BAB 10

808 Kata
Karena Reiner yang selalu menempeliku aku jadi tidak punya waktu berfikir tentang mimpiku melihat kematian Alegria lagi. Selain itu, aku juga terkejut mengetahui bahwa sebenarnya Deon bisa memegang senjata. Tapi, sepertinya tidak mungkin. Beberapa bagian mimpi itu terlihat tidak nyata dan nyata. “Apa yang kau lakukan?” Aku berbalik mendengar intrupsi seseorang. Ervin kakak pertamaku. Apa yang dilakukan disini? “Harusnya aku yang kaget, apa yang kau lakukan di Perpustakaan?” tanyanya dengan menatapku sinis. “Aku hanya mencari buku.” “Buku apa?” tanyanya tanpa ekspresi. “Tentang wilayah Utara.” jawabku. “Utara?” “Ehm ya, itu karena melihat Yang Mulia Pangeran berasal dari Wilayah Selatan, aku tiba-tiba ingin tau wilayah Utara. Selama ini wilayah itu kan misterius.” jawabku. Yah, hal tersebut dijelaskan didalam Novel. Wilayah atau Negara Utara adalah wilayah yang sangat misterius. Bahkan untuk masuk ke negera itu sangat mustahil jika tidak dapat surat rekomendasi negara itu. Selain itu, tidak ada yang dijelaskan. Didalam Novel Raja pun tidak dijelaskan. Oleh karena itu, Aku secara pribadi sangat penasaran karena bermimpi Erick alias ayahku berniat mengirimku ke Utara. “Ini, tidak banyak informasi yang ada. Tapi semoga ini membantu rasa penasaranmu.” kata Ervin yang tiba-tiba memberikan buku. Aku menerimanya. “Terimakasih.” ucapku. “Sepertinya rumor itu benar, kau sedikit berubah.” kata Ervin yang kemudian duduk dan membaca buku yang lain. Aku merasa aneh dan tidak nyaman melihat kebaikan Ervin. Di Novel yang kutau Ervin adalah orang yang sangat dingin dan suka mengabaikan Alegria. Dia orang yang sangat prefeksionis dan membenci kesalahan sekecil apapun itu. Ia menganggap pekerjaan nomor satu dan Dominique sebagai hidupnya. Tapi sayangnya dia tidak di berkahi mata biru dan Rambut hitam. Dominique memiliki kepercayaan pewaris kepala keluarga harus memiliki mata biru dan rambut hitam. Tak peduli kau anak haram atau anak p*****r jika kau memiliki rambut hitam dan mata biru khas Dominique maka kau bisa dengan mudah menjadi pewaris Dominique berikutnya. Karena rambut hitam dan mata biru itu artinya kau diberkahi oleh Roh. Ervin sama seperti Axel. Dia orang yang menawan dan tampan. Dia memiliki rambut pirang seperti ibu tiri dan mata hijau kebiruan. “Kenapa tidak duduk?” tanya Ervin lagi. “Itu sangat menganggu.” “Ah ya, ini mau duduk.” kataku yang kemudian duduk didekatnya. Aku fikir dia akan mengusirku. Tapi dia diam saja. Dan tetap melanjutkan membaca buku. Aku juga melakukan hal serupa. Tapi di otakku malah mengingat adegan Novel. Setelah aku ingat-ingat kembali. Ervin memang tidak pernah mengganggu Alegria seperti Axel. Laki-laki itu cenderung cuek dan dingin. Tapi, dia selalu menghukum Alegria jika Alegria membuat malu. Atau menghukum Alegria kalau bertengkar dengan Axel. Setelah kufikir-fikir itu memang karena Axel yang suka mengadu. Tapi sifat Ervin terhadap Alegria berubah karena Alegria membunuh ibu kandung Ervin dengan racun. Hal tersebut karena Alegria termakan omongan Deby. Dan Deby mengadukan hal tersebut kepada Erick, Ervin, dan Axel. Tapi sayang sekali Deby tidak mendapat respon. Alegria tidak mendapat hukuman dan kematian Nyonya Dominique disamarkan sebagai penyakit. Sungguh malang dan tragis. Waktu membaca Novel itu pun aku seolah mengerti kenapa Ervin jadi mulai menganggu Alegria. Hal itu semata-mata karena Alegria yang memulai semuanya. “Kakak, ini... Apa ini benar?” tanya seorang gadis kecil berambut hitam dengan menunjukan sebuah kertas. “Salah. Kau seharusnya tidak menggunakan huruf ini.” jawabnya dengan tersenyum. Anak itu langsung menunjukan tulisan nama yang benar. “Apa kau mengerti sekarang Ria?” tanyanya. “Iya. Terimakasih kakak. Kakak hebat. Andai saja aku sepintar kak Ervin.” “Tentu saja, Ria nanti pasti lebih pintar dariku.” Aku langsung memegangi kepalaku. Ingatan apa barusan? Aku menatap Ervin. Ervin masih duduk tenang dan tidak terganggu. Kenapa dia memanggilku Ria? “Kenapa menatapku begitu?” “Tidak apa-apa. Hanya sudah lama saja.” kataku tiba-tiba. “Yah, sejak kapan ya? Sejak kejadian itu mungkin.” jawabnya. Aku menatapnya. Aku bingung. Dia balas menatapku dengan senyum sinis dan dingin. “Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu kalau kau melupakannya.” katanya lagi. “Ah ya.” kataku. Apa yang kulupakan?? Apa?? Aku tidak ingat apapun selain yang ada di novel. Aku langsung menutup bukuku dan pamit untuk pergi. Astaga, rasanya aneh karena harus berbicara dengan Ervin. Sepertinya kalau aku tidak mau dijual olehnya aku harus bersikap baik padanya. Hah, melelahkan. “Woi,” Aku menoleh. “Kau sudah baikan?” tanyanya. Axel. “Aku jauh lebih baikan. Terimakasih.” ucapku. “Tidak seru!” Aku menatapnya penasaran. “Kau tidak pernah marah-marah lagi.” ujarnya dengan memasukan satu tangannya di kantongnya. “Jadi itu sebabnya kau suka aku marah-marah?” tanyaku kesal. “Hu'umb. Tapi kau berubah.” “Kenapa kau tidak senang?” “Sepertinya memang tidak.” “Apa?” tanyaku semakin kesal. Dia tertawa. Lalu mengacak rambutku setelah itu langsung berlalu pergi. Menyebalkan. Kenapa sih orang-orang ini. Kenapa berubah menjadi baik seperti ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN