Ayah bercerita bahwa selama beberapa bulan ini saat aku dan Pak Prima di kampus, Ayah dan Tante Dilla sering bertemu. Awalnya hanya untuk melihat kondisi rumah Prima, tetapi lama-kelamaan interaksi mereka lebih dekat dan tujuan bertemu bukan hanya melihat kondisi rumah, tetapi sudah jalan-jalan berdua ke mal.
Ayah bilang kalau hidupnya lebih berwarna semenjak ada Tante Dilla. Trauma yang dulu sempat Ayah alami saat kematian Bunda, kini mulai terobati. Ayah membuka hatinya kembali untuk perempuan lain dan mulai percaya bahwa enggak semua orang buruk.
Alasan Ayah mendekati Pak Prima dengan aku adalah agar kami berdua bisa akur saat nantinya menjadi Abang dan Adik. Ayah juga memberikan peringatan bahwa aku enggak boleh terlalu dekat dengan Pak Prima, sebatas Abang dan Adik saja, enggak lebih.
"Ayah sengaja enggak bilang ini dari awal. Suprise aja. Jadi gimana? Kamu senang kan? Nanti kamu punya Abang yang lebih perhatian dan pengertian."
Aku tersenyum lirih.
Aku bingung, sedih, dan juga marah.
"Ayah ceritanya sudah belum? Keyra ngantuk, mau tidur."
"Oh, sudah, sudah," Ayah berdiri lantas berjalan ke arah luar, "selamat tidur," ucap Ayah kemudian mematikan lampu kamarku dan dia menutup pintu.
Ketika Ayah keluar, rasa kantukku melayang entah ke mana. Aku mengambil bantal dan memeluknya lebih erat. Perasaan sedihku semakin menjadi-jadi dan tidak lama kemudian air mata menuruni pipiku.
Begini amat ya hidup.
Keesokan harinya, setelah kelas selesai aku berjalan ke cafe depan karena sebelumnya aku sudah janjian ingin bertemu dengan Pak Prima di sana.
Ketika sampai di cafe itu, Pak Prima sudah duduk di kursi belakang. Di atas meja sudah tersedia dua gelas coklat hangat, minuman kesukaanku. "Kenapa, Key? Kenapa minta ketemu? Kita bisa bicara di rumah."
Aku menggeleng lantas duduk di kursi hadapannya. "Enggak. Aku enggak mau di rumah. Ada CCTV. Aku enggak mau dipantau terus."
Pak Prima mengerutkan keningnya. "Emangnya kita mau ngapain? Sampai kamu enggak mau dipantau."
"Pak, to the point aja deh," ucapku cepat, "Bapak tahu nggak kalau Tante Dilla dan Ayah aku dulunya punya hubungan asmara?"
Wajah Pak Prima terlihat bingung. "Mami saya dan Ayah kamu dulunya pernah menjalin hubungan asmara?"
Aku mengangguk. "Iya, kata Ayah begitu. Terus Ayah juga cerita ...." ucapku mengulang cerita Ayah semalam. Pak Prima terus mendengarkan ucapanku dan ekspresinya terlihat bahwa dia benar-benar kaget.
Fix dia emang benaran enggak tahu.
Fix Ayah dan Tante Dilla benaran dekat, enggak setting-an.
"Mami saya janda, Ayah kamu duda. Bisa bersatu. Apalagi pernah punya hubungan asmara dulu. Ditambah lagi sekarang dekat lagi. Peluang untuk bersatu semakin besar," tanggapannya setelah cerita aku selesai.
Dia bingung, aku juga bingung.
Kenapa harus bersaing dengan cinta orang tua sih. Mana ucapan dan keinginan Ayah sulit untuk aku tolak.
"Terus gimana, Pak? Mereka semakin dekat. Mungkin hubungan mereka lebih dekat daripada hubungan kita."
Pak Prima menarik napas lantas dia mengedarkan pandangannya dan kemudian menatap ke arahku. "Saya berusaha mendekati Ayah agar dapat restu untuk menikahi kamu."
"Tapi Ayah berusaha mendekati Pak Prima agar dapat restu untuk menikahi Tante Dilla."
Pak Prima mencengkram rambutnya sambil menunduk. Kelihatan stres dia. "Enggak begini seharusnya. Enggak sesuai konsep. Saya juga enggak punya plan B."
Aku berpikir sebentar sebelum akhirnya kembali membuka suara. "Aku punya plan B. Aku punya. Baru kepikiran."
Seketika ada binar harapan dari matanya. "Apa? Apa?" tanyanya.
"Kita kan punya modal dari grand prize kemarin. Kita nikah sirih diam-diam aja, Pak."
Pak Prima tidak mengeluarkan suara, tetapi ada sebuah sentilan di keningku. "Enggak begitu juga. Ngebet nikah kan kamu? Dasar nafsuan."
Dih.
Daripada dia ngatain aku nafsuan terus, mending langsung halalin aja deh.
"Daripada orang tua kita duluan yang nikah, mendingan kita aja Pak. Jangan sampai kecolongan start."
Pak Prima terdiam sambil menatapku lekat.
"Biar kita tahu juga sebenarnya yang lebih nafsuan, aku atau Bapak," ucapku lagi.
Kali ini aku langsung mendapatkan dua centilan di kening.
Kasar nih dia, padahal aku cuma mau ngasih saran aja.
Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a.
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Terdiri dari:
Full E-book (Lengkap)
Total 71 Part ; 329 Halaman
Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu.
Cara Pembelian:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_)
3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000.
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)