Part 4

1688 Kata
PILOT TEWAS DENGAN GUNDIKNYA Part 4 POV THORIQ Aku Ahmad Thoriq, seorang anak yatim piatu. Dulu Bapakku bekerja hanyalah sebagai seorang juru parkir di minimarket yang terletak tepat di seberang kantor Pak Jayadiningrat. Sedangkan Ibu sudah meninggal saat aku masih duduk di SMP kelas satu, karena serangan TBC akut. Hanya saja Bapak pun akhirnya ikut menyusul Ibu, setelah dua tahun kepergiaannya. Aku tengah bersekolah di kelas tiga SMP kala itu. Bapak meninggal karena ditabrak oleh sebuah mobil yang melaju sangat kencang. Tubuh kurusnya terpental sejauh beberapa meter. Aku yang kala itu baru saja pulang sekolah, berteriak histeris, ketika melihat tubuh Bapak yang bersimbah darah. Setelah diusut, ternyata pengemudi tersebut tengah di bawah pengaruh alkohol. Tak ada yang berani membawa Bapak ke rumah sakit, kendati aku sudah memohon pada orang-orang yang berkerumun. Mereka tak bergeming saat aku berlari menangis ke arah mereka, memohon agar membawa Bapak ke rumah sakit terdekat. Mungkin mereka takut berurusan dengan kepolisian. Hingga akhirnya seseorang datang menerobos kerumunan, lalu dengan sigap menelepon polisi serta ambulance. Namun sayang, nyawa Bapak sudah tidak dapat tertolong lagi. Bapak meninggal karena kehabisan darah. Aku berjongkok menangisi kayu nisan yang tertancap di pucuk gundukan tanah merah. Usiaku saat itu masih 14 tahun. Saudara-saudara dari Bapak dan Ibu tidak ada di Jakarta ini. Sedangkan di Jakarta ini, kami mengontrak sebuah rumah kecil, di daerah kawasan padat penduduk. "Aku harus kemana, Pak? Aku nggak punya siapa-siapa di Jakarta. Aku mau tinggal di mana," rintihku saat itu. Terlintas dalam bayangan, mau tidak mau aku harus menjadi gembel di jalanan. Mau bagaimana lagi? Tidak ada sesiapun yang bisa untuk aku tumpangi hidup. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundakku. Ketika aku menoleh ke atas, ternyata Pak Jaya tengah tersenyum kepadaku. Di sampingnya seorang wanita berhijab modis dan seorang anak perempuan yang sepertinya di bawah usiaku. "Kamu sebatang kara, Nak?" tanyanya lembut, kemudian ikut berjongkok di sebelahku. Aku mengangguk. "Iya, Pak. Aku gak punya saudara atau kenalan siapa pun di sini. Aku gak tau harus ke mana setelah ini. Huhuhu," rintihku, tersedu-sedu. "Bagaimana kalau kamu ikut bapak? Nanti akan bapak sekolahkan kamu sampai selesai. Soalnya, bapak gak punya anak laki-laki. Anak bapak cuma itu semata wayang." Bibirnya dimajukan, menunjuk ke arah gadis kecil yang berdiri tersipu. Aku menimbang sejenak. Jika tidak kuterima, lalu aku harus ke mana? Tapi benarkah dia orang baik? Tapi, aku teringat kata Bapak, ada orang baik bernama Pak Jayadiningrat. Pemilik perusahaan mebel besar dan ternama di depan minimarket tempat Bapak bekerja. "Apakah Bapak yang bernama Pak Jayadiningrat?" Dahinya berkerut. "Ya, benar saya Jayadiningrat. Kok kenal sama saya?" "Almarhum Bapak saya banyak bercerita tentang Pak Jayadiningrat. Kata Almarhum Bapak, Pak Jayadiningrat itu orang baik." Lelaki paruh baya itu terkekeh. "Almarhum Bapak kamu itu bisa saja. Padahal saya tidak pernah melakukan apa-apa padanya." Aku tersenyum kecil mendengar penuturannya. "Ya sudah, sekarang bagaimana? Kamu mau gak ikut dengan bapak? Bapak janji, akan memperlakukan kamu sama seperti Karenina, anak kandung bapak itu." Aku mengangguk. Tentu saja aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini. "Baiklah kalau begitu." Pak Jaya menepuk lembut bahuku. "Kita pulang sekarang." ______ Waktu dan tahun demi tahun berlalu. Papi (demikian aku memanggil Pak Jaya) menawarkanku untuk sekolah penerbangan dan menjadi pilot. Tentu saja aku sangat senang. Itu sudah menjadi cita-cita sejak kecil. Namun karena kehidupanku yang miskin, dulu aku hanya bisa memupus impian. Lagi-lagi karena rekomendasi Papinya Karenina, aku bisa bekerja di sebuah maskapai penerbangan swasta milik Pak Rahmat Hidayat, sahabat Papi sejak SMP. Berawal dari merintis karir sebagai Co-Pilot kemudian tidak sampai lima tahun, aku sudah bisa menjadi Captain Pilot. Karena menurut peraturan internasional, dengan memiliki pengalaman 1500 jam penerbangan dengan 200 jam terbang malam, sudah memenuhi syarat kenaikan jabatanku. _______ Dan Karenina pun tumbuh menjadi seorang gadis cantik. Ia pun sekolah penerbangan sama sepertiku. Hanya aku lebih senior tiga tahun darinya dan dia mengambil jurusan pramugari sedangkan aku pilot. Kebersamaan dan canda tawa di pesawat, yang membuat benih cinta itu tumbuh. Sebenarnya bukan cinta pada lawan jenis, tapi cinta seorang abang kepada adiknya. Cintaku sudah terlanjur berlabuh di seorang wanita yang berprofesi sebagai pramugari juga. Dan merupakan sahabat dari Nina. Hanya saja aku belum berani menyatakan perasaan pada gadis itu. Hingga pada akhirnya, Papi menyuruhku untuk melamar Karenina, yang sudah aku anggap seperti adik sendiri. Karena aku pun menangkap ada sinyal cinta Nina untukku. Aku tidak memiliki kuasa untuk menolak, karena bayang-bayang hutang budi yang tetap akan kubawa sampai mati. Sehingga akhirnya aku harus tetap menikahi Karenina. ______ Namun perasaan tidak bisa dibohongi. Kebersamaan dengan sosok wanita yang kucintai itu membuatku tak bisa move on dari perasaan cinta yang terpendam selama ini. Jadwal penerbangan yang selalu sama, membuat intensitas waktu kebersamaan kami pun semakin sering. Ditambah Nina hamil di usia pernikahan kami yang kedua tahun. Tentu ia harus istirahat dari dunia penerbangan. Tak kusangka, Nina mengambil keputusan untuk resign, dengan alasan ingin berbakti padaku dan mengurus anak-anak kami kelak. Jujur aku merasa bersalah pada Nina dan keluarganya. Tapi, aku tidak bisa mangkir dari pesona gadis itu yang juga turut menggodaku di setiap kebersamaan kami. Jiwa kelaki-lakianku seakan meronta-ronta, ketika bisikan cinta didesahkan lembut di telingaku. ________ Sembari mendendangkan sebuah sholawat. Bulir hangat terasa mengalir dari sudut kedua netra, ketika lantunan sholawat itu berdesis lembut dari bibir. Setegar apa pun aku mencoba berusaha, tetaplah kembali pada kodrat wanita yang lemah dan cengeng. 'Mama akan berusaha mempertahankan keutuhan keluarga kita semampu mama, Nak. Mama lakukan semua demi kebahagiaan kamu … dan kita.' ________ Dua hari setelah itu, rencana liburan kami berhasil juga. Tentu saja aku senang sekali. Bukan karena liburannya, tapi setidaknya menggagalkan rencana liburan Mas Thoriq dan Hesti adalah sesuatu kepuasan yang luar biasa. Setidaknya nanti aku bisa sedikit me-refresh pikiran yang sudah sangat penat. Kulirik Mas Thoriq yang duduk di sofa kecil di sudut kamar. Sedikit pun tak ada raut senang di wajahnya. Padahal judulnya adalah liburan bersama istri. Seandainya mungkin liburan dengan Hesti benar terjadi, mungkin raut wajahnya tidak seperti ini. Sesekali ia meraup wajahnya kasar. Kadang juga mengacau bagian belakang rambut cepaknya. Gelisah dan resah. "Mas." "Hum." Ia tampak terkesiap karena panggilanku. Heran, padahal aku memanggilnya dengan suara yang lembut. "Ngelamunin apa sih?" "Ah, nggak ada kok, Sayang. Mungkin Mas agak sedikit lelah dan masuk angin aja," jawab Mas Thoriq, sambil memijat-mijat tengkuk dengan tangan kirinya. "Mau aku ambilkan puyer masuk angin?" "Gak usah, Sayang. Cuma masuk angin biasa. Bentar lagi baikan kok," pungkasnya dengan tersenyum. "Sudah selesai? Biar kita segera berangkat sekarang." "Udah kok. Tadi aku cuma ngecek aja. Takut ada yang ketinggalan." "Ya udah, mana yang mau dibawa ke mobil?" Aku menunjuk dua buah koper yang sudah berdiri rapi di sisi ranjang. Lalu Mas Thoriq menarik handle koper dorong itu, lalu menariknya keluar. Setelah memasukkan koper-koper ke dalam bagasi kemudian Mas Thoriq memundurkan mobil. Sedangkan aku memeriksa keadaan rumah. Setelah yakin semua aman, kemudian mengunci pintu dan jendela. Bik Irah kami ungsikan ke rumah Papi untuk sementara waktu. Di mobil Mas Thoriq lebih banyak diam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Aku lebih memilih memasang headset dan mendengarkan lantunan ayat murottal merdu, dari suara seorang imam besar Makkah, agar bayi di kandunganku merasakan ketenangan. Sebuah metode jitu yang selama ini sudah aku terapkan. Setiba di sana, segera ia memesan sebuah kamar. Aku meminta kamar yang view-nya menghadap ke pantai. Dibantu oleh seorang karyawan hotel, Mas Thoriq membawa koper masuk ke dalam kamar. "Kamu suka kamarnya, Sayang?" "Suka banget, Mas. Dari sini aku bisa melihat matahari terbenam." Mas Thoriq mencium puncak kepalaku, lembut. Lalu turun ke kening dan mulai mendekati bibir. Perlahan lelaki itu mengusap tengkuk dan belakang telinga. Aku tahu ini adalah sebuah isyarat untuk ditunaikan kewajibannya sebagai suami. Hati ini ingin menjerit, jika teringat pembicaraannya dengan wanita yang ia panggil "Sayang" di ponsel kemarin. Seandainya mereka jadi liburan, hanya berdua, lalu apa yang akan terjadi di antara dua orang berbeda jenis berada dalam satu kamar hotel? Refleks aku mendorong tubuh Mas Thoriq hingga mundur ke belakang. Wajahnya terperangah, melihat penolakan ekstrim dariku. "Kenapa, Sayang? Kok kamu dorong Mas kayak gitu?" "Maaf, maaf, Mas. Rasanya seperti mual. Mungkin mabuk perjalanan. Aku mau muntah," jawabku sembari setengah berlari menuju kamar mandi. Perutku benar-benar terasa mual. Tapi, ketika berusaha untuk memuntahkan, tidak ada sesuatu pun yang keluar. Namun rasa mual terus berputar di ulu hati. Kubasuh wajah dengan air di washtafel. Sayup-sayup aku mendengar Mas Thoriq seperti berbicara dengan seseorang. Pelan-pelan aku membuka sedikit pintu kamar mandi agar jangan sampai menimbulkan suara. "Apa, kamu juga di Villa Cempaka? Gila kamu!" umpatnya dengan suara berbisik. Tapi aku tetap dapat mendengarnya. Karena posisi Mas Thoriq tidak jauh dari kamar mandi. Mau selingkuh saja, masih bertindak ceroboh. Huh! Senekat itu Hesti sampai menyusul ke sini? "Jangan minta yang macam-macam, Sayang. Aku ke sini untuk menyenangkan Nina. Kasihan dia stres. Mungkin karena sudah mendekati kelahiran. Aku stress bukan karena hendak melahirkan, justru tingkahmulah, Mas, yang menjadi pemicu stress itu! Sengaja kubuka pintu dengan sedikit hentakan, hingga membuat Mas Thoriq sedikit tersentak. "Oh oke, Pak. Nanti kita ketemu di restoran ya. Gak nyangka Bapak ternyata juga ada di villa ini," ujarnya berpura-pura menelepon seorang pria. Sementara jelas-jelas aku mendengar ia berbisik di telepon dengan wanita. Siapa lagi jika bukan dengan Hesti. "Sayang, Mas keluar dulu ya." "Mau kemana, Mas?" "Mas mau ketemu teman dulu. Namanya Pak Wahyu. Dia pilot senior. Kebetulan dia juga berada di hotel ini." Bohong! Mau sampai kapan kebiasaan dusta Mas Thoriq ini terus berlanjut? "Aku ikut ya, Mas." "Eh, gak usah. Mas cuma sebentar. Pak Wahyu juga gak lama kok. Katanya sudah mau check out." "Udah ya. Mas pergi dulu. Kamu istirahat aja. Jadi biar cepat pulih." Mas Thoriq mengecup dahiku, lalu bergegas pergi. Begitu terburu-burunya ia pergi hanya untuk bertemu dengan teman pria? Cepat sekali Mas Thoriq menghilang. Aku sampai kehilangan jejak ketika hendak mengikutinya. Kemana dia perginya ya? Kusisir sekeliling restoran, tapi hasilnya nihil. Aku beranjak menuju bagian luar restoran. Dan pandanganku tertuju pada pria yang duduk di meja dengan posisi membelakangi, tepat di pinggir pantai. Duduk berdampingan dengan seorang wanita berambut ikal berwarna coklat kemerahan. Benar-benar tidak asing bagiku. Bergegas kuhampiri pasangan yang tengah duduk berdampingan itu. "Mas!" panggilku dan lelaki itu menoleh. Benar Mas Thoriq dan wanita di sebelahnya … Astaga! "Elo …?" _______
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN