🗣️ T i g a p u l u h l i m a

843 Kata
Aku kepikiran terus. Overthingking-ku berputar pada topik masa lalu Mas Prima. Kayanya emang ada yang aneh. Enggak mungkin masa lalu pria itu enggak penting. Mungkin karena terlalu penting jadinya ditutupi. Aku berusaha mencari cabang lain dari topik itu yaitu pemberi sumber informasi. Mungkin Mas Prima emang enggak mau cerita. Namun, aku masih bisa mengulik sumber lain yang dirasa bisa membuka masa lalu pria itu. Tante Dilla enggak mungkin. Hannan enggak mungkin. Orang tua Hannan juga enggak mungkin. Aku mengedarkan pandanganku lantas tatapan mataku berhenti saat menatap Tante Tina. Mataku menyipit, kayanya aku bisa nih mengorek-ngorek informasi dari dia. Sebelum mendekati Tante Tina, aku mengambil dua cangkir cokelat panas kemudian baru melangkah ke arahnya. Senyuman lebarku terukir saat pandangan mata kami bertemu. "Buat Tante," ucapku sambil menyerahkan secangkir cokelat panas kepadanya. "Ouh, terima kasih," Tante Tina menyeruput cokelat itu, "ini cokelat mereknya apa? Tante biasanya beli bubuk cokelat langsung dari Belgia." Sabar. Aku harus memaklumi sifatnya yang suka pamer. "Aku kurang tahu, Tante. Semua makanan dan minuman catering jadi aku enggak tahu merek apa yang mereka pakai." Tante Tina mengangguk. "Tapi ini rasanya enggak jauh beda," dia meletakkan cangkir cokelat itu di meja, "sama-sama enak." Setelah itu keheningan melanda kami. Mulut aku gatal untuk segera bertanya. Aku enggak mempertimbangkan apakah cara ini bijak atau enggak untuk mencari informasi tentang suamiku, tetapi aku harus mendapatkan informasinya secara cepat dan tepat. "Tan," panggilku. "Ya? Kamu mau cobain bubuk cokelat punya Tante yang asli dari Belgia?" "Bukan," aku melirik ke arahnya, "wajar enggak sih kalau istri enggak tahu masa lalu suami?" "Wajar aja, selama masa lalu enggak ada hubungannya dengan masa depan." Hmm, kenapa jawabannya begitu. Aku lagi berusaha mau memancing dia. Tante Tina menggeser arah tubuhnya sehingga menghadap ke arahku. "Emangnya kenapa? Kamu dan Prima enggak terbuka soal masa lalu?" Cakep! Ini nih yang aku harapkan. Jawaban yang seperti ini. Kalau obrolan kami berlanjut pastinya aku akan mendapatkan informasi tentang masa lalu Mas Prima. Kalau tidak secara utuh, minimal secara garis besarnya saja. "Iya. Mas Prima enggak pernah terbuka tentang masa lalunya sama aku, Tan." Aku mengerjapkan mata dan bermonolog dalam hati, Mas Prima maaf banget kalau misalnya aku kurang bijak bertindak untuk mendapatkan informasi. Habisnya selama ini Mas Prima enggak pernah cerita apa-apa. "Loh?" kedua mata Tante Tina membulat, "benaran enggak dikasih tahu? Prima enggak pernah cerita apa-apa? Tante kira kamu udah tahu sebelum menikah." Hah? Apaan? Aku jadi tegang. "Enggak pernah, Tante." "Aduh, si Prima. Padahal masa lalu dia itu berhubungan banget sama masa depan. Seharusnya sih diceritain ya. Biar enggak ada pihak yang rugi." Pihak yang rugi? Kayanya aku nih yang dirugikan. Tapi karena apa? Please, aku kepo banget. "Aku minta tolong dan kalau Tante berkenan. Bisa nggak Tante ceritain tentang masa lalunya Mas Prima?" Tante Tina menggeleng kecil. "Itu aib banget. Nanti kamu bisa bertengkar kalau tahunya sekarang. Dan pastinya pertengkaran akan semakin besar kalau kamu tahu fakta itu dari orang lain selain suami kamu, at least Tante." Aaa aib? Aib apa sih? "Please, Tante." "Minta ceritakan sama Prima saja," Tante Tina menatapku lekat, sedangkan aku menatapnya dengan tatapan memohon, "oke, Tante kasih keyword-nya aja." Kaya dipencarian google aja. Tapi, yaudahlah enggak apa-apa. Untuk versi lengkapnya aku bisa cari tahu nanti. Maybe Mas Prima mau cerita. Kalau dia enggak mau, aku kasih tahu keyword-nya saja agar dia tahu kalau aku sudah mengetahui apa yang sedang dia sembunyikan. "Iya, Tante. Keyword-nya aja enggak apa-apa." Tante Tina terdiam sebentar, dia seolah berpikir. Mungkin dia menghubungkan kata-kata yang tepat dan sesuai untuk menggambaran masa lalu Mas Prima. "Tiga keyword aja ya." "Ga bisa nambah?" "Tiga keyword lebih baik." Aku mengangguk, yaudah daripada enggak dikasih. "Apa aja Tante?" "Masa SMA. Kecelakaan. Organ Reproduksi." Aku seketika termenung. Otakku langsung berpikir keras. Berusaha menggambarkan peristiwa yang terjadi pada masa lalu hanya menggunakan tiga kata kunci. Mas Prima kecelakaan saat SMA kemudian dia mengalami masalah organ reproduksi? Begitu bukan sih? Kalau ada hubungannya dengan masalah reproduksi berarti hal ini menjadi masalah yang fatal. Karena keturunan itu adalah bagian dari masa depan. Apalagi aku istrinya, aku juga berhak tahu. Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a. Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853) Terdiri dari: Full E-book (Lengkap) Total 71 Part ; 329 Halaman Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu. Cara Pembelian: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_) 3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000. 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka". Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853 Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN