-6- Groom to be Vs Bride to be

1057 Kata
Arjuna tak tahu kenapa sepanjang rapat pagi tadi ia selalu mendapat tatapan  aneh dari peserta rapat. Para direktur tampak kaget, canggung, sementara para karyawan tampak … menahan tawa. Arjuna sampai beberapa kali menyisir rambut dengan tangan, siapa tahu ada kotoran di sana. Ia juga beberapa kali mengusap wajahnya. Arjuna lalu ingat, tadi Kirana membuat keributan di bawah. Tentu saja itu akan menarik perhatian orang-orang. Mengingat pakaian wanita itu, jelas ia sudah berniat membuat ribut. Apa ini balas dendamnya karena ciuman mereka kemarin? Kekanakan. Usai rapat itu, Arjuna menyingkirkan segala pikiran tentang Kirana dan fokus bekerja. Namun, fokusnya harus berakhir karena kedatangan tiba-tiba Niall. Sahabatnya itu tampak tergesa-gesa ketika masuk ke ruangan Arjuna. “Apa lagi sekarang? Kau mau datang mengacaukan pernikahanku karena cemburu?” cibir Arjuna. “Apa aku gila?” balas Niall. “Itu rumor yang akan tersebar. Kenapa pula kau datang kemari? Baru beberapa jam yang lalu calon istriku membuat keributan di sini,” sebut Arjuna. “Nah, itu!” seru Niall keras, mengagetkan Arjuna. Arjuna mengusap dadanya. “Itu apanya? Akan kutendang kau dari kantorku jika mengagetkanku lagi,” kesalnya. Niall menggeleng,  lalu menunjuk ponsel Arjuna yang tergeletak di meja. “Kau kan ada di grup chat itu, kenapa kau tak pernah mengeceknya?” Niall tampak frustrasi. Arjuna berdehem. “Untuk apa aku mengeceknya jika kau sudah memberitahuku lebih dulu? Lagipula, aku ini sibuk. Aku tak punya waktu untuk mengecek grup yang …” “Sekarang kau lihat dulu,” potong Niall tak sabar. Penasaran, Arjuna menuruti Niall dan membuka grup chat anak-anak konglomerat itu. Ia mengerutkan kening melihat sebuah video yang diunggah di sana. Arjuna memutarnya dan ia ternganga melihat video ketika Kirana mencium pipinya dan … meninggalkan bekas di sana. Dengan sangat jelas. Arjuna seketika menyentuh pipinya dan mengusapnya. Ia melihat tangannya dan ada noda merah lipstick di sana. Wanita kurang ajar itu! Namun, video di grup tidak berakhir sampai di situ. Arjuna terbelalak kaget ketika melihat dirinya … memeluk Kirana dari belakang. Tidak. Itu bukan pelukan. Arjuna hanya memakaikan jasnya di pinggang Kirana. Hanya itu. Arjuna mendengus kasar melihat komentar-komentar tentang video itu. ‘Perlukah kalian memberikan pertunjukan seperti ini ketika semua orang tahu itu hanya pernikahan bisnis?’ ‘@Arjuna, kau benar-benar mencintainya atau apa?’ ‘Wow. @Niall tidak patah hati, kan? Tenang, aku akan mengenalkanmu dengan pria yang lebih tampan dari Arjuna.’ ‘Selamat @Arjuna, kau terselamatkan dari skandal.’ ‘Apa Kirana tahu jika kau suka pria?’ ‘Pastinya Kirana tahu. Tapi, apa pedulinya? Dia toh hanya tertarik dengan uang.’ ‘Begitu kau mewarisi Grup Ramawijaya, kau bisa membuangnya @Arjuna. Mengurusi wanita itu akan sangat merepotkan.’ ‘Setuju.’ Arjuna mengernyit. Kenapa … mereka bisa mengatakan hal seperti itu tentang Kirana? “Selamat, Bung! Kau mendapat tiket emas! Kau terbebas dari skandal, harga sahammu meroket dan kau akan mendapatkan Grup Ramawijaya! Gila! Calon istrimu itu seperti peti harta karun!” seru Niall penuh semangat. Namun, bukan itu yang ada di kepala Arjuna kini. “Kirana … kenapa anak-anak tidak suka padanya?” tanya Arjuna. Niall mengerutkan kening. “Entahlah. Aku juga hanya mendengar sekelebat saja tentangnya. Oh iya, yang aku tahu, dia bermusuhan dengan Reta dari Grup Sanko. Sepertinya, karena itu juga dia tidak ada di grup itu. Padahal dari yang kudengar, mereka dulu bersahabat di SMA. Entah apa yang terjadi hingga akhirnya mereka bermusuhan seperti itu.” Mengingat kepribadian Kirana, Arjuna tidak heran jika wanita itu punya musuh. Hanya saja … di grup itu, ada yang bahkan lebih parah dari Kirana. Jadi, apa yang membuat Kirana begitu dibenci orang-orang? “Tapi, apa ini berarti kau sudah setuju untuk menikah dengannya? Bagaimana dengan pengawalnya itu? Aku bertanya pada yang lain, tapi tak ada yang tahu tentang hubungan mereka selain bahwa pengawalnya itu adalah pengawal setia calon istrimu. Dia salah satu alasan orang-orang malas berhubungan dengan calon istrimu. Kudengar, pengawalnya sangat teliti. Dia tidak membiarkan sembarangan orang mendekati calon istrimu,” beritahu Niall. Arjuna merenung. Sepertinya benar, Kirana tidak menyukai pengawalnya, tapi pengawalnya itu menyukai Kirana.  Arjuna semakin yakin akan itu. *** Kirana mengetukkan bolpoin di tangannya ke dagu sembari berpikir. Begitu terpikir sesuatu, ia menunduk dan menuliskan di jurnalnya. “Membuat mobilnya rusak,” Kirana menggumamkan apa yang ia tulis. Jika Kirana merusakkan mobilnya, meski hanya membuatnya tergores, pria itu pasti marah. Kirana pun selalu tak bisa menahan amarah jika convertible merahnya luka meski hanya segores pun. Puas, Kirana lanjut memikirkan rencana lain yang akan membuat Arjuna gila. Calon suaminya yang malang. Yah, Kirana sudah memperingatkannya. “Ah, merusak semua pakaian bermereknya. Lalu …” Kirana menulis lagi, “membuang berkas penting perusahaan.” Kirana mengangguk-angguk puas ketika menuliskan itu. Ketukan di pintu kamarnya mengalihkan perhatian Kirana dari kertasnya. Ia menoleh dan berseru, “Masuk!” Pintu terbuka dan Marcel memasuki kamarnya. “Ada apa?” tanya Kirana. “Ada tamu yang mencari Nona di bawah,” beritahu Marcel. Kirana mengerutkan kening. “Siapa?” “Pak Arjuna.” Seketika, Kirana melompat bangun dari tempat tidur. Ia sudah akan keluar kamarnya, tapi teringat pakaiannya. Kirana menunduk, mengerang melihat gaun tipis santai yang ia kenakan. Ia pun bergeas pergi ke walk in closet dan memilih pakaian yang lebih pantas. Tak lupa, Kirana juga memoles bibirnya lagi dengan lipstick berwarna ungu. Baru setelahnya ia pergi  menemui Arjuna yang sudah menunggu di ruang tamu. “Lihat siapa yang datang dan merindukanmu, Marcel.” Kirana sengaja meledek Arjuna begitu tiba di depan pria itu. Arjuna tersenyum sinis. “Apa kau keracunan makanan? Bibirmu tampak … pucat.” Kirana mendesis kesal. “Dasar pria kuno tak tahu make up dan fashion!” Arjuna cuek menanggapinya. “Nanti malam, aku akan menjemputmu untuk makan malam di rumahku. Jam enam sore.” Kirana mengerutkan kening. “Kenapa?” “Mamaku ingin bertemu denganmu,” jawab Arjuna. Kirana tersenyum licik. “Kau yakin?” “Jangan berbuat macam-macam di depan mamaku. Jika kau melakukan itu, aku tidak akan tinggal diam.” “Ya, ya,” balas Kirana cuek. “Tapi, aku bebas memilih pakaian, kan?” “Aku tidak akan terkejut jika kau nanti memakai pakaian renang,” sinis Arjuna. Kirana tersenyum, mempertimbangkan. “Tapi, kenapa kau memberitahuku sekarang? Ini toh masih siang.” “Aku memberimu kesempatan untuk menyiapkan penampilan terbaikmu,” jawab Arjuna santai. “Kau paling suka kan, membuat persiapan heboh? Ah, sepertinya semua yang kau lakukan selalu heboh.” Arjuna tersenyum meledek. “Aku senang kau menyukai kejutanku tadi pagi,” balas Kirana cuek. Arjuna mengetuk pipinya. “Terima kasih telah membuatku jadi bahan tertawaan sepanjang rapat.” Kirana tersenyum senang mendengarnyaa. “Sama-sama. Aku bisa melakukannya lagi sekarang.” Kirana sudah mendekat, tapi Arjuna melangkah mundur. “Jaga jarak dariku,” desis Arjuna. Kirana mencibir. “Dasar penakut.” Ia lalu berbalik dan berkata pada Marcel, “Ayo kita pergi. Aku harus ke salon dan membeli baju baru untuk bertemu calon mertuaku.” Kirana bersenandung senang ketika melangkah pergi meninggalkan Arjuna. Ya, ya, sekarang pria itu tahu masalah apa yang akan dibawanya pulang. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN