Bagian 10

1310 Kata
Seperti biasa, Ray akan memantau Ara ketika pagi menjelang. Itu semua dilakukan untuk tau di mana posisi gadis itu sekarang. "Jadi dia gadis itu?" Tak disangka temannya pun melihat potret Ara di buku milik Ray. Ray langsung menutup bukunya. "Cantik juga. Tapi, dia itu sebenarnya sudah dewasa, kan? Hanya saja dia kembali ke umurnya yang remaja. Time travel ternyata," komentar teman Ray lagi. Ray tak menanggapi dan langsung pergi menghilang. Dan Ray sudah berada di posisinya mengayuh sepeda. Dia pun mencoba menyusul Ara. Ara yang melihat keberadaan Ray yang datang selalu tiba-tiba pun tampak biasa saja. Itu semua karena dia sudah terbiasa. "Selamat pagi," sapa Ray. "Pagi, Ray," jawab Ara kemudian. "Rencanamu apa hari ini?" tanya pemuda ini. "Aku akan jujur pada Gara," jawab Ara yang langsung membuat Ray menolehkan kepalanya. Tentu hal itu membuat pemuda ini bingung karena baru beberapa hari lalu gadis ini berkata jika dia tak mungkin jujur di depan Gara secara tiba-tiba. "Tiba-tiba begini? Bukankah kamu bilang kalau--" "Aku berubah pikiran," potong Ara langsung. "Aku ingin menyudahi semuanya dan segera kembali ke masa depan. Kamu bilang kalau semuanya akan berakhir jika aku jujur pada Gara. Untuk itu semalam aku memikirkan ini. Aku lelah hidup di masa lalu, Ray. Aku ingin melanjutkan hidupku dan meneruskan hidupku tanpa terbayang akan masa lalu." Ray terdiam ketika mendengar perkataan gadis ini. "Bisakah kamu mendukungku, Ray?" tanya Ara. Ray mengangguk ragu. Entah kenapa dia ragu-ragu sekarang. Tapi, tugasnya memang menemani Ara dan memastikan gadis itu mengatakan jujur pada Gara. Itu semua sebenarnya agar jiwa pemuda itu tenang di sana. Ara dan Ray baru masuk ke sekolah. Di dalam kelas mata Ara langsung tertuju kepada meja Gara. Sepertinya pemuda itu belum datang. Ara pun segera menuju ke mejanya sendiri begitu juga dengan Ray. Ara mulai mengeluarkan bukunya, mempersiapkan pelajaran selanjutnya. *** "Mungkin dia memang sedang sibuk hari ini, Ra," ucap Ray ketika kedua remaja ini berada di rooftop sekolah. Ara hanya diam, niatnya untuk menyatakan perasaan hari ini ternyata gagal. Itu semua disebabkan karena Gara tidak masuk sekolah. Dan Ara tak tau kenapa temannya itu tidak masuk. Ara mencoba mengingat kejadian apa yang terjadi hari ini hingga membuat Gara tak masuk. Akan tetapi, dia tak mengingat apa pun. "Kamu coba hubungi dia dan tanyakan di mana dia sekarang," usul Ray. Atensi Ara teralihkan dan memikirkan ide pemuda ini. Dia pun memilih menyetujuinya dan merogoh saku roknya di mana Ara menyimpan ponsel. Ray hanya memperhatikan dan menunggu dengan tenang di sebelah gadis ini. Ara menekan kontak nomor Gara dan segera menempelkan benda segi empat itu ke indra pendengarnya. Tepat di dering keenam barulah panggilan itu terangkat. Tentu Ara bersyukur Gara masih mau mengangkat telepon darinya. "Halo, Gara." "Halo, Ra." "Kamu nggak masuk sekolah? Kenapa?" tanya Ara langsung. Ara mendengar suara grasak-grusuk di seberang sana. Tentu dia menerka-nerka sedang ada di manakah Gara sekarang. "Maaf, Ra. Aku lupa mengabarimu. Hari ini aku nggak masuk sekolah karena menemani Gladis. Ibunya meninggal dunia tadi pagi." Tentu berita ini membuat Ara syok. Bahkan Ray bisa menangkap ekspresi terkejut di sana. "Meninggal? Sekarang bagaimana keadaan dia? Kenapa kamu nggak hubungi aku? Aku bisa ijinkan kamu ke guru tadi," sahut Ara. "Maaf, Ra. Tadi aku nggak berpikiran ke sana karena menemani Gladis yang benar-benar sedih. Keadaan dia baik-baik saja, tapi dia masih sedih saat ini." "Baiklah. Nanti aku akan ijinkan kamu ke guru. Nanti sepulang sekolah aku akan ke rumah Gladis." "Baiklah. Ya sudah aku tutup teleponnya ya Ra karena aku nggak enak juga ninggalin Gladis." Ara pun mengangguk dan langsung memutuskan panggilan telepon itu. Pandangan gaadis ini langsung tertuju pada Ray. "Aku melupakan kejadian hari ini," kata Ara. "Ibu Gladis meninggal, untuk itu Gara nggak masuk sekolah," imbuhnya. Ray pun mengangguk paham. "Aku nanti pulang sekolah berniat untuk ke rumah Gladis. Apa kamu mau ikut?" Ray mengangguk setuju. Lagi pula apa yang bisa ia lakukan selain menemani Ara? Setelah itu keduanya pun memilih untuk ke kantin. Namun, kali ini tampak ada pemandangan berbeda. Seorang gadis dengan dandanan yang bisa dibilang cukup mencolok di mana sepatu gadis itu tampak berwarna-warni seperti pelangi menghampiri meja Ara dan Ray. "Ya?" tanya Ara ragu. Dia pikir gadis itu sengaja berhenti di depan meja tempat dia dan Ray duduk. Tak disangka-sangka gadis itu pun duduk tepat di depan Ray dengan sambil menatap pemuda itu secara langsung. Tentu Ray pun tak paham. Pemuda ini menyenggol lengan Ara guna membantu dirinya. "Maaf? Ada apa ya?" tanya Ara mencoba lebih sopan sekarang. Pandangan gadis itu mengarah pada Ara. Akan tetapi, tatapannya menunjukkan penuh ketidaksukaan. Berbeda ketika dia menatap Ray tadi. Aneh. Gadis itu mengulurkan tangannya pada Ray. "Aku Lia." Gadis ini sepertinya ingin berkenalan dengan Ray. Ara pun hanya diam dengan sesekali melirik keduanya. Dengan canggung, Ray pun menerima uluran tangan itu. "Ray." Ini adalah kali pertama ada yang mengajak dia kenalan di sini. "Aku sudah lama memperhatikanmu. Aku berada di kelas dua sekarang. Salam kenal." "Ah, iya, salam kenal juga." Ara mengernyit ketika memperhatikan bagaimana halusnya suara gadis itu ketika mengobrol dengan Ray. Dilihat dari gerak geriknya sih kelihatan jika Lia menyukai Ray. Lia? "Perkenalkan namaku Ara," ujar Ara yang ingat jika dia belum memperkenalkan diri. Pandangan Lia pun beralih pada Ara. Terlihat gadis itu tak menyukai keberadaan Ara yang mengganggu sesi obrolan dia dan Ray. "Kenapa wajahmu seperti itu?" tegur Ara saat itu. Lia melihat dirinya seperti pelakor. "Kenapa wajahku? Wajahku baik-baik saja," jawab Lia dengan nada sewotnya. Tentu Ara tak suka diskriminasi yang dilakukan oleh gadis ini. "Hei! Kenapa kamu nyolot? Dasar cewek aneh," sahut Ara. "Sudah. Sudah. Kenapa kalian bertengkar?" Lerai Ray. Tentu Lia langsung memasang wajah baiknya di depan pemuda itu. Gadis bermuka dua, pikir Ara. "Ray. Pulang sekolah nanti kita main, yuk?" ajak Lia terang-terangan. Ray pun terlihat salah tingkah dan bingun dalam bebarengan. Ini adalah kali pertama dia diajak oleh seorang gadis secara terang-terangan. "Ray nggak bisa. Dia mau ikut aku nanti pulang sekolah," sanggah Ara cepat. Enak saja Lia hendak membawa Ray pergi. Padahal dia sudah berencana ke rumah Gladis nanti bersama Ray. "Kenapa kamu jadi yang jawab? Aku tanya ke Ray, loh. Udah deh, yang nggak bersangkutan mending diem," balas Lia yang lagi-lagi menunjukkan ketidaksukaannya. Ara memilih diam. Ray pun tau dia harus segera angkat bicara sekarang. "Lia. Maaf, tapi apa yang Ara bilang adalah benar. Aku dan dia akan pergi nanti sepulang sekolah." "Kok gitu sih, Ray. Batalin aja gimana?" Bolehkah Ara mencakar-cakar mulut Lia sekarang? Dengan mudahnya gadis itu meminta Ray membatalkan rencananya. Apalagi ini di depan Ara sendiri. Sungguh ini membuat Ara semakin kesal. Ara pun berdiri tiba-tiba dari kursinya membuat kedua orang itu mengalihkan pandangan mereka pada gadis ini. Tanpa berkata-kata, Ara pun pergi dari kantin meninggal Ray bersama Lia. "Ray?" "Maaf, Lia. Aku harus pergi sekarang," jelas Ray cepat dan langsung menyusul ke mana Ara pergi. Tentu hal itu membuat Lia sakit hati, akan tetapi dia masih menyukai sosok Ray saat ini. Ara berjalan menyusuri lorong sekarang dengan perasaan kesal. Bahkan wajahnya menunjukkan ekpresi permusuhan di sana. "Kenapa kamu meninggalkanku?" tanya Ray ketika sampai di samping gadis ini. Ara memilih tak menjawab dan diam saja. Ray pun semakin merasa bersalah sekarang. "Aku sudah menolak ajakan Lia tadi," terang pemuda ini. "Kamu pergi dengannya pun aku nggak peduli. Aku bisa ke rumah Gladis sendiri," balas Ara. Ray pun gemas dan langsung menarik pergelangan gadis itu pelan hingga membuat Ara pun berhenti melangkah. "Untuk apa aku pergi dengannya? Aku sudah ada janji denganmu," sembur Ray. "Aku minta maaf jika tadi membuatmu nggak nyaman. Aku juga terkejut dengan kehadiran Lia. Ini pertama kalinya untukku." Ara melepaskan pegangan yang Ray lakukan. Kemudian dia kembali berjalan yang mana kali ini menuju ke kelas. Setidaknya di sini tak ada Lia, jadi mood Ara tetap terjaga baik. Diam-diam Ray melirik Ara yang hanya diam saja duduk si kursinya. Kediaman Ara tentu mengganggu batin Ray. Tunggu, kenapa dia harus merasa terganggu? ___ Hayoloh. Kenapa Ray harus merasa terganggu? ._.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN