“ASTAGA, YARANIA!” pekik Sahunia saat melihat anaknya itu masih tertidur pulas di tengah-tengah lautan makanan dan coklat yang beberapa bagian sudah bersemutan. “YARANIA, BANGUN!” serunya sembari menggoyangkan tubuh Yarania.
Yarania membalikkan tubuhnya dari posisi telungkup ke posisi telentang, kemudian ia membuka matanya yang masih sipit. Seketika sinar mentari dari jendela menerobos masuk matanya hingga dia kesilauan. Samar-samar dia juga melihat mamanya yang sedang memakai rol rambut berkacak pinggang di sisi ranjang.
“Yarania!” pekik Sahunia sekali lagi. “Bangun, ayam sudah berkokok dan bertelur, sapi sudah keluar dari kandang, kambing sudah makan rumput, dan kamu masih menjadi kerbau yang tidur sampai matahari sudah tinggi begini?” omelnya.
Yarania cemberut sembari melirik ke jam yang tersimpan di meja samping ranjangnya. Ia menyipitkan matanya untuk dapat mengetahui jam berapa sekarang. Setelah tahu, Yarania kembali melihat ke arah Sahunia sembari tersenyum.
“Masih jam sembilan, Mama,” ucap Yarania dengan santai.
“Jam sembilan apaan, Yarania?” tanya Sahunia. Kemudian, ia melihat ke arah jam yang tadi dilihat oleh anaknya itu. “Itu jarum panjangnya iya di angka sembilan, tapi jarum pendekanya sudah ada di tengah-tengah angka sebelas dan dua belas. Itu masih pagi menurutmu, hah?” tanyanya. “Mama enggak habis pikir sama kamu, Yarania, bangun!” serunya sembari menepuk pahan anaknya itu.
“Iya, Mama, iya …,” jawab Yarania sembari bangkit dari tidurnya.
“ASTAGA, YARANIA!”
Yarania nyaris terperanjat ke sisi ranjang yang satunya saat mendengar teriakan mamanya itu, “Apa, Mama? Kenapa?” tanyanya agak panik.
Sahunia menggeleng-gelengkan kepala, “Semalam kamu menghabiskan banyak batang coklat begini, Yarania?” tanyanya sembari memungut bungkusan coklat yang berserak di atas dan di sisi ranjang anaknya itu. “Terus, ini kamu makan ciki-ciki sebanyak ini? Kamu mau jadi apa, Nak, jadi truk bulldozer, hah?” tanyanya lagi.
Yarania menggeleng, “Yara enggak mau jadi apa-apa, Ma,” jawabnya. Ia memilih untuk berdiri dan memungut beberapa sampah yang masih berserakan sebelum mamanya itu kembali memperpanjang ocehan.
“Mama enggak habis pikir sama kamu, Yarania,” ucap Sahunia. “Apa kamu enggak ngeri lihat timbangan kamu yang makin hari makin ke kanan, hah?” tanyanya.
“Aku enggak pernah menimbang berat badan, Ma.”
“Selalu begitu kamu, tuh, tiap Mama kasih tahu pasti ada-ada aja jawabannya.” Sahunia mengembuskan napasnya dengan kesal. “Apa sih masalahmu sampai kamu enggak mau merawat diri? Uang perawatan dari Mama sama Papa kurang? Kamu masih butuh lebih banyak? Bilang, Yara, supaya kami tahu apa maumu, bukan malah begini,” sambungnya.
“Yara bahagia dengan begini, Ma.”
“Bahagia apanya?” tanya Sahunia. “Kamu punya pacar, si Galih mau menerima kamu apa adanya sekarang, kita enggak tahu nanti kalau dia sudah melihat perempuan yang lebih cantik dari kamu, kemungkinan besar dia akan berpaling.”
Yarania terdiam, kemudian menatap mamanya, “Sudah berpaling, Ma.”
“Putus?” tanya Sahunia dengan wajah yang biasa-biasa saja.
Yarania mengangguk, “Iya.”
“Karena?”
“Karena aku.” Yarania menunduk untuk melihat kakinya yang sudah membengkak. Dia juga ingin memberitahukan pada mamanya makna karena yang menjadi alasan Galih memutuskannya.
“Bentuk tubuh, warna kulit dan masalah wajahmu?”
Yarania mengangguk lagi, “Iya.”
“Wajar.” Sahunia menggeleng-gelengkan kepala. “Wajar setelah bertahun-tahun dia menjalani hubungan sama kamu, terus dia menyerah. Kalau Mama yang jadi pacarmu pun pasti enggak akan setahan dia. Siapa yang tahan dengan komentar social karena bentuk pacarnya itu seperti kamu, Yarania? Enggak ada laki-laki yang bakalan tahan,” sambungnya.
Yarania mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan pendengarannya tidak salah, “Ma …?” tanyanya.
Sahunia mengangguk, “Hal yang wajar, Yara, harusnya kamu ngaca,” sambungnya.
Yarania menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah jatuh lagi, “Aku selalu berharap bahwa aku punya kesempatan untuk mendapat dukungan dari Mama dan Papa, tapi aku salah, kalian enggak pernah mendukung aku,” ucapnya dengan suara yang gemetar.
Sahunia menatap Yarania dengan tajam, “Mama dan Papa enggak mendukung kamu? Kamu salah besar, Yarania, selama ini kami mendukung kamu, kami mendorong kamu, kami meminta kamu untuk jad- ….”
“Kalian enggak pernah mendukung aku!” pekik Yarania yang memotong ucapan Sahunia. “Kalian justru mencela aku, membuli aku, merundung aku. Kalian sama sekali enggak pernah membela aku. Apa itu namanya mendukung, Ma?” tanyanya.
Yarania mengatur napasnya yang sudah sesak, “Bahkan, sekarang aku berada di posisi terendah, aku diputusi oleh pacarku yang sudah empat tahun sama-sama sam aku. Aku berharap Mama merangkul aku, memeluk aku, meminta aku bercerita. Aku mau mama mendengarkan cerita aku, menguatkan aku. Aku sama Galih itu empat tahun dan Mama tahu itu semua pasti enggak mudah untuk aku lewatkan!” semburnya.
“Tapi Mama justru mewajarkan apa yang Galih perbuat sama aku! Aku ini anak Mama, anak perempuan Mama satu-satunya, Ma ….” Yarania menghapus air matanya dengan kasar. “Aku bukan orang lain, aku darah daging Mama, tapi kayaknya Mama enggak pernah menganggap aku darah daging!” serunya.
“YARANIA!” bentak Sahunia.
“Iya, Ma!” balas Yarania. “Aku ini seperti aib yang harus Mama tutupi dari orang-orang. Mama jarang mengajak aku pergi ke kondangan karena malu aku seperti ini, Mama lebih memilih pergi sendirian di arisan keluarga supaya enggak ditanya-tanya tentang aku. Iya, ‘kan, Ma?”
Yarania menganggukan kepalanya, “Ma, aku tahu bentuk tubuhku begini, tanpa perlu diberitahu sama orang lain aku tahu, Ma. Aku bahkan sudah berusaha untuk berubah, tap- ….”
“Mana ada usahamu untuk berubah, Yarania?” potong Sahunia. “Lihat!” sambungnya sembari menunjuk pelastik sampah di dekat ranjang anaknya itu. “Mana ada usaha berubah saat kamu makan coklat lebih dari sepuluh bungkus di satu malam? Mana ada usaha kamu saat pelastik ciki-ciki berserakan di lantai kamar, bahkan sprai kamu? Mana ada, Yarania?” tanyanya.
Sahunia menggeleng-gelengkan kepalanya, “Mama capek sama kamu!” serunya. Kemudian ia memutar badannya dan pergi dari kamar anaknya itu.
Yarania terduduk di lantai kamarnya dengan air mata yang bercucuran. Ia menangis sejadi-jadinya. Satu-satunya orang yang mendukungnya selama ini hanyalah Galih, sementara kedua orang tuanya hanya sibuk menuntutnya untuk segera berubah. Bahkan, di titik terendahnya pun mamanya tidak ada niat untuk menghiburnya barang sedikit pun.
“Setelah ini aku harus sama siapa, Galih …?”
***
Yarania memoles pewarna bibir pada bibirnya, kemudian menyapu kuas bedak pada pipinya. Setidaknya penampilannya lebih baik dibandingkan saat baru bangun tadi yang persis seperti singa mengamuk. Kemudian, ia mengambil tas selempang dari atas ranjangnya, mengecek ulang isi tas tersebut untuk memastikan tidak ada perlengkapannya yang tertinggal.
Setelah memastikan bahwa dia sudah siap atau setidaknya lebih baik, ia memutuskan untuk keluar dan turun ke lantai dasar. Tujuannya kali ini adalah ke mana pun asal tidak di rumah. Karena hati Yarania sudah muak dengan apa yang orang tuanya katakan mengenai fisiknya.
“Yara pamit, Ma, Pa,” ucap Yarania sembari berjalan menuju pintu rumahnya. Ia sama sekali tidak melirik kedua orang tuanya, sedikit pun tidak ingin tahu lebih jauh, karena takut dia akan disakiti dengan perkataan orang tuanya lebih dalam lagi.
Sahunia yang sedang asyik menonton dan memakan cemilannya langsung menoleh, “Ke mana?” tanyanya. Kemudian, ia meletakan cemilan yang tadi ia peluk ke atas meja.
Yarania berhenti, kemudian menoleh sekilas pada Sahunia, “Bukan urusan Mama,” desisnya. Setelah itu, ia melanjutkan kembali langkah kakinya untuk menuju pintu.
“YARANIA!” pekik Aldan yang merasa bahwa anaknya itu kurang ajar. “Yarania, berhenti!” serunya sembari berdiri dari sofa dan langsung menghadap ke arah Yarania.
Yarania berhenti melangkahkan kakinya, kemudian membalikan badannya, “Kenapa, Pa?” tanyanya.
Aldan menatap tajam pada Yarania, “Apa maksud perkataanmu tadi, heh?” tanyanya sembari berkacak pinggang.
Yarania menaikan alisnya, “Aku kira Papa sudah mengerti,” jawabnya. “Apa yang mau aku lakukan ini bukan urusan Mama,” ulangnya.
“Yarania, kalau berbicara sama orang tua itu yang sopan,” ucap Aldan dengan nada yang tegas. “Kurang ajar sekali kamu mengatakan itu pada mamamu dan menjawab dengan lancang apa yang Papa ucapkan, heh?” sambungnya. Ia berjalan mendekat ke arah Yarania untuk bisa berbicara berhadap-hadapan dengan anaknya itu.
“Kenapa harus?” tantang Yarania. Ia menatap papanya dengan tatapan muak. “Kenapa aku harus sopan sama Mama dan harus menghormati Papa?” tanyanya lagi.
Aldan memelotot besar karena merasa tersinggung dengan apa yang diucapkan anaknya itu, “Dasar kamu itu anak yang tidak tahu diuntung!” umpat.
Yarania tertawa, “Memangnya selama ini Mama dan Papa merasa beruntung ada aku di dunia kalian?” tanyanya. “Enggak, ‘kan!”
“YARANIA!”
“Yarania!” seru Sahunia. “Sudah cukup tadi bagi kamu berdebat sama Mama, sekarang jangan, Yara!” sambungnya.
“Aku belum merasa cukup, Ma,” jawab Yarania. “Lagipula, aku cuma mau keluar dan kenapa kita harus bertengkar seperti ini?” sambungnya. “Lebih baik Mama sama Papa mengurusi bisnis kalian berdua, atau mengurusi ekspektasi kalian padaku, dibandingkan mengurusi mau ke mana aku pergi. Bukannya kalian berdua enggak pernah peduli?” tanyanya.
“Jaga omongan kamu, Yarania!” bentak Aldan. “Kami berdua enggak pernah mengajarkan kamu seperti itu!” sambungnya.
Yarania mengangguk tegas, “Ya, karena kalian berdua enggak pernah mengajarkan aku!” serunya. “Kalian berdua hanya memintaku menjadi anak cantik, anak langsing, anak putih, tinggi semampai, tapi kalian enggak pernah peduli bagaimana sakitnya hatiku, bagaimana hancurnya otakku, kalian enggak pernah tahu dan peduli dengan perasaanku!” sambungnya.
“Itu semua kami lakukan karena kami peduli sama kamu!” seru Sahunia. “Kami mau kamu diterima sama masyarakat, enggak dihina, enggak dibuli seperti yang selama ini kamu rasakan. Kami meminta kamu untuk hadir sebagai Yarania yang lebih baik lagi, supaya kamu enggak dipandang sebelah mata,” jelasnya.
“Hahaha, iya, Ma, iya … Mama sama Papa enggak mau aku dihina dan dibuli, tapi Mama dan Papa lah yang melakukannya sama aku, membuli aku, menghina aku,” ucap Yarania penuh dengan emosi. “Mama dan Papa mau aku diterima di masyarakat, tapi kalian berdua enggak menunjukkan sikap sama sekali kalau kalian sudah menerima aku dengan bentuk fisikku yang seperti ini. Kalian enggak mau aku dipandang sebelah mata, padahal kalian selama ini enggak pernah memandang aku,” sambungnya. Air matanya sudah mengucur deras daritadi.
Yarania menghapus paksa air matanya di pipi, “Bahkan, saat aku ditinggalkan sama orang yang aku cintai pun, Mama justru mewajarkan aku disakiti hanya karena fisikku. Sekarang, aku harus menghormati kalian dengan alasan apa lagi? Apa aku harus menghormati kalian dengan alasan kalian berdua adalah orang tuaku, sementara kalian sendiri tidak pernah bisa menerima dan melihat aku sebagai anak yang kalian sayangi?” tanyanya.
“Yara ….”
“Sudah, Pa!” cegah Yarania agar Aldan berhenti berbicara. “Selama ini, sudah banyak kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut Papa dan melukai hatiku. Setelah kejadian ini, aku berharap tidak ada lagi kalimat penuh luka yang Papa berikan sama aku.” Ia mengatur napasnya agar bisa berhembus dengan leluasa.
Kemudian, ia memandang ke arah Sahunia, “Terakhir, aku mohon kepada Mama dan Papa,” ucapnya sembari menoleh ke arah Aldan. “Tolong terima aku sebagai anak yang kalian kasihi, sebagai buah hati yang kalian nanti-nanti. Karena semenjak aku sudah bisa mengingat sampai hari ini, aku tidak pernah merasakan itu semua,” ucapnya.
Yarania mengembuskan napasnya, “Sekarang aku mau keluar untuk menenangkan diri,” sambungnya. “Menenangkan diri dan meyakinkan agar aku tetap bisa kuat menerima ketidak inginan kalian aku ada di dunia dengan bentuk yang seperti ini,” ucapnya, kemudian ia mengangguk. “Permisi, nanti aku pulang.”
Yarania melangkahkan hatinya menuju pintu rumah dengan air mata yang semakin deras. Ia meremas dadanya yang terasa nyeri. Ia juga merasakan bahwa kakinya kehilangan tenaga dan bergetar. Ia berusaha untuk menahan agar tidak ambruk di depan rumah sebelum dia menemukan ojek daring yang tadi sudah dipesannya.
Setelah menemukan ojek daring tersebut, Yarania langsung naik dan berkata bahwa dia ingin dibawa ke mana pun untuk menenangkan hatinya. Ia menikmati tiap sepoi angina yang menerpa wajah dan menerbangkan rambutnya. Hal tersebut bisa meredamkan semua luka di hatinya meskipun sebentar dan sekejap saja.
Yarania berjanji bahwa setelah hari ini … dia sudah harus baik-baik saja.