🗣️ D u a p u l u h d e l a p a n

785 Kata
Cerita ini sudah tersedia versi full ebooknya °•° Papi dan Maminya Hannan sedang ada pekerjaan di luar kota sehingga Hannan dititipkan di rumah ini. Aku senang, tentu saja. Anak itu sungguh membawa keceriaan. Selain itu, aku juga punya tameng. Kalau ada Hannan, Mas Prima enggak mungkin mengomel-ngomel di depan anak kecil ini. "Aunty, aunty," Hannan mencolek-colek pipiku. Aku berusaha tetap menutup mata, aku ceritanya lagi pura-pura tidur, "Uncle Prim manggil-manggil terus." Aku masih terdiam, masih dengan posisi yang sama. Aku pasti mau disuruh-suruh sama Mas Prima. Kalau disuruh melakukan kegiatan enak sih aku mau, ini aku disuruh belajar terus. Emang sih besok aku UTS, tapi kan aku mau istirahat dulu malam ini. Tadi siang aku udah belajar buat ujian besok kok. Malam ini enggak harus belajar lagi. "Aunty Key, Aunty Key," Hannan masih mencolek-colek pipiku, "Aunty enggak boleh tidur sama Hannan. Nanti Uncle Prim marah kalau Aunty tetap di sini." Aku pura-pura menguap lantas membuka mataku. "Enggak. Uncle ga mungkin marahin kamu," aku menepuk ranjang sebelah kiriku, "udah sini, Hannan bobo." "Aunty bobo sama Uncle aja. Kasihan Uncle Prim sendirian." Yaelah. Anak ini enggak bisa diajak kerja sama. Masa aku diusir suruh balik ke kamar. "Sana Aunty. Bobo pas malamnya sama Uncle Prim. Bobo siangnya sama Hannan," ucapnya lagi. Aku terdiam beberapa saat kemudian keluar dari kamar Hannan. Yaudahlah, balik aja. Sebenarnya kalau aku tetap kekeuh tidur di kamar Hannan, takutnya Mas Prima makin marah. Kacau nanti. Dengan langkah gontai aku naik ke lantai dua kemudian masuk ke dalam kamar. Baru saja aku membuka pintu kamar, tiba-tiba ada tangan yang menarikku ke dalam. Tangan siapa lagi kalau bukan tangan Mas Prima. Mas Prima enggak mengucapkan apa-apa. Dia hanya menarikku dan memeluk tubuhku erat. Erat banget. Aku sampai enggak bisa napas saking eratnya. "Jangan pisah kamar, Bee," ucapnya. Aku merasakan tangannya mengelus punggungku. Nyaman banget. Kalau dikasih kenyamanan kaya gini, aku mau dekat-dekat dia terus, tapi kalau sikap bawel, ribet, dan dan perfeksionisnya keluar. Haduh, bawaannya aku mau jauh-jauh aja. "Iya, enggak. Ini aku di sini." "Saya enggak bisa tidur sendirian, Bee. Jangan tidur di kamar Hannan. Tidur di sini aja." "Iya, di sini." Mas Prima membawaku ke atas ranjang lantas dia meletakkan kepalaku di dadanya. "Sambil nyari ngantuk, ayo kita ulang materi yang udah kamu pelajari." Anj*r. Aku kira malam ini mau mesra-mesraan, tetapi malah ngajakin review materi kuliah. "Kalau tidur di kamar Hannan, kamu enggak bisa ngereview materi buat besok. Kalau di sini, kan bisa. Ayo mulai, apa yang kamu pahami tentang morfologi...." Aku enggak menjawab dengan ucapan, tetapi aku langsung mengecup bibirnya. Mas Prima tersentak, dia seolah kaget dengan tindakanku yang mendadak. "Mesra-mesraan aja Mas." Mas Prima terdiam sebentar lantas dia menggeleng. "Jangan nafsuan dulu, Bee. Kita review dulu materi, habis itu baru boleh." Aku menggeleng keras-keras. Kali ini aku lebih agresif. Aku duduk di atas pangkuannya sehingga saat ini kami saling berhadapan. "Aku mau mesra-mesraan," ucapku. Mas Prima tersenyum kecil lalu dia mengelus pipiku. "Jangan. Takut kamu kecapean terus kesiangan. Ujiannya besok pagi kan." "Peluk dan cium aku aja." "Nanti pasti keterusan," dia menarik aku dari atas pangkuannya sehingga saat ini kami kembali ke posisi semula, "belajar aja belajar. Ayo mulai dari morfologi dulu ya." Emosi aku. Tanpa menjawab aku langsung turun dari ranjang dan berlari keluar dari kamar. Aku mau tidur sama Hannan aja. Aku masuk ke dalam kamar Hannan. Anak kecil itu sudah tertidur pulas. Tanpa banyak pertimbangan, aku langsung menggeser tubuhnya lantas ikut berbaring dengannya di ranjang yang sama. Cape sama Pak Prima, aku disuruh belajar terus. Plus dia juga egois banget. Giliran aku mau, dia enggak mau. Giliran dia mau, aku selalu mau tuh. Awas aja. Besok-besok akan aku balas. "Bee, ayo kembali ke kamar," ucap Mas Prima sambil mengetuk-ngetuk pintu. Untung aja tadi aku enggak lupa untuk mengunci pintu. Aku diam saja, enggak membalas. "Ayo, ayo. Ayo kita seru-seruan dulu setelah itu baru habis itu review materi." Sama aja dong kaya tadi, cuma dibalik aja kegiatannya. "Beeee, kita seru-seruan aja deh. Ayo." Karena berisik, tidur Hannan jadi terganggu. Dia membuka matanya lalu menujuk ke arah luar. "Uncle kasian," ucapnya. "Beeee. Ayo seru-seruan. Kita main games aja. Enggak usah belajar. Saya udah siap ini." Aku tersenyum tipis. Bisa banget bahasanya. Karena ada Hannan nih, jadi pemilihan katanya begitu. Padahal kalau enggak ada Hannan, dia kalau ngomong suka frontal. "Main games apa Aunty? Hannan kok enggak diajak?" ucap Hannan dengan mata yang sayu. "Main monopoli. Hannan kan belum ngerti, jadi enggak diajak." Hannan mengangguk lalu dia kembali menutup matanya. "Sana Aunty main monopoli sama Uncle." "Enggak. Biarin aja, Uncle bisa main monopoli sendiri." "Emang bisa?" "Bisa." 'Main monopoli dikamar mandi,' lanjutku di dalam hati. Sekarang sudah tersedia versi lengkapnya ygy Pembelian dapat melalui k********a dan w******p (085810258853)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN