Pagi itu, udara di halaman rumah keluarga Arman terasa tegang. Tak ada tawa, tak ada suara riuh seperti biasanya. Di meja ruang tamu, Rara duduk dengan wajah bersinar, matanya berbinar penuh keyakinan. Di hadapannya, Bu Lastri dan Pak Arman menatap dengan pandangan muram. "Aku sudah bulatkan tekad, Pak, Bu. Aku mau menikah dengan Yudha," ujar Rara mantap. Pak Arman mengetuk meja pelan, nada suaranya berat dan menahan marah. "Rara, kamu sadar tidak siapa Yudha itu? Anak laki-laki yang bahkan belum punya pekerjaan tetap! Kamu tahu, menikah itu bukan cuma soal cinta." "Betul kata bapakmu," sambung Bu Lastri dengan nada lembut namun jelas kecewa. "Kamu pikir hidup setelah menikah itu semudah yang kamu bayangkan? Kamu bahkan baru saja membuat masalah besar dengan kakakmu, Rara. Sekarang

