Arjuna sudah menyiapkan diri dengan segala kemungkinan, bahkan yang terburuk sekalipun, ketika menjemput Kirana malam itu. Ketika akhirnya Kirana berjalan menyusuri tangga, Arjuna menghela napas. Memang, wanita itu tidak memakai pakaian renang. Namun, ia mengenakan gaun berwarna hitam dengan topi lebar berwarna sama. Ditambah lagi make up tebal yang … sial. Kenapa bibirnya berwarna hitam?
Jika Arjuna tak mengenal wanita itu, ia pasti sudah memanggil ambulans saat ini. Wanita macam apa yang mewarnai bibirnya dengan warna hitam ketika akan makan malam dengan calon mertuanya? Macam Kirana. Ya. Arjuna tak bisa mengendorkan pertahanannya. Meleng sedikit, ia tak tahu apa lagi yang akan dilakukan wanita itu.
“Marcel!” Kirana berseru memanggil pengawalnya.
Tak lama, Marcel muncul dari arah belakang, mengenakan stelan berwarna putih. Kirana menggandeng Marcel, menyeret maksudnya, ke arah Arjuna.
“Dia tampan, kan?” tanya Kirana sembari menunjuk penampilan Marcel dari atas ke bawah. “Ini untuk bonusmu. Konsep kami malam ini black and white. Kau suka?”
Apa Arjuna harus menjawab itu?
“Di mana papamu?” tanya Arjuna.
“Masih di kantor. Kau bisa pergi ke kantor jika mau menyapa Papa,” jawab Kirana santai. “Marcel, ayo pergi.”
“Dia harus ikut?” protes Arjuna.
“Kenapa? Kau takut tergoda olehnya di depan orang tuamu?” tanya Kirana dengan nada meledek.
Arjuna mendengus. “Ini makan malam keluarga.”
“Saya akan mengikuti Nona dengan mobil lain dan menunggu di luar,” Marcel memberitahu.
“Nanti aku akan mengantarnya pulang,” tandas Arjuna.
“Saya tetap akan mengawal Nona. Itu sudah tugas saya, Pak.” Marcel tak menyerah.
Arjuna menghela napas. “Terserah kau saja. Tapi, mengingat bagaimana nonamu ini, siapa yang tahu dia akan kabur ke mana jika tidak kau kawal. Benar, kan?”
Arjuna cukup puas melihat sorot kesal di mata Kirana sebelum ia berbalik dan lebih dulu meninggalkan ruang tamu.
***
Kirana bisa melihat keterkejutan di mata mama dan papa Arjuna ketika ia memasuki ruang tamu rumah pria itu. Namun, mengejutkannya, mama Arjuna menghampiri Kirana lebih dulu dan memeluknya. Giliran Kirana yang terkejut.
“Tan … Tante?” Kirana tak tahu harus bereaksi bagaimana.
Mama Arjuna melepas pelukannya. “Kau ingat Tante?” tanya mama Arjuna.
Kirana ragu untuk menggeleng. Namun, wanita itu sepertinya tahu jawaban Kirana. Meski begitu, ia malah tersenyum.
“Dulu kau masih sangat kecil. Tanganmu dulu hanya bisa menggenggam jari kelingking Tante. Sekarang kau sudah sebesar ini.” Wanita itu menatap Kirana penuh sayang.
Kirana mendadak mendapati dirinya ingin menghapus make up gilanya malam ini. Namun, mama Arjuna sepertinya tak sedikit pun tampak keberatan dengan make up-nya. Wanita itu menggandeng tangan Kirana ketika membawanya ke ruang makan.
“Kau pasti sudah lapar, ya? Tante tidak tahu apa makanan kesukaanmu, tapi Tante memasak semua makanan kesukaan mamamu,” ucap wanita itu.
Kirana tertegun. “Makanan kesukaan … Mama?” tanyanya tak percaya.
Mama Arjuna mengangguk. “Dulu, Tante dekat dengan mamamu.”
Kirana mengernyit. Mama. Sosok yang tak pernah Kirana kenal seumur hidupnya.
“Kau secantik mamamu, kau tahu, kan?” Mama Arjuna tersenyum lembut.
Entahlah. Kirana hanya melihat mamanya dari foto. Meski menurutnya, mamanya jauh lebih cantik darinya jika dilihat dari foto.
“Duduklah,” mama Arjuna mempersilakan.
Kirana sempat melihat Arjuna menarikkan kursi untuknya. Kirana duduk di sana, Arjuna duduk di sebelahnya, sementara orang tua pria itu duduk di seberang meja.
Mama Arjuna memanggil kepala pelayan rumah itu dan menyuruhnya menghidangkan makan malam. Lalu, dimulailah parade makanan di meja makan di depannya, yang seolah tak ada habisnya. Kirana meneguk air yang baru dituangkan kepala pelayan Arjuna di gelasnya sembari menonton. Melihatnya saja, sepertinya Kirana sudah kenyang.
“Tante sudah meminta mereka memastikan tidak ada menu dengan kacang,” beritahu mama Arjuna.
“Tante … tahu aku alergi kacang?”
Mama Arjuna tersenyum. “Mamamu juga alergi kacang. Siapa tahu kau punya alergi yang sama.”
“Ah … Mama …” gumam Kirana seraya mengangguk kecil.
“Oh iya, coba ini. Ini makanan kesukaan mamamu.” Mama Arjuna memindahkan piring berisi ikan bakar. “Sebenarnya, ini paling enak dengan saus kacang. Tapi, karena mamamu alergi kacang, Tante tidak pernah lagi makan dengan saus kacang.”
Kirana tersenyum sendu. “Aku … juga suka ikan bakar, Tante.”
“Syukurlah kalau begitu. Kau memang mirip mamamu,” ucap mama Arjuna senang. Bahkan, wanita itu kemudian memisahkan daging ikan dari tulangnya sebelum dipindahkannya ke piring Kirana. “Mamamu paling suka masakan ikan bakar Tante,” ucap wanita itu.
Kirana tersenyum. Ia menyendok sepotong ikan bakar dan memakannya. Enak. Beruntungnya Arjuna, setiap hari ia bisa menikmati makanan seenak ini.
“Kirana? Kau baik-baik saja?” tanya mama Arjuna cemas.
Kirana mendongak, menatap wanita itu. Ia mengerjap dan baru sadar, air matanya jatuh ke pipi. Kirana berdehem dan mengusap pipinya.
“Ini … terlalu enak,” ucap Kirana.
Mama Arjuna menatap Kirana sendu, lalu bangkit dari duduknya dan pergi ke sisi Kirana. Wanita itu mengusap pipi Kirana sembari tersenyum lembut.
“Apa kau juga suka wortel? Mamamu dulu sangat suka wortel.” Mama Arjuna menarik piring berisi wortel yang dipotong-potong memanjang dicampur daging dan onion. “Ini salah satu masakan Tante yang jadi favorit mamamu.”
Kirana menatap mama Arjuna.
“Kenapa? Kau tidak suka wortel?” Mama Arjuna tampak cemas.
“Suka. Sangat suka,” jawab Kirana. “Bahkan, aku sering memakan wortel langsung tanpa dimasak.”
Mama Arjuna terkejut. “Mamamu juga sering melakukannya. Karena itu Tante suka meledeknya kelinci.”
Kirana tertawa pelan, haru. Untuk pertama kalinya seumur hidupnya, ia mendengar cerita tentang mamanya. Sosok yang belum pernah ia temui seumur hidupnya.
***
“Kau sudah mengantar Kirana sampai rumah, kan?” Mama Arjuna memastikan ketika Arjuna kembali usai mengantar Kirana.
“Sudah, Ma. Aku bahkan menunggu sampai dia masuk ke kamarnya, baru aku pergi,” terang Arjuna.
Mamanya mengangguk puas. Bahkan tadi pun, mamanya tak tampak terganggu dengan bibir hitam Kirana yang membuatnya tampak seperti baru saja menghisap tinta.
“Dia benar-benar mirip Andhita,” ucap papanya.
Mama Arjuna tersenyum dan mengangguk. “Sangat mirip. Bahkan makanan kesukaannya pun mirip. Ah, dia juga suka cheese cake. Dia tampak menikmati dessert-nya tadi. Hanya melihatnya saja sudah mengingatkanku pada Dhita.”
Dhita. Andhita. Itu nama depan Kirana. Jadi, itu nama mamanya.
“Jendra juga sering menceritakan jika Kirana mirip dengan Andhita. Hanya … yah, dia tumbuh besar tanpa kehadiran sosok ibu.” Papa Arjuna menghela napas.
Mama Arjuna seketika tampak sedih. Ia lalu menatap Arjuna. “Jaga Kirana dengan baik. Dia tak punya seorang pun di sisinya.”
Arjuna berdehem. “Dia punya papanya. Dan pengawal setia yang selalu mengikutinya ke mana-mana.”
“Papanya selalu sibuk di perusahaan karena dia tak mau bergabung di perusahaan. Dan pengawalnya itu … dia hanya orang yang dikirim papanya untuk mengawasi Kirana. Dulu di luar negeri, dia selalu membuat masalah.” Papa Arjuna menghela napas.
“Seharusnya Jendra tidak lepas tangan seperti itu. Bagaimanapun, Kirana itu putri semata wayangnya. Bisa-bisanya dia lebih mementingkan pekerjaan daripada putrinya sendiri.” Mama Arjuna terdengar kesal. “Bicaralah pada Jendra tentang itu.”
Papa Arjuna berdehem. “Baiklah, baiklah. Besok aku akan berbicara dengan Jendra.”
Dari percakapan orang tuanya tentang Kirana, Arjuna mendapat informasi baru tentang Kirana. Meski tampaknya ia memiliki segalanya, tapi ada satu hal yang ia tak punya. Keluarga.
***