🗣️ T i g a p u l u h t u j u h

965 Kata
Semenjak saat itu, aku jadi super menjaga jarak dengan Mas Prima. Aku berusaha membuat batasan jika aku dengan dia berada di satu tempat yang sama. Contohnya saat ini, aku memberikan sekat pada ranjang kami. Dia enggak boleh melewati sekat itu, kalau dia lewati berarti ada satu diantara kami yang tidur di tempat lain. Bukan hanya masalah tempat tidur, aku juga mengkhususkan alat makan untuknya. Enggak boleh campur-campur. Antisipasi aja kalau ternyata penyebarannya bisa melalui air liur soalnya sampai saat ini aku benaran enggak tahu dia sakit apa. Aku tersentak saat pintu kamar terbuka, Mas Prima masuk kemudian sebelah alisnya menukik tajam. "Sempit dong jadinya, masa disekat," tanggapannya saat melihat sekat yang aku buat. "Ya, biarin. Demi sehatku." "Benar?" tangannya bergerak membuka kancing-kancing bajunya. Aku meneguk ludah saat tubuh six pack-nya terpampang jelas, "benar enggak mau dekat-dekat?" Dia memutari ranjang berjalan mendekatiku. "Benar kita tidurnya mau disekat? Benar kamu enggak mau pelukan?" Woylah! Kenapa menggoda banget sih suami aku. Tubuhnya memang mengundang daya tarik tersendiri, apalagi dia halal untukku. Argh! Sulit sekali menahan gelora di dalam tubuh ini. "Mas, please," aku menelan salivaku untuk kesekian kalinya, "jangan godain aku." "Yakin kita enggak mau enak-enak malam ini?" Aku membuang pandanganku. Berusaha berpikir jernih. Aku enggak mau penyakitan. Aku enggak mau ketularan penyakit reproduksi. Aku mau punya anak. "Mas Prima penyakitan, aku enggak mau ketularan." Dari sudut mataku aku dapat melihat dia memutar langkahnya kemudian tangannya bergerak untuk mengancingkan piamanya. "Dosa kamu nuduh suami punya penyakit menular." Aku menoleh dan kembali menatapnya. "Ya habisnya Mas enggak klarifikasi apa-apa. Aku cuma tau masalah organ reproduksi, tapi Mas enggak terbuka tentang detailnya." Mas Prima berdecak sebal kemudian dia merusak sekat yang aku buat. "Kita kan pernah s*x beberapa kali. Pasti kamu tahulah bagaimana kondisi saya, sehat atau enggak. Ada luka atau ruam enggak." Dia baik-baik aja sih, keliatan normal. Enggak ada sesuatu dalam tubuhnya yang aneh. Hal itu yang sejujurnya membuat aku agak bingung menduganya. "Ya aku enggak tahu, aku kan enggak boleh self diagnosis." "Cape saya," dia menjatuhkan kepalanya di kasur, "terserah kamu deh. Sepemikiran kamu aja." Dih, ini manusia model apa sih. Menjelaskan enggak mau, aku berspekulasi sendiri dia marah. Lagian, aku masih enggak habis pikir, dia kenapa enggak mau cerita. "Kenapa sih emangnya kalau cerita? Mas malu? Tenang sih, aku enggak bakal nyebar. Aku kan istri Mas sendiri, kenapa harus malu." "Diam, Keyra." Lah. "Aku enggak mau diam kalau Mas Prima enggak mau cerita. Pokoknya aku bakal ngomong terus sampai Mas keberisikkan abis itu Mas enggak bisa tidur terus akhirnya cerita deh." "Ngomong aja sendiri. Saya mau tidur. Seberisik apapun kamu, saya tetap bisa tidur." Ish! Dengan satu gerakan aku langsung melompat ke atas perutnya. Tanganku membuka kelopak matanya lebar-lebar. "Pokoknya enggak boleh tidur! Harus cerita malam ini juga!" Dia bergerak tidak nyaman, tangannya berusaha menggapai tubuhku agar aku menyingkir dari tubuhnya. "Sana, sana. Dari spekulasi kamu, saya kan punya penyakit menular. Jangan dekat-dekat. Nanti ketularan." Aku ikut cape tahu, berusaha berjuang sebegininya cuma minta suami buat terbuka. Cuma minta dia cerita biar aku enggak berspekulasi yang tidak-tidak. "Mas," aku merengek dengan mata yang sudah berkaca-kaca, "cerita aja kenapa sih? Kalau misalnya kecelakaan itu bikin Mas mandul. It's okay, kita bisa cari solusi sama-sama. Kalau seburuk-buruknya kita ga bisa punya anak, gapapa juga. Kasih waktu aku aja buat menerima kenyataan," ucapku bersamaan dengan air mata yang terjatuh. Mas Prima enggak mengeluarkan suara apa-apa. Dia menggeser tubuhku kemudian dia memelukku dari belakang. Dia mengecup puncak kepalaku dua kali. "Pertama, saya enggak mempunyai penyakit menular. Kedua, kita masih bisa punya anak. Untuk lebih detailnya saya jelaskan nanti." "Kenapa enggak sekarang?" "Saya masih sibuk ngurusin urusan kampus. Lusa, saya dan beberapa dosen ada kegiatan pengabdian masyarakat, seminggu di luar kota. Kamu tahu kan saya harus benar-benar fokus untuk mengurusi satu kegiatan. Saya berusaha memberikan yang terbaik." Aku masih terdiam. "Kalau saya cerita sekarang. Kita bahas malam ini juga takutnya suasana malah jadi enggak kondusif. Takutnya kita bertengkar dan fokus saya jadi buyar. Jadi tolong kerja samanya." Emang separah apa sih sampai berpotensi membuat kami bertengkar? Semakin diundur-undur, akunya jadi semakin berpikiran yang enggak-enggak. "Mas," aku memutar posisi tubuhku sehingga kami saling berhadapan. Aku mengelus pipinya kemudian menatap matanya lekat, "aku jadi mikir kemana-mana. Emang separah apa sih?" "Jangan dipikirin. Semuanya baik-baik aja." "Enggak bisa," aku menenggelamkan wajahku di dadanya, "aku tetap kepikiran. Selama Mas di luar kota, pastinya aku kepikiran tentang hal ini, bisa jadi setiap hari atau bahkan setiap detik." "Jangan hiperbola," dia mengusap punggungku, "diskusi selesai. Saatnya tidur." "Mas, sekarang aja." "Mas, jangan nanti-nanti." "Aku janji deh enggak bakal marah, seburuk dan semenyakitkan apapun ceritanya." "Mas!" aku mendongkak menatap Mas Prima yang sudah menutup mata. Aku tahu pasti dia pura-pura tidur. Dengan emosi aku mengambil lengannya kemudian mengigitnya pelan. "Dasar egois!" umpatku sebelum akhirnya aku tertidur dengan posisi membelakanginya. Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a. Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853) Terdiri dari: Full E-book (Lengkap) Total 71 Part ; 329 Halaman Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu. Cara Pembelian: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_) 3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000. 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka". Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853 Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN