Andai Waktu Bisa Diputar

1846 Kata

Anti dan teman-teman se-gengnya pamit pulang duluan kepada Neena, pesanan minuman kedua gadis itu dibayarkan oleh salah satu dari mereka. Sepuluh menit sepeninggal siswi-siswi kelas 12 IPA itu datang tiga pemuda yang baru saja salat Ashar di masjid sekolah. “Ciyee, minum yang manis-manis supaya lebih manis ‘ni, ya?” goda Lukman saat baru tiba. Suara pemuda itu mengalihkan mata kedua gadis yang sedang duduk berhadapan. Rifal, Lukman dan Aldi bergabung dengan Neena dan Salya. Kini di meja ada lima manusia yang menghadapi satu meja yang sama. “Kita kapan pulang, ‘ni? Nyokap gue sedari tadi nge-chat nanyain terus,” kata Lukman setelah melihat ponselnya sesaat setelah mereka duduk. “Gue sih bebas, mau balik sekarang juga boleh.” Rifal menimpali sambil melihat jam tangannya. “Yuk pulang, Gu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN