02 MAINAN BARU
Dafhin berjalan di koridor sekolah dengan gaya cool-nya. Kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana dan wajah tampannya selalu membuat para gadis saling berebut mencuri perhatiannya. Bahkan tidak sedikit yang secara terang-terangan menunjukkan sikap tertarik padanya.
Namun, kali ini ia tidak hiraukan karena tujuannya saat ini adalah menemui gadis yang segera akan menjadi istrinya dalam beberapa hari lagi.
Dafhin berdiri di depan pintu kelas XI IPA 1, bersama dua orang sahabatnya Rifky dan Ridho.
"Fhin, Lo nggak salah kelas, kan?", Tanya Rifky, walaupun sejak tadi mengekor, tetapi dia belum paham kenapa dafhin masuk ke kelas anak-anak pintar dan disiplin ini.
Dafhin tak mengindahkan pertanyaan Rifky. Ia memilih mengedarkan pandangannya mencari gadis yang tujuannya ke sini.
"Woi", membuat semua siswa-siswi di kelas itu menoleh termasuk gadis yang dicarinya.
Dafhin menunjuk Daila dan memberi kode dengan telunjuknya supaya mendekat.
"Apa?", Tanya Daila Ketika sudah berhadapan dengan dafhin.
Dafhin menyeringai melihat wajah malas gadis itu.
"Pulang sekolah ikut gue", bisiknya pelan.
"Malas gue ha..."
"Perintah nyokap Lo nih", potong dafhin
"Ish, iya", Daila kembali ke kursinya sambil menghentakkan kaki.
Dafhin tersenyum sinis melihat kekesalan Daila. 'sepertinya gue punya mainan baru mulai saat ini' batinnya.
Setelah mengatakan itu ia pergi dari kelas Daila menuju IPS 5 kelas favoritnya.
"Lo ada urusan apa sama si bad boy?", Tanya Mia sahabat sekaligus teman sebangku Daila.
"Gak ada apa-apa"
"Tumben dia nyamperin ke sini? Lo nggak terlibat masalah apapun, kan, sama dia?", Tanya Kevin si ketos dengan khawatir.
"Kalian tenang aja, nggak usah lebay gitu ah",
Saat Kevin akan kembali bertanya guru pun masuk dan membubarkan kerumunan di depan Daila.
*****
"Kita mau kemana sih Fhin?", Daila mengikuti dafhin masuk ke dalam gedung mall.
"Nyari cincin!"
"Harus banget apa?"
"Lo brisik banget sih, bisa diem nggak? Udah sana pilih!",
Dafhin mendorong punggung Daila menuju etalase toko perhiasan.
Daila mendengus, tetapi ia menurut memilih beberapa cincin pasangan yang semuanya terlihat lucu dan cantik.
"Lama. Udah Lo ambil yang menurut Lo bagus aja", dafhin menghampiri Daila yang terlihat kebingungan.
"Tapi semuanya bagus tau", mata Daila berbinar.
"Sini gue aja yang pilih", putus dafhin pad akhirnya, ia mengambil sebuah kotak cincin couple. "Mbak, kita ambil yang ini ya!"
Bibir Daila melengkung tertarik ke atas. Ia puas dengan pilihan dafhin. Setelah selesai dengan pembayaran yang dilakukan dafhin, Daila memasukan cincin itu kedalam tasnya.
"Fhin", Nara menarik tangan dafhin ke dalam Resto cepat saji.
"Gue mau balik Daila, udah ada janji sama Rifky dan Ridho, Lo makan sendiri aja"
Gue bilang bokap Lo!" Daila mengambil ponselnya, mengancam dafhin.
"Oke, oke, gue temenin Lo makan, puas!", Daila nyengir memperlihatkan gigi putihnya yang berjajar rapi.
'heh, kenapa jadi dia yang nekan gue? Harusnya kan gue yang jadiin dia mainan gue, bukan sebaliknya' batin dafhin.
Cowok itu melipat kedua tangannya di depan d**a dengan tatapan tajam pada gadis yang tengah sibuk pada buku menu di tangannya.
*****