Bab 1. Membeli Gigolo
Seorang gadis melangkah masuk ke dalam klub malam Hawthorn yang terletak di San Francisco. Musik berdentum dengan keras dan lampu warna-warni menghiasi ruangan yang remang-remang.
Tidak ada keraguan sama sekali yang ditunjukkan oleh gadis itu dan dia adalah Evelyn Douglas, gadis muda yang masih berusia 23 tahun. Ini pertama kalinya Evelyn menginjakkan kakinya di club malam untuk melakukan hal gila yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.
Dia mendatangi klub malam itu karena dia ingin membeli seorang gigolo. Dia melakukannya untuk menghancurkan pernikahan yang tidak pernah dia inginkan.
Evelyn harus menelan kekecewaan karena ayahnya menikah lagi. Tidak cukup sampai di sana, ayahnya justru ingin menikahkan dirinya dengan seseorang pengusaha tua kaya raya yang ada di kota itu.
Ibu tirinya yang jahat pun menghasut ayahnya sedemikian rupa untuk mendapatkan uang dan dia tidak sudi sama sekali berakhir dengan seorang pria tua yang menjijikkan.
Evelyn mengedarkan pandangan, menatap ruangan yang remang-remang. Hanya cahaya dari lampu disco menerangi tempat itu. Dia seperti mencari mangsa dan tatapannya tertuju pada seorang pria yang sedang duduk seorang diri sambil menikmati segelas minuman memabukkan.
Tanpa ragu sama sekali, Evelyn melangkah menghampiri pria itu. Dia pasti gigolo yang sedang menunggu tamu. Dia akan membelinya untuk mendapatkan foto erotis karena dia memerlukannya.
“Hei, kau!” Evelyn memanggil pria asing itu sambil meletakkan kakinya di atas sebuah kursi.
Pria itu memandangi, dari atas sampai ke bawah. Tubuh moleknya tampak menggoda dengan pakaian seksi yang dikenakan tapi pria itu tidak terlihat tertarik dengan Evelyn apalagi Evelyn terlihat aneh dengan make up tebalnya. Reaksi yang dia tunjukkan sedikit membuat Evelyn gusar karena pria itu mengabaikan dirinya dan lebih memilih menikmati minumannya.
“Hei, aku berbicara denganmu!” Ucap Evelyn kesal.
“Tempat ini bukanlah tempat untuk Nona muda seperti dirimu. Segeralah pulang, cuci kakimu dan masuklah ke tempat tidur!” Lagi-lagi pria itu menikmati minumannya dengan begitu santai.
“Tapi tempat ini adalah tempat pemecah masalah bagi Nona muda ini!”
“Oh, memangnya apa yang Nona muda inginkan?” Pria asing itu meliriknya dari balik gelas.
“Aku ingin membelimu!” ucap Evelyn tanpa ragu.
“What?” Pria asing itu pun tampak terkejut dengan ucapan Evelyn tapi tak lama kemudian, dia tertawa mendengar permintaan gadis polos yang kemungkinan besar tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan.
“Kenapa kau tertawa?” Evelyn menurunkan kakinya. Dia semakin terlihat kesal saja.
“Nona Muda, kau benar-benar punya nyali. Apa kau tahu arti dari permintaanmu itu?”
“Tentu saja aku tahu. Kau seorang gigolo, bukan?" Pria itu menaikkan satu alis. Gigolo, apa dia seperti seorang gigolo?
"Aku akan membelimu jadi habiskan malam ini bersama denganku. Aku akan membayarmu dengan mahal asal kau dapat memberikan beberapa lembar foto erotis yang aku inginkan!” Pria itu kembali memandangi Evelyn. Apa Nona muda itu sudah gila?
“Hng. Permintaanmu itu sungguh berbahaya, Nona,” dia kembali menuangkan minuman ke dalam gelas, “Dan kau tidak tahu resiko dari permintaanmu itu!” Dia ingin meneguk minumannya tapi Evelyn merebut gelasnya dan meneguk minuman itu sampai habis.
Dia tidak menyadari kadar alkohol dari minuman itu cukup tinggi. Evelyn sempoyongan, dia berpegangan pada meja agar tidak jatuh.
"Lihatlah, kau bahkan hampir tumbang karena minuman itu. Apa kau bisa menghadapi resiko dari permintaan gilamu ini?"
“Aku tahu. Aku tahu resikonya tapi aku tidak peduli. Cukup temani aku malam ini dan berikan apa yang aku inginkan. Setelah itu kita berdua tidak akan pernah bertemu lagi. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan meminta pertanggungjawabanmu seandainya terjadi sesuatu denganku nanti!'
“Bayaranku mahal, Nona. Apa kau sanggup?”
“Berapa? Katakan Saja. Aku tidak keberatan yang penting kau memuaskan aku malam ini!”
“Oh, kau benar-benar berani!” Gelas minuman diletakkan, pria itu pun beranjak dari tempat duduk, “Karena kau yang menginginkannya maka aku tidak akan menolak!” Tangan Evelyn diraih, pria itu pun menariknya.
“Ma-mau ke mana?”
“Tentu saja ke kamar. Apa kau ingin melakukannya di atas meja itu?”
“Jadi kau bersedia aku beli?”
Pria itu menyunggingkan bibirnya. Bagaimana mungkin dia melewatkan kesempatan itu? Dia datang ke klub malam itu karena dia bosan tapi dia justru mendapatkan hal yang tidak terduga.
Apakah dia seorang gigolo seperti yang Evelyn kira?
Dia bukanlah gigolo. Dia adalah Liam Maxton. Pria berusia 30 tahun itu adalah seorang Mafia. Club malam itu pun miliknya.
Liam membawa Evelyn melewati ruangan yang remang-remang. Dia mengambil sebuah kunci kamar dari pegawainya.
Evelyn mengikuti dalam diam tapi tiba-tiba saja dia mulai ragu apalagi setelah mereka berada di kamar yang remang-remang.
Liam mengunci pintu kamar, dia tidak mau ada yang mengganggu. Evelyn diam membeku. Tenggorokannya terasa kering saat melihat ranjang dipenuhi dengan alat-alat aneh yang tampak asing baginya.
"Kenapa diam saja?" Evelyn terkejut, dia tidak menyadari Liam sudah berdiri di belakangnya.
"Kita sudah berada di sini, jadi kau tidak bisa mundur lagi!" Tangan Liam sudah berada di dagunya, Evelyn semakin gugup saja tapi dia tidak bisa mundur lagi. Dia harus mendapatkan foto erotis untuk menghentikan pernikahannya.
"Aku tidak akan mundur. Berikan aku foto erotis yang bagus maka kau akan mendapatkan uangnya!"
"Kau akan mendapatkan semua itu, Nona!" Liam melangkah menuju ranjang. Evelyn menelan ludah tapi dia harus segera bergegas karena dia tidak mau berlama-lama di tempat itu.
Dia menyimpan kamera di sebuah meja dalam keadaan menyala. Dia akan mendapatkan foto yang bagus ketika dia sedang bermesraan dengan Gigolo itu. Setelah meletakkan kameranya, Evelyn terkejut mendapati Liam sudah tak memakai bajunya.
Jantungnya berdegup cepat, dia kembali menelan ludahnya dengan susah payah. Pria itu kembali menghampiri, mengusap wajahnya dengan perlahan tapi lambat laun tangannya turun ke bahu Evelyn.
Evelyn merasa nafasnya begitu berat. Ini adalah pertama kali dia akan bermesraan dengan seorang laki-laki jadi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Benar-benar pasrah, eh?" Dagu Evelyn diangkat, Liam mendekatkan wajah mereka.
"Bi-bisakah lebih cepat?"
"Aku tidak suka terburu-buru!" Bibir Evelyn yang dipenuhi lipstik merah, dikecup dengan perlahan. Entah siapa yang mengajari Gadis itu berdandan, yang pasti penampilannya begitu buruk dan aneh.
Jantung Evelyn hampir melompat keluar ketika pria itu mengambil ciuman pertamanya. Dia sangat ingin menghentikan kegilaan itu tapi membayangkan pernikahan yang tak dia inginkan membuatnya membulatkan tekad.
Liam membawanya menuju ranjang, melepaskan pakaian Evelyn dengan perlahan. Evelyn benar-benar gugup. Wajahnya merah padam tapi karena kamar yang minim cahaya, membuat Liam tidak akan bisa melihat rona merah di wajahnya.
"Aku tanya sekali lagi. Apa kau yakin ingin melakukan hal ini?"
"Ya, aku sangat yakin!" Kini tidak ada keraguan lagi. Setelah mendapatkan beberapa foto erotis, dia akan pergi tapi rupanya semua di luar prediksi.
Liam membaringkan Evelyn, kedua tangan digenggam ke atas agar gadis itu tidak memberontak. Evelyn yang polos, yang tidak pernah melakukan hal seperti itu hanya pasrah saja. Dia menahan diri agar tidak mendesah tapi sentuhan pria itu membuatnya merasa aneh.
Tubuhnya terasa terbakar, dia rasa sudah cukup. Foto yang dia dapatkan pasti sudah banyak jadi dia ingin menghentikan permainan gila itu.
"Cu-cukup. Aku sudah mendapatkan fotonya!" Pinta Evelyn.
"Tidak!" Liam menarik celana Evelyn, dia tidak akan berhenti apalagi api gairah telah menguasai dirinya.
"Aku bilang cukup!" Evelyn berteriak, dia berusaha memberontak.
"Bukankah ini yang kau inginkan, Nona? Sudah aku katakan kau harus menerima resikonya!" Sudah seperti itu, bagaimana dia bisa berhenti?
Pria itu menatapnya lekat. Namun ruangan yang gelap membuat mereka sulit mengenal satu sama lain.
Pria itu mengecup bibirnya, menyentuhnya tubuhnya dengan perlahan. Api gairah yang panas membara mulai membakar mereka berdua. Sentuhannya bagaikan mengandung aliran listrik dan ciumannya begitu memabukkan yang membuat Evelyn mulai tenggelam dengan hasrat yang membara.
Pikirannya kosong, dia tahu bukan itu yang seharusnya dia lakukan tapi dia tidak dapat menahan sentuhan serta ciuman yang semakin memabukkan.
Kamar yang gelap menjadi saksi bisu akan apa yang mereka lakukan dan tidak ada satu pun yang dapat menghentikan percintaan itu.