Mama dan Papa Arjuna tampak terkejut ketika melihat Kirana datang bersamanya petang itu.
“Dia ingin makan malam di sini,” jelas Arjuna.
“Maaf mengganggu, Om, Tante. Tapi, aku boleh ikut makan malam di sini, kan?” tanya Kirana sopan. Pura-pura, tentunya.
“Tentu saja,” sambut mama Arjuna antusias. Ia menghampiri Kirana dan menggandengnya ke arah ruang keluarga. “Aku akan meminta pelayan menyiapkan makanan kesukaanmu. Kau tidak apa-apa kan, menunggu sebentar?” tanya mamanya.
“Tidak perlu repot-repot, Tante. Aku akan memakan yang lain selain kacang,” balas Kirana ramah.
Mama Arjuna tersenyum. “Tidak repot. Tante senang kau datang lagi kemari.”
Arjuna tak lagi bisa mendengar percakapan Kirana dan mamanya begitu mereka memasuki ruang keluarga.
“Aku akan ke atas dan mandi dulu, Pa,” pamit Arjuna pada papanya.
Papanya mengangguk. “Tapi, tidak ada masalah kan, dengan Kirana?”
Arjuna menggeleng. Saat ini, tidak ada. Entah nanti.
***
Ketika Kirana keluar dari ruang keluarga bersama mama Arjuna, dilihatnya Arjuna juga baru turun dari lantai atas. Rambut pria itu masih basah, sepertinya ia baru habis mandi. Di lain kesempatan, ia pasti sudah akan menggoda atau meledek pria itu. Namun, saat ini Kirana sedang tak berminat untuk itu.
Mereka pun melewati makan malam yang tenang. Meski begitu, Kirana bisa merasakan tatapan heran dan juga curiga dari Arjuna. Pria itu pasti khawatir Kirana akan meledakkan bom di meja makan. Sayangnya, kali ini Kirana harus mengecewakan pria itu lagi.
Usai makan malam, orang tua Arjuna mengajak Kirana kembali ke ruang keluarga untuk minum teh sambil mengobrol.
“Kirana, apa papamu sudah memberitahumu tentang tanggal pertunanganmu dengan Arjuna?” Papa Arjuna membuka percakapan.
Kirana menggeleng. “Papa belum mengatakan apa pun, Om.”
“Kalian sudah menentukan tanggal?” mama Arjuna bertanya.
Papa Arjuna mengangguk. “Dua minggu lagi. Di ballroom Hotel Atmajaya.”
“Kalau begitu, sebaiknya besok kalian mulai mempersiapkan acaranya,” ucap mama Arjuna sembari menatap Kirana dan Arjuna. “Apa kalian sudah memikirkan konsepnya?”
“Ma, itu …”
“Sebenarnya,” Kirana memotong kalimat Arjuna, “aku berencana menyerahkan pada tim profesional saja, Tante.”
Mama Arjuna mengerutkan kening. “Kau yakin?”
Kirana mengangguk mantap. “Karena itu acara penting, aku tidak ingin mengacaukannya, Tante. Lebih baik jika diurus tim profesional. Lagipula, dengan begitu, aku akan punya lebih banyak waktu berkencan dengan Arjuna.”
Mama Arjuna tertawa senang sembari mengangguk-angguk setuju. “Kalau begitu, nanti biar Tante yang mengaturnya. Kau nikmati saja kencanmu dengan Arjuna.”
Kirana tersenyum dan mengangguk. Ia menoleh pada Arjuna yang menatapnya keheranan.
“Oh iya, Tante, aku boleh bertanya sesuatu?” Kirana akhirnya melempar pertanyaan itu.
“Tentu saja boleh. Apa yang ingin kau tanyakan?” sahut mama Arjuna antusias.
Kirana menarik napas dalam. “Mama dan Papa … orang tuaku … apa dulu mereka dijodohkan?”
Ekspresi mama Arjuna seketika berubah. Ia menatap papa Arjuna, tampak ragu.
“Kirana, itu …”
“Mereka dijodohkan, kan?” Kirana mengulangi.
Mama Arjuna menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Ya, mereka memang dijodohkan, tapi mamamu hidup bahagia dengan papamu. Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau takut hal buruk akan terjadi pada pernikahanmu dan Arjuna karena kalian dijodohkan?”
Kirana mengernyit. Hidup bahagia? Karena itu, mamanya harus berjuang sendiri ketika melahirkannya, dan meninggal dalam kesepian, tanpa suaminya. Kirana pun … mungkin, suatu saat nanti, akan mengalami hal seperti itu juga.
“Kirana, pernikahan karena perjodohan tidak selalu buruk. Kau tidak perlu takut atau khawatir tentang itu,” mama Arjuna menenangkannya.
Kirana tersenyum tipis. Tidak, ia tidak mengkhawatirkan itu. Ia tahu, apa yang harus ia hadapi jika menikah dengan Arjuna nanti. Ia tahu, apa arti perjodohan. Ia pun tak mengharapkan apa pun dari pernikahannya. Hanya saja … sekali lagi ia menyadari, kenapa papanya tak pernah peduli padanya.
Papanya benar-benar tak mencintai mamanya. Ataupun dirinya. Sekarang, Kirana harus menerima itu.
***
Arjuna melirik Kirana yang menatap kosong ke depan. Entah apa yang ada di pikirannya.
“Kenapa? Sekarang kau takut dengan pernikahan karena perjodohan ini?” cibir Arjuna.
“Aku sudah tidak peduli lagi,” balas Kirana dengan nada hampa.
Arjuna mengernyit. Ia menoleh sekilas. “Apa maksudmu?”
Kirana tak menjawab.
“Dengar ya, jika sampai kau sengaja mengacaukan pernikahan kita …”
“Satu-satunya yang ingin kukacaukan adalah hidupmu. Jangan khawatir,” ucap Kirana tanpa menatap Arjuna.
Arjuna mendengus tak percaya. “Kau mengancamku?”
“Aku berbaik hati memperingatkanmu. Kau yang tidak mau mundur, kau yang membuat kita tidak bisa mundur.” Kirana mendengus pelan. “Kau mengacaukan hidupmu sendiri. Jangan salahkan aku.”
Arjuna kembali mendengus tak percaya. “Sepertinya kau benar-benar suka mencari musuh.”
Kirana melengos.
“Karena itu kan, kau tidak punya teman,” sebut Arjuna.
Kirana menoleh padanya hanya untuk mendengus. “Aku bukan tidak punya. Aku tidak butuh.”
“Menurutmu, ada orang yang mau berteman denganmu?” sinis Arjuna.
“Aku tidak peduli.”
“Begitu pun orang lain. Mereka tak peduli padamu. Tak ada yang peduli denganmu. Benar, kan?” serang Arjuna.
Tak ada jawaban. Ketika mobil berhenti di lampu merah, Arjuna menoleh. Kirana menatap Arjuna dengan tatapan … terluka? Arjuna mengerjap. Kirana kembali melengos kasar. Arjuna pasti salah lihat.
Suara klakson dari belakang menyadarkan Arjuna. Ia menatap ke depan dan segera melajukan mobil. Sambil sesekali ia menoleh ke arah Kirana yang masih menatap ke arah jendela.
“Kau mau membawaku ke mana sebenarnya?” ketus Kirana.
Arjuna menatap ke arah jalan dan tersadar ia baru saja melewati jalan menuju rumah wanita itu. Arjuna berdehem.
“Aku hanya perlu berputar di depan,” Arjuna membela diri.
“Apa kau tak bisa menyetir?” ucap Kirana pedas.
Arjuna mendengus kasar. Terluka apanya? Tidak mungkin.
***
Marcel langsung menghambur keluar ketika melihat kedatangan mobil Arjuna dari CCTV gerbang. Ia menunggu di pintu depan. Dilihatnya Kirana turun dari mobil Arjuna dan membanting pintunya. Belum sampai Kirana masuk ke rumah, Arjuna sudah melajukan mobilnya pergi.
Marcel memperhatikan ekspresi kesal Kirana ketika nonanya itu memasuki rumah. Marcel mengikuti Kirana ke arah tangga. Sampai di depan kamar wanita itu, Kirana berhenti. Ia berbalik dan menatap Marcel.
“Apa kau tidak lelah mengikutiku terus?” sembur wanita itu tiba-tiba.
Marcel tak menjawab.
“Kau juga pergilah! Tidak perlu memedulikanku! Aku tidak butuh itu!” sengit Kirana.
“Nona, apa sesuatu terjadi di rumah Pak Arjuna?” tanya Marcel hati-hati.
“Jika ya, apa yang akan kau lakukan?” dengus Kirana.
“Nona …”
“Sudah kubilang, berhenti menanyaiku hal seperti itu! Jangan sok peduli! Lama-lama kau membuatku muak juga!” Kirana lalu berbalik dan masuk ke kamarnya, membanting pintunya di depan Marcel.
Marcel mengernyit. Apa yang dikatakan Arjuna hingga Kirana bersikap seperti itu?
Sejujurnya, Marcel tidak setuju Kirana dijodohkan dengan Arjuna. Namun, ia bisa apa? Ia hanya pengawal Kirana. Ia tak punya hak atas wanita itu. Tidak sedikit pun.
***