Semenjak saat itu aku dan Pak Prima menjadi berjarak. Saat di rumah apalagi saat di depan Ayah, kami berdua tidak terlihat dekat seperti dulu. Lebih biasa aja. Soalnya aku dimarahin terus kalau dekat-dekat dengan Pak Prima, tapi saat di luar rumah dan kampus, kami terlihat dekat. Bahkan lebih dekat daripada dulu.
Hari ini, aku hanya ada kelas pagi dan kebetulan Pak Prima enggak ada kelas mengajar hari ini. Aku yang suka banget sama jalan-jalan langsung mengajaknya pergi. Dia tampak berpikir sebelum akhirnya mengeluarkan suara.
"Kita perlu izin Ayah nggak? Saya merasa enggak enak kalau pergi sama kamu, tapi enggak mendapat izin Ayah."
Aku berdecak sebal. "Enggak usah sih, enggak usah. Kalau izin nanti malah enggak boleh."
"Izin aja ya? Kita coba dulu. Nanti kita malah kenapa-kenapa kalau enggak izin orang tua," ucapnya kemudian mengambil ponselnya lalu memainkan benda tipis itu.
Hmmm.
Nurut banget sih dia sama Ayah, aku aja yang anaknya kadang suka enggak nurut.
"Key," panggilnya dengan mata berbinar-binar, "boleh kata Ayah."
"Ayo, ayo. Gas ngueng. Sekarang tempatnya Bapak yang pilihkan aja. Gantian."
Pak Prima mengangguk, tangannya bergerak mengambil kunci mobil lalu kami bersama-sama pergi ke tempat yang dia inginkan. Aku sudah menanyakan tempat apa yang akan kami datangi, tetapi Pak Prima tidak memberitahu. Katanya tempat yang pastinya aku suka.
Hmm, aku penasaran dan semakin penasaran lagi saat di tengah perjalanan Pak Prima memberhentikan mobilnya tepat di depan supermarket. Dia masuk ke dalam tempat itu lalu membeli lima sisir pisang. Itu banyak banget loh, beli pisang sebanyak itu buat apaan.
"Kita mau ke kebun binatang ya?" tanyaku saat kami berdua sudah masuk kembali ke dalam mobil.
Pak Prima menggeleng sambil menyalakan mesin mobilnya. "Bukan, tapi kamu pasti suka."
"Ke rumah orang tua Bapak?"
"Bukan."
"Ter—"
"Banyak nanya kamu. Sudah, diam aja."
Setelahnya aku terdiam dan aku kembali bersuara saat melihat plang sebuah tempat yang Pak Prima masuki. "Kita mau ke Curug?" tanyaku.
Dia mengangguk.
"Aku enggak bawa baju, Pak. Nanti kalau kita mandi di air terjun, aku enggak punya baju ganti. Lagian kok Bapak enggak bilang kita mau kesini. Seharusnya bilang, biar aku siap-siap."
Pak Prima menunjuk ke arah belakang. "Pakai kemeja saya. Beres."
Lah, dia pikir baju luarannya doang apa yang basah. Dalamannya kan juga. Masa aku pakai dalaman dia, kan enggak mungkin.
"Aku enggak usah mandi di air terjun deh."
"Yaudah, bebas."
Pak Prima memarkirkan mobilnya. Dia membawa tas yang berisi pisang-pisang itu kemudian keluar dari mobil. Dengan sigap aku juga ikut keluar dan berjalan bersama dengannya.
Aku menatap sekelilingku dan mulai paham apa maksud Pak Prima membawa pisang-pisang itu. "Penyayang hewan banget sih," komentarku.
Pak Prima melirikku sebelum akhirnya tangannya bergerak mengusap kepalaku. "Penyayang kamu juga," ucapnya.
Aku tertawa sebentar. Tawaku seketika berhenti saat mengingat hubungan kami harus terhambat karena hubungan orang tua.
Hubungan asmara anak vs hubungan asmara orang tua.
Miris, miris.
Langkah Pak Prima berhenti tepat di pinggir air terjun. Dia mengeluarkan pisang-pisang dari dalam tas kemudian para monyet mendatangi kami. Mereka mengambil pisang-pisang itu, sedangkan kami hanya mengamati dengan diam.
Aku bahagia, entah karena adanya keterkaitan hubungan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau karena saat ini aku bisa berdua dengan Pak Prima. Aku enggak tahu jelas, tapi intinya aku merasa bahagia.
"Pak, bisa enggak kita dekat terus?" tanyaku tiba-tiba.
Pak Prima tidak langsung menjawab. Dia membawa tas yang sudah kosong lantas berjalan ke arah kursi dan duduk di sana. Aku mengikutinya dan juga ikut duduk di sampingnya.
Mata Pak Prima menatap lurus ke arah depan, cukup lama dia seperti itu sebelum akhirnya helaan napas keluar dari mulutnya. "Kita bisa dekat," ucapnya sambil menatapku, "tapi sebagai Abang dan Adik."
Hah?
Jujur, aku enggak terima dengan apa yang dia ucapkan.
Masa Abang adik sih. Aku sudah baper ini. Sudah terlove-love sama dia, tapi masa ending-nya Abang Adik. Enggak seru bangetlah.
"Maksudnya gimana? Kita kalah war? Hubungan asmara orang tua yang menang? Kita kalah? Gimana? Begitu, Pak?"
Pak Prima memutuskan kontak mata kami. "Dari gerak-gerik Mami saya, dia juga menyukai hubungannya dengan Ayah kamu. Dia terlihat jauh lebih bahagia."
Aku terdiam, hawa di sekitar seketika mendadak panas.
"Keyra," Pak Prima kembali menatap ke arahku, "prioritas pertama dalam hidup saya adalah Mami. Saya akan memberikan apa saja. Melakukan apa saja. Demi membuat dia bahagia."
Aku masih terdiam, mataku seketika berkaca-kaca.
"Saya berat sebenarnya, berat sekali, tapi demi membuat dia bahagia, saya rela menukar kebahagiaan saya untuknya."
Seperti pisau yang menghujam hatiku. Detik itu juga, hatiku mendadak sakit. Air mataku terjatuh dan isak tangisku terdengar.
Aku enggak tahu sih sebenarnya boleh atau enggak menjalin hubungan asmara dengan Pak Prima, jika Ayah dan Tante Dilla menikah, pastinya Ayah tidak akan merestui hubungan aku dan Pak Prima karena baginya dari segi moral hal tersebut tidak etis.
Jadi intinya, Ayah pasti tidak merestui hubungan kami.
Dari sisi lain, Ayah juga terlihat lebih bahagia saat menjalin hubungan dengan Tante Dilla. Aku bahagia jika Ayah bahagia, tapi kalau misalnya aku harus menukar kebahagiaanku dengan kebahagiaan Ayah. Rasanya aku butuh waktu untuk ikhlas karena aku sedang cinta-cintanya sama Pak Prima.
"Pak," panggilku dengan suara serak.
Pak Prima memberikan aku tissue, tetapi aku langsung membuangnya. "Kalau memang itu keputusan yang tepat untuk kita, aku berusaha untuk menerima," aku mengusap air mataku, "tapi tolong Bapak jaga jarak sama aku. Setelah ini kita enggak boleh sedekat dulu. Kita harus lebih biasa aja."
Pak Prima mengangguk. "Oke."
Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a.
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Terdiri dari:
Full E-book (Lengkap)
Total 71 Part ; 329 Halaman
Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu.
Cara Pembelian:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_)
3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000.
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)