Matahari sudah terbit sejak beberapa menit yang lalu, perempuan di dalam selimut itu masih nyaman bergelung. Dia tampak tidak terganggu dengan sinar matahari yang jatuh menimpa sebagian wajahnya. Memang hanya sedikit sinar yang menerpa, juga bukan sinar matahari langsung. Sinar matahari yang menembus kaca jendela dan gorden yang menutupinya sehingga tidak terlalu menyengat, sinar itu terasa hangat. Namun, akhirnya tidur nyenyak itu terganggu juga. Bukan karena sinar matahari, melainkan karena jam alarm yang berbunyi untuk yang ketiga kali. Tubuh mungil itu perlahan bergerak, menggeliat sekali. Mata bulat yang terpejam perlahan terbuka,mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar terbuka dengan sempurna. Vivi menguap, bangun dengan malas. Melirik jam digital sekilas, mengulurkan tangan untuk

