Bagian 23

2028 Kata
Kebersamaan Ara dan Bima nyatanya tak sampai di pertemuan yang Ray buat. Nyatanya kedua orang ini sering melakukan komunikasi melalui aplikasi chatting. Bima yang menurut Ara sendiri lucu selalu membuat wanita ini terhibur. Mereka juga melakukan janji temu lagi di weekend nanti. Bagaimana dengan Ray? Pemuda ini tetap menjalani kehidupan seperti biasanya. Dia akan mengantar jemput Ara di kantor. Ketika tak bersama wanita itu, dia akan memperhatikan Bima dari jauh. Ya, meskipun Bima terlihat sempurna untuk Ara, tentu saja Ray tetap harus berjaga-jaga. Ada satu hal lagi yang harus Ray perhatikan di sini, yakni perihal Nino. Awalnya Ray berspekulasi pria itu juga adalah pria baik-baik. Tetapi, semakin lama Ray merasakan ada yang tak beres dari pria ini. Tetapi, Ray sendiri belum menemukan jawaban yang benar pada diri Nino. Hubungannya dengan Ara juga baik. Jadi, Ray tidak bisa serta merta menuduhnya. Saat itu Ray berjalan kaki karena tak ada kegiatan lain. Bima nampak sibuk bekerja, begitu juga dengan Ara. Tentu Ray merasa bosan karena tak memiliki kegiatan apa pun. Mata pemuda ini terpaku pada satu sosok seorang gadis di sisi jalan yang ada di seberang Ray dengan pandangan kosong. Ray memperhatikannya dari jauh. Terlihat gadis itu mengecek ponselnya lebih dulu, kemudian si gadis mengembuskan napas berat dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Dilihat dari seragamnya, gadis itu tentu masih sekolah. Kemudian tanpa sengaja pandangan Ray dan gadis itu saling bertemu. Gadis itu terpaku dalam beberapa detik ketika melihat Ray. Ray pun hanya diam. Gadis itu memutuskan pandangannya dan melihat ke kanan dan kiri jalan. Sepertinya dia ingin menyeberang. Dalam beberapa detik lampu telah berubah menjadi merah dan pengguna jalan pun langsung berhenti. Kesempatan pejalan kaki untuk menyeberang pun diberikan. Mata Ray masih terpaku pada gadis tersebut. Semua orang sibuk menyeberang, namun gadis itu tak kunjung bergerak. Ray nampak bingung dengan gadis ini. Hingga ketika detik waktu di lampu merah hampir menunjukkan angka nol, gadis itu baru mulai melangkah. Tentu hal ini benar-benar buruk. Beberapa pengguna jalan yang mulai bergerak di mana lampu telah berwarna hijau pun mulai membunyikan klakson. Gadis itu berhenti tepat di tengah jalan. Pengguna jalan lainnya mulai marah kali ini. Tak jarang ada yang memaki  gadis ini. Ray masih diam pada tempatnya, melihat tingkah aneh gadis tersebut. Beberapa pengguna jalan membunyikan klakson. Pejalan kaki juga meneriaki gadis ini untuk segera menepi. Hingga ada satu mobil box dari jauh yang melaju cukup kencang. Hal ini membuat beberapa orang berteriak cukup keras untuk memperingatkan gadis itu. Bukannya bergerak, gadis ini malah diam sembari menampilkan senyum lebarnya di sana. Gadis tidak waras. Ray pun yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan menjadi kesal sendiri. Dengan cepat dia berjalan menuju ke tempat gadis itu berdiri dan hendak menariknya untuk pergia. Namun, gadis itu menolak bahkan menghempaskan tangan Ray saat itu juga. "Yak! Apakah kau gila?!" sembur Ray saat itu juga. Bukannya menjawab, gadis ini tetap diam. Karena Ray merasa jika mobil yang melaju itu akan segera sampai, pemuda ini pun tak memiliki pilihan lain. Dia langsung menggendong gadis tersebut di pundaknya. Seperti membawa sebuah karung beras. Tindakan Ray yang tidak sopan ini membuat gadis itu marah dan langsung memukuli punggung Ray yang keras. Pemuda itu tak bereaksi apa pun dan hanya berjalan menuju ke tepian. Keberanian Ray dipuji oleh pengguna jalan lainnya. Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi pemuda ini. Semua yang ada di sana nampak terkejut. Ray terlihat belum menunjukkam reaksinya. Gadis tersebut menatap nyalang Ray secara langsung. Dari tatapannya tentu saja ia tak suka dengan tindakan Ray yang seenaknya ini. "Itu tamparan untuk ketidaksopananmu," ucap gadis tersebut kepada Ray seorang. Ray menatap balik gadis tersebut. Diperhatikannya dari atas hingga bawah. "Aku mencoba membuat sadar jika tindakanmu tadi membahayakan orang lain di sini," balas Ray setenang mungkin. Gadis ini lupa jika Ray sudah memperingatkannya tadi. "Itu urusanku. Kenapa kau mengurusi urusan orang lain? Bisakah kau bersikap tak menyebalkan? Kau membuat semuanya berantakan," sembur gadis tersebut. Gadis itu pun berbalik meninggalkan tempat tersebut. Ray mengikutinya dari belakang, orang-orang langsung membubarkan diri. Gadis tersebut tau Ray masih mengikutinya, tapi dia mencoba untuk terlihat tak peduli. Ray menatap gadis itu dari belakang. Gadis yang aneh tentu masih berada di pikirannya. Gadis tersebut tiba-tiba berhenti dan langsung berbalik. Dia kembali menatap Ray dengan tak suka. "Kenapa kau mengikutiku? Belum cukup menghancurkan rencanaku?" sindirnya. "Sebenarnya apa masalahmu?" tanya Ray terang-terangan. Gadis itu terdiam. Bukannya menjawab dia malah berlalu pergi meninggalkan Ray lagi. Ray tentu butuh jawaban. Dia kembali mengikuti gadis aneh itu. "BISAKAH KAU BERHENTI MENGIKUTIKU? OH s**l!" teriak gadis itu membuat Ray sedikit terkejut di sana. "Tenanglah sebentar. Apa yang membuatmu semarah ini padaku? Kita tidak saling kenal sebelumnya, tapi kau marah seolah kita saling kenal," ujar Ray. Gadis itu mendekat tempat Ray berdiri sembari menampilkan wajah garangnya. "Kau adalah laki-laki menyebalkan. Bisakah kau pergi dari hadapanku? Aku benar-benar muak berada di dekatmu," tutur gadis itu. "Tidak. Aku hanya ingin memastikan kau tidak melakukan tindakan gila lagi." Gadis itu menggeram kesal. Kesabarannya benar-benar diuji ketika bertemu dengan Ray. "Kau benar-benar. Argh!" Bahkan gadis itu tak berani menyentuh Ray. Yang bisa dia lakukan hanyalah tetap pada kekesalannya. Ponselnya berbunyi, hal ini membuat atensi gadis ini teralihkan. Dia merogoh tasnya. Ketika membaca nama si penelepon, gadis itu bergegas pergi dengan sedikit berlari. Ray yang melihatnya pun penasaran apalagi ketika melihat ada gurat kekhawatiran di sana. Ray pun kembali mengikuti gadis tersebut. Lama mengikutinya, akhirnya gadis itu berhenti tepat di depan sebuah rumah sakit. Tanpa berlama-lama ia langsung masuk ke dalam sana diikuti oleh Ray di belakang tanpa ia sadari. Ray menjaga jarak agar gadis itu tak mengetahui keberadaannya. Langkah gadis tersebut berhenti di sebuah kamar rawat inap. Ray mendekati kamar itu dan memperhatikannya dari luar pintu. Gadis aneh itu duduk di depan ranjang di mana seorang bocah perempuan sedang berbaring di atas ranjang tersebut. Dilihat dari wajahnya, sepertinya gadis tersebut nampak sedih. Seorang dokter baru saja selesai berbicara dan hendak keluar. Ray mencoba menyibukkan diri agar tak dicurigai. Setelah dokter pergi, terlihat seorang suster baru saja keluar dari ruangan itu. Ray menghampiri suster tersebut. "Sus. Di dalam sana siapa yang sedang sakit?" tanya Ray langsung. "Seorang anak perempuan penderita kanker." Jawaban suster ini membuat Ray terkejut bukan main. "Oh, baiklah. Terima kasih, Sus." Suster pergi, Ray kembali memperhatikam gadis itu dari balik pintu. Yang ia pikirkan adalah mungkin gadis kecil yang sedang sakit itu adalah adik dari gadis aneh tersebut. Tapi, apakah tindakan gadis tadi ada hubungannya dengan ini? Ray yang penasaran pun akhirnya mencoba menunggu di sana untuk mencari jawaban. Sekitar setengah jam Ray tetap menunggu di kursi luar ruangan. Ia tau gadis itu pasti keluar sebentar lagi. Dan benar saja apa yang Ray perkirakan. Pertama kali gadis tersebut melihat keberadaan Ray yang masih berada di sekitarnya tentu tidak suka. Dia tak menyangka Ray akan mengikutinya hingga ke rumah sakit. Gadis yang belum kita ketahui namanya itu pun hendak menghindar, tapi Ray dengan cepat mencegahnya pergi. "Apa?!" sembur gadis ini. Ray terdiam beberapa saat. Ia tak mengerti kenapa gadis ini seemosi itu ketika melihat dirinya. Padahal kejadian di jalan tadi adalah tindakan baik Ray menyelamatkan gadis tersebut. "Apakah dia adikmu?" tanya Ray langsung. Gadis itu terdiam. "Bukan urusanmu," jawabnya. "Hei, aku perlu tau. Apakah sulit untuk dirimu menjawab?" kata Ray lagi. Gadis itu mengembuskan napas lelahnya, mencoba menetralkan kekesalan yang ada pada dirinya saat ini. "Ya, dia adikku. Kenapa? Apakah kau juga ingin mencampuri urusan keluargaku?" Lagi. Gadis itu masih menunjukkan ketidaksukaannya pada Ray. Ray melangkah mendekat, menatap gadis ini dengan serius. "Mari kita sudahi pertengkaran ini. Jujur, aku tidak mengerti kenapa kau semarah ini padaku. Dan tentu sikapmu ini benar-benar membuatku bingung," ucap Ray. Ray mengulurkan tangannya sebagai permintaan maaf. "Maafkan aku jika mungkin tindakanku hari ini membuatmu kesal. Tapi, satu hal yang harus kau tau. Jika aku tak menyelamatkanmu, kau bisa membahayakan dirimu dan orang lain di jalan tadi," lanjutnya. Gadis ini terdiam dan tak serta merta menerima uluran tangan Ray. "Sudahlah. Sudah tak ada gunanya lagi sekarang," katanya. Tangan Ray hanya bisa mengambang di udara. "Aku memaafkanmu. Kau bisa pergi sekarang," katanya yang terdengar seperti pengusiran. Gadis tersebut berbalik dan berjalan pergi. Ray memperhatikannya dari jauh hingga punggung gadis itu hilang dari pandangan. Ray melihat pintu ruangan itu lagi, dia penasaran. Ray memberanikan diri memasuki kamar rawat tersebut. Melihat gadis kecil itu yang masih menutup matanya membuat Ray merasa kasihan. Dia mendekati gadis tersebut, membelai rambutnya yang halus. Gadis ini didiadnosa memiliki kanker. Sungguh kasihan sekali. Gadis kecil yang terbaring itu tiba-tiba membuka matanya. Pandangannya langsung tertuju pada sosok asing di sebelahnya. "Kamu siapa?" tanyanya langsung. Ray terkejut mendengar suara bocah itu. "Hai. Aku ... Ray," jawabnya gugup. "Apakah kamu teman Kak Bila?" Bila? Mungkin gadis aneh tadi namanya Bila. Ray pun mengangguk sembari menampilkan senyum hangatnya. "Ya. Dia sedang pergi sebentar. Bagaimana keadaanmu?" tanya Ray. "Aku baik, Kak." Ray mengangguk. "Kak Bila, apakah dia baik-baik saja?" tanya bocah itu lagi. "Dia baik-baik saja." Terlihat bocah itu bernapas lega. Ray pun berpikir mungkin saja gadis ini tau apa yang terjadi pada kakaknya. "Apakah kamu tau apa yang terjadi pada Kak Bila?" tanya Ray. Bocah itu terdiam, menatap Ray dengan intens. Tentu pertanyaan yang Ray ajukan membuatnya bingung. Ray pun tertawa untuk mencairkan suasana. "Aku tadi bertemu dengannya di jalan. Dia seperti memikirkan sesuatu. Mungkin saja dia memikirkanmu atau hal lain." Sedetik kemudian wajah bocah perempuan itu muram. "Kak Bila pasti sedang kebingungan sekarang. Ini semua gara-gara aku," ujarnya yang menahan tangis. Ray dengan cepat mencoba menenangkan gadis ini. "Kebingungan kenapa?" tanya Ray lebih lanjut. "Kak Bila bingung cari uang untuk pengobatanku. Kalau saja aku tidak sakit, pasti Kak Bila tidak akan seperti ini." "Ke mana orang tua kalian?" "Mama pergi dari rumah. Papa, dia juga pergi. Aku hanya tinggal bersama Kak Bila." Ray mengangguk paham. Pasti gadis bernama Bila itu tadinya mencoba untuk mengakhiri hidupnya. "Hei!" Sebuah suara dari pintu mengejutkan kedua orang ini. Ternyata Bila telah kembali. Keberadaan Ray di dalam ruangan adiknya tentu membuat gadis itu murka. Dengan cepat dia menarik Ray keluar. "Apa lagi yang kau lakukan di sini?!" semburnya di luar ruangan. Tentu ia tak ingin adiknya tau tentang tindakan bodohnya tadi. "Menginterogasi adikmu agar mendapat jawaban," sahut Ray. Terlihat Bila yang sudah kehilangan kesabaran akan diri Ray. "Bisakah kau pergi? Ini benar-benar hari terburukku karena bertemu denganmu. Tolong pergi dan jangan muncul di hadapanku lagi," pinta Bila saat ini. "Apakah tadi kau mencoba bunuh diri agar bisa lepas dari masalah?" tanya Ray kemudian dan tak menghiraukan permintaan Bila untuk pergi. "Sudah cukup. Kau tidak perlu tau urusanku. Pergilah." "Hei. Aku sedang memastikan. Jika aku benar, kau melakukan ini karena kebingungan mencari biaya pengobatanmu adikmu, bukan? Apakah kau pikir dengan bunuh diri adalah jalan keluarnya? Jika kau pergi, adikmu akan sendirian. Dia akan kesepian. Apakah itu yang kau inginkan?" "Itu bukan urusanmu," jawab Bila dengan ekspresi yang tak mampu Ray baca. "Ini menjadi urusanku karena kau tega meninggalkan adikmu seorang diri. Apakah pantas seorang kakak bersikap seperti ini?" "Lebih baik kau diam karena kau tidak tau apa yang terjadi dengan hidupku." "Aku tau. Adikmu yang memberitahuku." "Jika kau tau, kau seharusnya tak mencegahku. Aku sedang berusaha menyelamatkan adikku saat ini. Tapi, kau datang dan mengacaukan segalanya," kata Bila. "Aku tidak mengacaukan. Aku membantumu untuk tersadar." "Tidak. Kau mengacaukan. Aku sedang mencari uang untuk pengobatan adikku. Jika aku tiada dan dia benar-benar sendirian, rumah sakit akan menanggung seluruh biaya pengobatannya. Aku harus melakukan ini agar dia selamat." "Kau benar-benar gadis bodohh. Kau akan membunuhh adikmu secara perlahan jika begini. Tidak bisakah kau berpikir jernih jika tindakan ini tidak benar? Gadis kecil itu akan mengakhiri hidupnya jika kau benar-benar pergi," kata Ray kembali. "Di dunia ini setiap orang memiliki tingkat masalah mereka masing-masing. Tapi, dari masalah itu pasti akan ada jalan keluar bagi mereka. Bunuhh diri bukanlah tindakan yang bisa dijadikan solusi. Berpikirlah jernih sebelum bertindak. Pikirkan masa depan adikmu juga." Terlihat gadis itu yang terdiam dan mencoba mencerna perkataan Ray barusan. Ray menepuk pundak Bila dengan pelan. "Mulai sekarang temani adikmu. Jangan menyerah dengan keadaan. Semua masalah ada jalan keluarnya. Aku harap kau tidak melakukan tindakan gilla lagi seperti tadi." Setelah menasihati gadis tersebut, Ray segera pergi dari sana. Dia ingat jika harus menjemput Ara ke kantor. Mengenai Bila, semoga ia tak nekat bunuhh diri lagi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN