Bagian 25

2535 Kata
Ray baru menginjakkan kakinya di sebuah gedung tinggi. Kata Ara dia ke tempat itu bersama teman kantornya untuk menghadiri seminar. Seminar ini dibuka untuk umum juga. Jadi, Ray putuskan dia juga akan datang. Keadaan di dalam sana benar-benar ramai. Banyak orang berlalu lalang dan sepertinya seminar belum dimulai. Ray mencoba mencari sosok Ara dan teman-temannya terlebih dahulu. Ray berbelok ke belokan yang ada di sana. Dia melihat Ara yang sedang mengobrol bersama dua orang. Salah satunya ada Nino. Tanpa berpikir panjang, Ray pun menghampiri Ara. Keberadaan pemuda ini membuat teman Ara terkejut. Pasalnya dilihat dari tampangnya, Ray tidak mungkin ikut seminar tersebut. Dia terlalu muda untuk berada di sini. Lagi pula seminar ini menyasar usia 20 tahun ke atas. "Dia temanmu, Ra?" tanya salah satu teman Ara. Nino sendiri sudah tau mengenai Ray di mana Ara telah memperkenalkan mereka sebelumnya. "Ya. Namanya Ray," ungkap Ara. Ray memperkenalkan dirinya kepada teman wanita Ara itu. "Kamu terlihat lebih muda. Berapa umurmu?" tanya wanita yang tak Ray kenali itu. Bukannya menjawab, Ray malah melirik Ara. Mengetahui arti tatapan pemuda ini membuat Ara segera bertindak. "Hanya beda dua tahun dari kita," jawab Ara mewakili. "Ha? Benarkah? Tapi dia terlihat sangat muda sekali. Ini artinya dia awet muda. Apa krim wajah yang kamu pakai?" tanyanya kembali kepada Ray. Ara pun meringis ketika mendengar pertanyaan tak terduga dari temannya itu yang ditujukan kepada Ray. "Tidak ada. Aku hanya mandi seperti biasa," jelas Ray kemudian. "Ahaha dia memang suka merendah. Ah, sebaiknya kita masuk mencari tempat duduk dulu. Seminar akan segera dimulai sebentar lagi," usul Ara membuat yang lain nampak setuju. Keempat orang ini pun masuk ke aula lebih dulu, begitu juga dengan Ray yang mengikuti mereka dari belakang. Di dalam aula juga sudah tersedia kursi dan banyak yang sudah terisi juga. Ara segera mencari tempat yang strategis di mana terdapat empat kursi kosong. Ara duduk di sebelah Ray untuk berjaga-jaga agar pemuda itu tak berbuat macam-macam. Nino terlihat sibuk mengobrol dengan teman kantor mereka. "Kenapa kamu tak bilang jika akan ikut hadir? Jika begini lebih baik tadi kita berangkat bersama," bisik Ara kepada Ray. "Sudah aku katakan jika aku akan datang. Kamu sepertinya lupa. Lagi pula kita tak bisa berangkat bersama karena kamu pun harus ke kantor lebih dulu tadinya," terang Ray yang masuk akal juga. "Di sini banyak teman kantorku. Aku harap kamu jangan pergi jauh-jauh dariku. Karena aku takut jika salah satu dari mereka menanyaimu hal-hal yang aneh," kata Ara lagi yang sepertinya tampak perhatian pada Ray. Pemuda itu tertawa ringan. "Tenanglah. Apakah kamu pikir aku tidak bisa menjawab pertanyaan mereka? Ini mudah untukku, Ra." "Aku tau kamu memiliki kepintaran yang tinggi. Tapi tetap saja aku khawatir. Aku sedang berusaha menjaga identitasmu agar tak diketahui banyak orang. Oh iya, di seminar nanti lebih baik kamu diam dan perhatikan saja. Jika pemateri memberi kebebasan bertanya, kamu tetaplah diam. Biarkan orang lain saja yang bertanya," kata Ara yang sebegitu khawatirnya identitas Ray terbongkar. "Baiklah, baiklah. Lagi pula aku tak berminat bertanya," balas Ray. Ara pun mengangguk paham. Tak beberapa lama semua orang pun sudah memenuhi tempat itu. Si pengisi seminar pun telah datang. Sepanjang acara semua orang terlihat fokus memperhatikan ke depan. Hal yang berbeda tentu dilakukan oleh Ray. Di mana pemuda ini bukan fokus kepada si pengisi seminar, melainkan kepada orang-orang di sekitarnya. Feeling Ray mengatakan jika ada orang jahat di dalam aula ini. Untuk itu ia mencoba mencari orang tersebut. Di tengah-tengah seminar Ara terlihat haus. Ray dengan sigap membukakan dan memberikan air mineral untuknya. Ara menerimanya dengan senang hati. Bahkan tindakan Ray ini diketahui oleh teman wanita Ara yang memang sejak tadi menaruh perhatian pada sosok Ray. Tentu umur Ray masih tidak dipercayai oleh teman Ara itu. Ray pun nampak tak peduli. DOR Suara tembakan membuat suasana menjagi tegang dan terdengar teriakan dari para wanita. DOR Kembali suara tembakan terdengar. Tim pengaman langsung bergerak mengecek keluar. Akan tetapi, salah seorang peserta juga langsung bergerak ke pintu dan menguncinya dari dalam. Semua orang terlihat panik. Kemudian muncul orang-orang lainnya yang berapakaian formal namun memegang s*****a di tangan mereka. "What? Apa ini?" kata Ara yang masih bisa didengar oleh Ray. "TIARAP DAN DIAM!" perintah salah satu orang yang memegang s*****a. Semua orang langsung menurut, termasuk Ara dan Ray. Tanpa sadar tubuh Ara pun bergetar, Ray mengetahui itu. Sepertinya Ara nampak syok, semua orang di sana juga syok. Bahkan si pengisi seminar langsung terdiam dan ikut tiarap. "KELUARKAN PONSEL DAN BARANG-BARANG BERHARGA KALIAN." Salah satu dari komplotan bersenjata itu memerintah lagi. Kali ini tiga orang nampak membawa kantong dan memerintahkan semua orang meletakkan ponsel dan barang berharga mereka ke dalam kantong tersebut. Sembari gemetar, Ara menuruti perintah orang bersenjata itu. Ray tentu tidak karena dia memang tak memiliki ponsel dan tak memiliki barang berharga. Ray memperhatikan sekumpulan orang bersenjata itu yang kira-kira berjumlah delapan orang di mana dua di antaranya adalah wanita. Ray memperhatikan mereka dengan teliti, mencoba mencari kelemahan di sini. "YAK!" Salah seorang dari mereka berteriak dan langsung menghampiri salah satu seorang pria yang sedang tiarap. "b******k! Keluarkan ponselmu!" titahnya. Dengan takut-takut, pria itu pun mengeluarkan ponsel yang ia sembunyikan di dalam bajunya. Dan dengan cepat ponsel itu diambil dan dibanting saat itu juga. "Apa kau mau matii hah!" maki orang tersebut. Pria itu menggeleng dan hanya menunduk di sana. Kemudian terlihat salah seorang dari komplotan itu menghampiri pria yang tadi banyak memberikan perintah. Sepertinya pria itu adalah ketua dari kelompok ini. Pria itu diperlihatkan sebuah ponsel di mana di dalamnya terdapat berita mengenai kejahatan mereka. Sepertinya ini ulah dari pria tadi yang diam-diam melakukan siaran langsung. Terlihat jelas jika si ketua marah di sini. Dia langsung membawa pria yang lancang tadi. Wajah pria itu sudah pucat. Si ketua mengacungkan senjatanya tepat di pelipis kanan pria itu. Hal ini membuat semua orang terkejut. "Ada kata-kata terakhir yang ingin kau sampaikan?" tanya si ketua. Pria itu terlihat menyesali tindakan gegabahnya tadi. "Ma-maafkan aku. Tolong ampuni aku," pintanya dengan sangat. Si ketua pun tertawa kencang membuat hanya tawanya yang mendominasi aula itu. "Berpikirlah lebih pintar lagi sebelum bertindak," kata si ketua. DOR Semua orang menjerit ketika melihat adegan p*********n itu terjadi di depan mereka. Pria yang meminta maaf itu sudah tergelatak di lantai dengan darah yang mengucur dari kepalanya. Ara ingin muntah melihat kejadian ini. Dia pun langsung menunduk dan menutup matanya. Ray masih berfokus mencari kelemahan para penjahat itu. "Itulah akibatnya jika kalian membantah. Keluarkan ponsel kalian dan patuhi perintahku," ucap si ketua. Tentu hal ini langsung membuat semua orang ketakutan dan segera mengeluarkan ponsel serta barang berharga mereka. Ray melirik Ara. Kemudian pemuda ini menggenggam satu tangan wanita itu. "Tenanglah. Aku akan menyelamatkan kita semua," kata Ray. Ara menatap pemuda itu dengan penuh dan tak berani melihat ke depan sana di mana mayat pria tadi masih tergeletak. Si ketua menuju ke arah panggung di mana pengisi acara serta pembawa acara masih tiarap dengan tubuh yang ketakutan. Si ketua mengambil mic yang tadi dipegang oleh pengisi acara. "Halo semuanya," sapa orang itu dengan santainya. Tentu semua orang tak menjawab sapaannya karena yang mereka inginkan saat ini adalah sebuah kebebasan. "Pasti kalian bertanya-tanya kenapa kami melakukan ini. Tenang. Kalian akan keluar dari sini dengan aman. Hanya jika kalian tak membantah dan menurut padaku. Satu nyawa sudah melayang, aku tak ingin menghilangkan nyawa lainnya. Jadi, tetap diam dan dengarkan aku," ucapnya. Semua orang memilih diam dari pada nyawa mereka hilang. "Kehadiranku di sini tidak hanya menginginkan harta kalian. Tapi aku ingin menuntut sebuah keadilan. Bisa kalian lihat aku dan teman-temanku di sini bukan? Kami dulunya sama seperti kalian. Pekerja yang memiliki penghasilan tetap. Tapi, perusahan yang mengadakan seminar ini dengan tega memberhentikan kami tanpa pesangon sedikit pun." "Dan sekarang kami sedang menuntut sebuah keadilan. So, itu tidak masalah bukan?" Terlihat beberapa orang mulai berbisik-bisik. Tentu ini adalah sebuah balas dendam, namun yang menjadi dirugikan di sini adalah orang-orang yang hadir dalam seminar itu. Mereka tentu tak tau dan tak ikut campur dengan pemberhentian penjahat ini. Bahkan bisa dipastikan semua yang hadir di sana tak mengenal kelompok penjahat ini. Si ketua mulai kembali bercerita. Sungguh ini hanyalah membuang-buang waktu. Ray melirik Ara lagi di mana wanita itu terlihat gelisah di tempatnya. "Ada apa?" tanya Ray dengan pelan. "Aku kebelet pipis," lirih Ara yang sedikit malu di sini. Mungkin karena takut jadinya dia sampai menahan kencingnya. "Aku akan meminta ijin pada mereka," putus Ray yang akan segera berdiri namun dicegah oleh Ara dengan cepat. Ara masih sayang dengan nyawa. Dan juga dia tak ingin sesuatu terjadi pada Ray. "Sudahlah, Ray. Aku akan menahan ini. Lebih baik kita diam. Kamu tidak dengar tadi orang itu mengatakan untuk diam?" ucap Ara masih dengan suara kecil. Pada dasarnya meskipun keduanya berbicara dengan suara kecil, tetapi si ketua masih bisa merasakan jika ada yang mengobrol di antara kerumunan itu. Dan matanya langsung tertuju pada tempat Ray dan Ara. Tanpa berlama-lama si ketua langsung menghampiri mereka. Ara pun sudah keringat dingin selain menahan kencingnya, dia juga menahan rasa takut di sana. "Kalian berdua berdiri," perintah si ketua. Ray menoleh dan langsung berdiri sedangkan Ara berdiri dengan sedikit takut-takut. "Kalian sepertinya asyik dengan obrolan sendiri," sindir si ketua. Ara langsung menggeleng dengan takut di sana. "Maaf. Tapi temanku sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja," sahut Ray yang tak menunjukkan rasa takut di sini. Si ketua pun memperhatikan tingkah Ara. "Ada apa?" tanyanya. "Dia menahan kencing sejak tadi," ungkap Ray yang membantu Ara. "Apakah itu benar?" tanya si ketua. Ara mengangguk dengan takut-takut. "Baiklah. Kau boleh kencing," kata si ketua dengan enteng. Ara pun memandang tak percaya orang itu masih memiliki hati nurani. Tak ingin si ketua berubah pikiran, Ara pun segera menuju ke pintu keluar. "Hei! Mau ke mana kau?" tanya si ketua membuat langkah Ara pun terhenti. "Ke kamar mandi," jawab Ara kemudian. Si ketua pun tertawa di tempatnya membuat semua orang bingung. Tentu tawa orang itu bukanlah pertanda baik. "Siapa yang mengijinkanmu ke kamar mandi?" "Bukankah kamu barusan--" "Aku menginjinkamu, tapi tidak untuk ke kamar mandi. Kau ingin kencing bukan? Kau bisa kencing di sini, tidak perlu keluar ruangan." Tentu jawaban orang itu membuat Ara terkejut. Ara mengurungkan niatnya dan tak jadi pergi, dia akan menahan kencingnya. "Kenapa? Tak jadi kencing?" tanya si ketua dengan nada mengejek. Ara tak menjawab, dia memilih diam. Ray yang melihatnya menjadi tak tega. "Apakah kau tidak bisa memberikan dia keringanan? Dia wanita, tidak mungkin dia kencing di sini apalagi sedang banyak orang," ujar Ray. Si ketua berbalik dan menatap Ray dengan tak suka. Tak ingin hal buruk terjadi, Ara langsung menarik Ray untuk kembali ke tempatnya. Tentu tindakan Ara ini membuat nyawa Ray selamat. Si ketua pun kembali ke tempatnya. Ray langsung memberondong Ara dengan pertanyaan. "Kenapa kamu menarikku? Aku sedang berusaha meminta ijin padanya agar kamu bisa pergi ke kamar mandi." "Sudahlah, Ray. Aku akan menahan ini. Lebih baik kita diam, aku tak ingin sesuatu terjadi pada kita berdua," tutur Ara. Ray pun mengalah dan memilih mengikuti apa yang Ara inginkan. Satu jam berlalu, namun tak ada orang di luar aula itu yang hendak membantu. Ray tak habis pikir dengan manusia yang ada di sini. Padahal jumlah mereka lebih banyak dibandingkan komplotan itu yang hanya 8 orang. Seharusnya ini menjadi nilai lebih dan kekuatan mereka untuk memberontak. Ray mencoba mencari cara untuk menyelamatkan semua orang. Ingat, Ray adalah bukan manusia. Dia memiliki kepintaran di atas pikiran manusia. Seketika Ray memiliki rencana. Ara yang mengetahui gelagat berbeda dari Ray pun langsung mencegah pemuda itu. "Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Ara hati-hati. Ray melepaskan pegangan tangan wanita itu, Ara mengggeleng mengisyaratkan Ray untuk jangan gegabah. Ray menampilkan senyum terbaiknya. "Aku harus menyelamatkan semua orang," kata Ray tanpa suara. Pemuda ini berdiri dari tempatnya. Berjalan dengan santai dan percaya diri menuju ke tempat si ketua berada. Semua orang melihat keberanian Ray kali ini. Pemuda yang sejak tadi diam dan merencakan hal yang mungkin bisa membantu semua orang. "Ada apa?" tanya si ketua langsung kepada Ray yang sudah berada di depannya. Ray memberikan telapak tangannya yang kosong. Si ketua mengernyit. "Aku ingin memberikanmu sesuatu. Mungkin ini yang kamu inginkan," ucap Ray yang tak dipahami oleh si ketua. Ray langsung menarik tangan si ketua dan menggenggamnya. Sikap lancang Ray ini tentu membuat si ketua marah. Namun, Ray tak melepaskan genggamannya. Dalam beberapa detik tubuh si ketua pun terdiam. Para anak buahnya memperhatikan si ketua dengan seksama. Kemudian Ray melepaskan genggamannya dan sedikit mendorong si ketua. Hal itu membuat semua orang terkejut dan mengacungi jempol keberanian pemuda ini. Anak buah komplotan itu langsung mengelilingi si ketua yang terlihat linglung di tempatnya. Ara mengernyit melihat perubahan ekspresi si ketua setelah dipegang oleh Ray. Apa yang dilakukan pemuda itu? "Bu-buka pintunya," perintah si ketua dengan tiba-tiba. "Kenapa kita membuka pintu? Bukankah rencananya--" "Buka pintunya bodoh!" teriak si ketua kepada anak buahnya. Salah satu dari mereka langsung berjalan menuju ke pintu. Ray sendiri sudah kembali ke tempatnya, berada di sisi Ara sembari menampilkan senyum terbaiknya. "Apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Ara. "Tidak ada. Aku hanya menyadarkan dia saja. Sepertinya dia sudah sadar dengan tindakannya yang salah ini," jawab Ray dengan santai. Ketika pintu dibuka, para polisi langsung masuk ke dalam sana dan langsung mengamankan para komplotan itu. Ara memandang tak percaya hal di depannya. Semuanya diselesaikan dengan mudah dan tanpa perlawanan dari komplotan itu. Dan yang lebih menakjubkannya adalah ketua komplotan itu hanya diam dengan pandangannya yang aneh. Ray membantu Ara keluar dari tempat itu. Hal pertama yang Ara tuju tentu saja kamar mandi. Ray menunggu di depan kamar mandi. Semua orang ikut membantu menyelamatkan orang-orang. Ray bernapas lega semuanya selamat kecuali pria pertama tadi yang menjadi korban di sini. Ara keluar dari kamar mandi dengan lega. Dia langsung memeluk Ray saat itu. "Terima kasih. Kamu bukan hanya menyelamatkanku, tetapi menyelamatkan semua orang." Ray menepuk punggung Ara dengan pelan. "Itu sudah menjadi tugasku. Sebenarnya aku menunjukkan sesuatu yang seharusnya tak boleh aku tunjukkan pada kalian. Aku terpaksa melakukan ini," ucap Ray. Ara mengernyit, dia menebak kira-kira apa yang ditunjukkan pemuda ini. "Apa yang kamu tunjukkan? Apakah itu hal mengerikan?" tanya Ara. Ray mengangguk dengan tak yakin. "Aku menunjukkan bagaiamana Tuhan menyiksa orang-orang yang berbuat jahat di dunia ini." Bola mata Ara pun membulat sempurna. Ray benar-benar menakutkan. "Kenapa? Apakah kamu ingin melihatnya juga?" Wanita ini langsung menggeleng di sana. "Jangan gila! Ya sudah ayo kita pergi. Oh, aku lupa dengan Nino dan teman-temanku. Bagaimana keadaan mereka?" Ara baru ingat dengan teman-temannya. Keduanya berjalan keluar dari gedung di mana di luar sudah banyak wartawan. "Mereka sudah diamankan oleh polisi," jawab Ray. "Oh lihatlah ada Bima di sini," kata Ray menunjuk satu sosok yang ia kenali. Bima yang melihat keberadaan Ara dan Ray pun langsung menghampiri mereka. "Kalian? Kalian berada di gedung ini?" tanya Bima memandang keduanya tak percaya. Ray mengangguk. "Astaga! Aku baru tau. Bagaimana keadaan kalian? Apakah kalian baik-baik saja?" tanya pria itu bertubi-tubi. Ray tertawa kecil di tempatnya. Dia menepuk pundak Bima pelan. "Kamu bisa tanyakan segalanya pada Ara. Oh iya, bisakah kamu menjaganya sebentar? Aku akan membeli minuman dulu," pinta Ray. Bima mengangguk, Ray segera pergi ke arah lain. Sebelum jauh, Ray menoleh sebentar untuk memastikan jika Bima dan Ara terlihat bersama. Ray sengaja mencari alasan membeli minuman agar kedua orang itu saling dekat dan mengenal satu sama lain. Rencana tetaplah rencana. Ray tak akan menyerah. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN