Bagian 24

1790 Kata
Ara sedang berada di sebuah kafe tempat dia akan bertemu Nino hari ini. Ya, Nino memintanya datang ke tempat itu untuk mengobrol bersama Ara. Tentu Ara menyambut baik undangan tersebut. Ya, meskipun Ray sudah melarangnya karena target mereka adalah Bima, dan bukannya Nino. Jika Ara menolak, Nino akan berpikir Ara adalah tipe wanita yang sombong. Padahal ini hanya undangan makan biasa. Ara tak memakai pakaian yang begitu mencolok. Dia hanya menyesuaikam dengan tempat yang dikunjunginya. Ray ternyata juga ikut, tapi seperti biasa dia akan duduk di meja yang cukup jauh agar tak diketahui oleh Nino. Mengenai gadis bernama Bila itu, Ray tak bertemu dengan gadis itu lagi. Dia sengaja tak kembali ke rumah sakit karena ia tau jika gadis bernama Bila itu tak mungkin nekat meninggalkan adiknya seorang diri di dunia ini. Seperti yang diketahui bahwa Ray menasihatinya dengan berbagai hal kemarin. Hal itu membuat pandangan gadis tersebut menjadi terbuka dan menjauhkan pikirannya untuk mengakhiri hidup. Nino baru saja tiba seorang diri. Sepertinya pria itu ingin mengambil perhatian Ara dengan menggunakan pakaian yang tak begitu formal seperti saat mereka kerja. Ara yang melihat Nino pun melambaikan tangannya, mencoba memberitahu pria itu tentang keberadaannya. Nino berjalan menghampiri Ara dengan membawa sebuah bingkisan yang entah Ray tak tau isinya. "Maaf membuatmu menunggu. Tadi macet sebentar," ucap Nino yang merasa bersalah. Ara tersenyum maklum. Keduanya mulai memesan minuman dan camilan. "Oh iya, tadi di jalan ada penjual ini. Karena kasihan lihat dagangannya masih banyak, jadi aku putuskan untuk beli. Nih aku kasih kamu aja," ujar Nino memberikan sebuah bungkusan kecil. Ara menerimanya dan membuka bungkusan itu. Ternyata sebuah gantungan yang terbuat dari bahan rotan. Ara mendapat gantungan berbentuk kuda di sana. "Terima kasih. Ini bagus," ucapnya. Nino pun mengangguk setuju. "Aku juga udah punya satu," kata Nino yang memperlihatkan gantungan kunci sepeda motor miliknya yang berbentu hewan singa. Ara menyimpan benda itu ke dalam tasnya. Keduanya kembali melanjutkan obrolan mereka. Ray yang mengawasi mereka dari jauh terlihat bosan. Kebetulan mereka berada di tempat umum, jadi Nino tak akan berbuat macam-macam. Untuk itu Ray memilih untuk pergi dari sana mencari udara segar. Kaki pemuda ini membawanya ke sebuah taman yang tak jauh dari kafe tersebut. Pikirnya ia bisa menunggu Ara di sini. Ray menduduki sebuah kursi panjang yang kosong. Semua orang nampak sibuk ke sana ke mari. Ketika sedang serius memperhatikan sekitar, Ray merasakan kehadiran seseorang yang duduk di sebelahnya. Dia pun menoleh dan terkejut bertemu dengan gadis bernama Bila itu lagi. "Hai," sapa Bila. Kali ini wajahnya tak garang, namun dia menunjukkan senyum terbaiknya di sana. Tentu hal itu membuat Ray bingung. "Kau? Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Ray. Bila pun tertawa dalam beberapa detik. "Hanya berjalan-jalan, kemudian tak sengaja melihat dirimu," jawabnya. Ray tak menanggapi lagi. Dia kembali memperhatikan sekitar. "Bagaimana keadaan adikmu?" tanya Ray yang akhirnya memiliki topik untuk dibicarakan. "Baik," jawab gadis ini dengan singkat. Terjadi keheningan di antara mereka. Ray yang tak tahu apakah dia harus mencari topik atau tidak, sedangkan Bila yang mencoba mencari kalimat yang tepat untuk pemuda ini. "Terima kasih," ucap Bila akhirnya. Ray menoleh, menatap gadis ini dengan pandangan bingung. Melihat ekspresi lucu Ray membuat Bila terhibur di sana. "Berkatmu akhirnya aku bisa kembali menjaga adikku. Berkatmu juga aku sudah mendapatkan cara untuk bisa membayar tagihan rumah sakit," lanjutnya. Ray hanya menanggapi dengan anggukan saja. "Baguslah jika kau telah sadar sekarang. Semoga kejadian kemarin tak terulang lagi. Aku melakukan itu semua agar kau tidak menyesal nantinya. Dan juga agar kau lebih menghargai arti hidupmu." Perkataan Ray tentu sudah bisa menyadarkan Bila dari pikiran buruknya. "Sebagai ucapan terima kasih, terimalah ini," tutur Bila sembari memberikan bingkisan putih. Ray menerima barang itu dan melihat isinya. Ternyata berisi makanan yang ada di minimarket. "Kau tidak perlu melakukan ini. Berikan saja kepada adikmu, dia pasti sangat suka makanan itu," tolak Ray yang kembali memberikan bingkisan itu. Bila pun menjadi tak enak hati karena kemarin dia sudah berpikiran buruk bahkan memaki Ray. Padahal jelas-jelas Ray adalah pemuda baik-baik. "Di mana kau tinggal?" tanya Bila. Ray terdiam. "Jauh dari sini," jawabnya kemudian. "Jika kau tidak mau menerima pemberianku, maka kau tidak boleh menolak jika aku mentraktirmu. Deal?" Ray pun akhirnya mengangguk setuju. Itu lebih baik dibandingkan dia dibelikan sesuatu karena pada dasarnya Ray bukanlah pecinta makanan. Tugasnya di sini hanya untuk mendampingi Ara untuk menemukan pasangan. "Aku ingin bercerita sesuatu, tetapi aku rasa ini tak penting untukmu," ucap gadis itu. "Ceritakan saja apa yang ingin kau ceritakan," balas Ray. Lagi pula ia tak memiliki kegiatan lain selain menunggu Ara selesai dengan Nino di kafe. "Aku hanya tinggal berdua dengan adikku. Mama dan Papa sudah lama berpisah dan pergi. Lebih tepatnya meninggalkan kami. Dari dulu hanya aku yang merawat adikku. Aku masihlah seorang pelajar, terkadang juga bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan makan kami. Adikku sudah lama mengidap penyakit ini. Mama dan Papa tau, untuk itu mereka pergi meninggalkan kami." "Tunggu. Orang tuamu pergi karena mereka tau adikmu terkena kanker?" tanya Ray memastikan. Bila mengangguk dengan sedih. Ray tentu tak habis pikir dengan para manusia di dunia ini yang tega meninggalkan anak mereka. "Sebenarnya Papalah yang pertama kali pergi. Kemudian Mama berkata padaku jika dia sudah tak bisa bertahan lagi menghidup kami berdua. Jadi, dia putuskan untuk pergi dan menitipkan adikku padaku." "Karena tekanan inilah yang membuatku berpikir untuk mengakhiri hidup kemarin. Aku tak ada pilihan lain. Rumah sakit memiliki program bagi anak-anak yang hidup sendirian, yatim piatu dan sebatangkara untuk dibiayai seluruh pengobatannya. Aku tentu memikirkan keselamatan adikku. Karena perawatan rumah sakitlah yang bisa menopang hidupnya." "Akan tetapi, setelah bertemu denganmu kemarin aku sadar jika adikku mungkin akan sangat sedih. Dia akan sendirian. Dan dia pasti akan sangat hancur. Untuk itu aku mulai bangkit meskipun itu sulit. Aku sudah mencoba menghubungi Mama, tapi dia berkata dia sangat sibuk. Untuk itu kemarin aku menggadaikan surat rumah kami untuk biaya adikku." "Menggadaikan surat rumah? Di mana nantinya kalian tinggal jika itu tak bisa ditebus?" tanya Ray kemudian. Bila pun menampilkan senyum hangatnya. "Aku tidak tau. Mungkin di rumah sakit atau kita akan mencari panti asuhan," jawab Bila. Ray pun terlihat kasihan mendengar cerita hidup gadis ini. Anda saja Tuhan bisa adil kepada seluruh makhluknya. Tapi, hidup tanpa adanya rintangan tentu kurang menyenangkan. "Aku pernah mendengar para manusia mengatakan ini. Bersabarlah, karena apa yang kau sabarkan sekarang nantinya akan berbuah baik. Tak peduli seberapa sulitnya rintangan di depan, yang jelas tetap hadapi dan lewati rintangan itu dengan percaya diri. Nah, aku yakin kau bisa melakukan ini. Ketika kau merasa tak mampu melewati ujian itu, selalu ingatlah dengan senyum adikmu. Ingatlah ada dia yang menunggu di sana. Dan jangan pernah menyerah dengan keadaan." Bila mengangguk. "Kau benar. Sekarang aku sudah tak menyerah dengan keadaan. Aku akan melanjutkan hidupku bersama adikku meskipun tidak adanya Papa dan Mama. Karena kami yakin jika Tuhan selalu bersama kami. Dia tak akan meninggalkan kami," seloroh Bila yang lebih percaya diri sekarang. "Terima kasih. Lagi lagi kau menyadarkanku arti penting hidup." "Sama-sama. Tugasku adalah memastikan kalian tetap pada jalur yang benar. Lagi pula Tuhan tidak suka dengan makhluk yang sering putus asa apalagi menjadikan bunuhh diri sebagai solusi. Itu sangatlah dia benci," kata Ray. "Oh iya, kita sudah berbicara banyak tapi aku belum memperkenalkan diri dengan baik." Gadis itu mengulurkan tangannya lebih dulu. Ray menerima sambutan hangat ini. "Namaku Bila. Kau bisa memanggilku Bila." "Aku sudah tau. Dari adikmu," sahut Ray. "Namaku Ray," imbuhnya. "Ray. Aku akan mengingat nama ini," kata Bila kemudian. Bila belum tau saja siapa sosok Ray sebenarnya. Mungkin kalau dia tau Ray bukanlah seorang manusia, dia pasti akan sangat terkejut. "Ray?" Panggilan dari belakang mereka membuat keduanya reflek menoleh. Ray dan Bila langsung berdiri dari tempat mereka. Yang memanggil Ray barusan adalah Ara. Sepertinya wanita itu tau di mana Ray menunggunya. Ara hanya datang sendirian, tak ada sosok Nino di sekitar wanita ini. Ara yang melihat sosok asing bersama dengan Ray pun mengernyit bingung. Bila segera memperkenalkan dirinya. "Hai, Kak. Perkenalkan saya Bila. Teman Ray," ucap Bila dengan ramah. Ara menyambut perkenalan ini dengan baik meskipun dia sedikit khawatir di mana Ray terlalu banyak berinteraksi dengan manusia. Ara takut jika orang-orang mengetahui identitas pemuda ini. "Ara. Namaku Ara." Bila mengangguk paham. Kemudian dia beralih pada Ray. "Ray, sepertinya aku harus pergi sekarang. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi," kata Bila yang diangguki saja oleh pemuda ini. "Kak, saya permisi dulu," pamit Bila kepada Ara. Ara pun mengangguk juga dan membiarkan gadis itu pergi. Kemudian Ray kembali duduk di tempatnya, Ara pun ikut menyusul. "Kamu tidak pulang dengan Nino?" tanya Ray tanpa menoleh kepada wanita di sebelahnya. Ara menggeleng. "Dia pulang duluan. Katanya ada urusan," ungkap Ara. "Aku pikir kamu sudah pulang duluan," imbuh Ara kemudian. Ray menggeleng. "Aku hanya berjalan-jalan sebentar di sekitar sini." "Dan mengadakan janji temu dengan gadis barusan?" tebak Ara. Ray menggeleng  tentu dia tak sedang janjian dengan Bila. "Kami tak sengaja bertemu. Aku duluan yang datang ke sini tadi," jelas Ray. Ara pun mengangguk paham. "Aku rasa dia gadis yang baik," komentar Ara yang disetujui oleh Ray. "Tapi ... kamu tetap harus hati-hati. Semakin banyak manusia yang mengenalmu, aku takut ini membahayakan identitasmu yang sesungguhnya." Ray tau, untuk itu dia tak terlalu banyak berinteraksi dengan Bila. Pembatasan diri tentu sangat Ray butuhkan sekarang. "Bagaimana dengan Nino? Kenapa kamu tumben sekali menerima ajakan dia keluar? Bukankah kalian sekantor? Seharusnya kalian bisa mengobrol di tempat kerja." Ara pun tersenyum kecil. "Aku juga tidak tau. Kata Nino sih kalau di kantor dia malu karena banyak teman-teman. Oh iya, katanya dia ingin mengenalku lebih jauh. Aku tak tau apa maksud dari perkataannya yang ini." Ray terdiam. Mengenal lebih jauh? Bukankah Ara bilang kemungkinan Nino sudah memiliki kekasih? Untuk apa juga dia mendekati Ara dan mencoba mengenal wanita ini? "Bagaimana jawabanmu? Kamu memberinya ijin?" Terlihat Ara yang mengembuskan napasnya lebih dulu. "Tidak mungkin aku menolaknya, itu akan terlihat tidak sopan dan malah membuat hubungan kita jadi aneh nantinya di kantor. Lagi pula ini hanya sebatas saling kenal, Ray. Menurutku tidak masalah. "Bagaimana jika dia benar memiliki kekasih? Namamu akan jadi buruk jika orang mengira kamu pengganggu," balas Ray. Ara terdiam, dia tak bisa membantah. Dia juga belum mengkonfirmasi kepada Nino mengenai apakah pria itu memiliki kekasih atau tidak. "Besok aku akan tanyakan kepadanya apakah dia single atau tidak," putus Ara kemudian. "Jika tidak?" Ara tersenyum canggung. "Mungkin kita akan coba saling mengenal." Jawaban Ara tentu tak Ray sukai. "Bagaimana dengan Bima?" Ara terdiam. "Bima adalah pria yang baik. Tapi ... baik aku, Bima, dan Nino, kita masihlah seorang teman. Apakah salah jika aku mencoba mengenal mereka berdua dulu? Hanya sebatas mengenal satu sama lain. Aku hanya tidak ingin salah dalam memilih, Ray. Bolehkah?" tanya Ara penuh harap. Tentu Ray juga tak bisa memaksa. Lagi dan lagi itu semua tergantung hati. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN