07 [ FOR ME SAKE, PLEASE! ]

631 Kata
07 FOR ME SAKE, PLEASE!! Jam pelajaran pertama baru akan dimulai dan daila masih berkeliling di sekitar sekolah, memastikan tidak ada murid yang membolos. Saat ia melewati tembok pembatas belakang sekolah. Daila menggelengkan kepala, ketika melihat tiga siswa yang baru saja melompat tembok tinggi itu. "Dafhin, Rifky, Ridho, ikut gue", ucap Daila bertolak pinggang tak jauh dari ketiganya. "Sial, kenapa kita ketemu Lo tiap kali datang terlambat", gumam Rifky. "La la, kali ini aja jangan hukum gue, please!", Ridho mulai berakting memohon. Sementara dafhin diam dan mengekori Daila ke tengah lapangan. "Hormat bendera sampai jam pelajaran pertama selesai",perintah daila. "Panas, La" "Ntar gue bisa hitam lagi" "Brisik", Rifky dan Ridho langsung mingkem mendengar suara bas dafhin. Daila terkekeh, lalu pergi meninggalkan mereka. selang beberapa menit, Daila kembali menghampiri dafhin. Dafhin menoleh seketika saat daila memakaikan topi di kepalanya. "Biar Lo nggak kepanasan, nggak item. Semangat!" Daila tersenyum manis sambil mengangkat sebelah tangannya memberi semangat pada dafhin. Mata Rifky dan Ridho membulat sempurna menyaksikan kejadian barusan. Sejak kapan Daila perhatian sama dafhin kayak tadi. Dafhin tersenyum tipis, sesaat ia meraba topi yang dipakaikan Daila padanya. Namun saat menyadari kedua temannya tengah memandangi dirinya, dafhin kembali ke posisi semula. Bel istirahat sudah berbunyi. Daila, Mia, dan Kevin baru keluar dari kelas mereka berjalan menuju kantin. Tanpa sengaja mereka berpas-pasan dengan dafhin cs yang baru selesai menjalani hukuman. "La, kenapa lagi si bad boy?" "Biasa dia mah, kalau nggak terlambat, ya ngerokok atau bikin rusuh", jawab Kevin mewakili Daila. "Udah ah, gue laper... Ayo! Buruan!", Daila menarik tangan Mia agar lebih cepat jalannya. Sampai dikantin, Daila cs memesan mie ayam, makanan favorit yang biasa mereka makan saat dikantin. Mie ayam sudah didepan mata, tiba-tiba Daila melihat dafhin cs berjalan ke belakang sekolah tepatnya taman yang lebih sepi. "Gue pergi bentar ya", Daila bangkit dari tempat duduknya dengan mangkok mie dan sebotol air mineral di tangannya. "Lho lho La, Lo mau kemana?" "La, Lo mau makan dimana?" Daila tak menghiraukan pertanyaan kedua temannya, dengan cepat ia berlalu meninggalkan kantin setelah meminta ijin pada pedagang mie ayam untuk meminjam mangkoknya. "Nih", Daila menyodorkan mangkok mie ayam dan air mineral ditangannya ke hadapan dafhin yang tengah duduk lesehan di atas rumput. Dafhin mendongak dengan kening berkerut. "Lo laper kan? Tadi pagi Lo sarapannya dikit, terus Lo tadi habis berjemur...", Daila duduk disebelah dafhin tanpa peduli tatapan tajam dari Rifky dan Ridho. "Gue belum laper Daila", dafhin memalingkan wajahnya. "Nih topi Lo!". "Gue nggak butuh, tang paling butuh itu Lo. Karena Lo kan yang paling sering berjemur. Buruan dimakan mir nya!" "Bawel", gumam dafhin tapi tetap menurut. "Kalian pacaran?", Akhirnya pertanyaan itu keluar dari Rifky yang sedari tadi sibuk menerka-nerka. "Enggak!", Jawab keduanya kompak. "Terus ada angin apa Lo mendadak perhatian sama dafhin", timpal Ridho yang sama penasarannya dengan Rifky. "Pengin aja, karena gue tau dia belum makan sejak pagi dan juga tadi habis kena hukuman" "Tau dari mana Lo kalau dafhin belum makan dari pagi?" "Bener tuh. Lagian Lo sendiri yang hukum kita. Terus kenapa Lo perhatiannya sama dafhin doang? Kan kita juga dihukum?" "Brisik Lo pada, bikin gue pusing tau nggak?", Dafhin bangkit dan melempar bungkus rokok pada Rifky setelah ia mengambil satu batang dan berniat menyalakannya. "Don't smoke anymore, for my sake. Please!", Daila mengambil rokok dari tangan dafhin seraya tersenyum manis yang membuat siapapun luluh ketika melihatnya. Begitu pula dengan dafhin. Dafhin balas tersenyum, tangannya terulur mengusap rambut daila. Kemudian mengangguk. Rifky dan Ridho kembali menganga lebar. Melihat Daila yang bahkan mau memohon pada dafhin dan bagaimana perlakuan manis dafhin pada Daila. Yang selama ini tak pernah sekalipun keduanya memperhatikan tanda-tanda akrab bahkan bisa dikatakan jika mereka berdua layaknya Tom and Jerry. Bukan hanya mereka yang dibuat heran tapi juga Kevin. Yang sedari tadi memperhatikan mereka dari jauh, matanya semakin memancarkan kebencian pada dafhin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN