Awalan
Aster Andromeda Adinata. Seorang dokter spesialis bedah saraf. Di umurnya yang sudah 30 tahun ini, ia masih menyandang status lajang, di tengah-tengah teman-temannya yang sudah sold out.
Sejak lima tahun yang lalu, Aster memutuskan untuk berhenti menjalin hubungan cinta dengan seseorang. Sebab, ia lelah karena sudah dibuat patah hati dua kali dalam hidupnya.
Di kali yang pertama, cinta Aster harus bertepuk sebelah tangan dan berakhir dengan ditinggal nikah. Lalu, di kali yang kedua, kisah cinta Aster harus berakhir kandas karena tunangannya yang hendak ia nikahi berselingkuh dengan lelaki lain.
Bukannya Aster lemah perihal hati atau asmara, hanya saja Aster itu terlalu tulus mencintai, hingga akhirnya patah hati yang bukan main membuatnya kapok. Mungkin memang sudah nasibnya menjadi sad boy. Oleh karena itu, Aster menjadi bersikap lebih apatis dengan yang namanya perempuan.
Jika kalian berpikir Aster kurang tampan karena diselingkuhi, kalian salah besar. Faktanya Aster adalah lelaki tampan yang dikagumi oleh seluruh perawat perempuan di rumah sakit Adinata. Garis wajahnya yang nyaris sempurna dengan alis tebal, hidung mancung, rahang tegas, serta iris mata yang gelap membuat wanita mana pun lemah dengan sosok itu. Oh iya, jangan lupakan juga senyumnya yang menawan layaknya magnet yang mampu menarik setiap mata yang ada di sekitarnya.
Lantas apa mungkin Aster diselingkuhi karena kanker atau sering dikenal dengan istilah kantong kering? Tentu saja bukan. Bahkan marganya saja Adinata. Dan itu nama rumah sakit tempat ia bekerja selama satu tahun ini. Katakan saja Aster cukup terhormat karena dirinya adalah putera dari pemilik rumah sakit besar Adinata. Akan tetapi, semua orang tahu betapa cerdas dan jeniusya sosok Aster ini.
Menyelesaikan pendidikannya sebagai dokter spesialis di usia 29 tahun patut untuk diacungi jempol. Rianti sendiri, sebagai Ibu dari anak tampannya itu jelas bangga, karena sewaktu SMA Aster tak begitu mencolok dalam bidang akademi. Namun, manusia memang tidak sepenuhnya sempurna bukan? Di balik sosok sempurna seperti Aster itu pasti ada kekurangannya. Dan menjadi seorang sad boy adalah salah satu kekurangan Aster.
Meskipun Aster sudah membuat seluruh keluarga bangga atas pencapaiannya, rupanya tugasnya seorang anak semata wayang tidak cukup sampai di situ saja. Aster harus menerima tekanan dari kedua orang tuanya yang ngotot ingin memiliki cucu. Aster jelas bingung, istri saja belum ada, apalagi cucu? Menurutnya itu adalah kode keras untuk ... menikah secepatnya.
"Aster, Mami sudah tua. Kamu nggak liat muka Mami sudah keriput?" ucap sang Mami yang sejak beberapa menit yang lalu sudah masuk ke dalam kamar Aster.
Aster yang tengah bermain PS di atas kasurnya lantas melirik sekilas pada Ibunya. Lalu ia mengangguk dengan santai. "Emang Mami sudah tua, 'kan?"
"Itu kamu tahu. Jadi kapan kamu akan memberikan Mami cucu?"
Aster mendesah kesal. Ia melirik Rianti dengan malas. "Emangnya Aster bisa ngelahirin cucu buat Mami? Dari mana lahirnya coba? Orang Aster berbatang. Ngaco!"
"Ya nggak gitu juga, sayang. Kamu cari dong perempuan yang bisa kamu nikahi. Kalo Mami mati terus kamu belum nikah, bagaimana?"
"Jangan ngomong begitu, Mi ...” Aster menghela napas dengan jengah. Inilah deritanya ada di rumah, Maminya tak berhenti mengoceh untuk menyuruhnya menikah.
"Kalo begitu, Mami akan atur kencan buta untuk kamu," putus wanita yang kental dengan darah jawa itu.
“Aster sibuk, Mi. Nggak ada waktu untuk itu.”
"Sibuk apa? Kamu dari tadi di rumah seharian buat main PS.”
“Aster sengaja kosongin kegiatan hari ini untuk istirahat, Mi.” Aster menyugar rambutnya yang sedikit acak-acakan. Terlihat begitu jelas dari wajahnya yang semrawut bahwa Aster kelelahan. Aster sengaja mengambil cuti kerja satu minggu untuk melakukan perjalanan bisnis dengan Pandu, salah satu temannya.
Selain bergelut dengan dunia medis, Aster pun ikut berkecimpung dalam dunia bisnis produk makanan di perusahaan Pandu sebagai pemegang saham 40%. Tak dapat dipungkiri bahwa semua kesuksesannya ini berkat patah hatinya dulu. Aster menyibukan diri sesibuk-sibuknya untuk melupakan sang mantan.
“Kamu itu terlalu sibuk dengan karir, sesekali luangkan waktu untuk berkencan dengan perempuan. Banyak dari teman-teman Mami yang ingin menjadikan kamu menantunya, cobalah kamu berkencan dengan salah satu dari anak mereka,” saran Rianti yang entah sudah berapa kali didiktekan pada Aster.
“Aster nyari sendiri saja ya, Mi? Nggak perlu Mami repot-repot atur kencan buta untuk Aster.” Aster melirik Rianti kedua alis naik turun dengan senyum menggoda. “Aster ini ganteng, lho, Mi.”
Seakan sudah biasa dengan wajah tampan yang digaung-gaungkan oleh banyak wanita itu, Rianti tak terbujuk sama sekali. “Harus berapa kali Mami denger kamu mau cari sendiri? Buktinya sampai sekarang kamu tidak ada pergerakan untuk mencari. Mami selalu dengar dari Darren kalau kamu sering nolak perempuan yang datang.”
"Nggak sesuai dengan yang Aster mau, Mi. Kalo udah jodoh nanti juga ada."
"Kalo nggak dicoba, kamu mau tahu dari mana dia jodoh kamu atau bukan? Ampun! Punya anak gini banget! Nyesel Mami dulu nggak bikin anak lagi!" Rianti sudah memijat keningnya yang pening.
"Yaudah kalo gitu Mami bikin anak lagi aja sekarang. Gih, pergi bulan madu sama Papi.”
"Sinting kamu ya? Mana bisa Mami punya anak lagi di saat usia Mami sudah hampir nenek-nenek? Harusnya sudah punya cucu, tapi punya anak nggak peduli sama sekali!"
Aster menggesek-gesek telinganya yang terasa panas, karena mendengar ocehan Rianti yang tak ada habisnya. Untungnya Rianti hari ini tak bertahan lama berada di kamar Aster. Sebab, Rianti tiba-tiba kedatangan tamu, dan harus menyambut tamu tersebut. Dapat Aster tebak, pasti teman arisan Maminya yang datang bersama keluarga.
Rianti sering mengundang teman-temannya yang memiliki anak gadis untuk berusaha menarik perhatian Aster. Namun, pada detik ini pun, Aster masih terjebak dalam masa lalunya, sehingga ia menutup hatinya dari siapapun.
Karena sudah bosan dengan kegiatannya, Aster melemparkan stik PS-nya. Lalu, ia membuka ponselnya untuk membuka pesan grup yang berisi teman-temannya dari zaman SMA.
Tinggal Aster yang NGENES!
Nama grup yang menyebalkan, tapi Aster tak bisa protes karena itu faktanya. Aster akhir-akhir ini merasakan kengenesan karena melihat teman-temannya sudah memiliki pendamping hidup. Bahkan Noah yang menjadi teman jomblonya selama ini, sudah menikah satu tahun yang lalu dan kini dikarunia anak perempuan.
Sekarang tinggal Aster yang jomblo. Vano dan Pandu juga sudah lama memiliki istri dan anak yang menggemaskan. Tak pernah terbayang sekali pun bahwa Aster yang akan menjadi pria lajang terakhir di antara teman-temannya.
•Grup Chat•
Tinggal Aster yang NGENES!
Aster : P
Aster : P
Aster : P
Aster : Mentang-mentang gue doang yang ngenes lo pada kompromian gak bales chat dari gue'kan?
Pandu : Nasip! Nasip!
Noah : Sorry, Bro. Gue lagi mesra-mesraan sama istri. Btw, lo gak mesra-mersaan juga?
Vano : Aster mesra sama siapa?
Noah : Sama guling JHAHAHA!
Aster : Cariin gue cewek dong. Nyokap gue gak berhenti minta cucu.
Pandu : What? Sejak kapan Aster tertarik sama cewek?
Noah : G-gue kira lu doyan batang, Ter.
Aster : Sialan!
Vano : Gue jadi ngerasa bersalah sama lo, Ter. Adek gue yang buat lo kayak gini. Sorry ya...
Aster : Santuy, No. Gue udah mupon. Makanya cariin gue cewek.
Pandu : Lo gak salah minta kita nyariin cewek? Perawat di rumah sakit lu cantip-cantip anjip. Bisa-bisanya lo lewatin kecantikan bidadari.
Aster : Gue gak mau punya istri seprofesi.
Noah : Kan perawat, Ter.
Aster : Sama aja. Perawat ‘kan di rumah sakit.
Noah : Tipe idaman lo kayak gimana, Ter?
Aster : Dia cantik, jago masak, good attitude, anggun, keibuan karena dia harus cepet punya anak, sopan, hormat sama suami, penurut, dan gak terlalu mentingin karir.
Pandu : Aduh, ribet juga tipe idaman lu yee...
Noah : Gini, Ter. Pas tau tipe idaman lo kayak gitu, gue jadi tau kenapa selama ini lo gak laku.
Aster : Emang kenapa?
Noah : Tipe lu ketinggian anjrit! Rendahin dikit napa! Diakhir zaman ini cewek kek gitu langka. Maksudnya, kalo semultitalenan gitu jarang ada dimuka bumi ini.
Aster : Pasti ada.
Pandu : Udahlah!
Noah : Udahlah!