Tepat hari ini. Hari dimana Aisyah dan Ali akan melepas masa lajang mereka. Hari yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Apalagi Aisyah. Ia tidak menyangka ia akan menikah diusia 17 tahun tanpa ada perasaan suka apalagi cinta.
Padahal Aisyah punya rencana sendiri ia menikah kapan. Maunya saat usianya 25 tahun setelah ia sukses meniti pendidikannya. Tapi miris. Rencananya itu sudah kandas sekarang.
Kini Aisyah yang tengah digandeng oleh Maminya menuruni anak tangga dengan gaun pengantin yang muslimah. Gaun berwarna putih yang begitu terlihat sempurna ditubuhnya.
Langkah demi langkah ia menuruni anak tangga. Di bawah sana sudah ada Papinya yang menunggunya. Wajah Papinya itu begitu bahagia. Tak pernah raut wajah itu sebahagia sebelumnya. Baru kali ini Aisyah melihat senyum Papinya begitu bahagia melihatnya.
Saat Aisyah sudah sampai di bawah, Papinya meraih tangannya lalu menggandengnya. Para tamu undangan pun langsung memperhatikannya dan memberikan pujian padanya.
Aisyah hanya menampilkan senyumnya membalas pujian itu. Papi Aisyah membawa Aisyah menemui keluarga Ali. Saat sudah berpapasan muka dengan orang tua Ali ia hanya bisa menunduk malu.
"Mashaallah, cantik sekali," puji Hawa memandangi Aisyah penuh kekaguman.
"Biasa aja kok, Tante," balas Aisyah tersipu malu.
"Kok Tante sih Aisyah, mulai hari ini panggil Ummi," kata Hawa.
Aisyah mengangguk pelan.
Teman-teman sekolah Aisyah dan Ali tidak menghadiri acara pernikahan itu. Karena memang orang tua Aisyah dan Ali sudah sepakat tidak mengundang mereka. Tamu yang hadir hanya keluarga besar serta kerabat para orang tua Ali dan Aisyah, itupun hanya seberapa. Benar-benar keluarga inti saja.
Walaupun begitu, namun orang tua mereka sudah meminta izin kepada pihak sekolah dan meminta untuk tidak membeberkan masalah pernikahan Ali dan Aisyah. Sebab, mereka tidak ingin Ali dan Aisyah jadi bahan pembicaraan yang tidak-tidak di sekolah. Lagipula pemilik sekolah itu adalah Hamdan jadi mudah saja mengatur segalanya.
"Kami mengobrol sebentar dulu ya, kalian di sini saja dulu," ujar Hamdan lalu dia mengajak orang tua Ali ke tempat lain. Meninggalkan Aisyah dan Ali berdua.
"Sudah jadi besanan kita," kata Adam sambil menepuk-nepuk bahu Hamdan.
"Gak nyangka ya, rasanya baru aja kemarin kita gendong-gendong anak kita. Masih kecil-kecil. Eh, sekarang sudah nikah aja," balas Hamdan membuat Adam, Hawa, dan Maryam jadi tertawa.
"Cepat sekali waktu berlalu, sampai gak kerasa," tambah Adam.
"Memang dari kecil mereka itu cocok. Sudah ada pemikiran mau dijodohkan," kata Hamdan.
"Sama Ham, aku juga begitu," timbal Adam.
"Tapi mereka mungkin sudah pada lupa waktu kecil pernah kenal. Waktu itu sebelum pindah, Ali baru 4 tahun, Aisyah juga seumuran dengan Ali kan," tambah Hawa.
"Iya, pasti mereka sudah lupa. Mereka memang seumuran cuma beda beberapa menit aja," sahut Maryam.
"Mereka itu pasti cocok. Banyak sekali persamaannya. Lahiran saja waktu itu kita samaan. Nanti kalau mereka ulang tahun kita bisa sama-sama merayakannya," usul Hawa. Adam, Hamdan, dan Maryam mengaguk setuju.
Orang tua mereka berdua terus asyik mengobrol memisahkan diri dari anak-anak mereka.
Ali dan Aisyah yang dari tadi ditinggalkan hanya diam saja. Mereka sudah berdiri berdampingan tapi tanpa ada satu kata pun keluar dari mulut mereka berdua.
Ali yang tadi hanya menatap lurus para tamu undangan. Kini memberanikan diri memandang wajah Aisyah.
"Jangan cemberut, liatin dong senyum bahagia kamu ke semua orang," ujar Ali.
Ekspresi wajah Aisyah datar, hanya kesenduhan yang terlihat di matanya. Tak ada senyuman bahagia yang ditampilkan cewek itu. Padahal jika biasanya orang-orang yang menikah itu pasti terlihat pancaran kebahagiaannya. Namun, cewek itu malah sebaliknya.
"Liat, betapa bahagianya orang tua kita melihat kita sekarang. Jadi jangan kecewakan mereka," tambah Ali.
Aisyah pun mencoba untuk tersenyum. Walaupun perasaannya benar-benar hancur. Saat mencoba untuk tersenyum, Aisyah tiba-tiba saja meneteskan air matanya.
Dengan cepat Ali mengusap pipi Aisyah dengan tangannya untuk menghilangkan bekas air mata itu.
"Jangan nangis, kalau ada yang liatin kamu. Mereka pasti mikir kamu gak bahagia dengan pernikahan kita. Coba untuk ikhlas Syah, semuanya pasti baik-baik aja."
Aisyah tersedu pelan, ia benar-benar tidak bisa menahan kesedihannya. Ia tahu, perkataan Ali itu benar. Jika ia sampai dilihat orang tuanya pasti orang tuanya akan menyadari jika ia tidak menginginkan pernikahan ini terjadi.
Ali menggapai sapu tangannya yang di saku jas putihnya dan memberikan sapu tangan itu untuk Aisyah. Ia tidak mungkin terus-terusan mengusap wajah Aisyah dengan tangannya karena nanti make-up Aisyah akan ke hapus olehnya.
"Kamu harus bersikap tenang Syah, ini bukan akhir dari segalanya."
Ali lalu menjauh dari Aisyah. Ia menghampiri kedua orang tuanya yang sudah selesai mengobrol dengan orang tua Aisyah, dan para tamu lainnya.
Aisyah mendengarkan usul dari Ali. Ia mulai mencoba untuk bersikap santai dan mencoba ikhlas dengan yang terjadi padanya hari ini.
Hamdan dan Maryam menghampiri Aisyah. "Kamu kenapa Syah?" tanya Maryam.
Aisyah menggeleng. "Gapapa Mi, cuma kelilipan aja kok," jawab Aisyah. Untunglah Maminya tidak melihatnya saat ia sedang menangis tadi.
Hamdan lalu menggandengi Aisyah. "Udah gapapa, kan?" tanyanya. Aisyah menggeleng.
Dengan langkah pelan Papi dan Maminya membawa Aisyah ke arah penghulu. Penghulunya sudah tiba maka ijab kabul akan segera dilakukan. Di sana sudah ada Ali bersama orang tuanya yang sudah duduk tenang berhadapan langsung dengan Pak penghulu yang akan melangsungkan pernikahan.
Setibanya di sana. Hamdan langsung melepaskan genggamannya dari tangan Aisyah. Dan mengarahkan Aisyah untuk duduk di kursi sebelah Ali.
"Ali, mulai saat ini Aisyah adalah tanggung jawab kamu. Papi titip Aisyah sama kamu. Tolong sayangi dia, jaga dia dengan sebaik-baiknya," ujar Hamdan sambil memegangi bahu Ali dengan erat.
"Iya Pi, Ali janji. Insya Allah Ali pasti menjaga Aisyah sebisa Ali," balas Ali dengan lembut lalu ia tersenyum memandang Papinya Aisyah yang sekarang orang tuanya juga.
"Kok aku dititipkan sama Ali Pi, memangnya aku gak serumah dengan Papi dan Mami lagi?" tanya Aisyah berbisik di telinga Papinya agar orang-orang tidak mendengar pertanyaan konyolnya itu.
Papinya hanya mengangguk membalas pertanyaan putrinya itu. Anggukan itu mengartikan 'iya' artinya ia akan ikut bersama Ali dan tidak serumah lagi dengan orang tuanya. Benarkah begitu? Jadi, bagaimana bisa ia menjalankan hidupnya jika tidak ada orang tuanya. Bagaimana caranya ia bisa mulai mandiri dan menjadi seorang istri? Sedangkan ia hanya cewek manja dan pemalas.
Hamdan lalu pergi sambil menampilkan senyumnya pada Aisyah.
Adam menghampiri Ali. "Kamu akan menjadi seorang suami. Jadilah imam yang baik untuk Aisyah. Lindungi dia, sayangi dia seperti kamu menyayangi diri kamu sendiri," pesan Adam sambil memeluk putra tunggalnya itu.
"Ali janji Bah," balas Ali dalam pelukan Abahnya. Adam melepaskan pelukannya.
"Kalau Ali nakal, bilang sama Abah," kata Adam pada Aisyah.
"Iya," sahut Aisyah singkat.
Adam menyingkir dari sana dan kembali ke tempat duduknya yang berdampingan dengan Hawa yang sedang menangis haru. Adam lalu menenangkan istrinya itu.
"Ali, tolong jaga Aisyah. Sayangi dia ya, sebanyak-banyaknya," ucap Maryam sambil menangis haru melihat putrinya yang akan menjadi tanggung jawab orang lain. Rasanya dia belum siap melepaskan putrinya itu.
"Iya Mi," sahut Ali.
"Syah, jaga diri kamu baik-baik ya. Mami sayang sekali sama kamu," tambah Maryam lalu dia memeluk Aisyah. Tangisan Aisyah pun pecah.
"Iya Mi," ucap Aisyah.
Maryam melepaskan pelukannya lalu dia mencium pipi Aisyah dengan lembut. Setelah itu dia berlalu kembali ke kursinya yang duduk bersebelahan dengan suaminya.
Ali memandang wajah Aisyah sebentar sebelum ia menjabat tangan Pak Penghulu.
Aisyah hanya bisa menunduk diam bercampur aduk dengan jantungnya yang terus berdegup dengan kencang. Detik-detik dimana ia akan benar-benar menjadi milik orang lain dan meninggalkan cinta pertamanya. Demi rasa cintanya kepada orang tuanya ia rela melakukan pernikahan yang tidak dinginkannya ini.
Pak penghulu menggenggam erat tangan Ali. "Bismillahirrahmanirrahim saya nikahkah engkau Ali Alaska Fajarsyah bin Adam Alaska dengan ananda Aisyah Azahra Hamdan binti Hamdan Al Ikhlas dengan seperangkat alat sholat dan mas kawin dibayar tunai karena Allah Ta'ala," ucap Pak penghulu dengan satu tarikan nafas.
"Saya terima nikahnya Aisyah Azahra Hamdan binti Hamdan Al Ikhlas dengan seperangkat alat sholat dan mas kawin dibayar tunai karena Allah Ta'ala," jawab Ali dengan mantap. Hanya dengan sekali pengucapan.
"SAH?"
"SAH," sahut para tamu undangan dan para saksi serta orang tua Ali dan Aisyah dengan serempak.
"Alhamdulillah ..."
Tetes air mata Aisyah membasahi kedua belah pipinya. Saat semua orang tersenyum bahagia, ia hanya menangis. Tidak tahu itu tangisan kesedihan atau bahagia.
****