🗣️ T i g a p u l u h s a t u

1216 Kata
Drama yang dilatarbelakangi nilai enggak berhenti sampai di situ. Berita pertengkaran aku dengan Shifa merebak seantera kampus. Bahkan sudah sampai ke telinga Dekan fakultasku. Aku malu, tapi aku tahu pasti Mas Prima jauh lebih malu. Dan kalian tahu apa reaksinya? Dia berencana mengundurkan diri sebagai dosen kampus. Wow banget kan. Padahal akar dari permasalahan ini aku yang malas belajar, aku yang salah. Masalah sepele sebenarnya, tetapi pekerjaan suamiku terancam karenaku. "Enggak ada surat keputusan dari kampus yang meminta saya untuk berhenti mengajar, tapi rencana pengunduran diri ini karena murni keinginan saya, Bee," jelas Mas Prima saat aku memintanya untuk membahas permasalahan ini. "Kenapa sih emangnya? Gara-gara kemarin? Kan masalah sepele itu. Jangan sebegitunya, Mas." Dia menggeleng kemudian menarik napas berat. "Citra diri penting bagi saya. Apalagi saya seorang pengajar yang dijadikan contoh untuk mahasiswa-mahasiswanya." Aku meringis begitu mengingat bahwa pria ini perfeksionis. Pastinya untuk citra diri dia menginginkan orang lain menggangapnya sempurna. Bukan menganggapnya sebagai suami yang enggak bisa mendidik istrinya. Aku mengambil tangannya lantas mengecupnya. "Maaf ya. Aku enggak menduga kalau jadinya kaya gini. Padahal ini masalah sepele banget, tapi dampaknya besar." Mas Prima menggeleng seolah dia tidak setuju dengan ucapanku. "Bagi saya hal ini enggak sepele, Bee. Penilaian orang lain kepada kamu sama aja dengan penilaian orang lain kepada saya." Aku seketika terdiam dan membetulkan ucapannya di dalam hati. Semakin lama, dadaku semakin sesak dan akhirnya air mata terjatuh di pipiku. Aku nangis bukan karena sedih, tapi lebih ke perasaan merasa bersalah. Dengan satu gerakan, aku langsung menjatuhkan tubuhku ke arah Mas Prima. Kami duduk saling berhadapan kemudian aku menjatuhkan kepalaku di dadanya, aku menangis sesenggukan di sana. "Janji, lain kali aku lebih nurut," ucapku disela-sela tangisanku. "Janji, lain kali enggak ngebantah lagi. Aku janji jadi mahasiswa sekaligus istri yang lebih baik lagi. Enggak serampangan kaya kemarin." Detik demi detik berlalu, tapi Mas Prima tidak kunjung merespons ucapanku. Aku mendongak kemudian menatapnya dengan tatapan kesal. "Jangan diam aja. Kasih tanggapan, Mas!" Mas Prima tersenyum kecil kemudian tangannya bergerak untuk menarikku agar kembali bersandar di dadanya. "Nangis aja nangis dulu. Biar tenang." "Enggak tenang! Kalau Mas mengundurkan diri dari kampus, aku semakin merasa bersalah dan enggak tenang." Helaan napas keluar dari hidung pria itu. "Citra saya penting, Bee." Persetan dengan citra. "Mas, tolong jangan mengundurkan diri." Mas Prima mengelus kepalaku lantas dia mengecupnya. "Saya tetap mengundurkan diri. Jangan nakal kaya kemarin. Kamu baik-baik ya di kampus. Bukan hanya di kampus, tapi di mana saja. Karena di mana pun kamu berada, citra diri saya juga ada di kamu. Jadi, tolong kerja samanya." Kerja sama yang dilakukan seumur hidup. Dan aku jadi semakin merasa bahwa aku punya beban seberat itu. °•° "Hannan, Aunty mau nanya," ucapku sambil berjalan mendekati Hannan, anak kecil itu menoleh ke arahku lantas dia meletakkan tabletnya, "kalau acara kumpul keluarga biasanya ramai banget nggak yang datang?" tanyaku penasaran. Hannan mengangguk cepat. "Ramai, Aunty. Keluarga dari luar Bandung pada datang. Keluarga yang ada di luar negeri juga datang." Hmmm. Ngeri juga. Dulu saat aku pertama kali ketemu dengan Tante Dilla, aku sudah ketar-ketir ketakutan, apalagi saat kumpul keluarga besar nanti. Ya, walaupun saat pernikahan aku tempo lalu, aku pernah bertemu mereka, tapi kan hanya sebentar. "Jangan takut, mereka baik," ucap Hannan lagi. Hal yang aku takutkan bukan mereka baik atau jahat, tapi lebih kepada akunya yang takut salah. Aku takut salah bicara. Aku takut salah bertindak. Aku takut kalau mereka menilai aku buruk. Aku takut nanti aku dicap jelek. Pokoknya aku takut. Lagian Mas Prima mendadak banget memberitahukannya. Setelah diskusi tentang pengunduran diri semalam, topik kami seketika berganti ke acara kumpul keluarga. Mas Prima bilang bahwa hari Minggu depan, seluruh keluarga besarnya akan datang ke rumah untuk bersilahturahmi sekaligus ingin melihat rumah baru pria itu. Rasanya aku ingin enggak ikut acara kumpul keluarga. Rasanya aku mau mengurung diri di kamar. Rasanya aku enggak mau bertemu dan berinteraksi dengan keluarga besar Mas Prima karena aku takut memalukan pria itu. Kejadian memalukan di kampus saja belum selesai, sekarang mau ditambahkan lagi. Gimana ya agar aku enggak jadi istri yang memalukan? Aku takut dicap buruk. Aku takut membuat malu Mas Prima lagi. "Uncle Prim," Hannan berdiri dari duduknya kemudian berlari kecil ke arah pintu depan, "Uncle janji mau menemani Hannan nonton film!" Mas Prima tersenyum kecil, dia membungkuk, menyamakan tingginya dengan tinggi tubuh Hannan. "Enggak lupa kok. Hannan mau nonton film dimana? Di rumah atau di bioskop?" Aku ikut tersenyum dan berharap di dalam hati agar Hannan mengajak ke bioskop. Kalau mereka pergi, pastinya aku juga ikut. Ikut refreshing gitu. "Di rumah aja." Yah, kecewa aku. Kemudian setelah itu Mas Prima menggenggam tangan Hannan lantas mereka berjalan ke arah ruang televisi. "Hannan," teriakku, "Aunty enggak diajak?" "Kalau mau, sini. Kalau enggak, enggak apa-apa. Ada Uncle Prim sudah cukup," jawab Hannan sambil terus melangkah pergi. Ish. Iya deh, keponakan yang paling dekat dengan Om-nya. Aku aja kayanya enggak se-intimate itu. Ya, wajar juga sih mereka kan ketemu setiap hari, sedangkan aku dan keponakanku jarang bertemu. Aku mengambil satu cup yogurt di dapur sebelum akhirnya pergi ke ruang televisi. Sesampainya di sana, terlihat Hannan dan Mas Prima sibuk menonton film serial dokumenter Our Planet. "Burungnya bagus banget, Uncle!" ucap Hannan dengan mata yang berbinar-binar menatap layar televisi, "Hannan mau pelihara burung itu." Aku terus melangkah kemudian duduk di sebelah mereka. "Itu burung terancam punah, enggak bisa dipelihara sembarangan. Burung Uncle yang ada di rumah Oma, itu buat kamu pelihara aja." Hannan menggeleng keras-keras. "Burungnya jelek," pria kecil itu menunjuk ke arah televisi, "bagusan burung itu, Uncle." "Bagusan burung Uncle." "Enggak!" tangan kecil Hannan menepuk tanganku, "Aunty, bagusan burung Uncle Prim atau burung yang di televisi?" Aku terdiam, berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab. "Burung Uncle Prim lebih bagus," jawabku yang langsung membuat Mas Prima tersenyum. "Dengarin itu Aunty-nya." Hannan terlihat kesal karena tidak ada yang mendukungnya. Aku sih mau aja mendukung, tapi takutnya Mas Prima marah karena aku enggak dukung dia. Daripada nanti muncul drama, lebih baik aku jawab begitu aja. "Hannan mau ambil snack dulu," ucap Hannan kemudian meninggalkan kami berdua. "Bee," aku menoleh, Mas Prima masih tersenyum lebar, "burung saya selain bagus juga gagah perkasa." Aku mengangguk kecil. "Wajar, harganya kan ratusan juta." "Iya, tapi kalau sama kamu, saya kasih gratis, Bee." Enggak tahulah, aku lagi malas bahas topik perburungan sehingga aku memilih diam sampai Hannan datang. Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a. Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853) Terdiri dari: Full E-book (Lengkap) Total 71 Part ; 329 Halaman Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu. Cara Pembelian: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_) 3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000. 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka". Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853 Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN