Sehabis pekan UTS, terbitlah pekan remedial. Seluruh mahasiswa tetap masuk pada pekan ini dan para dosen memberikan kesempatan untuk mahasiswanya yang ingin perbaikan nilai.
Di depan sana, Mas Prima mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tasnya. "Untuk mahasiswa yang nilainya dibawah 75, boleh ke depan untuk mengambil soal remedial yang sudah saya buat."
Awalnya aku pikir bukan hanya aku yang nilainya dibawah 75, jadi aku tenang aja. Duduk diam sambil menunggu teman-temanku yang lain ke depan untuk mengambil soal tersebut. Namun, beberapa menit berlalu, tidak ada satupun temanku yang berjalan ke depan.
Aku jadi tegang, masa iya sih aku doang.
"Ayo, silahkan diambil. Waktu terus berjalan," ucap Mas Prima lagi.
"Kayanya enggak ada yang nilainya dibawah 75 Pak. Soalnya enggak ada yang maju," ucap Riswan, salah satu temanku.
"Ada. Satu orang," jawab Mas Prima sambil melirik ke arahku.
Dengan satu tarikan napas, aku berdiri dari dudukku kemudian berjalan ke depan. Dari sudut mataku aku dapat melihat seluruh pandangan mata teman-temanku melirik ke arahku.
"Kacau banget. Istrinya sendiri," pekik salah satu temanku. Suaranya enggak begitu kencang, tapi aku masih dapat mendengarnya.
Aku menelan salivaku sebelum akhirnya berjalan lebih cepat. Mas Prima memberikanku satu lembar soal kemudian dia meminta untuk dikerjakan saat ini juga.
"I feel u, Keyra. Kita sama-sama malu," bisik Mas Prima saat aku menerima kertas soal remedial itu.
Aaaa, aku mau nangis.
Semua dosen jika memberikan remedial dengan cara yang sama yaitu menyuruh yang nilainya di bawah 75 untuk maju ke depan. Aturan ini adalah ketetapan dari fakultas sehingga mahasiswa yang nilainya kurang maksimal dapat diketahui langsung oleh teman-teman kelasnya.
Sialan banget emang, cara kaya gini emang ampuh banget bikin orang malu.
Aku berbalik ke tempat dudukku kemudian segera mengerjakan soal ini. Soal yang tingkat kesulitannya dua kali lebih sulit dari soal UTS kemarin. Untungnya semalam aku benar-benar belajar karena kalau nilai remedialku dibawah 75, tidak ada perubahan pada nilai UTS-ku.
"Malu sih gue kalau jadi dia."
"Bisa-bisanya gitu dimatkul suami sendiri."
"Pak Prima bagus juga, dia enggak pandang bulu. Salut gue. Keyranya aja yang malas belajar."
Aku mendengar bisik-bisik temanku dari arah samping kiri, samping kanan, depan, dan belakang. Aku menarik napas berkali-kali. Perkara nilai doang aku dihujat sampai segininya.
Aku mau marah, tapi aku pendam. Rasa maluku lebih besar daripada rasa kesalku. Aku menarik napas terus menerus, berusaha menghilangkan rasa sesak di d**a.
"Tapi Pak Prima gimana sih, masa dia enggak mengingatkan Keyra belajar. Padahal kan satu rumah, satu kamar juga. Jadi ga bisa nyalahin Keyra doang, Pak Prima juga salah. Enggak becus mendidik istri," ucap Shifa yang benar-benar menghabiskan kesabaranku.
Enggak, enggak bisa lagi untuk sabar.
Emosiku sudah sampai ke ubun-ubun.
Tanpa pikir panjang aku meletakkan pulpen dengan kasar, kemudian berjalan ke arah Shifa. Aku menggebrak mejanya dan seketika pandangannya menoleh ke arahku.
Tanganku bergerak mencengkeram rambutnya. "Maksud lo apa ngomong kaya gitu mon*et!" teriakku kencang.
Seketika semua pandangan menoleh ke arahku. Bodo amat. Aku udah enggak bisa berpikir jernih. Emosiku tidak tertahan lagi.
"Ya terserah gue mau ngomong apa! Mulut-mulut gue!" teriak Shifa tidak kalah kencang. Tangannya juga ikut menarik rambutku.
"Ga usah menilai orang lain, bang*at! Lo enggak tahu apa-apa!"
Teman-temanku yang lainnya bersorak-sorai seolah mereka senang dengan pertikaian ini.
"Keyra," ucap Mas Prima dari arah depan sana, "turunin tangan kamu."
"Enggak!" teriakku sambil terus menarik rambut Shifa.
Shifa meringis lantas dia menatap ke arah Mas Prima. "Bapak, sebelum mengajar dan mendidik orang lain, tolong ajarkan dan didik istrinya dulu. Enggak pintar gapapa, minimal punya etika dan sopan santun."
"Keyra, turunkan tangannya. Jangan semakin mempermalukan diri kamu sendiri dan saya. Saya sudah cukup malu. Saya malu, Keyra."
Seketika tanganku terjatuh. Aku menoleh ke arah Mas Prima, dia memberikan tatapan sendu. Tanpa pikir panjang aku langsung keluar dari kelas dan bergegas pulang.
Emosi sialan.
Aku dipermalukan oleh emosiku sendiri.
Dan aku juga mempermalukan Mas Prima.
Pastinya setelah ini Mas Prima akan mendapatkan hujatan karena tidak bisa mendidik istrinya untuk mempunyai etika dan sopan santun.
Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a.
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Terdiri dari:
Full E-book (Lengkap)
Total 71 Part ; 329 Halaman
Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu.
Cara Pembelian:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_)
3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000.
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)