Keempat orang ini sudah sampai di tempat pertemuan, di mana Ara lah satu-satunya wanita dari ketiga orang laki-laki ini. Ketika sudah masuk ke tempat itu, si pria tua tersebut nampak mengamati sekitar, mencari sosok sang putra. Hingga mata pria itu jatuh pada sebuah titik di mana seorang pria duduk sendirian di sebuah meja yang letaknya bisa dibilang hampir di pojok.
Si pria tua memimpin perjalanan lagi. Ara dan lainnya mengikuti pria tersebut dari belakang. Merasakan jika ada seseorang yang berada di sebelahnya membuat pria yang sibuk dengan ponselnya itu reflek mendongak.
"A ... yah," lirih pria tersebut yang langsung memeluk pria tua tersebut. Ara yang melihat adegan di depannya nampak terharu. Keduanya saling berpelukan dan menumpahkan kerinduan yang telah dipendam selama bertahun-tahun.
"Ayah," ucap pria itu sekali lagi. Ini adalah kali pertama pria berumur tersebut mendengar sebutan itu lagi.
"Bima?"
Nama itu keluar begitu saja dari bibir Ray. Ketika namanya disebutkan, reflek pria bernama Bima itu menoleh. Ternyata putra dari bapak itu adalah Bima. Bima yang bekerja sebagai reporter TV.
Bima yang mengingat Ray pun nampak bingung ketika sang ayah datang bersama dengan pemuda itu.
"Ray, kan?" tanya Bima memastikan. Ray pun mengangguk penuh.
"Jadi kamu adalah putra dari bapak ini?" tanya Ray. Bima pun mengangguk.
"Kalian saling kenal?" tanya pria paruh baya tersebut.
"Kami baru bertemu tadi, Yah. Ayah kenal juga?"
Ayah dari Bima itu pun menggeleng. Bahkan dia tak mengenal Ray sedikit pun.
"Baiklah. Ayo kita duduk dulu. Aku akan pesankan minuman dan makanan untuk kita," kata Bima. Semua orang pun duduk, sedangkan Bima menuju ke kasir untuk memesan makanan dan minuman yang cukup banyak. Sembari menunggu, Ara nampak gelisah. Pasalnya dia mengingat jika Bima adalah pria yang Ray rekomendasikan untuk menjadi pasangan wanita itu. Kenapa kebetulan tak terduga di dunia ini terjadi padanya?
Setelah memesan dan langsung membayar, Bima kembali ke mejanya. "Apakah kalian yang selama ini merawat ayahku?" tanya Bima. Ara langsung menggeleng, begitu juga dengan Ray. Bahkan mereka baru bertemu pria paruh baya itu hari ini.
"Aku yang menemani ayahmu," sela teman dari Ray.
"Oh. Terima kasih banyak untuk bantuanmu," ucap Bima tulus. "Ayah. Setelah bertahun-tahun lamanya, aku sadar jika permasalahan kita harus segera disudahi. Setelah Ibu tiada, hanya Ayah yang aku miliki. Aku ... aku tidak ingin kehilangan momen bersama Ayah. Maafkan aku jika di masa lalu membuat Ayah marah," kata Bima kepada pria paruh baya tersebut.
"Aku sudah memaafkanmu, Nak. Ini juga salahku yang egois. Tapi, aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Sekarang aku sadar jika kamu sudah besar dan bisa menentukan pilihanmu sendiri. Maafkan Ayah jika di masa lalu terlalu memaksakan kehendak," ucap ayah dari Bima tersebut.
Bima pun mengangguk. Dia tersenyum hangat, akhirnya hubungannya dengan sang ayah sekarang baik-baik saja. Ketiga orang yang melihat adegan di depan mereka pun akhirnya bernapas lega.
Atensi ayah dari Bima beralih pada Ara. "Nak ... terima kasih banyak karena sudah membantu kami. Mungkin jika kamu tidak meyakinkan saya, keadaan kami tidak akan seperti ini." Ara mengangguk sembari tersenyum tulus. Membantu sesama adalah kewajiban bagi semua orang. "Bima ... kamu harus banyak berterima kasih kepada wanita ini. Dialah yang meyakinkan Ayah untuk bertemu dan memperbaiki hubungan kita," ucap si pria paruh baya kepada sang putra.
"Terima kasih banyak untuk bantuannya. Saya akan mengingat jasa Anda," kata Bima kepada Ara yang terdengar formal.
Makanan dan minuman pun datang dengan cepat. Semua orang yang berada di meja itu langsung menyantap hidangan yang berada di depan mereka.
"Bima, apakah kamu sudah memiliki istri sekarang?" tanya sang ayah. Bima pun menggeleng, nampak si ayah terlihat kurang bersemangat.
"Aku sedang berusaha mencarinya, Yah. Tuhan belum mempertemukan kami," jelas Bima yang tak ingin mematahkan semangat orang tuanya.
"Bagaimana denganmu, Ara? Apakah kamu sudah menikah?"
Ara mendongak, dia menelan makanannya dengan susah payah. Kenapa juga di saat seperti ini dirinya harus mendapatkan pertanyaan sakral seperti itu? Sungguh ini benar-benar menyiksa batinnya.
"Belum, Pak," jawab Ara kemudian.
"Kenapa kalian berdua tidak mencoba untuk saling mengenal satu sama lain saja?" usul pria tersebut kepada Bima dan Ara. Tentu hal ini membuat wanita itu tersedak. Ray dengan cepat memberikan air minumnya untuk Ara.
"Ayah. Sebaiknya Ayah tidak memberikan pertanyaan itu kepada orang yang baru Ayah kenal. Ini terdengar kurang sopan," tegur Bima dengan kapasitas yang tak keras. "Maafkan ayahku," lanjut Bima yang ditujukan kepada satu-satunya wanita yang menempati meja ini. Ara pun mengangguk dan mencoba memahami keadaan saja.
"Meskipun Ayah baru mengenalnya, tapi Ayah tau jika dia adalah wanita baik. Dia cocok untuk menjadi menantu Ayah. Tapi, jika memang kalian tidak mau saling mengenal, tentu Ayah tak akan memaksa," kata pria paruh baya tersebut.
"Ray, aku ingat jika kita memiliki janji minum kopi. Kapan kita bisa bertemu lagi?" tanya Bima kepada pemuda itu. Ini seperti sebuah pengalihan pembicaraan karena Bima tau Ara kurang nyaman dengan pertanyaan yang diajukan oleh ayah pria ini.
"Kapan pun aku bisa," jawab Ray langsung.
"Baiklah. Tolong berikan nomormu, nanti aku akan hubungi kapan ada waktu luang," kata Bima sembari memberikan ponselnya. Ray menerima ponsel itu, kemudian dia melirik Ara yang fokus dengan makanannya.
"Ra, berikan nomormu," titah Ray sembari memberikan ponsel pintar milik Bima. Ara pun melotot. Jangan bilang jika ini adalah rencana yang Ray buat untuk dirinya dan Bima?
"Dia meminta nomormu, bukan nomorku," sahut Ara.
"Kamu tau sendiri jika aku tidak memilki ponsel," jawab Ray sembarangan. "Maafkan aku, tapi bolehkah jika aku memberikan nomor Ara saja? Aku tidak memiliki ponsel, tapi kita tinggal satu rumah, jadi tak masalah jika aku memberikan nomor dia," jelas Ray kepada Bima. Pria itu pun mengangguk paham. Ara mengembuskan napas lelahnya. Ray selalu memiliki sejuta alasan dan cara untuk menjebak dirinya.
Ara pun memberikan nomornya, dan Ray langsung mengembalikan ponsel itu kepada sang pemilik. Lewat matanya Ara tau jika Ray sedang menyusun rencana.
Sekitar setengah jam mereka berada di sana. Ara, Ray, dan teman Ray pun pamit undur diri lebih dulu untuk memberikan ruang bicara antara ayah dan anak itu. Ketiga orang ini berjalan bersisian di atas trotoar.
"Tugasku sudah selesai, maka aku akan kembali ke rumah. Oh iya, apakah kau ingin ikut denganku, Ray?" tanya teman dari pemuda itu. Ray menggeleng, dia akan pulang bersama dengan Ara. "Baiklah, aku pergi dulu. Dahh."
Kepergian teman Ray membuat hanya tersisa Ara dan Ray saja. Keduanya menuju ke halte bus. Dan seperti biasa mereka harus menunggu lagi. Ara hanya ada dalam keadaan diamnya, dia tentu masih kesal dengan Ray. Ray yang menyadari kemarahan Ara pun mencoba untuk berbaikan.
"Tugasku di sini adalah membantumu menemukan pasangan. Waktuku hanya sebulan. Jika memang kamu dan Bima tidak cocok, maka itu tidak apa-apa. Yang penting aku sudah berusaha menepat janji."
Ara menatap pemuda itu. "Aku belum pernah berada di posisi ini, Ray. Aku bahkan minim pengalaman. Ketika aku dihadapkan dalam sebuah hubungan, aku takut jika tidak bisa memenuhi kriteria pasanganku."
"Pasangan sejati adalah pasangan yang mau menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangannya. Kamu tidak harus menjadi sempurna untuk pasanganmu. Kamu cukup menjadi dirimu sendiri dan mencoba untuk menyempurnakan hubungan kalian," nasihat Ray. Ara tau, tapi tetap saja segala kemungkinan-kemungkinan yang ada di kepalanya membuat Ara sedikit parno.
"Kamu sudah menyelesaikan keinginanmu untuk Gara, sekarang keinginanmu adalah menemukan pasangan. Aku sedang berusaha untuk itu," imbuh Ray. Ara pun menjadi merasa bersalah karena merepotkan pemuda ini terus menerus.
"Ray ... jika aku mengatakan bahwa aku tidak ingin melanjutkan pencarian ini, apakah kamu mau menerima itu?" tanya Ara.
"Aku sudah berjanji. Janji yang aku buat pantang untuk dibatalkan. Kecuali jika kita sudah menemukannya dalam waktu kurang dari sebulan, atau waktu sebulanku telah habis," jelas pemuda tersebut. Ara pun paham, lagi-lagi soal waktu.
"Baiklah. Aku akan mencoba ini, Ray. Aku akan mencoba untuk mengenal pria itu. Tapi ... jika aku merasa kami sudah tak cocok, maka aku akan mundur. Setuju?"
"Setuju. Pilihan ini jauh lebih tepat," balasnya. Tepat setelah pembicaraan ini bus pun berhenti di depan mereka. Keduanya langsung masuk ke dalam bus untuk pulang. Dan sepertinya kebaikan menghampiri kedua orang ini yang mana terdapat bangku-bangku yang kosong.