Pilot Tewas Bersama Gundiknya
________
"Eng, eh, hai, Nina. Apa kabar? Elo dari mana? Barusan tadi gue tanya sama Mas Thoriq. Katanya lo mual-mual gitu ya?" Dinda menghampiri dan langsung mencium pipi kanan kiriku. "Ya kan, Mas?"
"Iya, iya, Nina. Tadi pas Mas mau beli makan, eh … ketemu sama Dinda di sini," jawab Mas Thoriq.
"Beli makan? Bukannya kamu bilang mau ketemu sama Pak Wahyu ya, senioran kamu itu?"
"Eng, eh, anu … iya, tadi ketemuan sebentar sama Pak Wahyu. Katanya buru-buru. Ya udah, aku pikir mau sambil ngopi dulu. Taunya ketemu Dinda di sini. Kebetulan banget ya, Din."
"Hu'um, bener. Tadi gue juga ketemu sama Pak Wahyu itu." Dinda ikut menimpali.
"Elo liburan di sini juga, Din?" tanyaku.
"Iya, Nin. Habisnya gue suntuk banget. Jadi gue putuskan untuk liburan ke sini. Taunya kalian juga liburan di sini. Tau gitu gue nebeng." Dinda terbahak.
Bisa sangat kebetulan sekali ya Dinda juga liburan ke sini. Tapi … kok perasaanku mengatakan ada sesuatu yang janggal ya? Ah, tidak, tidak. Mungkin memang kebetulan saja. Toh, di sini tidak ada Hesti kok.
"Kok elo berdiri melongo aja di situ sih? Hayuk duduk. Boleh kan gue gabung sama kalian?" pintanya memelas, sambil memegang pergelangan tanganku.
Aku tertawa kecil. "Ya bolehlah. Lo ini kan sahabat gue."
Aku duduk bersebelahan dengan Mas Thoriq, sedangkan Dinda berhadapan dengan suamiku itu.
"Kok lo sendiri aja? Mas Kevin mana?" tanyaku ketika menyadari sedari tadi tidak melihat sosok Mas Kevin, suaminya Dinda.
Suaminya Dinda tidak berasal dari orang penerbangan seperti kami. Mas Kevin adalah pengusaha pertambakan ikan dan udang. Memang pekerjaan suaminya sering menyita waktu hingga keluar kota bahkan keluar negeri. Tak ubahnya seperti seorang pilot.
"Ya gitu deh. Lo kayak gak tau Mas Kevin aja. Dia kan sering keluar kota. Makanya gue kesepian. Ya udah, gue liburan sendiri aja," tukasnya, sambil menyendokkan ke mulut daging sirloin steak dengan menggunakan garpu.
"Kasian deh lo. Punya laki tapi tetap aja j****y," ejekku sambil tertawa terbahak. Aku menoleh pada Mas Thoriq. Dia diam saja, sambil sibuk mengusap layar ponselnya.
"Sialan lo!" Dinda tertawa sambil melemparkan tissue ke arahku.
Setelah makan dan mengobrol panjang lebar, kami memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Kebetulan adzan maghrib sudah terdengar berkumandang.
Kuputuskan untuk melaksanakan kewajiban tiga raka'at-ku, sedangkan Mas Thoriq lebih memilih memainkan game di gawainya. Berulang kali aku mengajaknya untuk menjadi imam dalam sholat. Selalu saja ada alasan yang ia berikan.
Setelah mengambil air wudhu, aku keluar dari kamar mandi dan sudah tidak menemukan Mas Thoriq di sofa. Heran, seperti tidak merasa betah untuk duduk diam di kamar.
'Ah, lebih baik aku sholat saja dulu. Palingan juga jalan-jalan di teras depan,' aku membatin. Karena teras villa kami, menghadap langsung ke pantai.
Kupanjatkan doa pada Sang Khalik, untuk kesehatan anak dalam kandunganku, kelancaran ketika persalinan nanti dan keutuhan rumah tangga yang sudah mulai tercium sebuah aroma pengkhianatan. Setidaknya rencana liburan Mas Thoriq dan Hesti, sudah berhasil aku gagalkan.
Selesai sholat maghrib, kulipat mukena dan sajadah setelah itu kuputuskan untuk menyusul Mas Thoriq.
Kususuri sepanjang bibir pantai. Matahari sudah berpindah tugas ke belahan dunia lain, tinggal rembulan yang mulai terlihat menggantikannya.
Dinginnya angin pantai mulai terasa menerpa permukaan kulit. Aku bersedekap, sambil mengusap-usap lengan, untuk menimbulkan rasa hangat.
Hati kembali melenguh perih. Di saat liburan begini saja, Mas Thoriq tega mengacuhkanku. Lalu dianggapnya apa aku ini?
Lebih baik aku kembali ke villa saja. Dinginnya angin pantai, sudah terasa semakin menusuk ke tulang.
Tak sengaja, aku melewati sebuah villa yang tak jauh dari villa-ku. Hanya berjarak tiga villa saja.
Dan aku menangkap suara yang sangat kukenal, tengah tertawa keras. Suara Mas Thoriq!
Kupercepat langkah mendekati villa tersebut. Kenapa Mas Thoriq bisa berada di sana?
Dan sebuah pemandangan mengejutkan terpampang di depan mata. Astaghfirullah, desisku sambil menutup mulut.
Mas Thoriq dan Hesti tengah duduk berpegangan tangan sambil tertawa. Di meja berhamburan kartu domino dan kulit kacang. Dinda ada di sana juga. Tumben, dia tidak memberi tahu soal kehadiran Hesti di sini.
Bahagia sekali kelihatannya suamiku itu. Sementara ketika denganku, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawainya.
"Hesti!"
Mas Thoriq dan Hesti terperanjat. Lalu keduanya refleks berdiri.
Plaaak!
____________
Sebuah tamparan kuat mendarat di pipi mulus Hesti, hingga ia terhuyung ke belakang. Nyaris saja ia jatuh terduduk.
"Nina! Apa-apaan kamu?" sentak Mas Thoriq sambil menarikku. Aku sudah pasang badan untuk maju dan hendak menarik rambutnya.
Sedangkan Dinda hanya duduk terdiam, menyaksikan keributan yang ada.
"Hei, dasar elo perempuan pela*ur, gak tau diri! Berani-beraninya lo itu main gila sama suami sahabat lo sendiri. Emangnya gak ada laki-laki apa, sampe laki gue juga lo embat?" makiku dengan membabi buta. Nafasku memburu karena emosi yang sudah memuncak.
"Gak gitu kejadiannya, Nin. Lo salah paham," sangkalnya, seraya memegang pipi yang terlihat bekas jariku di sana. Pasti rasanya perih. Sebab bekas tamparanku itu tampak memerah. Biar saja! Itu cocok untuk pelakor semacam dia.
"Halah, lo gak usah banyak alasan deh! Udah jelas-jelas gue liat dengan mata kepala gue sendiri. Tangan lo dan tangan Mas Thoriq pegangan gitu, masih mau nyangkal?"
"Sumpah, Nina. Ta-tadi itu gue gak sengaja pas mau ambil kartu. Cuma kesenggol doang kok," elaknya, tetap tidak mau mengaku.
Aku bergerak maju hendak menarik rambut Hesti. Tapi dengan sigap Mas Thoriq kembali menarik lenganku. Aku berusaha meronta melepaskan diri.
"Lepasin, Mas, lepasin aku! Biar aku kasih pelajaran sama pelakor yang satu ini."
Aksi tarik dan ronta pun terjadi. Terlihat orang-orang sudah berkerumun di depan villa untuk menonton keributan kami. Dan tampak pula ada yang sambil merekam dengan ponsel. Alah, aku sudah tak peduli. Toh yang akan malu itu Hesti sebagai pelakor, bukan aku!
Emosiku benar-benar sudah membabi buta. Sayangnya, Mas Thoriq terus menghalangi. Padahal aku sudah begitu gemas ingin meremas wajah si Hesti.
Plaaak!
Sebuah tamparan gantian mendarat ke pipiku. Aku terperangah, menatap wajahnya yang memerah. Dadanya naik turun, menatapku marah. Mas Thoriq tega menamparku?
"Mas tega menamparku demi perempuan ini?" teriakku sambil menunjuk pada Hesti yang terduduk dengan kepala menunduk.
"Kan Hesti sudah bilang tadi. Kami gak sengaja. Tangan bersenggolan pas mau ambil kartu. Malah kamu tuduh yang macam-macam."
"Aku benci kamu, Mas!"
Usai berucap demikian, dengan setengah berlari aku menapaki turun tangga kecil di depan villa, menerobos kerumunan pengunjung yang menonton keributan kami.
Aku masuk ke dalam villa yang kami tempati. Sesampai di sisi pintu, aku jatuh berlutut dan menangis terisak. Tega-teganya Mas Thoriq berselingkuh justru di tempat liburan kami.
"Nina …."
Aku menoleh. Ternyata Dinda berdiri di depan pintu lalu berjalan pelan mendekati. Ia ikut berlutut sambil mengusap punggungku.
"Sabar ya, Nin. Ingat kehamilan lo."
"Kenapa Mas Thoriq tega mengkhianati gud di saat gue hamil? Di tempat kami liburan pula." Aku menghambur memeluk Dinda dengan tangis terisak-isak. "Dan Hesti, padahal dia sahabat kita
Tapi kok tega."
"Kan gue udah bilang, lo harus hati-hati dengan Hesti. Mereka kayak ada affair gitu, dan kenyataannya bener kan?"
Aku mendorong pelan Dinda. "Lo juga kok gak bilang-bilang kalau Hesti juga di sini?"
"Sebenarnya gue mau ngasih tau lo. Tapi sayangnya hp gue low batt. Gue pikir mau ngasih tau lo pas hp gue selesai dicas. Taunya uda keburu ketauan sama lo."
"Terus gue harus gimana?"
"Ya, lo minta cerailah."
"Gak mungkin gue minta cerai lagi hamil gede kayak gini."
"Iya juga sih. Ya udah, entar aja pas lo udah melahirkan. Langsung aja lo gugat cerai si Thoriq."
Aku tercenung mendengar penuturan Dinda. Cerai? Apakah itu solusi? Apakah anak yang baru mengenal dunia, harus menghadapi kenyataan ayah dan ibunya berpisah?
Kepalaku berdenyut memikirkannya. Lagi, mendadak perut ini terasa keram dan menegang keras. Pinggang terasa panas. Kemudian perut bagian bawahku pun terasa mulas. Kontraksi palsu itu selalu datang, jika pikiranku mulai dilanda stress.
"Kenapa, Nin?" tanya Dinda khawatir, ketika melihat aku mulai meringis menahan sakit, sembari mengelus-elus bagian bawah perut.
Belum sempat aku menjawab, aku merasa seperti ada yang pecah dan air mengalir dari sela kedua paha.
"Air apa itu?" Dinda menatap bingung melihat air yang keluar dari selangkanganku. "Lo ngompol, Nin?"
"Enggak kok. Gue juga gak tau itu air apa, Din."
_________