bc

Anak Rahasia Keluarga Mafia

book_age18+
4
IKUTI
1K
BACA
sentinel and guide
like
intro-logo
Uraian

Falah Al Forenza damier seorang putra dari Mafia kaya raya di kota Z. Anak rahasia yang tidak pernah tampak dan diketahui keberadaannya oleh publik, akibat penyakit lemah tubuhnya. membuat keluarganya mengekang Falah dari dunia luar..Namun suatu waktu,Falah. bersikeras untuk menjalani kehidupan normal seperti ketiga saudaranya untuk bersekolah, seperti anak normal lainnya..Falah yang ahkirnya mendapat izin dari orang tuanya. Bersekolah dengan sekolah yang sama tempat saudara kembarnya menuntut ilmu. Di "ARISTOCRAT SCHOOL.". "ARISTOCRAT SCHOOL" atau yang biasa di panggil dengan sekolah bangsawan, adalah tempat anak-anak orang kaya bersekolah. Akibat status keluarga para siswa yang notabenenya kaya raya membuat mereka merasa berkuasa dan semena-mena terhadap murid yang mereka anggap tidak selevel dengan mereka. Hingga membuat kasta diantara mereka antar anak orang kaya dengan mereka yang dianggap sebagai para rakyat jelata miskin yang masuk karena beasiswa.. Kasta tertinggi di panggil dengan kasta Crystal. Hanya ada 6 orang yang masuk dalam daftar Kasta tertinggi tersebut. Mereka membentuk geng bernama DE Crystal. Dan salah satu membernya adalah Fahri Al Forenza(kembaran Falah).. Namun bukannya kehidupan sekolah normal yang didapat Falah, dia malah harus berhadapan dengan para pembully yang menganggap bahwa Falah adalah kasta Sudra. Kasta terendah. kastanya rakyat jelata yang masuk ke sekolah bangsawan karena jalur orang dalam. Permasalahan menjalar kemana-mana hingga membuat Falah juga harus berhadapan dengan para De Crystal. Akankah Falah akan mendapatkan kehidupan sekolah normal yang dia impikan ?Lalu seperti apa reaksi akan orang-orang yang telah membully Falah ketika tau siapa Falah yang sebenarnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
ARISTOCRAT SCHOOL!
#PROLOG "Selamat pagi semuanya, selamat datang di ARISTOCRAT SCHOOL." Sapa seorang wanita berseragam sekolah. "Perkenalkan, namaku. Vonya Delbora. Dan ini kedua temanku, Stefano Vonsting dan Amora Akreliont." Lanjutnya memperkenalkan kedua temannya. "Hari ini kami akan membimbing kalian wahai murid- murid baru... ARISTOCRAT SCHOOL." Ujar Stefano, dengan senyum tipis. Para siswa-siswa baru itu, terlihat pangling melihat ketiga orang yang sangat rupawan di mata mereka. Bagaimana tidak, siapa yang tidak mengenal Vonya Delbora, anak perempuan satu-satunya (sang pewaris) dari perusahaan Delbora yang bergerak di bidang berlian dan permata terbesar di kota Z. Dan Stefano Vonsting, seorang pewaris satu-satunya kekayaan keluarga Vonsting. Yang bergerak pada bidang ekspor dan impor. Juga di rumorkan bahwa keluarga mereka adalah keluarga Mafia. Dan terahkir Amora Akreliont. Seorang idol, sekaligus pewaris Group Akreliont. Kekayaan keluarganya berasal dari Dunia Fashion yang Mereka kuasai di segala sektornya. Nama brand Akreliont Or AKR. Brand yang sangat terkenal. "Wah! bukankah mereka anak- anak yang sangat terkenal dan terus masuk Fyp-ku terus itu." Seru salah satu murid baru. Para murid yang lain mulai terkagum-kagum beberapa dari mereka ada yang diam-diam mengambil Foto ketiganya. "Ini kesempatan langkah, aku tidak boleh menyia-nyiakannya selama sekolah disini aku harus dekat dengan mereka." Sahut salah satu dari mereka. Sial sekali! Perkataan itu didengar oleh ketiganya. Mata mereka melirik ke orang yang berbicara tadi. "What do you say? "Tanya Amora. Yang ditanya malah diam tak bersuara, melihat ke arah lantai, gugup akibat perkataan sendiri. Vonya berjalan ke arah wanita yang gugup tersebut. Jalannya sangat terlihat tegas, namun di satu sisi terlihat anggun dengan dua tangannya menyilang diantara bawah d**a. "Kamu...." Ucap Vonya seraya mengangkat dagu wanita itu. Sehingga mata mereka kini saling bertatap. "Ingin berteman dengan kami ? Pfft... Hahaha... Yang benar saja, seorang Rakyat jelata... sepertimu? " Tanyanya dengan tertawa mengejek. Sedangkan wanita itu hanya terdiam merasa malu dengan perlakuan yang di dapatnya. "Dengarkan aku Darling, rakyat jelata yang beruntung masuk ke sini karena beasiswa sepertimu. sangat amat tidak pantas bersanding dengan kami yang seorang De Crystal." Ucapnya seraya menyapu bahu wanita itu. "Dan selama di sini aku harap kamu bisa tahan dan tidak iri. Karena disini kepalamu hanya akan melihat ke atas, tempat orang- orang seperti kami berada." Ujar Vonya, seraya menyungingkan sebelah bibir dan menaikan satu alisnya. "Dasar jalang, sombong! " "What? " "Kau itu kaya hanya karena harta, orang tu-...AKHHH!" Belum selesai dirinya bicara. Seseorang menarik rambut wanita itu hingga kepalanya mendongak ke atas karena ditarik. "Sa- Sakit! Lepasin." Rintihnya kesakitan. "Jaga mulutmu anak baru, Kau baru saja menghina seorang Kasta Crystal. Dengan mulut Bau, rakyat jelata mu itu. Dasar miskin!" Ucap pria yang menarik rambut wanita itu. "Kau tau, orang bilang bahwa kesabaran itu ada batasnya." Ucap Vonya menatap wanita itu yang sedang kesakitan." Namun sayang sekali kau harus bertemu aku yang kesabarannya setipis tissu." "Lepaskan dia Jeromy!" "AKHH..." Jeromy melepaskan rambut wanita itu dengan menghentakkannya ke bawah hingga wanita itu terduduk ke lantai. "Byurr..." Sebuah ember di siram oleh Amora. Basah kuyup sudah. Kepalanya masih sakit kini wanita itu disiram dengan air dingin se- ember. Wanita itu hanya menatap para pembully itu yang sedang tersenyum ada juga yang tertawa lantang setelah melakukan hal demikian. Setelahnya pandangnya melihat ke arah guru yang sedang lewat di belakangnya. "Pak! Pak! " panggilnya seraya berdiri lantas berlari ke arah guru itu. Guru itu pun melirik ke arah gadis yang basah itu. Yang memanggil dirinya. "Tolong saya! Me-mereka melakukan bully di lingkungan sekolah." Pinta tolongnya. Guru itu awalnya melirik ke arah yang di tunjuk gadis itu, setelah melihat Vonya dan teman-temannya. Kembali dia menatap ke arah anak yang tengah basah di depannya itu. Lantas berlalu pergi tanpa sepatah katapun. meninggalkan anak itu yang menganga melihat sikap guru yang acuh tak acuh itu. "Wah...wah... Wah. Kenapa kau mengatakan bahwa kami adalah pembully, Ck...Ck...Ck." ucap Vonya yang entah sejak kapan sudah berada di belakang anak perempuan yang tengah mematung itu. "Siapa namamu ? " Tanya Vonya. Anak itu hanya diam, dengan tangan bergetar. mata hitamnya berkaca-kaca. Lalu seperkian detik kemudian, dagu wanita itu di tarik kembali oleh Vonya. "Aku tanya sekali lagi siapa namamu?" Tanyanya penuh penekanan, karena merasa teracuhkan, diabaikan akibat tak kunjung mendapatkan jawaban. "Va- Vanessa." Jawabannya dengan bibir bergetar dan setitik air mata tumpah, menjalar ke pipi ranumnnya. Menerobos turun cepat menyentuh ke tangan Vonya yang menggenggam dagu runcingnya. "Vanessa ya. Jangan menangis sayang, ini belum apa-apa. Karena kamu akan lebih menderita dari ini, mulai sekarang. Esok. Nanti. Hingga kamu lulus. Ups, maksudku jika kamu sanggup hingga lulus." Bisik Vonya, dengan sedikit menyunging senyum. Lalu setelahnya Vonya memasang sebuah kalung kertas besar bertuliskan "Bi*ch " pada Vanessa. Dan tertawa sambil berjalan kembali ke arah Murid baru yang lain. "Welcome to the hell, Vanessa... Hahaha." Bebarapa siswa baru itu bergedik ngeri dengan apa yang terjadi. Namun bebarapa lagi ada yang tersenyum lantas menyeringai suka dengan apa yang dilakukan Vonya. "Menyeramkan sekali wanita ini...hiii." "Psycopath tak berhati, memang apa salahnya kami, jika kami seorang rakyat jelata ?" "Dia terlihat lebih cantik...Vonya memang yang terbaik." "Aku juga tidak suka rakyat miskin seperti dia...kyaa... Vonya sangat keren." " Apakah aku bisa memviodkan ini. Vonya sangat cantik." (Monolog para murid-murid baru). Vonya yang berjalan berhenti di depan murid baru, dengan segala ekspresi mereka. Lalu menunjuk ke arah mereka semua. "Ada yang mau seperti dia ? "Tanyanya, mengedarkan tunjukkan jarinya ke arah Vanessa yang mematung. Para siswa baru membalas dengan menggelengkan kepala mereka, mengisyaratkan kata "Tidak". "Hmmm... Kalau begitu tunjukkan lah tingkatan kasta kalian di sekolah ini." Ujar Stefano menyeringai. "Ikuti kami." Perintah Vonya. Lalu Vonya dan kedua temannya berjalan masuk ke dalam sekolah lebih dalam dan di ekori para murid baru. Meninggalkan Vanessa yang masih mengigil. Lantas mematung, bersama jeromy yang tersenyum mengerikan ke arahnya. ******* "SEKALI LAGI AKU UCAPKAN SELAMAT KEPADA KALIAN YANG BISA MASUK KE ARISTOCRAT SCHOOL." "Atau biasa yang disebut dengan sekolah bangsawan." Lanjut Vonya menjelaskan, sambil berjalan. "Sesuai namanya, sekolah ini hanya diperuntukkan untuk orang-orang bangsawan. Contohnya seperti kami ." Seru Stefano dengan seringai. "Karena itu, di sini. Kami adalah para bangsawan terhormat dan segala perintah kami adalah mutlak. Dan dimana ada bangsawan berarti disana bakal ada rakyat jelata kan yang dengan senang hati akan melakukan segala perintah para bangsawan bukan?" Timpal Amora, juga dengan seringai. Mereka berbicara sambil berjalan menuntun para murid baru entah ke mana tujuannya. Hingga mereka sampai ke sebuah ruangan auditorium. Para murid pun melihat sesuatu berada di panggung itu. Sebuah papan dengan gambar segitiga disana dan dibagi menjadi 5 bagian yang mengerucut bagai menunjukkan sebuah tingkatan. Para murid baru di suruh duduk di kursi, sedangkan ketiga De Crystal berjalan ke atas panggung. "Baiklah, tidak usah berlama- lama lagi. Aku akan menjelaskan kepada kalian semua bahwa ada 5 tingkatan di sekolah ini yang harus kalian patuhi sesuai tingkatan kalian." Jelas Vonya. "Tingkatan tertinggi tentu saja seperti kami anak-anak dari pewaris perusahaan besar, berada di tingkatan Crystal. Yang kedua adalah kasta Golden, untuk mereka yang orang tuanya seorang dari pemerintah." Timpal Amora menjelaskan. "Tingkatan ketiga yaitu kasta silver, adalah mereka yang orang tuanya seorang pengacara, dokter dan sebagainya. Berada pada kasta tersebut. Kasta ke-empat atau kasta Waiter, bagi mereka yang orang tuanya hanya seorang pegawai biasa yang bergaji UMR hahaha..." Lanjut Stefano, diahkiri dengan tawa yang mengejek. "Dan yang terakhir, adalah seorang semacam dia." Tunjuk Vonya ke pria berkacamata duduk di barisan paling depan. Anak itu awalnya melirik ke kanan dan kesamping. Beraharap yang di tunjuk bukan dirinya. Semuanya malah menatap dirinya. Vonya turun, dengan membawa sebotol F*nta merah. Dia berjalan pelan menuruni anak tangga lalu melanjutkan langkah menuju anak berkacamata itu. "Benar kau..." Ucap Vonya lalu menyiram anak itu dengan F*nta tersebut. "Seorang kasta Sudra, anak yatim piatu atau orang tuanya yang pengangguran dan memiliki pekerjaan yang sangat tidak pantas untuk bersekolah di ARISTOCRAT SCHOOL ini. Dasar Menjijikan! " Anak yang disiram itu hanya diam menunduk, dia tak bergeming. Sekujur tubuhnya mengigil. Bukan karena dingin, melainkan takut. Apakah aku akan terus seperti ini selanjutnya? Hanya karena aku anak yatim piatu yang beruntung masuk ke ARISTOCRAT SCHOOL ? Apa aku begitu tidak pantas ? "Traak... !" Botol F*nta yang habis airnya di dibuang ke kepala anak itu. Dia masih tak bergeming. Vonya tersenyum miris. Malang sekali nasibanya, hidup tak menerima kasih sayang orang tua. Dan kini harus di rendahkan di kehidupan sekolah barunya. Terlebih lagi anak-anak lain juga malah ikut menertawakan dirinya. "BRAK!" Pintu auditorium di buka seseorang. Menampilkan sesosok pria tampan rupawan. Semua pandangan mengarah sosok itu, dia turun. Menuruni anak tangga. "Fahri... Kamu ngapain kangen sama aku yaa... Baaby." Ujar Vonya terdengar manja, lalu sedikit berlari ke arah Fahri. Fahri dan Vonya kini sudah saling bertatapan, kedua tangan Vonya melingkar ke leher belakang Fahri. Menatap Fahri sejuta makna dan terlihat sedikit taburan cinta yang tak terbalas oleh Fahri. "Haaa..."Fahri menghela nafas. "Lepas." Sinis Fahri. Mau tak mau Vonya melepaskan kedua tangannya. Fahri selalu saja begitu sangat dingin. Namun itulah yang membuat pesonanya tak bisa di acuhkan. Pria tampan bersifat dingin. Benar-benar membuat kaum hawa menggilai dirinya. Bagai pria di dalam novel. Setelahnya Vonya memanyunkan bibirnya atas kedinginan Fahri terhadap dirinya. Dan Fahri melangkah maju mendekati Amora dan Stefano berada. "Jangan bermain- main terlalu lama. Kerjakan tugas bagian kalian dengan cepat, setelahnya bantu aku mengisi semua Formulir ini." Ucap Fahri, seraya melempar sebuah buku penuh berkas ke arah Stefano dan Amora. "Hey, kami hanya bermain sebentar. Kau saja yang terlalu serius kawan." Ucap Stefano menyeringai. "Aku tidak mempersalahkan hal tersebut bukan ? Yang aku keluhkan pekerjaan kalian, jangan membuang waktuku hanya untuk mengisi tugas kalian sebagai anggota OSIS di sekolah ini." Ketus Fahri. "Iya iya. Santai dong, kita kan lagi mengenalkan lingkungan sekolah dan derajat, para siswa baru ini." Ujar Amora. "Haa... Terserah kalian, aku tidak peduli." Lalu Fahri beranjak pergi menuju pintu keluar, kepergiannya diikuti dengan berpuluh pasang mata yang mengikuti setiap langkah kakinya menuju pintu keluar. "Gilaa... Mimpi apa aku semalam ketemu pangeran hari ini." "Fiks...jodoh gue... Aduhhh ganteng banget woeylah..." "Gila...kalau tampangnya itu, manis banget woeyy..." "Itukan....anak sulung keluarga Al Forenza... Keren abizz woeylah" " kira-kira... Belok enggak ya? " (Monolog para murid baru). "Prok... Prok... Prok..." (Vonya bertepuk tangan membuat perhatian para murid kembali padanya). "Hey, kayak enggak pernah lihat orang ganteng. Jangan bermimpi deket-deket sama Cowok gue, sadar diri dong." Sinis Vonya. "Halah...dia aja tadi di acuhin." "Emangnya pangeran tampan mau sama nenek lampir..." "Cowok dia... Mimpi kali, yaa ngaku-ngaku.diangep aja kagak tadi Yee.." "Emang dia suka cewek kek lu. ?" (Monolog para murid baru) "Sampai di sini ada yang mau di tanya?" Seorang anak perempuan mengangkat tangannya. "Iya, kamu apa yang mau ditanyakan? " "Apa tugas, untuk setiap tingkatan itu? " "Uhmm... Tidak buruk juga pertanyaannya, namun seperti yang aku bilang sedari awal. Sepertinya kau tidak memperhatikan yaa...kalau begitu baiklah sekali lagi aku akan membuatnya sedetail mungkin agar kalian semua mengerti." "Mereka yang ber-Kasta lebih tinggi memiliki kekuasaan lebih besar, dan mereka yang ada di bawah mu harus bersiap menjadi babu. Jika kalian menolak perintah murid yang ber-Kasta lebih tinggi darimu maka jangan salahkan aku...." Ucap Vonya seraya tersenyum getir. Vonya menatap anak yang bertanya tadi, dia ketakutan karena di tatap oleh Vonya. "Ji-jika kami menolak maka ap- apa ? " Tanyanya gugup. Vonya masih menatap anak itu dengan seuntai senyum tipis banyak arti, namun tak dimengerti. "Namamu, Margaretha bukan? Ayahmu bekerja di pelabuhan seorang pengangkut kontenir dengan gaji UMR. Benar ?" Seketika mata anak itu melotot, bagaimana dia bisa tau. Padahal sedari tadi dia hanya diam. Bahkan di bajunya belum di tempel sebuah nama. Bukan hanya itu, bagaimana dia bisa tau tentang pekerjaan ayahnya. "Kau seorang kasta Waiter, dan jika kau menolaknya... Maka pikirkan nasib pekerjaan ayahmu." Ucap Vonya mengancam dengan nada lembut. "Benar bukan, Stefano?" Tanya Vonya. Lalu diangguki oleh Stefano, karena pelabuhan yang dimaksud adalah kawasan milik keluarga Stefano dalam usaha ekspor dan impornya. "Kami sudah tau semua tentang kalian, Amora! " Panggil Vonya. "Yeah ? " "Tunjukkan itu ? "Titah Vonya. Amora pun langsung menarik tuas yang ada di tembok, seketika Foto-foto para murid baru berada di sana dengan kasta mereka terpampang di atas foto mereka. "Kami sudah menuliskan semua tingkatan kalian yang ada disini. Sayang sekali yaa... Ada 40 siswa yang berada pada tingkatan waiter. Dan 27 berada di kasta Sudra." Ucapnya seraya tersenyum getir. "Membuat citra sekolah Elite kita semakin tercetak buruk oleh anak-anak bau got, ahahaha.... Wuuhh bauu..." Timpal Amora. Mereka yang berada pada tingkat writer dan Sudra menunduk malu, sedangkan 3 tingkat diatasnya ada yang tersenyum namun juga ada yang diam saja. "Oke, sepertinya sudah cukup perkenalan sekolah kita untuk hari ini semuanya. Kalau begitu kami permisi dulu, jika kalian ingin berkeliling sekolah silahkan." "Sekali lagi aku ucapkan selamat datang di ARISTOCRAT SCHOOL. Dan selamat datang ke neraka untuk kasta Waiter dan juga Sudra." Senyum semirik Vonya. Lalu mereka bertiga berlalu, keluar dari auditorium. Indah nan menawan. Melihat para murid baru sudah ada yang mulai membully anak lain. ******* "Sepertinya tahun ini tidak ada yang masuk dalam kasta Crystal. Huh... Melelahkan sekali !" Ucap Vonya. " Iya, sangat amat mengecewakan sekali informasi yang di berikan Zayyan." Balas Stefano. "Ya... Mau bagaimana lagi, standar untuk masuk ke De Crystal sangat tinggi. Kita tidak bisa memasukkan orang kecil ke dalam kelompok kita, aku juga kecewa !" Timpal Amora. Bersambung.......

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

TETANGGA SOK KAYA

read
52.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah Tujuh Belas Tahun Dibuang CEO

read
1.2K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook