apa kau sudah tidur?" pangeran kembali mengetuk batang pohon tempat ia bersandar. Namun, tidak kunjung ada jawaban bahkan hingga mentari terbit.
Hari telah berganti, hutan yang kini menjadi tempat keberadaan Elzio menguarkan kabut pagi. Namun, pangeran masih memejamkan mata. Tubuh kokoh yang tampak lelah itu bersandar pada dahan dan batang.
Zianka tersenyum simpul ketika mengeluarkan sebagian tubuhnya dari batang pohon di dekat dahan Elzio yang terlelap untuk mengamati wajah pangeran. Sebenarnya semalam ia mendengar pria itu memanggilnya, tapi dia berusaha acuh.
Ketika wajah Zianka berada dekat dengan Elzio, mata biru itu mendadak terbuka. Keduanya terkejut secara bersamaan dan tubuh pangeran yang oleng dari tempat semula membuat lengannya meraih apapun sebagai pegangan, termasuk meraih Zianka dan itu adalah sebuah kesalahan.
Kejadian yang berlalu begitu cepat, tubuh keduanya terjun jatuh di udara. Persis sebelum membentur tanah, sulur batang pohon dengan cepat merambat melindung mereka.
Setelahnya tubuh Zianka yang berada di atas Elzio mengayun bersamaaan. Sapuan udara serta sinar pagi menjadi pendukung manis insiden tersebut.
Berada di posisi seperti ini membuat Pangeran melihat wajah Zianka lebih dekat, memandangi bulu mata lentiknya, mata bulat dengan iris hazel nan mempesona, hidung mungil yang mancung, lalu bibir tipis yang sedikit terbuka menggoda. Elzio tidak bohong saat mengakui tidak ada perempuan secantik Zianka yang pernah ia temui, belum pernah ada.
Dan sekali lagi, dirinya hanya pria normal yang mana situasi tak terduga seperti ini kembali membuatnya terpesona. Bahkan aroma khas Zianka seakan menarik hasrat Elzio lebih dalam pada khayalan yang tidak-tidak hingga ucapan kasar yang keluar dari bibir Peri Hutan ini menyadarkannya.
"Kenapa kau menarikku, Dasar bodoh!"
Zianka memukul d**a bidang pangeran, sedetik kemudian sulur yang menangkap mereka seolah terlepas dan pada akhirnya tubuh keduanya tetap membentur tanah. Hanya saja mungkin tidak lebih sakit dari yang seharusnya.
Nyaris saja.
"Kenapa juga kau tiba-tiba muncul tepat di depan wajahku!" seru Elzio membela diri. tidak terima.
Elzio bangkit lebih dulu, ia mengulurkan satu tangannya untuk membantu Zianka. Namun dengan kasar ditepis oleh dryad itu.
"Aku bisa bangun sendiri."
***
Di satu sudut ruang gelap, sebuah suara memerintah dengan misterius. Pada sosok pria berpakaian hitam yang tengah menundukan kepala.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?"
"Tentu saja, saya pasti akan melaksakannya dengan sebaik mungkin."
"Bagus. Aku menunggu kabar baik darimu."
Pria tersebut pun mengundurkan diri, menghilang di balik bayangan gelap yang seakan menelan dirinya.
*****
To be continue