01 [PERJODOHAN]

576 Kata
01 PERJODOHAN Daila duduk diapit oleh kedua orangtuanya. Begitu juga laki-laki yang kini duduk di samping ayahnya. Ia menatap malas pada lelaki di hadapannya itu. "Kenapa malah saling tatap kayak gitu sih?", tanya dari mama Daila. "Tau nih, jangan bilang kalian belum saling kenal? Padahal papa tau lho kalian satu sekolah", imbuh Radit papanya dafhin. Dafhin mendengkus pelan kemudian melengos membuang muka. Dari raut wajahnya sepertinya dia sangat kesal. "Apa kalian butuh waktu berdua untuk mengobrol?", Tanya Dika papa Daila, yang tak ketinggalan menggoda kedua remaja itu. "Pa", Daila menatap memelas pada papanya. "Daila tau dia kok, tapi nggak kenal". "Iya, itu karena Lo yang nggak mau sok ga mau kenal sama gue", Daila mendelik kesal mendengar ucapan dafhin. "Benar kan, Lo terkenal angkuh. Sombong!", "Apa! Enak aja Lo bilang gue angkuh?. Angkuh dan sombong dari segi mananya coba?", Tanya Daila sambil menatap tajam cowok bertampang bad boy itu. "Sudah-sudah kok jadi pada ribut sih", lerai Sari pada kedua anaknya. "Sebenarnya kalian udah dijodohkan saat kalian masih bayi", tambahnya. Daila dan dafhin melongo seketika. "Pah?" "Om?" Radit mengangkat tangannya menghentikan protes kedua remaja yang terlihat tidak menyetujui rencana para orang tua tersebut. "Ini permintaan terakhir mama kamu dafhin", ucap Radit. Dan ketika nama mendiang mama tercinta disebut. Dafhin tak lagi melakukan protes. Dia hanya menghembuskan nafas kasar dan terlihat pasrah. "Ma, pa", rengek Daila pada orang tuanya. "Tapi pa, apa harus dia yang dijodohin sama Daila? Emang nggak ada yang lain", tunjuk Daila pada cowok tengil yang membuat hidupnya susah saat di sekolah. "Emang kenapa kalau gue? Lo pikir gue mau menikah dengan Lo?" "Sudah, tidak ada lagi yang protes. Minggu depan kalian nikah", tegas Radit tanpa menerima bantahan sedikit pun dari keduanya. "WHAT!" "Pa jangan becanda, kita masih SMA?" "Om, apa tidak terlalu cepat?" Daila dan dafhin tidak terima dengan keputusan terburu-buru orang tuanya. "Tidak ada yang terlalu cepat Nak. Dan mulai sekarang panggil papa jangan om lagi" Daila menghela nafas berat, sepertinya memang tidak ada gunanya jika ia tetap bersikeras seklipun. "Lo jangan diem aja dong! Gue nggak mau kalau nikah sekarang!", Daila geram lada dafhin yang duduk dengan santai sambil menyaksikan protesnya. Dafhin mengedikan bahunya acuh. "Silahkan protes sebisa Lo. Gue dengan senang hati menjadi penonton" jawabannya kemudian bersidekap d**a. "Ist Rese", gerutu Daila kesal. Sepertinya dafhin sangat tau walaupun protes dengan sekuat tenaga tidak akan mengubah apa-apa. "Ya sudah, kalian berbicaralah dengan baik. Kita pulang duluan. Nak, dafhin tolong antar calon istri kamu pulang ya", titah sari seraya diikuti kedua pria paruh baya di meja itu. "Ma aku mau ikut mama aja pulangnya", ucap Daila sambil memegang tangan mamanya. Sari menggeleng, kemudian dia memberikan kode pada kedua laki-laki dewasa didepannya. "Mama tinggal yah", sari melepas tangan anaknya perlahan. Sementara Radit menepuk bahu putranya pelan kemudian mengikuti kedua calon besan nya. "Kenapa Lo nggak nolak sih?", Tanya Daila pada dafhin setelah orang tua mereka sudah pergi. "Lo pikir bisa nolak", tanya dafhin dengan tatapan lurus ke depan. Malas sekali rasanya berdua dengan gadis waketos (wakil ketua OSIS) yang selalu menghukumnya setiap hari. "Ya siapa tau aja kalau Lo ngomong bisa" "Terus gue ngecewain nyokap gue? Ogah!", Jawabnya kemudian bangkit dari tempat duduknya. "Gue mau cabut, masih banyak urusan. Lo mau bareng gu.." "Bareng", ucap Daila cepat. Terlalu malas pulang sendirian apalagi malam gini. Dafhin mengambil tas ransel yang dari tadi dia bawa. Sebenarnya dia belum sempat pulang kerumah dari sekolah tadi siang. Namun langsung ditodong papanya di minta datang ke kafe tersebut. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN