Di ruang tamu. Aisyah diam termenung menopang dagunya. Hamdan dan Maryam juga ada di tempat yang sama. Mereka mengobrol bersama tapi Aisyah diam saja sedari tadi. Ia tidak ikut bergabung berbicara bersama orang tuanya yang sibuk membahas persiapan pernikahan yang akan diadakan lusa. Tepatnya hari minggu nanti.
"Syah, menurut kamu sebaiknya acara pernikahan kamu diadakan di rumah kita, atau di rumah Ali?" tanya Maryam.
Aisyah diam saja tak menjawab. Seolah-olah ia tak mendengar pertanyaan Maminya itu.
"Syah, Mami kamu bertanya kenapa kamu diam aja?" tanya Hamdan.
"Aku capek," jawab Aisyah.
"Capek kenapa, kamu sakit?" tanya Maryam khawatir.
Aisyah menggeleng tampak wajah sendunya terlihat. "Aku gak mau dinikahkan. Aku capek mikirin itu seharian. Pokoknya aku gak mau nikah. Aku gak suka sama Ali apalagi cinta," terang gadis 17 tahun itu.
Dari kemarin semenjak masalah ia ingin dinikahkan hal itu mengganggu pikirannya. Belum lagi masalah ia dengan Musa. Itu juga mengganggunya. Tetapi, tidak mungkin Aisyah mengatakan hal itu juga. Masalah ia sama Musa lebih baik orang tuanya tidak tahu apalagi diketahui oleh Papinya.
"Kamu dengarkan Papi baik-baik. Cinta itu bisa datang kapan saja. Begitu juga dengan suka. Kamu gak perlu menunggu cinta lebih dulu. Biarkan rasa itu datang dengan sendirinya. Papi cuma ingin kamu bahagia Syah. Kali ini Papi mohon sama kamu turuti keinginan Papi. Menikahlah dengan Ali. Papi cuma ingin satu permintaan ini," pinta Hamdan.
Aisyah terdiam memandangi wajah Papinya. Ia mulai memaklumi permintaan Papinya itu. Ia mulai berpikir positif. Mendengar perkataan Papinya ia jadi luluh. Tidak pernah Papinya sampai memohon seperti itu. Sikapnya juga begitu lembut dan ucapannya lebih menenangkan.
"Jika kamu bilang kamu gak cinta sama Ali. Nanti setelah kamu menikah dengan dia kamu pasti mencintainya. Seperti Papi dulu sama Mami kamu. Kami dulu juga dijodohkan. Kami gak saling cinta. Tapi, setelah kami menikah semua berubah. Kami bahagia hidup bersama. Jadi, cinta itu jangan ditunggu tapi dihadirkan. Papi benar-benar memohon sama kamu. Turuti satu permintaan Papi ini Syah. Menikahlah dengan Ali. Insyaallah Ali bisa menjaga kamu. Papi dan Mami sangat mengenal orang tua Ali seperti apa. Mereka itu baik, dan insya Allah mereka pasti akan sangat menyayangi kamu seperti Papi dan Mami," tambah Hamdan yang kini merangkul Maryam dan Aisyah sambil mengelus pundak kedua orang yang disayanginya itu.
Dengan berat hati, Aisyah mengangguk setuju. Hamdan dan Maryam jadi tersenyum senang melihat putri mereka yang mulai mengerti keinginan mereka. Semua hal ini orang tuanya lakukan tidak lain tidak bukan hanya untuk melindunginya. Hanya saja gadis muda ini belum mengerti.
Jujur, ini pertama kalinya Aisyah merasakan kehangatan dari sosok Papinya. Sebelum-sebelumnya, Papinya adalah sosok yang tegas dan jarang berbicara seperti itu. Malam ini Papinya sangat berbeda. Mungkin ini adalah sosok Papinya yang sebenarnya. Dan pasti karena sosok inilah Maminya mencintai Papinya itu.
Setelah Papinya bercerita Aisyah baru tahu tentang kehidupan orang tuanya yang juga korban perjodohan. Ia jadi mikir, mungkin ini sudah tradisi keluarga. Tidak boleh mencari jodoh sendiri melainkan harus ditentukan oleh orang tua. Dan sekarang gilirannya pula yang jadi korban perjodohan itu. Nasib.
"Pi, gimana kalau Aisyah mencintai orang lain?" tanya Aisyah membuat Hamdan dan Maryam saling pandang memandang.
"Maksud kamu, kamu lebih mencintai pacar kamu? Atau kamu lebih mencintai kami? Jika kamu lebih mencintai orang tua kamu daripada pacar kamu itu. Maka tinggalkan dia. Lalu menurutlah sama keinginan kami." Hamdan menatap Aisyah.
Aisyah menundukkan kepalanya. Pernyataan Papinya itu membuatnya gelisah. Bagaimana mungkin Papinya berkata seperti itu. Ia juga ingin mendapatkan cinta yang didapatkannya sendiri. Bukan karena perjodohan. Namun, jika ia memilih pacarnya itu artinya ia tidak memilih orang tuanya. Tidak mungkin, ia tidak bisa melakukan hal itu. Jika ia berani begitu sama saja ia menjadi anak durhaka.
Ia harus lebih memilih orang tuanya. Orang tuanya jauh lebih penting. Sejak ia dilahirkan orang tuanya lebih dulu mencintainya, menjaganya, melindungi, dan mendidiknya dengan kasih sayang.
"Aku lebih mencintai kalian. Aku akan menikah dengan Ali. Aku menuruti permintaan kalian," ucap Aisyah. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya.
Jujur, ia juga mencintai kekasihnya. Meskipun ia baru menjalin hubungan dengan Musa. Namun ia sangat mencintainya. Musa itu cowok yang baik yang pernah ditemuinya. Musa adalah cinta pertamanya. Ia sakit hati, saat harus mengatakan ia akan menikah dengan Ali. Artinya ia akan meninggalkan Musa hanya demi menikah dengan Ali. Lelaki yang tidak dicintainya.
"Itu yang kami inginkan Aisyah, kami sungguh bersyukur memiliki kamu," ujar Maryam memeluk Aisyah dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Papi dan Mami, maafkan Aisyah. Sejujurnya Aisyah terpaksa menuruti kalian," ucap Aisyah dalam hati.
***
Aisyah POV
Pagi ini hari sabtu. Aku tidak berangkat ke sekolah karena hari ini libur. Sekolahku hanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar dari hari senin sampai jum'at, karena sudah mengikuti sistem full day.
Hari ini adalah hari terakhirku sebelum aku menikah dengan Ali. Pagi, sekitar pukul 08.00 Ali datang ke rumahku. Tentu saja itu atas permintaan papi. Aku mendengar sendiri papi menelepon Ali dan menyuruhnya datang ke rumah.
Papi menyuruhku untuk pergi bersama dengan Ali. Pergi kemana aja katanya asalkan harus tetap berdua, dan harus jaga jarak karena kami belum sah. Nanti papi dan mami serta orang tua Ali akan menyusul.
Aku yakin orang tuaku pasti sengaja membiarkan aku pergi bersama Ali lebih dulu. Agar aku dan Ali bisa menghabiskan waktu berdua. Saling mengenal lebih jauh dan membicarakan soal pernikahan kami.
Aku dan Ali pamit pergi. Saat Ali menaiki motor yang biasa digunakannya ke sekolah. Aku memperhatikan cowok itu tanpa Ali sadari.
Aku benar-benar tidak menyangka. Di sekolah, dia adalah satu-satunya siswa yang gak aku sukai. Cowok yang gak banyak bicara, saat aku berpapasan dengannya pun aku gak disapa dengan senyuman. Tetapi, aku heran. Kenapa teman-teman bahkan guruku mengatakan bahwa dia adalah siswa yang ramah dan sangat baik. Tapi bagiku tidak.
Kini, aku dijodohkan dengannya. Apakah ini mimpi buruk? Atau ini karma bagiku karena hanya aku yang gak menyukai cowok itu di sekolah? Tapi tidak juga, bukan hanya aku yang gak menyukainya. Musa juga gak suka Ali. Bahkan Musa sangat membenci Ali. Jadi, apakah kami mendapatkan karma karena membenci Ali? Musa jadi kehilangan aku dan aku jadi kehilangan Musa.
Kata papiku, dalam islam karma itu tidak ada. Lalu, jika bukan karma, berarti aku dan Musa mendapatkan azab. Papi dan mami selalu mengajarkan aku untuk tidak membenci seseorang. Namun, aku melakukannya. Aku benar-benar mendapatkan ganjaran karena perbuatanku itu. Aku menyesal, karena perbuatan itu menghancurkan hidupku sendiri.
"Ali maaf, aku pernah membenci kamu. Gara-gara aku membenci kamu, aku jadi harus kehilangan Musa, dan harus menikah sama kamu. Aku menyesal," ucapku dalam hati sambil memperhatikan Ali.
****