Pria tiga puluh satu tahun itu hanya tersenyum kecut tanpa menjawab. Aku sangat mengenali seperti apa dirinya. Dia tak akan pernah berani berkutik sama sekali, jika aku sudah merengek dan merayu pada Papi. Karena tentu saja dia tidak memiliki daya sama sekali.
"Ya sudah, nanti biar Papi bicarakan masalah ini ke Rahmat ya. Yang penting kamu banyak istirahat, makan makanan yang bergizi, supaya kamu segera pulih."
Kutarik bibir ke samping. Yes! Dengan begitu akan lebih mudah mengawasi seperti apa kelakuan suami dan sahabatku.
Dengan ekor mata, bisa kulihat Mas Thoriq kembali menatapku.
_________
Selama masa pemulihan setelah melahirkan di rumah sakit, aku sudah diperbolehkan untuk pulang. Hanya saja Alissha, belum diizinkan untuk pulang. Karena masih perlu menjalani beberapa rangkaian perawatan karena Alissha lahir prematur. Ditambah dengan bobot tubuh yang belum mencapai bobot normal.
Di mobil, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku mau pun Mas Thoriq. Hanya saja, aku bisa menangkap dari sudut mata, kalau Mas Thoriq berkali-kali melirik ke arahku. Seperti ingin memulai pembicaraan, tapi ragu.
"Nina …." Akhirnya ada juga kata-kata yang keluar untuk memecah keheningan.
"Hum," jawabku singkat.
"Kamu kok gak ngomong-ngomong dulu kalau mau balik terbang lagi?"
Aku menghela napas.
"Pikiran itu timbul begitu saja tanpa rencana," jawabku sekenanya.
"Tapi harusnya kamu ngomong dulu ke Mas dong," sambungnya lagi, lembut.
"Udah ya, Mas. Aku capek dan belum pulih betul. Jadi jangan ajak aku berdebat dulu."
"Tapi, Nina-"
Aku mengangkat telapak tangan sejajar wajahnya. Mengisyaratkan agar dia lebih baik diam.
Mas Thoriq menghela napas dan mengacau rambutnya kesal.
Mungkin dulu alasannya untuk aku di rumah saja, supaya ia bisa lebih leluasa berselingkuh dengan Hesti. Kali ini tidak. Aku tidak akan tinggal diam.
Sesampai di rumah, Mas Thoriq membersihkan diri di kamar atas. Mami meminta untuk sementara aku tidur di kamar bawah dulu, sampai luka bekas operasi caesar-ku benar-benar pulih.
Aku mencari tahu dari Mas Indra, temanku yang bekerja di bagian Flight Operation Officer. Ia yang bertugas mengatur jadwal terbang para pilot yang bekerja.
Awalnya ia keberatan untuk memberikan informasi. Tapi dengan tawaran sejumlah transferan, Mas Indra akhirnya menyetujui. Dan dia bilang, akan mengirimkan jadwal terbang seorang pilot bernama Ahmad Thoriq padaku.
Tak hanya itu, aku juga menyuruh Irwan, temanku yang bekerja di sebuah provider kartu ponsel. Ia aku tugaskan untuk menyadap setiap percakapan telepon, SMS atau pun chattingan di aplikasi hijaunya.
_______
Pagi ini, aku hendak ke rumah sakit menjenguk Alissha. Setelah menyediakan beberapa botol ASI yang telah dipompa, aku memutuskan untuk mandi setelah itu segera berangkat ke rumah sakit.
"Nyonya, sarapan sudah siap," panggil Bik Irah, mengetuk pintu.
"Ya, Bik, terima kasih. Saya segera keluar."
Aku menggunakan tunik hijau tosca dan legging coklat tua. Dipadukan hijab pashmina berwarna senada dengan tunik yang kukenakan.
Ketika membuka pintu, tampak Mas Thoriq telah berpakaian rapi dan menarik kursi di meja makan.
"Sudah rapi, mau ke mana, Mas?"
"Ke kantor. Ada meeting. Karena ada beberapa prosedur baru di Berkah Air. Lusa Mas akan berangkat. Ada jadwal flight keliling Asia," jawabnya sembari menyendokkan nasi goreng ke piring.
"Terus kamu gak bisa nganterin aku ke rumah sakit? Aku harus anter asi-asi ini untuk Alissha."
"Maaf ya, Sayang, aku gak bisa. Kamu dianter supir aja ya."
"Oke, ya udah gak papa."
"Thank you, Sayang, udah mau ngertiin Mas."
"Kamu mau meeting atau ketemuan sama Hesti?"
"Uhuuuk!" Mas Thoriq tersedak. Cepat-cepat ia meraih gelas berisi air di sisi kirinya, kemudian bergegas meneguk hingga tandas.
"Kamu ini ngomong apa sih, Nina? Sumpah, aku ini gak ada hubungan apa-apa sama Hesti. Jangan tuduh dia begitu dong. Kasihan, dia gak tau apa-apa."
Aku menyendokkan nasi ke mulut dan hanya melirik pria yang bertubuh tegap itu, tanpa menjawab.
"Ya sudah, Mas berangkat dulu ya. Kamu hati-hati di jalan ya nanti. Jangaj berpikir yang macam-macam. Nanti kamu sakit lagi," ujarnya sambil mengecup kepala yang ditutupi hijab pashmina.
Aku mengantarkan Mas Thoriq hingga ke pintu, lalu mencium punggung tangannya.
"Assalamu'alaikum, Mama Alissha yang cantik," ucapnya dengan bibir tersenyum. Wajah yang benar-benar polos. Tak terlihat seperti seorang yang memiliki sifat pengkhianat.
"Wa'alaikumsalam."
Mobil bergerak mundur, lalu melesat pergi. Segera kuraih gawaiku. Lalu menghubungi seseorang yang bernama Farid.
"Kamu di mana posisi, Rid?"
"Saya sedang mengikuti mobil Alphard hitam milik Pak Thoriq. Sesuai yang Ibu perintahkan, saya sudah stand by di depan rumah Ibu sejak pukul setengah tujuh tadi," sahut orang bayaranku itu.
"Bagus! Ikuti terus!"
___________
"Siap, Bu. Posisi saya tidak jauh dari mobil Bapak."
"Hati-hati kamu. Jangan sampai terlalu dekat. Takutnya nanti dia curiga."
"Siap, Bu. Ibu tenang saja. Untuk soal seperti ini, saya sudah handal."
"Bagus kalau begitu. Saya harap kamu tidak akan mengecewakan saya. Saya sudah transfer DP ke kamu. Silahkan kamu cek. Kalau kerja kamu bagus, pasti akan tambah lagi."
"Baik, terima kasih, Bu."
Pembicaraan berakhir. Dan aku segera meraih perlengkapan untuk Alissha. Rasanya rindu sekali ingin melihat pipi merahnya.
Dengan di antar Pak Min, aku segera meluncur ke rumah sakit. Di sana sudah ada Mami yang terlebih dahulu sampai.
_______
"Mana Thoriq, Nin?" tanya Mami begitu melihatku sampai tanpa didampingi Mas Thoriq.
"Mas Thoriq ada meeting, Mi. Lusa dia mau berangkat. Ada flight keliling Asia katanya."
"Ya Allah, emang gak bisa ditunda gitu, Nin. Kan istrinya baru aja lahiran."
Aku mengedikkan bahu. "Entahlah, Mi. Lagian namanya juga tuntutan profesi. Begitulah resiko punya suami seorang pilot."
"Iya sih," komentar wanita paruh baya itu pasrah. "Ya sudah, kita lihat Icha yuk. Kamu udah bawa ASI kamu?"
"Sudah, Mi. Nih," kataku sambil menunjukkan tas yang berisi penuh dengan perlengkapan untuk putri cantikku itu.
Kata Dokter, perkembangan bobot tubuh Alissha sudah berkembang dengan baik. Memang sengaja kami meminta untuk diberikan s**u formula terbaik, untuk menunjang pertambahan berat badannya.
Aku hanya bisa melihat putri kecilku itu dari balik kaca inkubator. Tubuh berwarna merah muda dengan mata yang masih terpejam. Ada beberapa alat yang ditempelkan di dadanya.
Kuraba kaca inkubator tersebut. Seakan aku tengah mengusap tubuh kecil yang tak berdosa itu.
'Maafkan mama, Nak. Semua salah mama, karena mama tidak bisa menahan emosi saat itu.' Air mata jatuh menitik di atas bibir. 'Maafkan mama juga, kalau harus cepat meninggalkanmu nanti. Semua kebusukan Papa harus segera mama buka, Nak.'
"Alissha gak lama lagi sudah boleh dibawa pulang kok, Nak," ucap Mami tiba-tiba, sambil merangkul pinggangku dari samping. "Jangan sedih lagi ya."
Cepat kuusap air mata yang jatuh tadi. Untungnya yang dipikiran Mami, aku menangis karena melihat kondisi bayi mungilku. Padahal tidak sama sekali. Justru sosok suami sempurna di mata Mami lah yang sudah menyakiti kami hingga seperti ini.
Sembari menunggu Alissha dibersihkan, aku memilih untuk membuka sosmed. Sudah lama aku tidak membuka akun i********:. Sedangkan Mami, ia pergi ke coffeshop yang berada di lantai dasar rumah sakit ini.
Astaghfirullah, alangkah terkejutnya aku. Ketika melihat ada akun i********: dengan nama Spongebob89 dengan foto profil Mas Thoriq dan Dinda!!
Kuklik segera nama akun tersebut. Sayangnya akun itu di private oleh pemiliknya. Aku kalang kabut karena rasa penasaran.
Sambil berpikir, kuketuk-ketukkan telunjuk ke layar pipih tersebut.
'Tenang, Nina, jangan panik! Ayo, berpikirlah dengan tenang!'
Lalu aku teringat dengan mata-mata bayaranku. Mungkin saja dia tahu atau kenal dengan orang yang paham dengan dunia IT seperti ini.
Kuketik nama "Farid" di pencarian, lalu menekan tombol hijau. Sejenak suara telepon menyambung terdengar.
"Ya, halo, Bu."
"Kamu di mana? Di depan kantor Berkah Air, Bu. Bapak ada di dalam.
Berarti benar Mas Thoriq ada meeting, aku menarik napas sedikit lega.
"Ada apa, Bu?"
"Farid, kamu ada kenal dengan orang ahli IT atau penyadap akun sosmed gak?"
"Oh ada, Bu. Namanya Imam. Dia jagonya soal begituan."
"Ada nomer teleponnya? Bisa dikirimkan ke saya?"
"Bisa, Bu. Sebentar saya kirim melalui w******p aja ya."
"Oke, saya tunggu."
Dalam hitungan waktu hanya satu menit, nomor kontak bernama Imam masuk ke dalam aplikasi hijauku.
Tanpa membuang waktu, segera kutekan tombol "panggil".
"Halo."
"Halo, maaf ini dengan Mas Imam?"
"Ya benar, saya Imam. Maaf dengan siapa saya bicara," tanyanya sopan.
"Saya Karenina, temannya Farid. Katanya kamu bisa menyadap akun sosmed ya?"
"Wah, bahaya banget itu, Bu. Bisa masuk dalam tindakan kriminal," tolaknya.
"Saya mohon, Mas, tolong bantu saya. Ini bukan akun siapa-siapa. Tapi, ini akun i********: suami saya dan selingkuhannya. Tapi sayangnya di private." Suaraku terdengar bergetar.
"Tapi, Mbak-"
"Tolong saya, Mas. Saya mohon. Berapa pun akan saya bayar, asal Mas mau membantu saya."
Sejenak di seberang terdiam. Kemudian pada akhirnya ia menyetujui juga.
"Baiklah, Mbak. Kirimkan screenshoot-an akunnya ke nomer saya ini ya. Biar saya bantu untuk buka.
"Baiklah. Terima kasih ya, Mas."
Kubuka akun i********: Spongebob89 itu, dan screenshoot-nya aku kirim ke Imam.
[Kirimkan semua foto-foto yang ada ke e-mail saya aja ya. karenina@g*******m]
Sambil menunggu, aku memutuskan untuk menyusul Mami ke coffeeshop. Sepertinya aku butuh secangkir s**u coklat untuk menenangkan perasaan saat ini.
"Lho katanya tadi gak mau ikut Mami," tanya Mami bingung, ketika melihat aku menarik kursi di hadapannya.
"Mendadak laper, Mi," jawabku asal. Mami menggelengkan kepala melihat tingkahku.
Tak lama kemudian, seorang pelayan wanita datang dengan secangkir s**u coklat dan roti bakar di atas nampan coklatnya.
Kuseruput pelan-pelan s**u coklat yang masih terasa sedikit panas. Aku benar-benar butuh energi lebih saat ini.
"Kamu ada masalah dengan Thoriq, Nina?"
"Uhuk!" Aku tersedak mendengar pertanyaan Mami.
"Pelan-pelan dong, Nina." Mami menepuk-nepuk tengkuk leherku.
Memang susah untuk berpura-pura di depan orang yang sudah mengandung dan melahirkan. Secara separuh jiwa dan nyawanya sudah menyatu denganku selama sembilan bulan.
Tapi sebelum semua bukti terkumpul, aku tidak akan menceritakan semua ini dulu. Apa lagi aku sudah sangat paham dengan model Papi. Karena Mas Thoriq merupakan sosok kebanggaannya.
"Enggak kok, Mi. Ih, Mami sotoy deh." Aku terkekeh, lalu menyuapkan potongan roti bakar coklat keju ke mulut.
"Jangan bohong, Nina. Kamu itu anak kandung Mami. Mami tau banget gimana gelagat kamu kalau lagi sedih atau senang."
Aku menarik napas panjang. "Enggak kok, Mami. Kalau aku lagi sedih, dari dulu aku selalu cerita sama Mami kan?"
Kuraih jemarinya dan kukecup dalam ujung jarinya. Jangan menangis, Nina. Jangan dulu untuk sekarang.
"Karenina-nya Mami sudah dewasa. Kalau pun ada masalah, aku bisa atasi masalahku sendiri kok. Kalau aku udah mentok, baru nanti ujung-ujungnya aku ke Mami."
"Heeem … Dasar kamu!" Mami mengibaskan tangannya ke depan wajahku. Kami pun tertawa bersama.
Bunyi dering pesan. Kutarik bagian layar atas gawai. Ternyata sebuah pesan masuk ke kotak e-mail.
"Sebentar, Mi. Aku ke toilet dulu ya."
Setengah berlari aku menuju toilet yang ada tepat di sebelah coffeeshop tadi.
Aku masuk ke dalam salah satu ruangan di dalam toilet. Beruntung toilet di rumah sakit ini bersih dan wangi.
Banyak foto yang dikirimkan Imam ke e-mail. Dan mulai kubuka satu persatu.
Foto-foto Dinda dengan menggunakan bikini super seksi, tengah berpose di pinggir pantai. Ada pula beberapa foto ia dengan seorang lelaki yang diambil dari belakang. Hanya saja wajahnya tidak terlihat.
Kuscroll lagi ke bawah. Aku penasaran dengan wajah laki-laki yang selalu saja diambil dari belakang.
Kemudian sampai pada beberapa slide foto di bawah. Dan refleks kututup mulut ketika melihat slide akhir beberapa foto dari akun bernama Spongebob89 itu. Tanganku gemetar dan nyaris ponsel bergambar apel separuh itu terjatuh ke lantai.
Foto Dinda dengan menggunakan bikini seksi, tengah bertemu bibir dengan seorang pria yang sangat aku kenal. Astagfirullah, Mas Thoriq!
___________