🗣️ T i g a p u l u h e n a m

891 Kata
"Hati-hati di jalan Om dan Tante," ucapku sambil mengantar anggota keluarga Mas Prima yang menjadi tamu terakhir di rumah kami. Mereka berdua mengangguk lantas mobil yang sedang mereka tumpangi bergerak keluar dari pekarangan rumah. Saat ini tamu sudah tidak ada lagi, kekacauan sehabis pesta sudah dibersihkan oleh para ART sehingga enggak ada hal lagi yang perlu kami lakukan."Saya mau mandi," ucap Mas Prima lalu melenggang pergi. Tidak lama setelah kepergiannya, aku memutar tubuhku lantas berjalan ke arah kamar. Tujuan yang sama dengan Mas Prima. Saat masuk ke kamar, pria itu sedang mengambil handuknya bersiap untuk masuk ke dalam kamar mandi. "Habis ini jangan tidur dulu," Mas Prima yang sedang membuka gagang pintu kamar mandi mendadak berhenti, "aku mau ngobrol. Ada sesuatu yang mau aku tanyakan." "Apa yang kamu baru tahu?" tanyanya langsung pada inti. Dia kayanya tahu kalau aku baru mengetahui sesuatu. Namun, aku kan enggak tahu detailnya. Aku hanya tahu keyword-nya, itu juga cuma tiga keyword. Enggak lebih. "Nanti aja." "Oke," ucapnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di atas ranjang. Dia bersandar di kepala ranjang, sedangkan aku duduk menghadapnya. "Sebelumnya aku mau bilang, aku enggak apa-apa banget kalau enggak tahu tentang masa lalu Mas jika masa lalu itu enggak berhubungan lagi dengan masa depan kita," ucapku sebagai pembukaan dari obrolan kami. Dia bergumam dengan mata yang masih menatap lurus ke arahku. "Kalau ada sesuatu di masa lalu yang berhubungan dengan masa depan kita. Entah apapun itu. Aku berharap banget Mas cerita. Mas terbuka sama aku," ucapku lagi. Dia mengangguk-angguk. Tangannya bergerak mengambil bantal lalu dia letakkan di belakang punggungnya. "Apa yang kamu tahu dari mereka?" tanyanya. "Enggak tahu apa-apa." "Jawab yang benar," suaranya terdengar lebih berat. "Aku tahu, tapi enggak detailnya," mataku melirik ke kiri dan ke kanan sambil terus berpikir ucapan selanjutnya, "aku cuma dikasih tahu tiga kata kunci. Itu doang. Tapi detailnya aku enggak dikasih tahu." "Apa aja?" Aku mengigit bibir dalamku. Kenapa jadi kesannya aku yang diintrogasi, padahal kan dia yang punya masa lalu. Dia juga yang enggak mau terbuka. "Ah, udah, ah. Mas terbuka aja. Ceritain gitu. Jangan akunya yang malah ditanya-tanya," jawabku kesal. "Apa aja, Bee?" tanyanya lagi. "Mas," ucapku merengek, "ayo cerita aja." "Apa aja, Keyra?" tanyanya untuk ketiga kali. Aku menarik napas pelan sebelum akhirnya mengeluarkan suara. "Masa SMA. Kecelakaan. Organ reproduksi. Terlalu umum, aku mau menyambungkan hubungan dari ketiga kata kunci itu jadi bingung." Wajahnya masih tenang, sama seperti saat awal kami memulai pembicaraan. Pria itu mengangguk-angguk lantas tangannya menarik kepalaku agar bersandar di dadanya. "Coba kamu sebutkan peluang kejadian dari relasi diantara tiga kata kunci itu. Di dalam hati saja. Kemudian kamu analisis dan kasih tahu saya peluang kejadian yang bagi kamu paling masuk akal." Gila, gila. Aku berasa dikasih soal hots. Aku berdecak sebal. "Aku enggak lagi kuliah sekarang. Jangan dikasih soal." Tangannya bergerak mengelus puncak kepalaku. "Jawab aja pertanyaan saya, Bee." Ish. Nyebelin. Apa ya? Aku bingung juga. Aku berpikir sampai menghabiskan waktu sepuluh menit, tetapi aku baru menemukan satu peluang kejadian. "Apa?" tanyanya setelah beberapa saat aku terdiam. "Aku lagi berpikir keras dari tadi, tapi cuma satu peluang kejadian yang aku dapat." "Iya apa, Bee?" "Bagi aku peluang yang paling masuk akal ya itu. Saat masa SMA, Mas mengalami kecelakaan, eh tapi sebentar," aku berpikir lagi, "kata kunci kecelakaan di sini, bisa korbannya Mas Prima, bisa juga korbannya orang lain." Pria itu terdiam sambil terus mengusap-usap kepalaku dengan lembut. "Gimana, Mas?" "Ya jawab aja. Emang kalau korbannya orang lain, itu merugikan kamu?" tanyanya. Oh, iya, benar. Kayanya enggak mungkin korbannya orang lain, pasti korbannya dia. "Saat masa SMA, Mas mengalami kecelakaan terus organ reproduksinya bermasalah? Begitu?" Dia bergumam tidak jelas. Aku langsung menoleh ke arah belakang sehingga tatapan mata kami beradu. "Benar nggak?" "Iya." Kedua mataku mendelik. Masih tidak puas dengan jawabannya. "Iya? Kok bisa tenang banget ngomongnya?!" "Ya emang kenapa kalau iya?" Dih, gila ya dia. "Bermasalah kan bukan berarti enggak bisa punya anak," ucapnya lagi. "Terus masalahnya kenapa? Penyakit menular nggak? Nanti aku ikut bermasalah juga!" ucapku terbawa emosi. Nyesel banget aku, seharusnya saat ingin menikah dulu kami ngecek kesehatan organ reproduksi dulu. "Ya kamu perhatikan aja tanda-tandanya. Iya atau enggak," ucapnya kemudian keluar dari kamar meninggalkan aku yang masih terpaku di tempat. Gila, nih, benaran gila. Kalau dia punya masalah reproduksi penyakit menular, bisa-bisanya aku juga ikut kena. Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a. Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853) Terdiri dari: Full E-book (Lengkap) Total 71 Part ; 329 Halaman Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu. Cara Pembelian: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_) 3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000. 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka". Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853 Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN