“Ayo Syah, aku cuman ada perlu kok,” bujuk Dija yang masih ngotot ingin pergi ke kelas IPA 1.
“Perlu apa? Nemuin Ali?”
“Ih enggak. Aku mau ketemu Fatimah. Siapa juga yang mau nemuin Ali,” elak Khadijah.
“Udahlah Ja, aku udah tau kok. Kamu itu mau liat Ali, kan? Jujur aja kali! Kamu itu gak bisa bohong sama aku, ketauan.”
Dija tersipu malu. Dia jadi senyum-senyum sendiri. Dia ketahuan modusnya yang bersi keras ingin ke IPA 1, karena cuma ingin bertemu dengan Ali. Dia sangat mengagumi Ali.
Menurut Khadijah, Ali itu cowok yang paling perfect di sekolah. Alim, ganteng, ramah, dan pintar. Pokoknya Ali itu siswa yang paling the best di sekolah. Dari itu dia sangat menggemari cowok bernama panjang Ali Alaska Fajarsyah itu. Namun, Dija tidak berani mengungkapkan perasaannya. Dia juga sudah janji pada dirinya sendiri. Dia tidak ingin berpacaran. Jadi, sekedar mengagumi saja. Kalau jodoh juga gak bakal lari menurutnya.
“Iya-iya, aku ngaku. Tapi, jangan bilang siapa-siapa ya. Apalagi sama Fatimah,” ucap Dija pelan. Takut ada yang lain mendengar pengakuannya. Nanti dia jadi bahan gosip di sekolah. Walaupun ini sekolah dengan mayoritas pendidikan agama. Tapi yang namanya sekolah tetap aja ada bahan gosip. Apalagi anak SMA. Sudah jadi makanan sehari-hari.
“Tuh kan, ngaku juga.”
“Aku kan, udah ngaku ni. Jadi temenin ya Syah ke sana.”
“Ya udah iya.”
“Yes,” ucap Dija girang.
Dija berhasil membujuk Aisyah untuk pergi menemaninya ke XII IPA 1. Sebetulnya ada ketidakkuasaan Aisyah menemani Dija. Tapi, ia juga tidak enak kalau tidak menemani sahabatnya itu. Maklumlah, selama ini Dija selalu baik padanya. Jadi, hitung-hitung hal ini untuk balas budi.
Sudah sampai di kelas XII IPA 1. Dija bukannya masuk malah cewek itu ngintip-ngintip di jendela. Membuat Aisyah jadi malu karena diperhatikan siswa-siswi lain yang melihat mereka berdua.
“Ja, ngapain sih?” tanya Aisyah merasa risih karena tingkah Dija yang membuatnya jadi bahan perhatian.
“Bentar Syah, aku lagi fokus ni.”
“Fokus ngapain sih?”
“Liatin si dia.”
“Udah Ja,” pinta Aisyah sambil menarik tangan Dija. Menyuruh Dija untuk berhenti bertingkah memalukan.
“Bentar aja Syah.”
Dija keasyikan memperhatikan Ali yang sedang duduk di bangkunya yang paling depan. Cowok itu tengah menulis tanpa sadar ada yang memperhatikannya dibalik kaca jendela.
“Aku malu Ja, diperhatiin sama yang lain. Serah kamu deh, aku mau balik ke kelas. Bikin malu aja,” Aisyah benar-benar pergi dari kelas itu. Ia kesal dengan sikap Dija yang mengacuhkannya. Lebih baik ia kembali ke kelas daripada jadi patung. Kerjaannya cuma memperhatikan tingkah memalukan Dija.
Di perjalanan menuju kelasnya, Aisyah tidak sengaja bertemu dengan seseorang.
“Hai Syah, dari kelas aku ya. Maaf, aku barusan dari toilet. Pasti kamu nyariin aku, kan?” ujar laki-laki bernama Musa yang mengira Aisyah sedang mencarinya. Cowok ini pacar Aisyah. Mereka jadian baru 3 bulan yang lalu.
“Iya, dari kelas kamu.”
“Kalau gitu, tunggu sebentar di sini ya. Aku mau kasih sesuatu."
“Apa?”
“Udah tungguin aja, aku ambil dulu,” pamit Musa lalu dia berlari menuju kelasnya.
Tak lama kemudian, Musa kembali menemui Aisyah. “Ini untuk kamu,” katanya sambil memberikan satu batang coklat dan setangkai bunga mawar merah.
Hari ini Aisyah mendapatkan coklat dan bunga lagi. Setiap hari Musa memberikannya benda itu. Inilah yang membuat Aisyah jadi mengagumi Musa, karena cowok ini sangat romantis. Meskipun itu sudah hal biasa yang dilakukan cowok, tapi bagi Aisyah hal ini sangat mengagumkan. Apalagi selama ini tidak pernah ada satu pun cowok yang berani melakukan hal sama yang dilakukan Musa. Dari itu ia tersanjung.
Tidak ada satupun yang berani melakukan hal yang seperti Musa lakukan itu karena latar belakang keluarganya Aisyah. Semua cowok yang banyak menyukai Aisyah tidak berani dengan ayah Aisyah yang terkenal seorang yang tegas, dan selaku pemilik sekolah. Hubungan Aisyah saja dengan Musa dirahasiakan. Cuman Khadijah dan Fatimah yang tahu bahwa antara Musa dan Aisyah itu murni pacaran.
Berstatus pacaran dengan Musa awalnya Aisyah terpaksa. Musa terus menyatakan suka padanya, mulanya ia menolak perasaan cowok itu. Namun, Aisyah tak enak hati jika terus-terusan menolak perasaan Musa. Memang ia juga menyukai Musa, tapi ia tidak ingin pacaran. Orang tuanya pasti marah jika ia berani melakukan hal itu. Lagipula di sekolahnya ini melarang keras untuk siswa maupun siswi yang berani pacaran.
Kemudian Aisyah menerima perasaan Musa, karena ia tak enak hati jika menolak terus. Ia pun sudah jatuh hati sama Musa. Diam-diam ia menjalani hubungan dengan cowok pintar dan berprestasi itu. Tetapi, gara-gara tadi malam semuanya sudah terbongkar. Ia sudah ketahuan pacaran.
“Kamu gak usah kasih aku benda ini lagi, mulai hari ini,” ucap Aisyah menolak.
“Tapi kenapa?”
“Aku gak bisa kasih tau kamu.”
“Kenapa? Kamu udah bosan dengan pemberian aku ini, atau ada alasan lain?”
“Gak ada alasan. Aku cuma mau mulai hari ini kamu gak usah kasih aku apapun lagi.”
“Tapi kenapa Syah? Aku sayang sama kamu. Makanya aku lakuin hal ini.”
“Aku udah khianati kamu, aku gak pantas menerima barang apapun dari kamu, termaksud hati kamu.”
“Kamu khianati aku? Maksud kamu apa? Aku benar-benar gak ngerti Syah?”
“Kita putus aja.”
“Putus? Salah aku apa Syah?”
“Gak ada.”
“Pokoknya aku gak mau kita putus.”
“Ya udah, pokoknya aku mau kita putus,” tegas Aisyah. Ia terpaksa memutuskan hubungannya dengan Musa, karena ia sudah menghianati cinta mereka berdua. Sebab sebentar lagi ia akan menikah dengan Ali. Ia gak mau menyakiti Musa, jika Musa tahu ia sudah dijodohkan pasti Musa akan sakit hati.
“Tapi apa alasannya Syah? Kenapa kamu mau mutusin aku?” tanya Musa sambil menggenggam tangan Aisyah.
Aisyah melepaskan tangannya dari genggaman Musa. “Karena aku gak mau kita terus-terusan berbuat dosa. Pacaran itu haram, dan kita udah melakukan hal itu,” jawab Aisyah. Alasan itu bukanlah alasan sebenarnya. Ia membohongi Musa.
“Pokoknya aku tetap gak mau putus. Bagi aku, selagi kita gak ngapa-ngapain, kita gak buat dosa kok. Salah emangnya, kalau kita mencintai seseorang? Cinta itu gak salah,” ujar Musa yang bersi keras tifak ingin putus dari Aisyah.
“Terserah kamu,” ucap Aisyah pasrah. Ia lalu pergi meninggalkan Musa.
Musa tidak mencegah pacarnya itu, dia hanya diam berdiri sambil melihat punggung Aisyah yang kini mulai menjauh.
“Musa, maafin aku,” ucap Aisyah sambil menoleh ke arah Musa yang sudah berjarak jauh darinya.
***
Pulang sekolah, Ali melakukan hal yang sama seperti semalam. Mengajak Aisyah pulang bersamanya. Tidak tahu ajakannya itu ditolak atau diterima, yang penting baginya ia sudah berusaha menjalankan amanah dari Om Hamdan.
“Ngapain kamu tunggu aku?” tanya Aisyah.
“Aku mau nganterin kamu pulang,” jawab Ali.
“Pasti disuruh papi lagi, bilangin sama papi aku, sampai kapan pun, aku gak mau pulang sama kamu,” ucap Aisyah.
“Hari ini kamu harus mau."
“Kenapa harus mau? Kamu itu bukan siapa-siapa aku."
“Lusa kita itu menikah. Jadi aku dan kamu uudah gak asing lagi. Aku akan jadi suami kamu, jadi kamu harus mau,” jelas Ali.
“Lebih baik aku mati daripada jadi istri kamu,” ujar Aisyah sadis.
“Oke. Tapi, kalau lusa kamu masih hidup. Berarti kamu itu jodoh aku!"
Setelah berkata begitu, Ali menaiki motor miliknya. Lalu memakai helm dan ia berlalu pergi meninggalkan Aisyah seorang diri.
Ali tidak suka pemaksaan. Jika Aisyah menolaknya, ia tidak akan memaksa gadis untuk ikut dengannya.
****