Seika sedang menunggu bus yang akan mengantarnya pergi bekerja karena motor Satria mogok. Tiba-tiba saja sebuah Mercedes Benz G65 berhenti tepat di hadapannya. Tidak lama kemudian seorang anak perempuan yang rambutnya dikepang dua turun dari sana.
"Mama!"
Kedua mata Seika sontak membulat melihat anak perempuan yang berlari kecil menghampirinya. "Cherry?!"
Cherry memeluk kedua kaki Seika dengan erat. Dia merasa sangat senang bisa bertemu lagi dengan Seika. "Cherry kangen sekali sama, Mama."
Seika tidak tahu harus mengatakan apa karena dia tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Cherry. Padahal dia sudah bordoa agar Tuhan tidak mempertemukannya lagi dengan Cherry dan neneknya. Terutama dengan Devan.
"Mama anterin Cherry pergi ke sekolah, ya?"
Seika tersentak karena Cherry tiba-tiba menarik tangannya dengan paksa menuju mobil Devan. Seika sebenarnya ingin menolak, tapi tatapan sendu Cherry selalu berhasil membuatnya merasa tidak tega. Akhirnya dia terpaksa menuruti permintaan anak itu.
Seika duduk di bangku samping kemudi sambil memangku Cherry. Kedua matanya sesekali mencuri pandang ke arah Devan yang sedang fokus mengemudi. Devan memiliki alis tebal, rahang kokoh, serta bibir tipis yang sangat kissable. Wajah lelaki itu mirip sekali dengan idol KPOP favoritnya. Sepertinya Seika baru menyadari jika Devan memiliki wajah yang sangat tampan.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu terpesona dengan wajah tampanku?" Devan menyeringai karena menangkap basah Seika sedang mencuri pandang ke arahnya.
Mulut Seika sontak menganga lebar. Telinga gadis itu pun mendadak gatal setelah mendengar pertanyaan Devan barusan karena lelaki itu memiliki rasa percaya diri yang terlalu tinggi.
"Cih, tidak sama sekali!" Seika terpaksa berbohong. Lagi pula dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kalau dia terpesona dengan Devan karena lelaki itu bisa besar kepala.
Devan kembali menyeringai. Dia bersumpah akan membuat Seika jatuh ke dalam pesonanya.
Dua puluh menit kemudian mereka tiba di sekolah Cherry. Devan pun menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang lalu membantu Cherry turun dari mobil.
"Cherry belajar yang baik, ya." Seika mengusap puncak kepala Cherry dengan penuh sayang.
Cherry mengangguk lalu mengecup kedua pipi Devan dan Seika bergantian sebelum masuk ke kelas.
Devan membukakan pintu untuk Seika lalu mempersilakan gadis berambut cokelat itu untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Masuklah."
Seika menatap Devan dengan kening berkerut dalam karena lelaki itu tiba-tiba bersikap baik pada dirinya, padahal beberapa menit yang lalu Devan masih bersikap kasar pada dirinya.
Apa Devan memiliki kepribadian ganda?
Seika mengangkat kedua bahunya ke atas seolah-olah tidak peduli lalu masuk ke dalam mobil lelaki itu.
"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Devan sambil melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Cherry.
Lipatan di kening Seika semakin bertambah. Dia benar-benar merasa heran karena Devan tiba-tiba berikap baik pada dirinya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Seika?" tanya Devan sambil tersenyum manis.
Entah kenapa jantung Seika tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat dari pada biasanya ketika melihat senyum manis Devan. Apa dia terpesona dengan duda beranak satu itu?
Devan tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu mendekati Seika. Gadis itu pun refleks mundur hingga membentur pintu mobil yang ada di belakang.
"Mau apa kamu?" tanya Seika terdengar takut-takut karena Devan mentapnya sangat lekat. Seperti predator yang sedang mengintai mangsanya.
"Menurutmu?" Devan menyeringai puas melihat Seika yang bergeming ketakutan. Dia pun semakin mendekat, mengikir jarak di antara mereka. Seika bahkan bisa mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh Devan dengan jelas karena jarak mereka sangat dekat.
Apa Devan ingin menciumnya?
'Tuhan selamatkan aku!' Seika menutup kedua matanya erat-erat.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Bahkan hingga detika kelima Seika tidak merasa ada sesuatu menyentuh bibirnya. Apa Devan tidak jadi menciumnya?
Seika pun memberanikan diri untuk membuka matanya perlahan.
"Apa kamu pikir aku akan menciummu, Seika? Sayang sekali kamu bukan seleraku!" ucap Devan terdengar pedas.
Mulut Seika sontak menganga lebar. Apa Devan pikir dia Indomie yang bisa membuat semua orang berselera?
Sialan!
Devan benar-benar menyebalkan!
"Kamu?!" Seika menatap Devan dengan tajam. Rasanya dia ingin sekali mengabsen semua hewan yang tinggal di kebun binatang untuk memaki Devan. Namun, kepalanya tiba-tiba saja dipukul oleh seseorang lumayan keras.
"Aduh!"
"Kenapa kamu masih tidur, Seika? Lihat sekarang jam berapa? Apa kamu ingin terlambat bekerja?"
Seika meringis kesakitan sambil mengusap kepalanya yang baru saja dipukul oleh Satria lalu mengedarkan pandang ke sekitar seolah-olah mencari sesuatu.
Seika masih ingat dengan jelas kalau dia tadi bertemu dengan Devan ketika menunggu bus di halte lalu mereka mengantar Cherry pergi ke sekolah bersama. Namun, Devan tiba-tiba saja mendekat dan ingin mencium bibirnya.
Di mana lelaki itu sekarang?
"Kamu nyari apa, Seika?"
"Devan, mana?" tanya Seika polos. Sepertinya nyawa gadis itu belum terkumpul sepenuhnya.
Kening Satria berkerut dalam mendengar pertanyaan Seika barusan karena nama lelaki itu terdengar asing di telinganya.
"Siapa, Devan?"
Mulut Seika sontak menganga lebar. Sepertinya gadis itu baru menyadari kalau kejadian yang dialaminya bersama Devan barusan ternyata hanya mimpi.
'Kenapa di dalam mimpi Devan juga menyebalkan, sih?' rutuk Seika dalam hati.
"Siapa Devan, Seika? Apa dia kekasih barumu?" Satria kembali bertanya karena Seika malah asyik dengan pikirannya sendiri.
"Ti-tidak. Dia bukan siapa-siapa," jawab Seika terbata-bata.
"Sungguh?" Satria menatap Seika dengan lekat karena gadis itu terlihat sangat gugup sekarang.
"Iya, Bang Sat."
Kedua mata Satria sontak membulat. "Abang akan memukul kepalamu lagi kalau memanggil Bang Sat."
Seika malah terkekeh. Entah sudah berapa kali Satria menyuruhnya agar berhenti mamanggil 'Bang Sat' karena panggilan itu terdengar seperti makian. Bukannya berhenti, dia malah terus memanggil Satria 'Bang Sat'.
"Cepat mandi sana! Abang tunggu di ruang makan."
"Siap, Bang." Seika memberi hormat pada Satria lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu bersiap-siap pergi bekerja.
Seika memakai kaos putih polos yang dilapisi dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans berwarna biru dongker. Dia selalu mengikat rambut panjangnya ala ponytail agar tidak gerah. Seika sudah terlihat cantik meskipun dia hanya memakai make up tipis.
Seika langsung menghampiri Satria yang sudah menunggu di meja makan karena mereka akan sarapan bersama. Di atas meja makan sudah tersedia nasi, telur dadar, dan tumis kangkung. Seika pun mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi yang lumayan banyak karena perutnya memang sangat lapar.
Satria menatap nasi yang ada di piring Seika dengan mulut menganga lebar karena porsi makan adiknya itu sangat banyak. "Apa nasimu nggak kebanyakan, Dek?"
Seika menggeleng pelan. "Apa Bang Sat tidak bisa lihat?"
"Lihat apa?" tanya Satria tidak mengerti.
"Tubuhku sangat kecil. Aku harus makan yang banyak biar cepat besar."