Gadis Aneh

1008 Kata
Satria mendesah panjang mendengar jawaban yang keluar dari bibir mungil Seika. "Mana ada yang seperti itu? Makan banyak tidak menjamin kamu cepat besar, Seika. Kamu ini ada-ada saja." Seika malah tersenyum membuat kedua matanya yang sipit membentuk sebuah garis. Gadis itu benar-benar menggemaskan. "Mau berangkat kerja bareng abang?" tawar Satria. "Mau ...," jawab Seika setelah menelan habis makanannya. "Lumayan bisa menghemat ongkos." Satria cepat-cepat menghabiskan sarapannya karena dia lupa belum memanasi mesin motornya. Dia meminta Seika untuk mencuci piring kotor bekas mereka sarapan sebelum berangkat ke bekerja "Aduh!" Satria sontak menoleh, menatap Seika yang meringis kesakitan sambil memegangi kakinya. "Kenapa kursi ini bisa ada di sini, sih?" gerutu Seika terdengar kesal padahal kursi tersebut tidak pernah berpindah tempat. Gadis itu memang ceroboh. Satria pun memasang helm ke kepala Seika lalu meminta gadis itu naik ke atas motornya. Dia akan mengantar Seika pergi bekerja. "Ayo ngebut, Bang Sat!" seru Seika ketika mereka sudah berada di jalan raya. "Gundulmu!" Satria memutar bola mata malas. Apa Seika ingin mati konyol karena kecelakaan? Seika malah terkekeh mendengarnya. Dia segera turun dari motor Satria ketika tiba di tempat bekerja lalu mengucapkan terima kasih pada Satria. "Terima kasih, Bang Sat." "Bilang apa kamu!?" "Ish ...." Seika mengerucutkan bibir kesal karena Satria memukul helm yang masih ada di kepalanya. "Jangan panggil Bang Sat! Kedengarannya tidak enak sama sekali," ucap Satria kesal. Seika malah terkekeh. "Bang Sat itu panggilan kesayangan tau ...." Satria memutar bola mata malas karena Seika selalu bisa membalas ucapannya. "Oi, Bara!" Lelaki bernama Bara itu sontak berhenti melangkah karena mendengar suara Seika. "Tunggu aku!" Seika buru-buru pamit pada Satria lalu berlari kecil menghampiri Bara. "Bang Sat, Seika kerja dulu, ya?" "Seika, helm!" teriak Satria sambil menunjuk helm yang ada di kepala Seika. Seika sontak berhenti lalu berbalik menghampiri Satria. "Maaf, Sika lupa," ucapnya sambil melepas helm tersebut lalu memberikannya pada Satria. "Titip Seika, ya?" teriak Satria pada lelaki yang tadi dipanggil Seika. Bara mengangkat kedua jempolnya ke atas untuk menanggapi ucapan Satria lalu segera masuk ke kantor bersama Seika. Satria menatap gedung yang memiliki simbol huruf D besar di bagian depan dengan lekat lantas melajukan motornya. Tidak terasa sudah dua bulan lebih Seika bekerja di Devan Grup sebagai office girl. Semoga saja adiknya itu betah bekerja di sana. Suasana di dalam kantor masih terlihat sepi karena sekarang memang belum jam masuk kerja. Namun, Seika dan Bara selalu berangkat lebih awal dari karyawan yang lain. "Selamat pagi, Pak Bara," sapa seorang petugas keamanan yang berpapasan dengan mereka. Bara hanya mengangguk singkat untuk membalas sapaan petugas keamanan tersebut. Seika diam-diam memperhatikan Bara yang berjalan tepat di sampingnya. Lelaki berusia dua puluh empat tahun itu terlihat sangat tampan dalam balutan kemeja berwarna biru navy dan celana bahan berwarna senada. Kaca mata minus yang bertengger di hidung mancungnya membuat kadar ketampanan Bara semakin meningkat. "Kamu terlihat tampan sekali hari ini. Kenapa kamu tidak mau menjadi pacarku?" Bara menghela napas panjang karena dia tahu kalau Seika hanya menggodanya. "Kamu tahu sendiri kan, kalau aku—" Bara menatap Seika dengan lekat dan gadis itu mengangguk paham. Sepertinya Seika harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk menjadikan Bara sebagai kekasihnya karena lelaki itu tidak menyukai perempuan. "Sayang sekali kamu tidak suka perempuan, padahal kamu itu tipeku." Seika meninju perut Bara pelan, tapi perut lelaki itu ternyata sangat keras. Apa Bara makan batu? Tiga menit kemudian mereka tiba di loker khusus petugas kebersihan. Seika segera mengambil seragam kerjanya lalu melepas kemeja dan kaos yang dipakainya di depan Bara. Bara yang melihatnya sontak membuang muka ke arah lain. "Kamu mau ganti baju di sini?" "Memangnya kenapa?" Seika melepas kemejanya begitu saja, menyisakan sebuah tank top berwarna hitam yang menutupi tubuh bagian atasnya. "Apa kamu mulai menyukaiku?" tanyanya sambil menaik turunkan kedua alisnya menggoda Bara. Bara menatap Seika dari atas sampai bawah seolah-olah menilai penampilan gadis itu. "Bagian depan belakang rata semua. Mana mungkin aku menyukaimu, Seika? Kamu itu bukan seleraku." Seika mendengkus kesal karena ucapan Bara mengingatkannya dengan mimpi yang dia alami bersama Devan semalam. Entah kenapa ucapan pedas papa kandung Cherry itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. "Apa kamu tahu, Bara? Ukuran BH aku itu tiga puluh empat. Masa segini dibilang rata?" Seika memperhatikan dadanya sendiri yang menurutnya berukuran lumayan besar. Bara menghela napas panjang. Meskipun dia tidak menyukai perempuan, Seika seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu pada dirinya. Apa gadis itu tidak malu? Rasanya Bara ingin sekali membenturkan kepala Seika ke loker yang ada di sampingnya agar gadis itu bisa bersikap lebih manusiawi pada dirinya. "Aku ini seorang laki-laki, Seika. Apa kamu tidak malu bicara seperti itu?" Bara hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia tidak pernah menyangka akan berteman dengan gadis yang aneh seperti Seika. "Kenapa aku harus malu? Kamu kan, tidak suka sama perempuan," jawab Seika sambil terkekeh. Bara berdecak kesal. "Tapi tetap saja aku ini laki-laki, Seika!" "Siapa juga yang bilang kamu itu perempuan?" Bara kembali menghela napas panjang sambil memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa penat karena dia selalu kalah jika berdebat dengan Seika. "Kamu jangan pernah melakukan hal ini di depan lelaki lain. Mengerti?!" "Memangnya kenapa?" Seika menatap Bara dengan lekat. Senyum nakal menghiasi bibirnya. "Kamu cemburu, ya?" "Seika!" "Baiklah-baiklah, aku tidak akan membuka baju sembarangan di depan lelaki lain." Seika terkekeh pelan. Entah kenapa dia suka sekali menggoda Bara. Bara meminta tolong Seika untuk membuatkannya kopi setela selesai memakai seragam. Hidup sendiri di apartemen membuat Bara tidak sempat membuat kopi sebelum pergi bekerja. "Terima kasih, Seika." Bagas menyesap secangkir kopi panas yang ada di tangannya. Kopi buatan Seika rasanya sangat enak. Semua karyawan di kantor pun mengakuinya. "Sama-sama." "Aku akan mentraktirmu makan siang nanti." "Sungguh?" Kedua mata Seika sontak berbinar. Bara mengangguk lalu melihat jam tangan merek Rolex yang melingkari pergelangan tangan kirinya. "Sepertinya kita harus bekerja sekarang. Semangat!" ucapnya sambil mengusap puncak kepala Seika dengan gemas. Seika mengerucutkan bibir kesal karena Bara membuat rambutnya berantakan. "Aku benar-benar akan membuatmu jatuh hati padaku kalau kamu terus bertingkah manis seperti ini, Bara!" Bara hanya tertawa mendengar ancaman Seika barusan sambil melambaikan tangannya acuh tak acuh. Seika tidak mungkin bisa membuatnya jatuh cinta karena jantungnya tidak pernah berdebar karena perempuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN