Bagian 11

1250 Kata
Sepulang sekolah Ara dan Ray benar-benar ke rumah Gladis. Selayaknya orang yang berduka, maka di rumah itu tampak ramai orang yang melayat. Ara pun teringat dengan kematian ibunya dalam waktu lima tahun ke depan. Rasa sedih tentu Gladis rasakan. Kehadiran Gara tentu akan membuat gadis itu sedikit tak bersedih. Dan Ara tak ingin mengganggu hubungan mereka dulu. Mungkin, pernyataan mengenai perasaannya kepada Gara harus ia tunda dulu. Gara yang melihat Ara pertama kali pun memberitahu Gladis saat itu. Tangis Gladis pun pecah dan Ara tak tega mendengarnya. Kedua gadis ini pun saling memeluk satu sama lain. Ara mencoba menenangkan Gladis sebisa mungkin. Ray dan Gara hanya memperhatikan keduanya. "Kamu yang tabah, Dis. Aku tau ini berat, tetapi jika kamu belum ikhlas, maka ibumu tidak akan tenang. Aku yakin beliau pasti sudah bahagia di sana. Tugasmu sekarang adalah mendoakan ibumu agar semuanya diperlancar." "Terima kasih, Ra. Aku akan mencoba mengikhlaskan semuanya. Aku nggak mau Ibu sedih," kata Gladis. Ara pun mengangguk setuju. Ara dan Ray hanya diam duduk mendengarkan cerita ayah dari Gladis. Ara dan Ray tampak tidak lama berada di sana karena Ara juga belum ijin kepada ibunya. Jika ia pulang terlambat, sang ibu pasti khawatir. Ray dan Ara pulang dengan sepeda masing-masing. Seperti biasa Ray akan mengantar gadis itu. "Jadi ... kamu membatalkan rencana untuk bilang jujur pada Gara?" tanya Ray ketika keduanya mengayuh sepeda bersisian. Ara mengangguk, Ray tampak setuju dengan keputusan Ara karena Gara pasti sibuk menenangkan Gladis. Akan jadi sangat aneh dan canggung jika Ara jujur sekarang. "Melihat keduanya bersama membuatku sadar jika Gladis adalah orang yang tepat bagi Gara. Gara tampak menjaga Gladis ketika dia sedih. Aku benar-benar salut melihatnya. Tatapan yang Gara berikan benar-benar tulus pada Gladis. Dan tatapan itu beda ketika dia menatapku," ujar Ara. Dia tidak sedih, dia hanya berpikir jika Gara dan Gladis memang berjodoh. "Kamu benar. Dilihat dari sisi mana pun sudah jelas jika Gara sangat mencintai Gladis. Tapi, kamu tetaplah harus jujur, Ra." "Kalau aku diam dan tidak jujur pada Gara apakah aku akan tetap berada di dunia ini?" tanyanya. "Ya, kamu akan terjebak di sini. Dan masa depanmu nanti mungkin akan berubah. Bisa lebih baik atau lebih buruk," ungkap Ray. Ara pun jadi bimbang sekarang. Seharusnya sejak awal dia tak perlu kembali ke masa lalu. Sekarang dia malah bingung untuk mengakhiri ini semua. "Kamu tenang saja. Tugasku di sini adalah mendampingi dan memastikan kamu jujur pada Gara. Aku yang membuatmu ada di sini, maka akulah yang akan mendampingimu hingga akhir," terang Ray. Bolehkah Ara bernapas lega sekarang? Setidaknya dia tidak sendirian. *** Keesokan harinya Gara masuk sekolah sedangkan Gladis tidak. Ara tampak mencari info mengenai Gladis dari Gara. Ya, setidaknya pemuda itu pasti tau mengenai ini. Ray tampak belum terlihat, padahal dia biasanya sudah berada di samping Ara pagi-pagi begini. "Terakhir kemarin aku bersamanya, dia sudah baik-baik saja meskipun masih nampak kesedihan di matanya. Katanya dia nggak masuk sekolah seminggu untuk menemani sang ayah," ungkap Gara. Ara pun mengangguk paham. "Bagaimana cara kamu tau jika Ibu Gladis meninggal?" "Dia menghubungiku. Pagi-pagi ketika aku mau berangkat sekolah. Untuk itu aku nggak jadi ke sekolah melainkan ke rumahnya," jawab Gara. Jadi begini asal mula pemuda ini bolos kemarin. "Oh iya, aku pinjam catatanmu kemarin," pinta Gara. Ara mengangguk dan langsung mengambilkan buku miliknya. Dia sengaja membawa buku itu karena dia tau Gara akan meminjamnya. Ini sebuah kebiasaan dari kedua sahabat ini. Ray pun datang yang mana kali ini membawa sosok Lia bersamanya. Gara dan Ara pun memperhatikan keduanya. Lia tampak lengket sekali dengan Ray. Entah kenapa Ara kurang suka dengan sifat berlebihan yang Lia lakukan. Dan Ara baru ingat jika Ray pagi ini tidak berangkat bersamanya. "Siapa dia?" tanya Gara kepada Ara. Ray di sana hanya diam ketika berkali-kali Lia mencoba mencuri perhatiannya. "Lia. Anak kelas 2," jawab Ara singkat. Dia mencoba untuk tak terpengaruh dengan kehadiran Lia di kelasnya. "Sepertinya dia menyukai Ray," kata Gara. Lihatlah, bahkan Gara saja bisa membacanya. Mana mungkin Ray tidak tau jika Lia menaruh hati pada pemuda itu? Dasar menyebalkan, pikir Ara kala itu. "Mungkin," jawab Ara singkat. Gara yang menangkap ekspresi aneh dari sang sahabat pun mengernyit bingung. Berkali-kali dia memperhatikan Ara, Ray, dan Lia secara bergantian. "Kamu suka dengan Ray?" Ara langsung mengangkat wajahnya dan menatap Gara horor. Dengan cepat gadis ini pun menggeleng. Tidak mungkin Ara menyukai Ray. Ara yang berumur 30 tahun menyukai pemuda seperti Ray? Tidak mungkin dan sepertinya itu tidak boleh. Gara pun tertawa melihat ekpresi panik dari Ara. "Suka pun nggak apa-apa, Ra. Aku rasa kamu cocok dengan Ray. Bahkan nama kalian sama-sama memiliki tiga huruf." "Lia juga. Dia juga memiliki tiga huruf. Jadi dia juga cocok dengan Ray," sanggah Ara. "Jadi ini semacam cinta segitiga begitu ya," kata Gara. Ara pun memukul lengan pemuda itu pelan. "Jangan bicara aneh-aneh. Aku nggak mau timbul gosip di sekolah. Terlebih lagi kalau Ray yang mendengarnya. Akan ada keanehan jika kita bertemu nanti," kata Ara. "Lagi pula, Lia adalah gadis yang cantik, dia lebih cocok dengan Ray," imbuhnya sembari memperhatikan betapa leluasanya Lia mengobrol dengan Ray, padahal mereka baru berkenalan kemarin. Berbeda dengan Ara yang cukup sulit membangun komunikasi jika tidak dia kenal. Gara menangkap ekspresi sedih dan takut kehilangan pada diri Ara. Gara yakin jika Ara pasti menaruh hati pada Ray. Tentu saja! Keduanya setiap hari selalu bersama, tentu akan timbul benih cinta di sana. "Jangan berkecil hati, Ra. Aku yakin Ray bukanlah tipe laki-laki yang memandang fisik. Meskipun aku belum tau bagaimana sifat Lia, tetapi terlihat dari gerak-gerik Ray jika dia kurang nyaman berbicara dengan gadis itu," seloroh Gara. Ara mengernyit, dia akhirnya memperhatikan interaksi mereka dengan detail. Gara benar, Ray bahkan hanya diam dan sesekali menanggapi dengan senyum terpaksa di sana. "Kasihan juga Ray," lirih Ara. Gara melirik gadis di sampingnya. "Kalau kamu merasa kasihan, bantu dia," ujar Gara yang memiliki ide cemerlang di sana. Ara pun mengangguk dan segera menghampiri kedua orang itu. Gara yang melihat respon cepat Ara pun terlihat sangat puas. Sepertinya dia akan membantu Ara untuk mendapatkan Ray kali ini. Ara yang sudah sampai di samping meja Ray pun menjadi perhatian kedua penghuni meja itu. "Ini sudah mau jam masuk. Apa kamu nggak mau. kembali ke kelas? Kelasmu ada di bawah bukan?" Lia tampak tidak suka dengan kehadiran Ara yang tiba-tiba ini. "Nanti kalau kamu telat masuk, kamu bisa kena hukuman dari guru," lanjut Ara kembali. Lia memutar bola matanya malas, namun gadis ini berdiri dari tempatnya. Sembari tersenyum lebar kepada Ray, dia pun pamit pergi. Dan Ara memilih untuk kembali ke tempat duduknya. "Terima kasih," kata Ray kepada Ara. "Kalau kamu nggak suka dengan kehadiran dia, kamu harus jujur. Jangan memberi harapan kalau kamu sendiri nggak bisa balas perasaan dia. Cinta bertepuk sebelah tangan itu benar-benar sakit, Ray." Pemuda itu mengernyit mendengar penuturan Ara barusan. "Aku nggak beri dia harapan apa pun, Ra. Lagi pula apa yang kamu katakan belum tentu benar. Mungkin saja dia hanya ingin berteman denganku," bantah Ray. "Kamu nggak akan paham dengan hal seperti ini. Sudahlah, percuma saja menjelaskan itu semua padamu," sahut Ara yang tak kembali menjawab apa yang Ray yang tanyakan. Lagi pula makhluk seperti Ray tak akan tau kisah cinta para manusia. Ray pun memilih menyerah saja. Gara yang melihat interaksi keduanya pun menjadi gemas sendiri. Ya, dia yakin Ara dan Ray saling memiliki perasaan. Hanya saja mereka tak mau mengakui itu semua. ___ Uhuy cie cie. Btw akan jadi aneh kalau Gara comblangin Ray dan Ara. Sedangkan Ara malah menaruh hati pada Gara. Dan Gara malah suka sama Gladis. Fiks cinta segi empat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN