-8- Something We Missed

1025 Kata
“Jadi, semalam kau makan malam di rumah Arjuna?” tanya papanya ketika mereka sarapan pagi itu. Kirana mengangguk. “Kau tidak membuat masalah, kan?” selidik papanya. Kirana bahkan tak sempat melakukan apa pun setelah berpakaian serba hitam. Karena mama Arjuna. “Kau membuat masalah di sana?” Papanya menatap Kirana curiga. Kirana menggeleng. “Jangan mengecewakan Hardy dan Sinta,” tegas papanya. Kirana mengangguk. “Tapi … Om Hardy dan Tante Sinta … apa mereka mengenalku?” Papanya menatap Kirana sesaat, lalu menunduk menatap piring sarapannya. “Mereka adalah orang pertama yang melihatmu lahir.” Kirana tertegun. “Maksud Papa, setelah Papa?” Papa Kirana menurunkan sendok yang sudah terangkat. “Tidak. Sebelum Papa. Mereka orang pertama yang melihatmu lahir.” Kirana mengernyit. Apakah itu berarti … mamanya pergi seperti itu, setelah melahirkannya, tanpa kehadiran papanya? “Apa Papa …  mencintai Mama dan aku?” Kirana bahkan tak sadar ia sudah melempar pertanyaan itu. Namun, ketika tersadar, ia melihat ekspresi papanya. Dingin. Lalu, tanpa menjawab pertanyaan Kirana, papanya bangkit dari tempat duduk. Tanpa menghabiskan sarapannya, papanya pergi. Lagi-lagi, meninggalkan Kirana begitu saja. Kirana menunduk, tangannya menggenggam erat sendok di tangan. Ia baru menguasai diri ketika mendengar suara dehem Marcel di belakangnya. “Sudah kuduga, Papa tidak pernah mencintaiku. Karena itu, sejak kecil aku diasuh pengasuh kejam itu,” kata Kirana dingin. “Benar kata Reta. Aku memang hanya bonekanya Papa. Tak lebih.” Kirana melanjutkan sarapannya. Memangnya, apa yang mengejutkan dari kenyataan itu? Sejak awal, Kirana sudah tahu itu. Hanya, ia tak pernah berani menanyakannya seperti tadi. Karena ia terlalu takut akan jawabannya. Namun, setelah Kirana mendapat jawabannya, toh biasa saja. Tidak ada apa-apa. Huh. *** Marcel tahu Kirana tidak baik-baik saja ketika usai sarapan, ia langsung pergi ke Hills Café. Biasanya, Kirana akan memesan latte kesukaannya. Namun, kali ini wanita itu memesan minuman beralkohol. Marcel langsung protes pada nonanya itu. “Nona, itu …” “Shut up!” Kirana mengangkat tangan, menyuruhnya bungkam. “Aku sudah bekerja keras kemarin. Setidaknya, aku berhak untuk ini. Ini juga salahmu. Seandainya kau berhasil menggoda pria itu …” “Nona …” “Baiklah, baiklah. Kau tak perlu menggodanya lagi. Toh aku sudah pasrah akan menikah dengannya. Meski aku akan membuatnya menyesal seumur hidup untuk itu,” ucap Kirana. Maka, ketika pesanan Kirana datang, tanpa bisa dicegah Marcel, Kirana menenggak minuman di gelasnya. Marcel hanya menghela napas berat. Namun, ia tahu, sebentar lagi Kirana akan kehilangan kesadaran. Wanita itu tak bisa minum minuman beralkohol. Benar saja, cukup hanya dengan satu gelas, Kirana sudah merebahkan kepala di meja. Nonanya itu menggumamkan makian kepada calon suaminya, dengan nada lagu.  Beberapa pengunjung kafe sampai menoleh ke meja Kirana. Mabuk di pagi hari. Tentu itu hal yang tidak biasa. Marcel hanya berdiri di sebelah Kirana, menunggu sampai wanita itu terlelap. Begitu ia tak lagi mendengar nyanyian Kirana, Marcel membayar bill, lalu menggendong Kirana di depan tubuhnya dan membawanya pergi. Bagi Kirana, minum adalah caranya untuk tidur ketika ia ingin tidur, tapi tak bisa tidur. Berbeda dengan obat tidur, nanti begitu terbangun, ia akan merasa pusing yang parah, memaki sepuasnya, lalu akan merasa lebih baik. Kirana selalu seperti itu. *** Arjuna mengerutkan kening mendengar kata-kata Marcel. “Tidur? Sesore ini?” “Nona belum bangun dari tidur siangnya,” jelas Marcel. Arjuna mengecek jam tangannya, siapa tahu ia yang salah melihat jam. Namun, ini memang sudah jam enam sore. “Sampai saat ini dia belum bangun?” Arjuna meragukan. “Sudah.” Jawaban itu datang dari Kirana yang berjalan menuruni tangga. Ia menghampiri Arjuna dan menyipitkan mata. “Argh, kepalaku pusing sekali, tapi aku masih harus melihatmu?” “Aku sudah berjanji pada papaku untuk mengajakmu makan malam,” Arjuna memberikan alasan. “Ya, ya. Anak papi sepertimu bisa apa jika sudah mendapat perintah seperti itu. Tentu kau harus menurut. Benar, kan?”Kirana tersenyum meledek. “Kau …” “Baiklah, ayo kita makan malam,” potong wanita itu. “Tapi, aku yang memilih tempatnya. Tunggu di sini sementara aku berganti pakaian.” “Kau akan mencari pakaian aneh lainnya?” sindir Arjuna. Kirana tertawa. “Maaf mengecewakanmu, tapi aku sedang tidak mood memakai pakaian meriah.” Arjuna mendengus. Tanpa menjawab Kirana, ia duduk di sofa ruang tamu. Dilihatnya wanita itu kembali berjalan menaiki tangga. Tak sampai sepuluh menit, Kirana sudah turun lagi. Arjuna heran juga melihat penampilan biasa wanita itu. Ia hanya mengenakan gaun polos selutut dengan lengan panjang, berwarna krem. Begitu Kirana tiba  di ruang tamu, Arjuna berdiri. “Kau mau makan malam di mana?” tanyanya. “Rumahmu.” Jawaban Kirana membuat Arjuna menoleh kaget. “Apa?” Kirana menatap Arjuna, tanpa ragu mengulangi, “Rumahmu. Aku ingin makan di rumahmu.” Arjuna mengerjap. Ia tak tahu apa niatan wanita itu, tapi … “Ada yang ingin kutanyakan pada mamamu. Aku tidak akan mengacau,” janji wanita itu. Arjuna memutuskan untuk percaya, teringat kejadian di meja makan kemarin. Ketika Kirana … menangis. Arjuna berdehem. “Baiklah.” Ia lalu menatap Marcel. “Kali ini, apa kau juga akan mengikuti nonamu?” tanyanya. “Tidak.” Kirana yang menjawab. “Nona …” “Calon suamiku akan mengantarku pulang dan aku tidak akan kabur,” kata Kirana seraya melirik Marcel. “Daripada kau menungguiku makan malam, lebih baik kau pergi makan malam sendiri sana.” Kirana pun beranjak pergi. Arjuna menyusulnya. Ia menoleh sekilas ke arah Marcel. Pria itu pasti senang mendapat perhatian Kirana. Jika memang ia begitu menyukai Kirana, kenapa ia tak pernah mencoba mendapatkan hati wanita itu? “Apa yang mau kau tanyakan pada mamaku?” tanya Arjuna begitu mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan ke rumah Arjuna. “Kuberi tahu pun, kau tak akan tahu jawabannya,” jawab Kirana dingin. “Kalau begitu, kapan kita akan membahas tentang acara pernikahan kita?” tanya Arjuna. “Sepertinya, dalam seminggu atau dua minggu papaku dan papamu berencana mengadakan pesta pertunangan.” “Aku tidak peduli. Biar saja mereka mengurusnya. Lebih mudah menyewa jasa profesional daripada aku yang harus turun tangan.” Kirana menoleh pada Arjuna. “Siapa yang tahu, apa yang akan kusiapkan di pesta pernikahan kita?” Arjuna mendengus kasar. Ia tak ragu, wanita itu sudah menyiapkan sesuatu untuk membuat Arjuna emosi. Mungkin, itu menjadi tujuan hidup wanita itu kini. “Kau akan mengundang kekasihmu di pesta pernikahan kita?” tanya wanita itu. “Siapa maksudmu? Kau? Karena seingatku, wanita yang beberapa hari terakhir menjadi teman makanku kau,” sarkas Arjuna. “Bukan wanita,” koreksi wanita itu. Ugh, darah tinggi Arjuna!  “Kekasih priamu, Niall Hendery,” sebut Kirana, seolah itu perlu. “Tentu dia akan datang, bahkan meski aku melarangnya,” desis Arjuna. “Sampaikan saja padanya untuk tidak membunuhku. Aku benar-benar tidak akan tinggal diam jika dia sampai melukaiku sehelai rambut pun karena cemburu,” ucap Kirana penuh peringatan. Arjuna mendengus kasar. Seolah itu perlu. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN