Author POV
"Kenapa kamu liatin aku?" tanya Ali membyarkan lamunan Aisyah yang tadinya melamun sambil memandangi Ali.
"Aku, merhatiin kamu? Enggak kok, siapa juga yang liatin kamu. Jangan kepedean deh," jawab Aisyah dengan buang muka. Ia gak akan mengaki walaupun dugaan Ali itu benar.
"Naik," pinta Ali menyuruh Aisyah untuk segera menaiki motornya. Permasalahan Aisyah yang ketahuan memperhatikannya barusan ia abaikan saja. Lagipula cewek yang bersamanya sekarang ini gak akan mengaku karena gengsina selangit.
Dengan terpaksa, Aisyah harus mau berboncengan dengan Ali. Ia gak bisa menolak permintaan Ali. Walaupun ia punya seribu alasan tapi ia tiak bisa mengatakan alasannya itu. Karena apa? Karena orang tuanya berdiri di depan teras rumahnya. Melihat kepergiannya dengan Ali. Sehingga, ia tidak dapat kabur lagi dari Ali.
***
Motor Ali melaju pelan menyelusuri jalan, bersama dengan seorang cewek yang sedang duduk i belakangnya sedari tadi yang hanya diam saja. Tidak berkutik sedikitpun. Ali melihat wajah Aisyah dibalik kaca spion. Kelihatan wajah cewek itu tidak senang.
"Kita mau kemana?" tanya Ali membuat isyah tersadar dari pikiran kosongnya. Gadis itu merasa, raganya ada di sini, tapi pikirannya kemana-mana.
"Aku gak tau," jawab Aisyah dingin.
Ali diam, selang beberapa menit ia kemudian berbicara. "Kamu terpaksa kan, pergi sama aku? Sebaiknya kamu jujur," ucapnya.
"Iya, aku terpaksa. Kalau kamu tanya aku sekali lagi, aku mau pergi kemana atau kita sebaiknya pergi kemana, terserah. Aku gak peduli," balas Aisyah.
Ali menepi. Saat motornya sudah berada di pinggir jalan. Ia mematikan mesin motornya. Aisyah turun dari motor begitu juga dengan Ali. Mereka berdebat disitu.
"Kalau kita gak punya tujuan. Sebaiknya kita pulang aja dan bilang ke orang tua kamu. Kalau kamu terpaksa melakukan apa yang orang tua kamu mau. Jujur aja ke mereka. Itu lebih baik daripada kamu terpaksa kayak gini," tegas Ali.
Ali menyadari, Aisyah bersikap dingin padanya itu karena cewek itu tidak menyukainya. Sikap Aisyah yang begitu acuh dan tampak terpaksa pergi bersama dengannya. Ali tidak suka dengan sikap itu.
"Aku gak bisa," tolak Aisyah. Mana mungkin ia bisa mengatakan kebenaran kepada orang tuanya. Ia sudah janji untuk menerima keinginan orang tuanya itu.
"Kenapa? Kamu takut jujur?"
Aisyah diam saja tanpa membalas perkataan Ali. Ia hanya melarikan pandangan matanya dari Ali.
"Yang harus kamu takutkan itu bukan berkata jujur. Tapi, yang harus kamu takutkan itu ketika kamu bohong ke orang tua kamu," tambah Ali.
"Kalau aku berkata jujur sama aja aku menyakitkan orang tua aku. Aku benar-benar pusing sekarang. Itu semua gara-gara kamu," ucap Aisyah sambil jari telunjuknya menunjuk Ali.
"Kenapa nyalahin aku?"
"Kamu itu harusnya menolak perjodohan ini. Tapi kenapa kamu malah memojokkan aku?"
"Kamu itu salah sangka pada aku Aisyah. Aku gak seperti yang kamu pikir. Aku gak memojokkan kamu. Persetujuan itu aku serahkan ke kamu karena apa? Karena aku gak mau jika aku menyetujuinya, dan kamu gak setuju maka kamu pasti menyalahkan aku."
Ali menaiki motornya. "Naik," suruhnya. Aisyah pun menurut perkataan Ali.
Ali memutar arah motornya dan melaju kencang. Tangan Aisyah mencekam jaket Ali karena ia ketakutan dengan cara Ali membawa motor dengan kecepatan tinggi.
"Kenapa kita kembali?" tanya Aisyah karena Ali menuju jalan pulang ke rumahnya.
Ali diam saja. Aisyah jadi gelisah tak tentu rasa. Ia takut Ali akan membocorkan segalanya tentang ia yang terpaksa menerima permintaan orang tuanya. Semua akan kacau balau jika papinya tahu. Nasibnya juga akan lebih parah. Mengingat ancaman papinya itu yang mau memasukkannya ke pesantren membuatnya jadi tambah gelisah.
"Li! Berhenti sekarang!" pinta Aisyah memaksa.
Ali menghentikan motornya sesuai dengan perintah Aisyah.
"Kenapa kamu lakuin ini?" tanya Aisyah marah pada Ali.
"Aku cuma ingin menyadarkan kamu satu hal. Jangan suka bohong ke diri kamu sendiri. Kebohongan cuman menyakiti perasaan kamu. Janji ke aku," pinta Ali.
"Aku gak mau janji sama kamu. Kamu pikir kamu siapa? Sekarang putar balik. Aku mau ke resto, tempat itu pasti yang dimaksud Papi."
Ali menghela napas. "Oke." Ia menghidupkan motornya lalu kembali ke tujuan awal.
***
Sekarang Aisyah dan Ali sudah berada di restoran bersama-sama orang tua masing-masing. Para orang tua mereka baru saja sampai secara bersamaan. Sepertinya mereka sudah janjian.
Restoran ini adalah tempat yang sering Aisyah kunjungi bersama orang tuanya. Kalau ia sedang berulang tahun atau mami dan papinya sedang merayakan anniversary pernikahan mereka.
Aisyah jadi teringat kenangan-kenangan itu. Masa indah yang pernah dirasakannya. Apa setelah ia menikah ia akan merasakan hal itu lagi?
Saat ini Aisyah merasa dirinya begitu gugup dan gelisah. Ia terus memikirkan hal yang sebentar lagi akan dialaminya. Menjadi seorang istri muda yang masih sekolah. Bagaimana jika teman-temannya tahu dan membullynya, atau hidupnya akan menderita karena terus diatur-atur oleh manusia bumi yang bernama Ali itu. Dan ia tidak bisa bebas seperti sedia kala.
"Kita sudah berkumpul di sini. Senang ya jika kita bisa terus seperti sekarang ini," ujar Maryam merasa senang.
"Iya. Semoga aja semuanya berjalan dengan lancar sesuai rencana kita," tambah Hamdan.
"Iya semoga aja," sahut Adam.
"Aisyah, Ali, apa kalian ingin menyampaikan sesuatu sebelum besok resepsi pernikahan kalian dilaksanakan?" tanya Hamdan memandangi wajah Ali dan Aisyah secara bergantian.
"Sebelum itu, sebaiknya kita tanyakan lagi. Apa mereka benar-benar setuju menerima perjodohan ini," timbal Adam memberi usul.
"Aisyah kamu setuju gak jika dijodohkan dengan Ali?" tanya Adam.
Aisyah yang ditanya tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu menatap wajah Papi dan Maminya, yang tersenyum padanya sambil mengangguk mengisyaratkan untuknya menerima perjodohan itu.
Tidak mungkin Aisyah mengecewakan orang tuanya dengan menolak perjodohan ini. Wajah orang tuanya saja tampak begitu bahagia. Haruskah ia merubah wajah itu seketika menjadi kekecewaan?
Aisyah menghela nafas panjangnya sebelum ia menjawab pertanyaan tersulit yang pernah dipertanyakan padanya itu. Karena pertanyaan itu adalah penentu hidupnya.
"Aisyah, menyerahkan persetujuan itu pada Ali," jawabnya. Semua mata yang tadi tertuju padanya langsung berlari ke arah Ali yang tengah duduk diam di kursinya.
"Jadi bagaimana keputusan kamu Li?" tanya Adam.
Ali tampak berpikir untuk menjawab. Harapan Aisyah saat ini adalah Ali menolak. Dengan begitu pernikahannya akan batal dan ia tidak akan mengecewakan orang tuanya secara sepihak, karena ia sudah memberikan keputusan itu pada Ali.
Ali menatap Aisyah. "Sebaiknya Aisyah aja yang jawab," jawab Ali.
"Kenapa aku?" tanya Aisyah gak terima keputusan Ali. Kalau Ali menyerahkan persetujuan itu ke dirinya berarti harapannya gagal total.
"Sebaiknya kamu yang jawab," ujar Ali.
"Kamu setuju kan, Syah?" tanya Maryam.
Aisyah menahan nafasnya. "Setuju," katanya pasrah. Selepas itu baru ia menghembuskan nafasnya kembali.
Orang tua Aisyah pun sangat bahagia dengan jawaban Aisyah. Sampai Maryam meneteskan air matanya dipelukan suaminya. Begitu juga dengan orang tua Ali. Namun, tidak dengan Aisyah. Ia benar-benar tak percaya, ia barusan menyetujui pernikahan itu.
"Alhamdulillah," sahut para orang tua mereka serempak.
Aisyah hanya bisa pasrah sekarang. Sedangkan Ali bersikap biasa saja. Malah cowok itu tersenyum, membuat Aisyah kesal ingin marah-marah dan teriak sekencangnya pada makhluk yang sedang tersenyum itu.
Ia benar-benar jengah dengan sikap Ali. Belum menjadi suaminya saja Ali sudah menjengkelkannya. Bagaimana kalau sudah jadi suami? Mungkin lebih parah dari itu. Seharusnya Ali tidak menyerahkan persetujuan itu padanya.
Hari ini rasanya sudah berakhir. Hidupnya seperti tiak ada artinya lagi. Aisyah akan benar-benar kehilangan cintanya.
"Kalau Musa tau, apa dia akan bencu aku?" tanya Aisyah pada dirinya sendiri dalam hati.
****