Selesai ijab kabul dan pemakaian cincin. Kini tinggal pengucapan doa yang dipanjatkan oleh Ali. Selaku mempelai laki-laki.
"Ya Allah, hari ini aku melaksanakan satu perintah-Mu. Perintah ini aku lakukan atas izin orang tuaku dan dia. Aku telah melangsungkan pernikahan. Anugerahkanlah aku kebahagiaan hidup bersamanya. Ridhoilah pernikahan kami. Jadikanlah kami pasangan muda hingga mati. Bismillah, mudahkanlah kami ya Allah. Aku berjanji, aku akan mencintainya dengan sepenuh hati," ucapnya penuh penghayatan. Sampai Ali meneteskan air matanya karena terbawa perasaan.
"Aamiin," sahut para orang tua mempelai dan tamu secara serempak.
Ali senyum memandangi Aisyah dan mengulurkan tangannya. Aisyah menggapai tangan itu dan mencium punggung tangan Ali. Kini mereka berdua sah menjadi suami-istri. Ali utuh menjadi milik Aisyah. Begitu juga dengan sebaliknya.
Aisyah mencoba belajar ikhlas menjalani pernikahan ini. Walaupun hal ini sangat menyakitkan perasaannya. Tapi Aisyah tidak bisa apa-apa. Ini sudah takdirnya. Ia tidak akan bisa lari dari takdir ini. Jika memang ia berjodoh dengan Ali ataupun tidak. Itu urusan nanti, akan ada waktu itu terjawab. Sekarang, ia hanya harus menjalankannya saja.
Setelah Aisyah selesai mencium punggung tangan Ali sebagai petanda kehormatan kepada suami. Ali lalu mencium kening Aisyah dengan lembut. Lalu Ali tersenyum memandangi wajah Aisyah dengan senyuman khasnya yang indah.
"Inikah senyum ramah yang dikatakan teman-temanku di sekolah? Yang gak pernah aku lihat sebelumnya. Aku udah menemukan senyum ramah itu, jujur senyum itu memang sungguh pemikat. Wajar aja banyak yang mengagumi sosok yang ada di depanku sekarang ini. Walaupun begitu, bagiku senyum Musa belum tergantikan" ucap Aisyah dalam hatinya saat matanya terus saja menatap lurus wajah Ali.
Aisyah melarikan pandangannya ke arah sekelilingnya. Semua tersenyum penuh kegembiraan memandanginya dan Ali. Semua terlihat bahagia. Begitu juga dengan orang tuanya yang sedang menangis bahagia tentunya. Aisyah pun menangis dalam diam. Kesedihannya kembali pecah. Meskipun tak terdengar suara, tapi deraian air matanya begitu cepat membasahi kedua belah pipinya.
Pernikahannya sudah terjadi. Sejujurnya hal ini terasa menyakitkan, saat hatinya menolak tapi kondisi melarangnya. Ia lakukan ini demi kedua orang tuanya. Rela mengorbankan kebahagiaannya demi keinginan orang tuanya. Aisyah hanya bisa pasrah dengan keadaannya saat ini.
Ia tidak mungkin membatalkan pernikahannya. Ia sadar yang orang tuanya lakukan ini adalah kebaikan. Ia juga tak mau membuat orang yang ia sayangi jadi kecewa. Orang tuanya banyak memberikan ia kasih sayang. Lalu, mangkinkah ia mengecewakan orang-orang yang menyayanginya sejak ia masih dalam kandungan? Maka itu tidaklah mungkin. Aisyah diajari hal baik oleh kedua orang tuanya itu. Lantas, ia tidak mungkin memperlakukan orang yang telah menyayanginya dengan buruk.
Tangis Aisyah menjadi-jadi. Meskipun yang terlihat hanya deraian air mata yang semakin deras mengikuti alur nafasnya yang jadi tersengal karena menahan suara agar tak keluar dari mulutnya. Agar orang-orang terutama orang tuanya tak mendengar tangisannya.
Tiba-tiba, Ali memeluk Aisyah. Aisyah tak membalas pelukan itu. Kemudian Ali berbisik di telinga Aisyah dengan lembut.
"Jangan sering nangis. Aku gak mau mata istriku menjadi sakit dan gak bisa melihat ada sosok seseorang yang tulus mencintainya," ucap Ali berbisik lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aisyah dengan senyum sambil mengusap pipi Aisyah yang dibasahi air mata.
Aisyah tak percaya. Ali baru saja memeluknya. Bukan karena pelukan itu yang membuat Aisyah tak sangka tapi dengan ucapan Ali yang membuatnya sentak terkejut. Siapa yang Ali maksud dengan sosok yang mencintainya? Apakah yang dimaksud dengan Ali adalah dirinya. Jika benar, sejak kapan Ali mencintainya? Selain itu, Aisyah juga tak menyangka ucapan kalimat romantis itu keluar dari mulut Ali.
***
Aisyah dan Ali berdiri dengan sejajar di pelaminan. Mereka sedang menyalami para tamu yang sedang memberikan ucapan selamat serta doa untuk mereka berdua. Aisyah mulai menikmati suasana ini. Semenjak tadi, saat Ali memeluk dirinya dari situlah Aisyah merasa lebih baik.
"SAMAWA ya Aisyah. Jangan suka berantem-berantem. Nikah muda itu sangat menyenangkan. Nikah dulu baru pacaran, keponakan Tante hebat, selamat ya," kata saudara mami Aisyah yang paling bungsu sambil menciumi pipi kiri-kanan Aisyah.
Bagi Aisyah, ucapan selamat dari Tantenya itu rasanya sedang meledeknya. Menikah dulu baru pacaran? Asal tahu saja. Baginya, jika menikah dengan pilihan sendiri mungkin bisa dikatakan hebat. Lantas, apa yang hebat dari menikah muda. Bukankah logikanya itu memberatkan hidup.
"Akur-akur ya, jangan pada berantem. Kalian harus tau, menikah muda itu sangat membahagiakan," tutur Tantenya yang satunya lagi. Kali ini, selaku kakak maminya. Maminya tiga bersaudara. Bedanya, maminya tak serempong tante-tantenya.
"Iya tante, makasih doanya," balas Aisyah.
"Selamat ya cucu ganteng nenek, semoga bahagia selalu, nenek senang kamu menikah muda. Jadi penerus keluarga. Jadi imam yang baik, oke," tutur Nenek Ali yang tampak masih muda diusianya yang sudah memasuki 70 tahun.
Ali mengancungkan jempolnya. "Iya Nek, oke," balas Ali. Ia tersenyum manis kepada Neneknya.
Nenek Ali melarikan pandangannya ke Aisyah. "Kamu cantik sekali, sama kayak nenek waktu muda dulu," kata Nenek Ali memuji Aisyah yang ujung-ujungnya memuji dirinya sendiri.
Aisyah mengerutkan alisnya tak terima dikatakan cantiknya yang sama dengan Neneknya Ali sewaktu muda. Sedangkan Ali hanya tertawa kecil menertawakan tingkah lucu Neneknya.
Neneknya memang begitu, setiap bertemu dengan wanita yang cantik pasti mengatakan wanita yang cantik itu mirip dirinya sewaktu muda dulu. Begitulah Neneknya Ali. Selain hal itu, Neneknya sangat suka memanjangkannya. Saking dimanja, setiap makan Ali selalu disuapkan sama Neneknya setiap Neneknya datang ke rumahnya.
Ali tidak bisa menolak, sebab kalau ia menolak Neneknya bakal menangis tak henti-hentinya. Ali jadi membayangkan hal itu, makanya ia menertawai Neneknya yang tengah berbicara dengan Aisyah.
"Kenapa kamu ketawa?" tanya Aisyah saat neneknya Ali sudah berlalu pergi.
"Gapapa."
"Dasar, pembohong. Btw, maksud kamu tadi meluk aku apa? Kamu nyuri kesempatan ya?" tanya Aisyah curiga.
"Yang mana?"
"Yang setelah lepas ijab kabul itu."
"Ohh yang itu. Aku bukan nyuri kesempatan. Aku cuma menenangkan kamu, yang lagi nangis kayak bocah," ejek Ali lalu ia tertawa lagi.
Tak terima dengan ejekan itu Aisyah mencubit lengan Ali.
"Aduh, sakit Syah," rintih Ali. Cubitan itu sangat menyakitkan. Cubitannya kecil, tapi mematikan.
"Jangan berani nyentuh aku lagi. Kalau kamu berani, kamu mampus!" ancam Aisyah.
Ali bersikap biasa saja, seolah perdebatannya dengan Aisyah tak terjadi. Bibir cowok itu malah tersenyum tipis.
"Jangan anggap itu lelucon," tambah Aisyah dengan tegas.
"Kita ini suami istri. Gimana mungkin gak sentuhan?"
"Bacot. Jangan mentang-mentang kita udah sah, kamu bisa seenaknya."
"Jangan salah paham dulu, Syah."
"Cukup." Aisyah membekap mulut Ali. "Gak usah ngebacot lagi. Aku jenuh dengar suara kamu."
****