Terpaksa Menerima

1098 Kata
"Syah, kamu pulang diantar sama siapa?" tanya Hamdan saat Aisyah baru masuk ke dalam rumah. Dia selalu siap menyuguhkan pertanyaan untuk anak gadisnya itu. "Hem ..." "Sama siapa?" "A-a-nu Pi, sama Ali, iya sama Ali," jawab Aisyah dengan gugup. Jika ia ketahuan pulang sama orang lain. Habislah sudah, Papinya akan marah besar padanya. Hamdan memandang Aisyah curiga. "Betul kamu pulang sama Ali?" tanya Hamdan memastikan. Melihat tingkah anaknya itu membuatnya tak yakin. Gerak-gerak anaknya mencurigakan. "Betul kok Pi, mana mungkin Aisyah bohong. Entar aku dapat dosa," jawab Aisyah meyakinkan Papinya. "Ya udah, ganti baju sana," suruh Hamdan. Aisyah tersenyum senang. Untunglah Papinya itu percaya, ia gak jadi ketahuan deh. "Siap Pi," katanya semangat. Aisyah berlari masuk ke dalam kamarnya. Untunglah ia tak ketahuan. Besok-besok ia harus hati-hati lagi. Supaya papinya tak curiga. "Alhamdulillah, papi percaya," ucap Aisyah yang sudah berada di dalam kamar. *** Malam harinya. Keluarga Ali datang kembali ke kediaman Aisyah. Membicarakan hal yang lebih serius daripada hari kemarin. Aisyah tidak ikut bergabung. Ia cuma duduk di ruang keluarga, yang berdampingan dengan ruang tamu. Ali juga tidak ada, hanya kedua orang tua cowok itu saja yang datang. Aisyah yang sedang menonton televisi sengaja mengecilkan volume TV-nya. Supaya ia bisa mendengar pembicaraan orang tuanya. Betapa terkejutnya dia, saat mendengar arah pembicaraan orang tuanya yang membahas pernikahannya dengan Ali yang akan dipercepat. Tanggal, tempat, dan waktunya pun sudah ditentukan. Setelah selesai membicarakan masalah pernikahan. Orang tua Ali pamit pulang. Mendengar orang tua Ali sudah pulang. Aisyah segera mematikan televisi, ia lalu pergi ke ruang tamu untuk menemui orang tuanya. "Pi, apa harus secepat itu?" Protes Aisyah. Ia tidak menyetujui rencana pernikahannya yang sengaja dipercepat oleh orang tuanya tersebut. "Lebih cepat itu lebih baik," sahut Hamdan. "Tapi kan, aku belum menyetujui pernikahan itu, Pi." "Memang. Tapi karna satu hal, Papi gak akan menunggu persetujuan kamu." "Tapi kenapa?" "Karna kamu membohongi Papi. Kamu pikir Papi gak tau?" Hamdan memandang lurus Aisyah, membuat Aisyah jadi takut melihat tatapan mata Papinya. "Bohong apa Pi?" tanya Aisyah. "Kamu gak pulang sama Ali kan, tadi? Kamu pulang sama orang lain. Yaitu pacar kamu. Iya, kan?" "Enggak Pi, itu gak bener. Aisyah pulang sama Ali kok," bantah Aisyah cepat. Hamdan geleng-geleng kepala. Dia tak habis pikir beraninya anaknya itu tak mengakui kesalahannya. Padahal semuanya jelas-jelas sudah terbongkar. Tidak perlu lagi disembunyikan. "Papi gak pernah mengajarkan kamu berbohong, Aisyah! Tapi kenapa kamu berani berbohong ke orang tua kamu? Tadi, orang tuanya Ali sendiri yang bilang bahwa Ali gak nganterin kamu pulang. Katanya kamu menolak, dan memilih diantarkan sama orang lain. Dan orang itu pacar kamu, kan? Kamu jangan mengelak lagi. Papi sudah tahu semuanya. Mami kamu juga udah cerita," jelas Hamdan. Hamdan sangat marah kepada putrinya itu yang sudah mengecewakannya. Dia merasa menjadi Ayah yang gagal, karena lalai mendidik anaknya. Sampai putrinya itu berani berbohong padanya. Dan berani untuk berpacaran. Maryam yang berada di samping suaminya tidak berani ikut campur, karena murni itu kesalahan Aisyah. Maka Maryam tidak akan membelah anaknya itu. Kali ini Aisyah pantas dimarahi, sebab ia sudah berani berbohong. Aisyah menangis. Ia menunduk tak berani menatap Papinya. Ia merasa bersalah, karena sudah membohongi orang tuanya. "Maafin Aisyah, Pi," katanya sambil menangis. "Simpan kata maaf kamu. Nurut sama Papi, maka Papi kasih kamu kesempatan untuk berubah. Tapi, pernikahan yang sudah Papi rencanakan, gak akan pernah dibatalkan. Lusa, kamu akan menikah!" tegas Hamdan. "Tapi Pi ...." "Gak ada tapi-tapian. Kalau kamu menolak lebih baik kamu Papi masukkan ke pesantren di Yaman. Dan gak usah pulang sampai Papi suruh. Mau kamu?" "Enggak Pi, Aisyah gak mau!" Malam ini, Papinya benar-benar marah. Tidak pernah sebelum-sebelumnya ia melihat Papinya marah sampai segitunya. Mengancamnya sampai mau memasukkannya ke pesantren. Bahkan tempat pesantren itu sangat jauh. Lebih parahnya lagi. Ia tidak boleh pulang sebelum disuruh. Dimasukkan ke pesantren adalah hal yang paling tidak diinginkan Aisyah. Dari dulu ia selalu menolak untuk dimasukkan ke tempat itu. Jadi, sebaiknya ia menerima pernikahan itu. Daripada ia dimasukkan ke pesantren lebih baik menikah. Lagian, pernikahan ini tidak akan membuatnya putus sekolah. "Baik, Aisyah akan terima pernikahan itu. Walaupun dengan keterpaksaan. Aisyah benci sama kalian!" teriak Aisyah lalu ia berlari masuk ke dalam kamar sambil berlinang air mata. "Anak jaman sekarang susah diatur," keluh Hamdan. "Sudahlah Pi, nanti Aisyah juga bakal ngerti. Besok, palingan udah gak marah lagi," ucap Maryam menenangkan suaminya. *** Hari ini, Aisyah sengaja menunggu seseorang di depan gerbang sekolah. Ia ingin balas dendam sama satu cowok yang sudah membuat hidupnya jadi menderita. Gara-gara cowok itu, ia jadi sering dimarahi. "Eh cupu!" teriak Aisyah memanggil cowok yang baru saja lewat di hadapannya. Cowok itu yang sudah membuatnya kesal dari kemarin. Cowok itu tetap berjalan tanpa menghiraukan seorang cewek yang memanggilnya dengan sebutan 'cupu'. "Dasar ya," kalut Aisyah karena ia tidak dipedulikan. Aisyah mengikuti cowok itu sampai cowok itu merasa risih, dan berbalik badan menghadapnya. "Apa?" tanya Ali yang sudah berhadapan dengan Aisyah. "Dasar pengadu," ejek Aisyah dengan mimik wajah kesalnya. "Siapa yang kamu sebut pengadu?" "Kamu lah, siapa lagi," jawab Aisyah dengan menunjuk orang yang dimaksudnya. "Kamu salah orang." "Jangan munafik. Kamu kan, yang ngadu bilang sama papi aku kalau aku gak mau pulang sama kamu, iya, kan?" "Itu bukan aku," Ali berbalik badan lalu kembali berjalan. Ia tidak memperdulikan perkataan calon istrinya itu. "Dasar pengadu!" Aisyah meneriaki Ali. *** "Syah, ke IPA 1 yuk." "Ogah." "Tumben gak mau, biasanya paling rajin ke sana. Nemuin pacar," goda Dija teman sebangku Aisyah, sekaligus sahabatnya Aisyah. Nama panjang cewek itu Khadijah. Panggilannya Dija. Cewek itu sahabat terbaik Aisyah. Sahabat dari kecil hingga saat ini. Ciri khasnya yang berkaca mata. Bukan untuk fashion tapi memang matanya sedikit bermasalah. Tidak buta atau rabun, dia hanya memiliki sedikit mines. Cewek itu sangat menggemari cowok-cowok ganteng di sekolahnya. Tapi ambisinya kuat. Dia tidak ingin pacaran. "Gak dengan hari ini." "Emangnya kenapa? Udah putus, cepet banget," ujar Dija sok tahu. "Makanya Syah, jangan pacaran. Kan, ujung-ujungnya sakit hati," tambah Dija. "Apaan sih, siapa juga yang putus. Lagian, jangan sok tau, pacaran aja kamu gak pernah," ucap Aisyah sambil menertawakan sahabatnya itu. "Gapapa gak pernah pacaran, yang penting gak dapet dosa." "Sok ustazah, ngakunya gak mau pacaran. Tapi demen sama cowok ganteng." "Biarin. Yuk lah Syah ke IPA 1," ajak Dija lagi. "Pergi sendiri aja, jangan ngajak aku. Kamu mau ke sana cuman karena mau liat cowok itu, kan?" tebak Aisyah. Gelagat Dija ke IPA 1 Aisyah sudah hafal betul tujuannya untuk apa, itu cewek cuma mau ketemu satu cowok yang paling digemarinya. Dan cowok itu adalah dia. Dia cowok yang dijodohkan kepadanya. Calon suaminya. Sahabatnya menyukai calon suaminya. Tidak apa-apa, ia tidak mencintai cowok itu. Jadi, bodoh amat! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN