08 PERASAAN KEVIN
Dafhin bersender di depan ruangan OSIS dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana. Sudah satu jam ia berada ditempat itu. Untuk apa? Tentu untuk menunggu Daila yang masih rapat dengan anggota OSIS lain. Entah apa yang mereka bicarakan, ia tak mau tau.
Tak lama pintu terbuka, satu persatu murid keluar dan gadis yang sedang ia tunggu tak kunjung kelihatan batang hidungnya.
"Ck", dafhin berdecak kesal, dengan langkah pasti ia masuk ke dalam ruangan. Memastikan apa yang sedang Daila lakukan sementara yang lain sudah pada pulang.
Langkah dafhin terhenti di depan pintu. Pemandangan pertama yang ia lihat dan ia dengar ada gelak tawa sepasang murid dengan sesekali si pemuda melayangkan sentilan di kening gadis itu.
Jika dilihat sepintas mereka persis sepasang kekasih yang tengah bercanda dan itu di tambah sangat mesra. Ditambah keduanya adalah murid unggulan di sekolah ini. Membuatnya mereka berdua sangat serasi jika benar-benar mereka sepasang kekasih.
"La, gue anterin pulang ya?", Ucap Kevin.
"Gak usah. Gue bisa naik taksi kok", tolak Daila dengan halus.
"Gak apa sekalian_"
"Daila pulang bareng gue", potong dafhin cepat, "ayo!" Dafhin menarik tangan daila. Entah kenapa hatinya tidak suka melihat kedekatan mereka berdua.
Daila dan Kevin terkejut dengan kedatangan dafhin yang tiba-tiba.
"Kenapa Lo belum pulang?", Bukannya menurut daila malah bertanya.
"Bawel. Buruan gue laper"
"Kev, gue duluan ya. Bye!"
"Bye. La" dengan perasaan tidak rela Kevin membiarkan daila pergi dengan dafhin.
"Daila!!!", Teriak kevin, daila dan dafhin menoleh. "hati-hati, kalau kenapa-kenapa Lo hubungin gue".
"Maksud Lo apa? Lo pikir gue mau ngapa-ngapain Daila?". Dafhin berbalik meraih kerah baju Kevin.
"Ya kali aja, secara Lo kan? Ya, Lo Sadar diri lah siapa Lo?". Kevin tersenyum sinis, membuat dafhin semakin mengeratkan rahangnya.
"b******k, gue nggak sebejad itu, anjing!!"
Buukkk
Satu pukulan mendarat di pipi Kevin. Kevin yang tak terima itu, balik memukul dafhin dan perkelahian itu tak dapat dihindari lagi.
Daila menjerit histeris, tapi sekuat apapun ia berteriak tak ada satu orang pun yang mendengar karena sekolah udah sepi.
"Fhin! Fhin! Udah!!", Daila menarik dafhin yang masih mendominasi perkelahian di mana Kevin sudah tergeletak di lantai.
Dafhin bergeming, ia menepis tangan daila. Saat dafhin ingin melayangkan tinjuannya kembali dengan cepat Daila memeluk Dafhin.
"Stop please!", Lirih Daila, Dafhin menghembuskan nafasnya kasar ia melepas Daila dari pelukannya.
"Asal Lo tau!", Pemuda itu menunjuk Kevin yang kini sudah duduk bersandar pada dinding. "Daila itu cewek gue! Dan Lo jangan coba-coba deketin dia lagi!"
"Ayo!", Sambungnya pada daila yang masih berdiri di samping dafhin dengan pandangan sedih menatap Kevin.
"Daila, lo mau pulang bareng gue atau gue tinggal nih?", Teriak Dafhin dari pintu.
"Gue pulang bareng Lo", lirih Daila Pandangannya masih pada Kevin. "Maafin Dafhin ya Kev, gue duluan".
Sepeninggal Daila dan Dafhin. Kevin menggila didalam ruangan itu, ia memukul dan menendang meja serta kursi hingga berantakan. Setelah puas melampiaskan amarahnyaannya Kevin berteriak kencang.
"Kenapa? Kenapa mesti Dafhin? Cowok bad boy yang mesti jadi pacar Lo Daila? Kenapa bukan gue? Lo mesti tau La gue suka sama Lo dari kelas X tapi Lo nggak pernah peka terhadap perhatian yang gue berikan?"
Rasa sakit akibat pukulan yang ia dapat dari Dafhin tak sebanding dengan rasa sakit hatinya saat ini. gadis yang sudah hampir dua tahun ini ia suka ternyata hari ini sudah menjadi pacar orang.