Part 8

1887 Kata
Ingin rasanya aku menangis dan menjerit sekuatnya, tapi rasanya malu. Mami juga pasti akan malu jadinya. Karena orang akan menyangka aku mengalami ganggung jiwa. Tapi, melihat foto-foto perselingkuhan sahabat dengan suamiku benar-benar sebuah pukulan berat dan sangat menyakitkan. Tega-teganya mereka menusukku dari belakang. Tring tring tring. Bunyi dering notifikasi w******p-ku, bunyi berkali-kali. Ternyata pesan dari Farid. Foto-foto lagi. [Suami Ibu pergi bersama seorang wanita dari kantor Berkah Air tadi. Kemudian makan di Cafe Kenangan. Setelah itu saya melihat mereka masuk ke dalam hotel Alami] bunyi pesan chat dari Farid, mata-mata bayaranku. Kukuatkan hati dengan membatin Bismillah, sebelum membuka foto-foto tersebut. Aku harus kuat demi Alissha. Semua bukti ini akan kujadikan senjata untuk membalas laki-laki yang tak tahu membalas kebaikan. Ibu jariku bergetar ketika hendak menyentuh layar pipih itu. Mataku memejam, sembari menarik napas panjang kemudian menghembuskan pelan-pelan, kupaksa diri untuk melihat foto-foto itu. Mereka berpelukan sangat mesra di lorong hotel. Astaghfirullah, Dinda, sahabatku sejak awal pertama sekali mulai berkecimpung di dunia pramugari, tega sekali dia mengganggu rumah tanggaku. Padahal ia pun sudah memiliki suami yang tampan dan mapan. Meski pun belum memiliki anak sampai di tahun ke dua pernikahan, Mas Kevin tidak pernah menuntut apa pun. [Bu, lalu apa lagi yang harus saya lakukan setelah ini?] [Ikuti saja kemana lagi mereka] [Baik, Bu] Meski tangan ini masih bergetar hebat dan hati serasa dihantam palu besar, tapi air mata sudah seakan mengering. Ke mana air mata itu? Sudah terlalu sakitkah, hingga dia enggan untuk kembali menetes? Tring, masuk lagi beberapa pesan. Dari Mas Indra, Flight Operation Officer Berkah Air, mengirimkan jadwal flight Mas Thoriq. k****a dengan seksama jadwal penerbangannya. Benar dia akan berangkat keliling asia, tapi mulai minggu depan. Tapi kenapa dia mengatakan padaku lusa sudah akan berangkat? Di antara pertanyaan yang menari-nari, telepon dari Farid mengagetkanku. "Halo, Rid?" "Mereka mau ke Bali, Bu. Suami Ibu dengan wanitanya." Ke Bali? Pantesan saja dia bilang mau berangkat lusa, sementara penerbangan yang sebenarnya, masih minggu depan. "Kapan?" "Lusa, Bu. Tadi saya pura-pura bertanya tentang tempat liburan yang asyik selama di Bali. Dengan bodohnya dia menawarkan tempat yang akan dia kunjungi besok." Farid menertawakan kebodohan Mas Thoriq. Mas Thoriq memang begitu. Ramah dan sopan. Semua orang mengira selain tampan, dia lelaki yang sangat baik dan penyayang. Pernah satu kali ia ke kabin penumpang, sangking ramahnya, banyak ibu-ibu yang mengatakan dia calon menantu idaman. Selain tampan, ramah dan baik hati pula. Papi dan Mami pun memiliki pemikiran yang sama. Maka dari itu, Papi menyuruhku untuk menikah dengannya, tanpa memandang dari mana ia berasal. Meski pun ia seorang anak yatim piatu. Wajah innocent yang mampu menipu banyak orang! Sebaiknya aku menemui Mas Kevin dan membicarakan soal perselingkuhan istrinya dengan suamiku. Segera kucari nomor telepon Mas Kevin, kemudian menekan tombol "dial" lalu nada tersambung pun terdengar. "Halo, Nina." Suara ramah Mas Kevin menyapa telinga. "Ya, halo, Mas Kevin. Apa kabar, Mas?" "Alhamdulillah, baik banget. Kamu sendiri gimana, Nina?" "Ya ada masalah dikit sih. Dan karena itulah aku menelepon Mas." "Ada hubungannya dengan Mas?" Tersirat tanya di nada suaranya. "Gak enak ngobrol di telepon. Pengennya sih langsung ketemu. Biar lebih leluasa ngobrolnya." "Oh gitu. Kebetulan banget jadwal Mas lagi kosong hari ini. Kita ketemu dimana dan kapan?" "Sekarang bisa? Di Cafe Mawar dekat rumah sakit Ibu dan Anak Maris Stella." "Oke bisa. Tiga puluh menit ya Mas sampe sana." "Oke, Nina tunggu ya, Mas." Telepon pun berakhir. Semua masalah ini harus segera dituntaskan. Mereka sudah benar-benar sangat keterlaluan. "Nina! Nina! Kamu ada di dalam, Nak?" panggil Mami. "Iya, Mi. Aku di sini," sahutku sembari membuka pintu toilet. "Astaghfirullah, kamu kok lama banget di toilet, Nak? Mami sampai khawatir. Takut kamu kenapa-napa. Mami telepon, hp kamu sibuk terus," cerocosnya dengan mimik wajah kesal. Aku tersenyum melihat wanita berhijab lebar itu. Rasa khawatir yang besar tergambar di manik beningnya. Padahal anak yang dikhawatirkannya sudah dewasa. Bahkan baru saja kemarin memberi cucu untuknya. Begitulah seorang Ibu. Sampai kapan pun rasa cintanya tulus dan takkan tergantikan oleh apa pun. Seketika air mata hendak tumpah melihat wajahnya yang sudah mulai terlihat tua. Guratan-guratan kematangan usia sudah terlihat di bawah kelopak dan di sisi kiri dan kanan matanya. Bagaimana jika ia tahu, anak yang susah payah ia kandung dan lahirkan, disakiti sedemikian rupa oleh orang yang juga sudah ia besarkan dan kasihi? Sesak di d**a sudah tak mampu aku tahan lagi. Segera aku menghambur ke dalam pelukan orang yang sudah melahirkanku itu. Menghabiskan seluruh isak tangis yang sejak awal tertahan. Tumpah ruah sudah di bahunya. "Kamu kenapa, Nak?" Ia mendorong pelan tubuhku. Dipandanginya wajahku yang telah basah dengan air mata dan d**a yang naik turun karena terisak-isak. Tanganku meremas tunik di d**a. Perih, luka, sakit, semua bergumul menjadi satu. "Ya Allah, Nina. Tolong jawab Mami, Nak. Kamu kenapa?" Mami mencengkeram kedua lenganku lalu mengguncang-guncangkannya. Bibirku masih membungkam bisu. Hanya lagi-lagi isak saja yang keluar dari sana. Aku jatuh luruh ke lantai granit berwarna hitam itu. "Ayolah, Karenina. Jawab Mami, Nak. Jangan bikin Mami bingung seperti ini." Dibawanya tubuh yang bergetar ini ke dalam pelukannya. "Mas Thoriq, Mi …." "Kenapa dengan Thoriq?" "Dia … dia … selingkuh …." "Apa? Thoriq selingkuh? Gak mungkin, Nina. Thoriq itu anak yang baik. Bukannya dia sayang banget sama kamu," tukasnya tak percaya. Aku menggeleng kuat. "Dia jahat, Mi. Dia bohongi aku. Dan yang lebih menyakitkan, dia selingkuh dengan Dinda." "Astaghfirullah, Dinda sahabat kamu itu?" Aku mengangguk. "Bukannya dia juga sudah menikah dengan pengusaha tambak itu ya?" "Iya, dia sudah menikah. Tapi entah kenapa dia malah berselingkuh juga dengan Mas Thoriq." "Kamu jangan asal nuduh lho. Kamu punya bukti?" Tanpa menjawab, kutunjukkan foto-foto yang dikirimkan Imam tadi. "Allahu Akbar," ucap Mami seraya menutup mulutnya."Astaghfirullahal 'Adhiim. Mami gak nyangka Thoriq sebajingan itu." "Lalu apa rencana kamu selanjutnya?" "Tadi ada orang suruhanku yang memata-matai Mas Thoriq, Mi. Dia bilang, Mas Thoriq dan Dinda akan ke Bali besok lusa. Sementara Mas Thoriq bilang ke aku, dia ada flight keliling Asia lusa. Waktu aku tanya ke bagian officer, baru minggu depan jadwal flight-nya. Ternyata dia ingin menghabiskan waktu liburan bersama perempuan itu." "Astaghfirullah." Tak henti-hentinya Mami beristigfar. "Hari ini aku ada janji dengan Mas Kevin, suaminya Dinda. Rencananya aku akan ajak Mas Kevin untuk menggerebek mereka ke Bali. Aku mau ajak Papi juga. Mami mau kan aku titipin Alissha sementara aku ke Bali?" "Insya Allah, Nak. Mami pasti maulah. Gak perlu kamu bertanya seperti itu. Icha itu kan cucu Mami." Aku menghela napas lega. Masalah Alissha beres. Tinggal bermusyawarah dengan Mas Kevin, setelah itu Papi. "Mami, aku berangkat dulu ya. Aku udah janji mau ketemuan dengan Mas Kevin di Cafe Mawar. Gak jauh kok dari sini," ujarku seraya berdiri. Kubasuh wajah dengan air di washtafel. Kemudian menyapukan tipis-tipis spon bedak ke pipi, lalu memoles bibir dengan lipstik berwarna nude pink. "Aku pergi ya, Mi," pamitku dengan mencium takzim punggung tangannya "Kamu hati-hati ya, Nak." Aku meluncur ke Cafe Mawar dengan BMW hitam milik Mas Thoriq, yang dikemudikan Pak Min. Sebenarnya mobil ini, hadiah pemberian Papi untuknya sebagai kado pernikahan. Sama dengan Alphard hitam yang dia pakai sekarang. Papi terlalu menyayanginya. Bahkan dua minimarket dan satu hotel di Puncak pun diberikan Papi atas nama Mas Thoriq. Sesampai di sana, kupindai pandangan ke sekeliling kafe. Syukurlah, Mas Kevin belum sampai. Kupesan segelas jus alpukat dan spagghetty bolognaise. Menangis tadi cukup menguras tenaga juga. Sehingga perutku baru terasa lapar dan minta diisi. Sengaja aku memilih meja yang menghadap pintu masuk. Jadi kalau Mas Kevin datang, aku bisa segera mengetahuinya. Dan benar saja, tak lama berselang, sosok pria tampan berkulit putih terlihat celingukan di pintu masuk. "Mas Kevin!" Aku berdiri dan melambaikan tangan. Pengusaha tambak itu menoleh kemudian berjalan menghampiri. "Apa kabar kamu? Kata Dinda kamu baru lahiran ya?" sapanya seraya menarik kursi di hadapanku. "Alhamdulillah, baik, Mas. Iya aku baru lahiran lima hari yang lalu." "Ya ampun, baru lahiran kok uda kelayapan?" kelakarnya lalu tertawa. Aku terkekeh mendengar celetukannya. "Wanita zaman now mah begitu, Mas." "Kamu mau pesan makan apa, Mas?" "Gak usah. Tadi udah makan di kantor. Kopi aja deh." Kulambaikan tangan ke arah pelayan yang berdiri di dekat meja Barista. Setelah mencatat pesananku, kemudian ia meninggalkan meja kami. "By the way, ada apa nih kamu ngajak aku ketemuan? Pasti ada hal yang penting ya?" "Pasti dong, Mas. Kalau gak ada yang penting, mana berani aku ngajak ketemuan suami orang," gurauku, sambil mengaduk jus alpukat dengan sedotan. "Iya juga sih ya," pungkasnya tertawa sembari menuangkan gula ke dalam kopi yang baru saja diantar oleh pelayan wanita tadi. "To the point ke masalah ya, Mas?" Mas Kevin menatapku serius sambil mengaduk kopinya. "Dinda … Dinda selingkuh dengan Mas Thoriq, Mas." "Uhuk!" Mas Kevin tersedak mendengar penuturanku barusan. "Sorry, sorry, Mas." "Gak papa kok." Mas Kevin mengangkat kedua tangannya. "Tadi kamu bilang apa? Dinda selingkuh dengan Thoriq? Suami kamu?" "Hu'um, Mas." "Kamu jangan asal bicara. Nanti jatuhnya kamu jadi fitnah." Tampak raut wajahnya tak senang. Tanpa membuang waktu segera kutunjukkan foto-foto Dinda dengan bikini seksi dengan caption lokasi di pantai Pattayya, Thailand. "Scroll terus sampai slide terakhir, Mas." Mas Kevin menatap foto-foto itu dengan mata membelalak dan tangannya mulai mengepal kuat. Rahangnya pun terlihat mengeras. "b******k!" Kepalan tangannya menggebrak meja. Otomatis pengunjung di sana menoleh ke arah kami karena terkejut. "Sabar, Mas, sabar. Istighfar," ucapku berusaha menenangkan. "Lalu kamu punya rencana apa?" "Lusa mereka mau ke Bali-" "Ke Bali? Tapi … kata Dinda dia ada flight keliling Asia." "Ya, memang benar. Tapi itu minggu depan, Mas. Aku uda tanya ke bagian Flight Operation Officer." "Terus dari mana kamu tau kalau mereka mau ke Bali?" "Aku menyewa orang untuk memata-matai mereka. Dan nomer w******p Mas Thoriq juga sudah aku sadap. Jadi di sana juga terpapar jelas dari chattingan mereka." "Lalu kita harus apa?" "Kita ke Bali, Mas. Kita gerebek mereka langsung." "Oke! Lusa kita ke Bali. Soal tiket kamu, biar Mas yang tanggung." "Thank you ya, Mas." "Mas pamit dulu. Ada meeting siang ini. Nanti kita berkabar lewat WA aja ya." __________ Sesampai di rumah, aku terkejut. Tumben Alphard hitamnya sudah terparkir manis di depan garasi. Berarti pemiliknya juga sudah di dalam. Aku berniat langsung membersihkan tubuh lalu istirahat. Rasanya hari ini benar-benar melelahkan. Lagi-lagi aku terkejut, begitu membuka kamar tamu yang sementara ini kutempati selama pemulihan pasca lahiran. Banyak bunga mawar merah bertaburan di atas ranjang. Pelan-pelan aku mendekati ranjang. Ada boneka Teddy Bear, tengah menggenggam kotak kecil berbentuk love berwarna merah. "SURPRISE!!" Tiba-tiba Mas Thoriq masuk dan langsung memelukku. Aku hanya diam tanpa geming. "Apa-apaan ini, Mas?" "Surprise buat kamu. Sebagai permintaan maaf dan ucapan terima kasih, karena kamu sudah memberikan seorang putri cantik untuk Mas." Ia membungkuk lalu meraih kotak merah kecil berbentuk love, dan membukanya. Sebuah kalung liontin bermata berlian. "Sini biar Mas pakaikan." Ia memakaikan kalung dari belakang, kemudian berputar menghadap ke arahku. "Jangan ngambek lagi dong, Sayang. Mas itu gak ada hubungan apa-apa dengan Hesti." 'Tentu saja tidak ada hubungan dengan Hesti, karena kamu justru berselingkuh dengan Dinda,' hatiku mendengus sebal. Kedua tangannya membingkai kedua wajahku. Mata kami saling menatap. Tak ada ketulusan di kedua manik itu. Hanya kebohongan dan kemunafikan. "Mas sangat mencintai kamu dan gak mungkin menduakan kamu, Sayang," ujarnya, mencium keningku lembut. Lalu, ketika hendak mendekapku, tak sengaja mataku menangkap banyak tanda merah di leher Mas Thoriq. "Tunggu, Mas!" Aku menahan tubuhnya. "Kenapa, Sayang?" "Kok di leher kamu banyak tanda merah," tanyaku tajam penuh selidik. Lelaki itu langsung bergegas menuju cermin. "Eng, ini … ini …." __________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN