"Gak!" tegas Aisyah.
"Kami saling kenal kok, Tante. Kita satu sekolahan." Ali tersenyum manis.
Aisyah melirik Ali sinis. "Sok kenal banget ni orang," batinnya kesal.
Maryam memandangi putrinya. "Aisyah, kenapa kamu bohong? Mami sama papi gak pernah ya, ngajarin anak kami buat bohong."
"Aisyah gak bohong Mi, memang benar kok, kita gak saling kenal. Kita cuma satu sekolahan dan gak pernah nyapa juga. Itu 'kan sama artinya gak saling kenal," jelas Aisyah.
"Ya udah, gak usah diperdebatkan. Walaupun belum kenal, tapi 'kan sekarang kalian akan saling mengenal. Papi kasih tau Aisyah ya, ini itu Ali. Anaknya Om Adam dan Tante Hawa. Dan Ali, kenalkan ini Aisyah anak Om Hamdan sama Tante Maryam. Kamu juga boleh memanggil kami dengan papi dan mami," ujar Hamdan mencairkan suasana.
Agar tidak ada perdebatan lagi, jadi lebih baik dia saja yang mengenalkan. Dia sudah berfikir, kalau menyuruh Aisyah untuk memperkenalkan diri, anaknya itu pasti menolak.
"Iya Om," balas Ali singkat.
"Jadi, gimana soal pernikahan yang ingin kita laksanakan?" tanya Hamdan to the point. Langsung tanpa basa-basi lagi.
Aisyah yang ikut mendengar ucapan Papinya barusan itu, membuatnya jadi ada rasa benci kepada orang tuanya. Kenapa orang tuanya tega menikahkannya secepat ini? Tidak adil baginya, seharusnya masa depannya itu ia yang menentukan. Bukan orang tuanya.
"Kita minta pendapat anak-anak kita aja," jawab Hawa memberi usul. Baginya itu yang terbaik jadi tanpa ada paksaan. Hal ini juga sangat adil bagi anaknya.
"Syah, kamu setuju, kan?" tanya Maryam.
Aisyah yang ditanya tidak langsung menjawab. Ia memandang kedua wajah orang tuanya. Jujur, dalam hatinya ingin menolak. Ingin rasanya ia langsung menjawab dan berkata: Aisyah gak mau, Pi! Mi Tetapi, Aisyah takut berkata jujur. Ia yakin, berkata jujur pun orang tuanya tetap melaksanakan rencana ini. Ia juga takut kalau jujur, nanti Maminya bisa bilang ke Papinya kalau ia sudah berani pacaran. Maka habislah riwayatnya, akan dapat petaka ia nanti.
"Ali setuju kan, Li?" tanya Adam kepada anak tunggalnya itu.
"Terserah Aisyah aja," jawab Ali enteng sambil memandangi wajah Aisyah. Wajah cewek itu terlihat sedih dan hanya menunduk diam serta tampak kesal.
"Syah, jadi gimana?" tanya Maryam. Karena Ali menyerahkan persetujuan itu kepada Aisyah berarti kuncinya sekarang ada pada Aisyah. Anak itu mau menerima atau menolak rencana pernikahan tersebut.
"Aisyah perlu waktu, karena pernikahan adalah hal yang sangat sakral. Bukannya harus saling mengenal lebih dulu," jawab Aisyah. Sebetulnya jawabannya itu cuma untuk mengulur waktu. Supaya ia tidak cepat dinikahkan. Itu cuma alasan saja.
"Gimana dengan kamu Ali, apa setuju dengan pendapat Aisyah?" tanya Adam.
Ali memberi anggukan.
Ali tidak seperti Aisyah yang banyak ini itu. Bagi Ali yang terbaik adalah orang tuanya bahagia. Dan jika kebahagiaan itu didapat karena pernikahan yang harus dijalankannya ini. Maka ia akan melakukannya.
"Kamu gak masalah kalau dijodohkan?" tanya Adam untuk memastikan lagi.
"Ali terserah Abah aja. Kalau Abah menginginkan hal ini, Ali setuju. Kalau Aisyah juga setuju, Ali setuju," jelas Ali kepada Abahnya. Ia sama sekali tidak keberatan akan perjodohan.
"Kok terserah aku?" tanya Aisyah yang merasa dipojokan.
"Kalau kamu setuju, aku setuju," kata Ali dan ia melempar senyum manisnya pada cewek cantik bernama Aisyah itu.
Pernyataan itu membuat Hamdan, Maryam, Adam, dan Hawa jadi tersenyum senang. Melihat anak mereka yang kelihatannya sudah membangun kemistri yang kuat. Padahal, mereka tidak tahu saja. Diantara satu pihak ada yang tifak menginginkan pernikahan itu terjadi.
"Pokoknya aku butuh waktu," ucap Aisyah dengan pendiriannya. Ia sangat mengharapkan Ali untuk menolak. Tetapi, kenapa cowok itu malah menyerahkan persetujuan perjodohan ini padanya? Sudah pasti ia tidak bisa menolak, karena takut orang tuanya kecewa. Perbuatan Ali malah menambah bebannya saja.
"Ya sudah, kalau gitu kita kasih kalian waktu untuk lebih mengenal dulu. Selama 2 hari," tutur Hamdan.
"APA! 2 hari!" kaget Aisyah tidak menerima waktu yang diberikan Papinya. 2 hari itu terlalu singkat baginya. Terlalu cepat.
"Iya 2 hari, kamu setuju kan, Dam?" tanya Hamdan ke Adam.
"Aku setuju-setuju aja. Aku serahkan semuanya ke kamu Ham, masalah pernikahan ini. Aku percaya Aisyah ini anak yang baik, dan cocok sama Ali," jawab Adam.
"Dasar orang tua egois," batin Aisyah. Bisa-bisanya Papinya dan orang tuanya Ali memberikan waktu secepat itu. Tidak ada bedanya, mereka berdua sama. Orang tua egois, yang hanya mementingkan kehendak mereka sendiri.
"Jadi kita sudah sepakat, kan?" tanya Hamdan.
Adam, Hawa, dan Maryam mengangguk setuju. Ali tidak mengangguk begitu juga dengan Aisyah. Ali cuma memandangi Aisyah yang tertunduk diam. Ali tahu cewek itu pasti tidak terima. Kelihatan dari gerak-gerik Aisyah yang tampak terpaksa menuruti orang tuanya.
***
Pagi yang cerah. Tetapi, tak secerah wajah Aisyah hari ini. Ia tidak bersemangat bersekolah gara-gara perihal tadi malam. Hal itu terus saja mengganggu pikirannya.
Aisyah berjalan dengan malas menuju kelasnya.
"Syah," panggil Ali yang melihat Aisyah baru mau masuk ke dalam kelas. Ali berjalan menghampiri Aisyah.
"Udah berani nyapa sekarang?" tanya Aisyah sinis.
Aisyah berkata begitu karena selama ini mana pernah Ali menyapanya. Dan pada hari ini, cowok XII IPA 1 itu memanggilnya. Padahal biasanya walaupun berpapasan muka. Ali selalu cuek dan melarikan pandangannya saat mereka bertemu. Makanya Aisyah mengaku sama orang tuanya ia tidak mengenal Ali sebab Ali itu sombong menurutnya.
"Aku ke sini cuma mau bilang, entar pulang sekolah bareng sama aku. Ini atas permintaan papi kamu," ucap Ali menyampaikan pesan.
"Oh," balas Aisyah lalu melenggang pergi.
***
Pulang sekolah. Aisyah sengaja keluar kelas paling akhir karena tidak mau ketahuan teman-temannya kalau ada Ali yang sedang menunggunya. Tapi untungnya Ali tidak menunggunya di depan kelas. Kalau cowok itu menunggunya di situ. Habislah, ia akan dijadikan bahan gosip di sekolah. Hubungannya dengan Ali harus dirahasiakan, harus. Apapun caranya.
"Kenapa keluar paling akhir?" tanya Ali.
"Memangnya kenapa? Udah berani ngatur?" tanya Aisyah judes.
"Gak ngatur. Cuma sekedar nanya. Ya udah, ayo pulang."
"Aku gak mau pulang sama kamu."
"Kenapa?"
"Karna aku gak mau. Aku udah janji sama orang lain. Jadi kamu pulang aja sendiri dan awas kalau kamu ngadu ke orang tua aku. Terutama papi!" tegas Aisyah.
"Kamu janjian sama siapa?"
"Sama seseorang pilihan aku. Bukan pilihan orang tua aku!"
"Aku calon suami kamu seharusnya kamu pulang sama aku," Ali tak kalah tegas.
"Aku gak peduli!" tekan Aisyah kemudian beranjak pergi.
****