Bagian 21

1697 Kata
Ray mulai menjalankan rencananya. Ketika Ara pergi bekerja, dia pergi menemui Bima. Memperhatikan segala gerak-gerik pria itu dari jauh. Ya meskipun dia meyakini jika Bima ada orang baik, tapi Ray perlu penyelidikan lebih dalam. Dia tak ingin terkecoh hanya dari tampilan depan saja. Ray mudah untuk menemukan tempat Bima karena dia bukan makhluk sembarangan. Ray bersembunyi di balik pohon. Bima dan rekannya sibuk menyiarkan berita kecelakaan. Tentu wilayah ini jadi daya tarik masyarakat yang ingin melihat kecelakaan tersebut. Seharian itu Ray mengikuti Bima. Tidak ada hal yang mencurigakan dari pria ini. Ray yakin jika Bima benar-benar orang baik. Kegiatan Ray ditutup dengan menjemput Ara di kantor. Dan seperti biasa pemuda ini akan menunggu di tempat yang tak terlalu jauh. Seperti sebuah kebiasaan yang mencoba untuk Ara biasakan, wanita ini bergegas menuju ke tempat Ray berada. "Ray ... hari ini aku ingin makan di luar. Jadi, aku tidak masak di rumah. Bagaimana?" tanya Ara langsung dan penuh semangat. Keduanya berjalan bersisian menunggu di pinggir jalan untuk menyeberang. "Boleh saja," jawab Ray. "Kenapa kamu tampak bersemangat sekali? Ada apa?" tanya Ray. "Hari ini gajian," jawab Ara singkat. Ray pun paham arti dari keceriaan di wajah wanita ini. Lampu sudah berubah menjadi merah, maka ini kesempatan pejalan kaki untuk menyeberang. Baru saja Ara menginjakkan kaki di jalanan, tubuhnya langsung Ray tarik dan hampir membuat wanita ini jatuh, namun Ray dengan sigap menahan tubuh Ara. "Yak! Apakah kau buta dengan warna di atas sana!" teriak Ray dengan marah. Pengguna jalan yang melihat ini pun nampak terkejut. Ternyata dari seberang tiba-tiba muncul pengendara sepeda motor yang hampir menabrak Ara. Untungnya Ray bertindak cepat. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanya pemuda ini. Ara mengangguk. "Terima kasih." "Sama-sama." Semua orang pun langsung menyeberang dengan cepat agar kejadian barusan tak terjadi lagi. "Hal seperti ini sering terjadi, Ray. Aku saja yang kurang memperhatikan sekitar," tutur Ara. "Tidak. Pengendara itu yang salah. Jelas-jelas lampu menunjukkan jika dia harus berhenti. Ini menyalahi aturan, dia akan terkena sanski jika saja ada polisi di sini," sahut Ray. "Mungkin orang itu buru-buru karena keadaan darurat," kata Ara lagi. Keduanya sedang menuju ke halte bus. "Buru-buru boleh, tapi tidak dengan mencelakai orang lain. Segala tindakan buru-buru itu sebenarnya tidak bagus karena bisa merugikan diri sendiri dan orang lain." Ara setuju dengan segala ucapan Ray. Tak ingin pembicaraan ini semakin berlarut, Ara pun diam dan tak menanggapi lagi. Kemudian, Ara mengingat jika tadi siang ia mendapat pesan dari nomor baru. Dan ternyata itu adalah Bima. Pria itu meminta Ara untuk menyimpan nomornya. "Tadi Bima menghubungiku," ungkap Ara yang langsung mendapat atensi Ray penuh. "Dia memintaku menyimpan nomornya. Dia juga sempat menanyakan dirimu. Aku hanya menjawab jika aku tidak tau karena aku pun sedang bekerja. Nanti katanya dia akan menghubungiku kembali untuk bicara denganmu," jelas Ara. Ray nampak mengangguk dan tak merespon lagi. Beruntungnya kedua orang ini karena bus tiba dengan cepat, bahkan mereka mendapat tempat duduk juga. Benar-benar hari yang beruntung. Ara duduk tepat di pinggir jendela untuk bisa menikmati pemandangan di luar. "Kita akan makan di mana?" tanya Ray kemudian. "Lihat nanti saja. Kalau bisa jangan jauh-jauh dari rumah. Aku malas untuk bepergian cukup jauh," jawab Ara. Ray setuju, dia juga malas untuk menaiki bus lagi. *** Malam harinya Ray dan Ara sudah berada di jalan. Dan seperti kesepakatan jika mereka akan berjalan kaki untuk mencari tempat makan. "Ray ... bisakah kamu ceritakan kehidupan di duniamu?" tanya Ara. Pemuda yang berada di samping wanita ini pun terkekeh kecil. "Kamu masih saja penasaran," ujarnya. "Bagian mana yang ingin kamu tau?" lanjut Ray bertanya lebih dulu. "Beberapa hal sudah kamu ceritakan misal kamu tidak pernah lelah atau mengantuk. Kamu tidak akan menua sampai kapan pun. Kamu memiliki konsekuensi jika membuat janji dengan manusia. Ya, mungkin baru itu yang aku tau. Bagaimana dengan kehidupan di sana setelah kalian menyelesaikan tugas misalnya?" "Jika satu tugas sudah selesai, kami menunggu tugas selanjutnya. Ini tidak terjadi setiap saat. Kadangkala kami tidak mendapat tugas dalam waktu lama." "Apa yang kalian lakukan di saat menunggu tugas itu datang?" tanya Ara lagi. "Kami biasanya menghabiskan waktu dengan berbagai hal. Misal bermain bola seperti yang manusia lakukan. Ya, semacam olahraga. Terkadang kita membantu tugas teman yang belum selesai, contohnya aku yang kemarin membantu temanku," jelas Ray. Ara berpikir jika kehidupan di tempat Ray sangat menyenangkan. "Dalam menjalankan tugas selama ini, kira-kira tugas apa yang paling sulit untukmu?" tanya wanita tersebut. Ray terdiam, mencoba mengingat tugas-tugas yang telah ia selesaikan. "Pernah ada tugas yang bisa dibilang ini sangat menyayat hati. Jadi aku diminta mendampingi seorang pria sebelum calon istrinya meninggal. Aku diminta untuk membuat pria tersebut dan pasangannya bahagia. Sebenarnya aku sudah tau ending dari kisah sini, jujur ini benar-benar menyiksa batin. Si wanita meninggal tepat di hari pernikahan terjadi, bahkan janji belum mereka ucapkan. Tentu saja hal ini membuat semua orang sedih terutama si mempelai pria yang bisa dikatakan hampir gila setelah kepergian wanita itu. Di sinilah peran tambahanku, yakni membuat pria itu bangkit lagi, tentu ini tak mudah, tapi akhirnya aku bisa menyelesaikan tugas tersebut." Ara terdiam, cukup takjub dengan makhluk seperti Ray. Bahkan bisa dibilang Ray dan teman-temannya mampu menyelesaikan berbagai hal. Langkah Ara terhenti tepat di depan sebuah tempat makan. Ray pun ikut berhenti di sana. "Sejak kapan di sini ada bangunan ini?" tanya Ara pada dirinya sendiri. "Mungkin bangunan baru," sahut Ray. Ara berpikir hal yang sama. Kemudian terlihat ada seorang pelayan menghampiri mereka yang pada awalnya pelayan tersebut hanya berdiri di depan pintu. "Halo, Mbak, Mas. Silakan datang ke tempat kami. Kami baru buka hari ini. Ada diskon besar-besaran untuk sepasang couple. Jika mau, kalian bisa coba." "Maaf, Mas. Tapi kami bu--" "Ya! Kami akan makan di sini!" potong Ara dengan cepat. Ray menatap wanita di sampingnya dengan kernyitan bingung. "Pilihan yang bagus. Silakan masuk," kata si pelayan. Ara pun langsung menyeret Ray masuk. Pemuda ini terlihat pasrah saja. "Di sini dapat diskon, lumayan loh, Ray. Kita harus berhemat dalam mengeluarkan uang," bisik Ara. Ray memutar bola matanya malas. Seharusnya jika ingin berhemat ya lebih baik masak di rumah. Keduanya sudah duduk di tempat mereka. Seorang pelayan nampak menghampiri dan menanyakan pesanan yang akan mereka inginkan. "Ini diskon untuk couple dapat berapa ya, Mbak?" tanya Ara. "Oh, untuk couple kalian bebas memilih masing-masing satu menu tambahan. Ini free. Khusus hari ini saja karena kami baru buka." Hal yang sayang untuk dilewatkan. "Boleh bungkus nggak, Mbak? Soalnya nanti bakal nggak habis nih," tanya Ara lagi. "Oh tentu boleh," kata si pelayan. Ara bersorak dalam hati. Ara pun mulai menyebutkan makanan yang ia inginkan. Tak lupa dia memesankan makanan untuk Ray. Dan juga dia meminta menu tambahan yang free untuk dibungkus saja. Menurut Ara ini lumayan, makanan itu bisa mereka buat sarapan untuk besok. "Jadi hanya ini saja pesanannya ya?" tanya si pelayan. Ara mengangguk dengan mantab. "Oh iya, syarat untuk mendapatkan free makanan ini adalah kalian harus berfoto ya nanti. Itu sudah menjadi ketentuannya." "Baiklah, nanti kita foto," jawab Ara. Si pelayan pun pamit undur diri. Atensi Ray langsung tertuju kepada wanita di depannya. "Foto?" "Ya. Apakah kamu keberatan?" tanya Ara. Ray mengembuskan napas beratnya. Dia tak keberatan sebenarnya, tapi Ray sendiri belum pernah berfoto. "Terserah padamu saja," jawab Ray pasrah. Ara pun mengedikkan bahunya. Dia mulai sibuk dengan ponselnya lagi. Sebuah notifikasi pesan pun masuk. Setelah dibuka, ternyata dari Bima. Pria itu lagi. Bima menanyakan apakah Ray sedang bersama Ara. Ara pun menjawab iya dan mengatakan jika mereka sedang makan. Bima pun meminta maaf dan tak lagi mengirim pesan kepada Ara. Sejauh ini Ara belum memiliki ketertarikan pada pria itu meskipun kemarin dia sendiri sudah menyatakan persetujuannya untuk mengenal Bima. Kemudian notifikasi lain muncul kembali. Ternyata pesan dari Nino. Nino: aku mendapat kabar jika tadi pulang kerja kamu hampir tertabrak. Apakah kamu baik-baik saja Ra? Mendapat pesan seperti itu membuat wanita ini tanpa sadar tersenyum sendiri. Hal ini tentu tak luput dari pandangan Ray. "Ada apa?" tanya Ray membuat Ara mendongak. Wanita ini menggeleng di sana. Ara: aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku Biarlah dia terlihat pede dan berpikir jika Nino mengkhawatirkan dirinya. Nino: sama-sama. Kamu sedang apa Ra? Apakah kamu sudah makan? Istirahat yang cukup untuk menjaga kesehatanmu Lagi dan lagi Nino menunjukkan kepeduliannya kepada wanita. Jika begini Ara akan terus berpikir jika Nino menaruh perhatian padanya. Di mana Ara sendiri belum tau apakah Nino sudah memiliki kekasih atau tidak. Pelayan datang membawakan pesanan mereka. Hidangan yang tersaji di depan mereka nampak lezat. Tanpa berlama-lama keduanya pun langsung menyantapnya. Karena ini baru selesai dimasak, maka keadaan makanan ini masih panas. "Wah, ini benar-benar lezat," seru wanita itu. Ray sependapat dengannya. Ara menatap makanan di piring Ray yang sengaja ia pilihkan berbeda dari miliknya. "Milikmu terlihat enak juga," kata Ara. Ray yang melihat mata wanita itu tertuju pada piringnya pun terkekeh di sana. "Kamu ingin mencoba milikku? Cobalah," ujar Ray dengan sukarela. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Ara pun langsung mencoba menu milik pemuda itu. Rasa empuk daging yang masuk ke dalam mulutnya membuat Ara tak berhenti mengunyah. "Ini benar-benar enak," seru wanita tersebut dengan girang. "Ini akan menjadi tempat kesukaanku. Aku lihat harganya juga tak begitu mahal," imbuhnya. "Oh iya, barusan Bima menghubungiku lagi dan menanyakan dirimu. Aku katakan jika kita sedang makan," tutur Ara. "Jadi itu yang membuatmu tersenyum?" Ara langsung menggeleng. "Tidak. Aku sedang berbalas pesan dengan Nino tadi," jawab Ara. "Nino? Teman sekantormu itu kan?" Ara mengangguk. "Ah iya ada satu lagi pertanyaan yang ingin aku ajukan. Selama kamu menjalankan tugas, apakah kamu pernah menaruh perasaan pada manusia yang pernah kamu temui?" Ray menenggak minumannya lebih dulu. Lagi-lagi dia mencoba mengingat sederet tugas-tugas yang telah ia selesaikan. Kemudian pemuda tersebut menggeleng. "Sedikit pun tidak pernah?" tanya Ara kembali. Ray mengangguk. "Tentu hal itu tidak boleh terjadi pada kaum kami. Ini akan melanggar ketentuan yang telah dibuat. Lagi pula perbedaan antara manusia dan kami sangatlah jauh. Ini tidak bisa disandingkan." Ara berpikir juga begitu. Tentu akan aneh jika makhluk ajaib seperti Ray malah memiliki perasaan pada manusia yang lemah. "Satu lagi pertanyaan terakhir. Apakah selama kita bersama, kamu merasa lelah menghadapi sikapku yang berubah-ubah ini?" Ray menggeleng. Tentu dia telah memahami segala sifat yang dimiliki oleh para manusia. Untuk Ara, sepertinya Ray sudah terbiasa dengan sikap wanita ini entah Ara versi muda atau dewasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN