“Makanannya enak sekali!” seru Yarania saat sesendok bakso dengan kuah dan penuh saus masuk ke mulut dan lolos ke tenggorokannya. Kemudian, ia mengambil satu bulat bakso lagi dan meletakkan banyak saus di atas bakso tersebut. Setelah itu, memasukan bakso yang sudah dilumuri saus itu ke mulutnya dan mengunyahnya dengan perasaan bahagia lagi. Tidak lupa, dia juga menggoyang-goyangkan badan dan kepalanya, perbuatan yang sudah disepakati bahwa akan dilakukan oleh banyak perempuan jika menemukan makanan yang enak.
Galih hanya tersenyum melihat tingkah perempuan yang sudah menjadi kekasihnya dalam waktu empat tahun ke belakang. Yarania memang menyukai banyak saus di atas bakso yang gadis itu makan. Namun, Yarania tidak pernah mencampurkan saus dan kecap ke dalam mangkuk baksonya.
Galih pernah bertanya mengenai alasan tentang apa yang dilakukan gadis itu, kata Yarania kuah baksonya menjadi tidak perawan lagi karena sudah dicampuri dengan rasa dari luar. Aneh, ‘kan, kekasihnya itu? Namun, Galih sudah mencintainya sejak lama.
Galih menggenggam tangan kiri Yarania yang dari tadi terletak di atas meja, “Yara …,” lirihnya sembari menatap sendu pada gadis itu.
Yarania menghentikan kunyahan dan menelan baksonya dengan paksa, kemudian ia menatap Galih yang ada di depannya, “Ya?” tanyanya sembari meletakan sendok bakso yang ada di tangan kanannya kembali dalam mangkuk bakso.
Galih meringis, “Maaf,” ucapnya kemudian.
Yarania mengernyit bingung, “Untuk?” tanyanya. “Kenapa kamu meminta maaf, Galih? Kamu sedang berbuat salah?”
Galih menggeleng, kemudian ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Yarania. Ia menatap mata gadis itu sebentar, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke sekitar. Ke manapun yang tidak membuatnya melihat Yarania. Karena, dia tidak sanggup jika harus melihat muka sedih yang ditunjukan oleh gadis itu.
Yarania kebingungan saat Galih tiba-tiba melepaskan genggaman tangan mereka. Ia mencoba untuk menatap mata laki-laki itu, tetapi sepertinya Galih sedang berusaha untuk menghindar. Sekarang, ia mencoba untuk menggenggam tangan kekasihnya yang berada di atas meja itu.
“Galih …,” panggil Yarania. “Kenapa?” tanyanya lembut.
Galih menggeleng lagi, kali ini ia sudah memantapkan matanya untuk menatap Yarania, “Gue udah coba, Yara …,” ucapnya.
Yarania menyipitkan matanya untuk menangkap maksud dari apa yang Galih sampaikan barusan, “Maksudnya, Galih?” tanyanya. “Aku enggak ngerti kamu ngomong apa? Maksudnya apa kamu sudah mencoba apa?”
“Gue enggak bisa bertahan lebih lama lagi sama lo.”
“Hah?” respon Yarania. Ia melepaskan tangannya dari tangan Galih, “Kenapa? Apa ini maksdunya? Apa?” tanyanya dengan suara yang gemetaran. “Kenapa? Ada masalah apa? Aku salah apa?”
Galih mengedikan bahunya, “Jujur, selama empat tahun ini gue udah muak sama orang-orang yang menghina fisik lo, menghina selera gue. Empat tahun ini gue udah mati-matian bertahan dan minta lo untuk ngubah diri lo. Gue mati-matian bertahan, gue memberikan pembelaan untuk lo. Gue yakin lo bakal berubah, tapi ….”
“Terima kasih …,” jawab Yarania sembari mengangukkan kepalanya. “Terima kasih karena kamu sudah mau bertahan, tetapi kenapa tadi kamu bilang enggak bisa bertahan lebih lama lagi, Galih?” tanyanya.
“Karena lo gue enggak bisa bertahan lagi, Yara,” jawab Galih sembari meraup wajahnya, kemudian ia mendesah panjang. “Gue udah mati-matian mempertahankan kita, tapi lo bahkan enggak pernah nyoba buat glow up, lo enggak pernah nyoba untuk memperbaiki diri lo. Gue bisa apa?” tanyanya. “Empat tahun ini gue nerima lo, dua tahun terakhir ini gue udah nyoba segala cara supaya lo mau dan bisa berubah, tapi lo enggak melakukan apa yang gue minta. Harusnya lo tahu, apa yang gue minta itu semua untuk kebaikan lo.”
Yarania menatap nanar pada Galih, “Galih …?”
“Jujur, gue udah muak dengan semua ini, muak sama hinaan dan celaan orang sama fisik lo, muak sama tuntutan Mama yang maunya gue sama orang lain supaya enggak ngerusak keturunan gue. Gue juga muak sama teman-teman gue yang terus … terus … terusan aja bandingin lo sama mantan terakhir gue, mantan gue udah glow up dari lama, tapi lo …?” tanya Galih. “Lo lihat diri lo sendiri, Yara, apa udah ada yang berubah dari lo?” tanyanya lagi. “Enggak ada, Yarania, enggak ada yang berubah.”
Yarania menggeleng sembari menyeka air mata yang sudah mengalir deras dari ujung matanya, “Gal …?” tanyanya. “Rencana pernikahan kita bagaimana?” tanyanya lagi. “Apa semuanya harus batal?”
Galih mengangguk, “Batal, Yar, semuanya batal,” jawabnya. “Gue udah nyoba komunikasiin sama Mama dan Papa supaya mereka bisa membuka restu untuk lo, tapi mereka enggak setuju, Yar. Mereka enggak mau nanti cucu mereka justru ikutin gen lo.” Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Galih pun merasa bimbang pada keputusan yang sudah dia buat hari ini. Di satu sisi, dia begitu mencintai Yarania, bukan hanya dari fisik, melainkan dari hati baik yang dimiliki gadis itu. Namun, di sisi lain ia mendapatkan tekanan yang keras dari lingkungannya. Teman-temannya tidak ada yang menerima Yarania, meskipun ia sudah memperjuangkan gadis itu sejak lama. Orang tuanya pun tidak ada yang mendukung, bahkan kedua orang tuanya berkali-kali meminta dia untuk mencari perempuan lain yang jauh lebih cantik dari Yarania.
Yarania masih menggelengkan kepalanya dengan air mata yang semakin banyak mengucur, “Tapi selama ini … mereka menerima aku?” tanyanya. Kemudian, ia mendongak untuk menatap Galih. “Dan kamu … apa kamu enggak cinta sama aku lagi, Gal? Bagaimana janji kamu untuk terus ada buat aku? Kamu pernah bilang kalau kamu bakal terus menemani aku, kamu mau mengingkari itu semua?”
“Gue cinta sama lo, cinta banget!” seru Galih dengan suara yang tercekat, tetapi dia tetap tersenyum. “Tapi gue kecewa sama proses lo yang enggak maju-maju. Bahkan, enggak ada proses yang lo lakuin, Yara.”
Galih memandang lurus ke arah Yarania sembari menggelengkan kepalanya, “Lo enggak mau jauh dari gue, enggak mau mulai karir lo sendiri, lo enggak mau berubah demi gue. Gue udah bilang berkali-kali sama lo bahwa gue pengin lo jadi lebih cantik, lebih baik, punya karir, tapi lo enggak mau berubah.” Ia mengusap wajahnya dengan kasar. “Dan udah berkali-kali juga gue bilang kalo semua perubahan itu baik buat lo. Bahkan gue udah capek ngomong gitu tiap hari, kasih lo motivasi, kasih lo kepercayaan.”
Yarania menggeleng-gelengkan kepalanya, “Katamu, kamu mau mencintai aku apa adanya, Gal?”
“Mencintai apa adanya bukan berarti gue pengin lo stuck di tempat lo sekarang, Yara,” jawab Galih. “Perihal Mama dan Papa, mereka nerima lo karena berharap lo bisa berubah.” Kemudian, ia menggeleng. “Tapi lo enggak melakukan apa-apa. Gue harus mempertahankan gimana lagi?”
“Tapi, Gal …?”
“Pun gue bilang kalau gue cinta sama lo apa adanya, tapi bukan berarti gue ngebiarin lo untuk terus hidup di diri lo yang sekarang. Gue mau lo bangkit, cantik, dipuji, punya tubuh ideal, punya karir. Gue udah sering bilang ini sama lo, tapi sekali lagi … lo enggak pernah ngelihatin proses yang bikin gue yakin, Yarania,” ujar Galih dengan wajahnya yang sedih.
Galih menggelengkan kepalanya lagi. “Gue cukup tahu kalau gue enggak begitu berarti dan enggak begitu berpengaruh buat bisa meminta lo agar berubah jadi jauh lebih baik dari diri lo yang sekarang,” sambungnya.
“Kamu … kamu sangat berarti, Galih … sangat berarti …,” lirih Yarania.
Galih menggeleng, “Enggak, Yarania … gue enggak pernah berarti buat lo.” Kemudian, ia menganggukan kepala. “Gue udah enggak punya alasan apa-apa buat tetap bareng sama lo.”
Kemudian, Galih berdiri dari duduknya. “Ini terakhir kita jalan, terakhir gue ngelihat lo atau juga terakhir lo ngelihat gue. Setelah ini, kita udah enggak bareng lagi, kita udah punya hidup masing-masing. Gue berhenti, kita putus, Yar,” ucapnya. Setelah itu, dia langsung beranjak dari hadapan Yarania.
Yarania mendongakan kepalanya dan melihat Galih yang sedang menghidupkan motor, kemudian laki-laki itu melajukan motornya ke jalan raya. Air matanya sudah jatuh tidak terkira. Ditinggalkan oleh orang yang begitu ia cintai ternyata sangat menyakitkan. Terlebih lagi Galih pergi darinya dengan kalimat yang sangat menohok.
Yarania mencoba untuk menghapus air mata yang makin sering meluruh dari matanya. Kemudian, ia menyatukan dua telapak tangan dan menggosokannya agar mendapatkan kehangatan. Sungguh, saat ini tubuhnya sudah bergetar hebat, kepalanya pening dan pandangannya sudah tidak tahu mau ke mana.
Yarania kebingungan mencari cara bagaimana dia bisa melanjutkan hidupnya lagi. Kemudian, ia melihat pada bangku yang ada di depannya, bangku terakhir yang diduduki Galih. Setelah itu, dia melihat ke arah mangkuk baksonya yang baru tandas setengah. Masih ada dua bakso kecil dan satu bakso urat yang tersisa bersama mie yang baru dia makan separuh. Sudah tidak menarik selera. Dia patah hati hebat.
***
Setelah puas merenung di depan baksonya yang masih tersisa setengah, Yarania memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya. Saat ingin membayar bakso yang dia makan ke kasir, ternyata ia tahu bahwa bakso itu sudah dibayar oleh Galih. Lihatlah, kenapa laki-laki itu masih mempedulikan makanan yang Yarania makan, padahal laki-laki itu sudah meninggalkannya?
Yarania boleh gede rasa, ‘kan? Ia sangat ingat bahwa Galih berkata bahwa laki-laki itu mencintainya dan bukan hal yang mudah melupakan sebuah perasaan, ‘kan? Terlebih lagi dengan hubungan yang sudah mereka lalui selama empat tahun ini. Dia pun yakin Galih masih begitu mencintainya dan hal yang sama juga terjadi pada Yarania, dia juga masih begitu mencintai Galih.
Yarania memilih pulang ke rumah dengan berjalan kaki karena jarak tempat bakso dengan rumahnya tidak begitu jauh. Selain itu, dia juga sudah trauma dengan tatapan sinis pengemudi ojek atau supir angkot ketika tahu dirinya akan menumpangi mereka. Mungkin takut ban motornya akan pecah atau penumpangnya yang lain akan risih. Apalagi kalau bukan dengan alasan berat badannya yang berlebihan, kulit tubuhnya yang semakin kelam dan wajahnya yang tidak pernah berhenti kusam.
“Jalan kaki, Yarania …,” lirih Yarania. “Siapa tahu sewatu sampai rumah kamu sudah kurus, ‘kan? Tinggal mencari cara biar bisa putih, deh,” sambungnya. Dia mengakhiri kalimatnya barusan dengan tawa yang sumbang serta setetes air mata yang luruh dari sudut matanya.
Yarania menyeka air matanya sebelum turun lebih banyak lagi, “Lihatlah, Yarania … siapa yang akan menemani kamu kalau Galih sudah tidak ada? Empat tahun ini hidupmu adalah tentang Galih. Sekarang tentang siapa? Apa tentang dirimu yang tidak diterima di mana-mana ini?” lirihnya. Setelah kalimat itu selesai, maka air matanya semakin banyak luruh.
Yarania mengembuskan napasnya dengan berat. Sekarang, dia justru seperti orang linglung yang berjalan lurus ke depan dengan tatapan mata yang kosong dan air mata yang tidak berhenti turun. Berkali-kali ia menyeka air matanya, maka semakin banyak pula air itu turun. Tidak bisa dihentikan. Air mata itu turun berkaitan dengan hatinya yang semakin sakit. Tidak bisa dipungkiri bahwa kepergian Galih membuatnya ingin memilih sebuah pilihan untuk segera menyerah.
“Kamu enggak memberikan petuah apa-apa untuk aku tetap hidup, Galih …,” lirih Yarania. “Terlalu banyak alasan untuk menyerah, tapi aku takut enggak bisa menikmati bakso yang penuh dengan saus nanti. Bagaimana, ya?” gumamnya.
Yarania memilih untuk duduk di bangku bambu yang panjang di bawah pohon. Pohon itu berada di depan sekolah, salah satu sekolah yang terkenal akan kenakalan murid di kotanya. Sekarang sekolah itu sedang kosong karena jelas muridnya sedang libur di hari minggu. Maka, duduk di sini merupakan pilihan yang tepat, tidak akan ada murid yang membulinya seperti biasanya.
Yarania merogoh ponsel yang ia simpan di dalam tas kecilnya, kemudian menekan tombol hidup di ponselnya itu. Ia menatap layar kunci bergambar mukanya dan muka Galih yang dilukis oleh salah seorang seniman di Semarang. Lukisan ini adalah hadiah dari Galih di anniversary mereka yang ke empat beberapa bulan lalu.
Yarania mengembuskan napasnya, kemudian membuka kunci ponselnya tersebut. Setelah itu, ia membuka galeri dan membuka folder foto yang dipenuhi oleh fotonya dan Galih. Ia menggeser tiap foto tersebut dan mengenang semua momen yang terekam. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk membuat banyak kenangan. Dan empat tahun tentu tidak akan dia lupakan dengan cepat. Yarania membutuhkan waktu yang lama atau tidak membutuhkan waktu sama sekali.
“Aku masih ingin mengingat kamu sampai nanti, Galih …,” lirih Yarania. “Sampai aku lupa bagaimana caranya mengingatmu. Dan aku juga enggak tahu … kapan lupa itu bisa ada di dalam otakuku,” sambungnya.
Yarania membuka aplikasi whatsme yang sering dia gunakan untuk menghubungi Galih. Ia juga membuka pada ruang pesan di antara mereka berdua.
Yarania: Aku enggak tahu apakah kamu menangis dengan keputusan yang kamu buat, tapi kamu harus tahu bahwa aku melakukannya, Galih. Aku menangis, menangis sampai aku sendiri lupa apakah stok air mataku masih ada. Aku masih berharap semua ini hanya mimpi kurang ajar yang tiba-tiba harus mengganggu tidurku, tapi ternyata ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Kenyataan pedih bahwa aku harus kehilangan kamu.
Aku ingin meminta maaf karena membuat kamu kecewa dan akhirnya pergi dariku. Dan aku juga ingin mengucapkan terima kasih sama kamu karena sudah ada untuk aku selama empat tahun kita sama-sama.
Untuk yang terakhir kali aku ingin bertanya sama kamu, apa aku masih punya kesempatan, Galih?
Sent.
Yarania memejamkan matanya saat melihat bahwa Galih sudah membaca pesannya. Lihatlah, laki-laki itu masih saja membaca pesannya dengan cepat, ‘kan? Masih ada keyakinan di hatinya untuk mereka agar bisa kembali dan memulai semuanya dari awal. Ting! Jantung Yarania nyaris copot saat mendengar notifikasi yang dia kostum hanya untuk pesan dari Galih. Ia tersenyum manis. Bahkan, untuk membalas pesannya saja laki-laki itu masih bisa secepat ini.
Galih Sayang: Kesempatannya udah gue kasih dari empat tahun lalu, tapi gue enggak perlah lihat lo pergunakan kesempatan itu dengan baik.
Yarania tahu bahwa hatinya sudah sangat hancur sekarang.
Yarania: Baik, terima kasih, Galih. Kali ini, aku harus bisa memeluk diriku sendiri, ‘kan?
Sent.
“Yah, hanya dibaca …,” lirih Yarania, kemudian ia tertawa, setelah itu dia menangis sesenggukan.